
"Bahkan kalau bisa, aku akan membawanya ke polisi dan membuatnya mendapatkan hukuman seadil-adilnya karena sudah membuat aku begini. Aku memiliki uang banyak, bahkan kalau mau meminta polisi untuk membuatnya terpenjara seumur hidup, aku bisa. Biar dia mati saja di dalam penjara itu."
Ayres hampir tersedak mendengar ucapan itu. Andrienna sangat yakin mengatakannya, terlihat dari wajahnya yang tampak begitu terluka dan tegas mengatakannya.
Memakan makanannya dengan perlahan, Andrienna melihat Ayres yang tampak diam merenung. Dia tak paham kenapa laki-laki itu terdiam, membuatnya memakan makanannya sebelum bertanya.
"Ada apa?"
Ayres menatapnya yang baru bertanya.
"Kau baik-baik saja, Ayres?" tanyanya serius membuat Ayres menggeleng pelan dan tersenyum.
"Aku baik-baik saja, makanlah, setelah ini kita akan pergi." Ayres berkata seraya mengangkatkan sepotong daging lagi ke mangkuk Andrienna. "Kau harus makan banyak agar anak di dalam kandunganmu sehat."
Andrienna tak mengatakan apapun, hanya diam dan memakan makanannya. Hal itu membuat Ayres menghela napas pelan.
"Lupakan saja soal pria yang membuatmu mengalami hal ini. Mengingatnya pun kau hanya akan terluka, aku bersedia menjadi Ayah sambung anakmu. Aku mau menikahimu, jadi lupakan saja semua yang sudah terjadi sebelumnya, hmm?" ujar Ayres membuat Andrienna menghela napas pelan.
"Ayres ... kau harus pikirkan matang-matang apa yang kau katakan itu. Kau tahu kalau tidak mungkin rasanya ada pria yang bersedia menikahi seorang wanita yang sudah hamil dan bukan hamil anaknya. Bahkan di luar sana banyak pria yang juga melarikan diri dari pacarnya ketika tahu kalau pacarnya itu hamil. Bagaimana kau malah bisa menerima keadaanku yang begini? Bahkan sampai mau menikah denganku?" tanyanya tak percaya membuat Ayres terdiam.
"Kau adalah orang kaya, dari kendaraan, rumah dan juga pelayanan kediamanmu ini sudah membuatku tahu kalau kau adalah orang yang terhormat. Bagaimana mungkin orang terhormat, pengusaha muda sepertimu menikah denganku yang begini? Itu bisa membuat harga dirimu hilang."
"Tidak ada yang bisa menghilangkan atau merendahkan harga diriku." Ayres berkata tegas, membuat Andrienna terdiam tak mampu mengatakan apapun. "Aku akan menikah denganmu, mau setuju ataupun tidak setujunya dirimu. Kamu mengerti?"
Andrienna memainkan sendoknya, sebelum akhirnya Ayres berpindah duduk disebelahnya. Pria itu mengambil tangannya, menggenggamnya dengan lembut.
"Baby ... aku mengenalmu sebagai temanku dan aku tidak mau kau harus menjalani semua hal ini sendirian. Biarkan pria itu menjadi urusanku. Aku ingin menjadikanmu istriku. Kau adalah seorang pengusaha juga, namamu dikenal oleh orang-orang sebagai pewaris perusahaan besar. Kalau kau ketahuan hamil di luar nikah bahkan tanpa ada pasangan resmi yang bersamamu, maka namamu bisa buruk."
__ADS_1
Andrienna terdiam mendengarnya membuat Ayres harus mencari cara lain. Hingga akhirnya dia berkata dengan wajahnya yang dia buat seserius mungkin.
"Aku menyukaimu, aku sudah lama mencintaimu."
Andrienna berkedip pelan, lalu menatap Ayres yang tampak serius. "Kamu bilang apa?" tanyanya seolah tak mendengar apa yang pria ini katakan. "Aku tidak mendengarnya dengan baik."
"Aku mencintaimu."
Andrienna terdiam seraya menelan ludahnya, dia menatap wajah Ayres yang sudah tersenyum.
"Kau harus mau menikah denganku, aku akan sama-sama merangkul kalau kau ada masalah atau ada hal yang membuatmu kesusahan. Aku akan menganggap kalau anak yang kau kandung adalah anakku, aku akan mencintainya sebesar cintaku padamu. Aku akan menikahimu, tidak ada penolakan atau aku akan membuat sesuatu yang tak bisa kau tolak." Ayres berkata lagi membuat Andrienna terdiam.
Genggaman tangannya Ayres mengeras, dia menatap wajah Andrienna yang tampak menunduk.
"Menikahlah denganku, lupakan pria itu dan kita bisa menjalani hidup dengan baik. Aku-"
"Lupakan saja dia." Ayres berkata cepat membuat Andrienna terdiam. "Untuk apa kau harus bersamanya jika ada aku yang akan menerimamu dengan tulus?" tanyanya membuat Andrienna menatapnya.
"Hanya karena anak di dalam kandunganku?"
"Bukan, tapi karena aku juga mencintaimu. Kau lupa dengan ucapanku tadi?"
Andrienna menghela napas pelan, lalu menyandarkan kepalanya ke punggung kursi. Melihatnya yang tak bersemangat, Ayres tahu kalau banyak yang dipikirkan oleh wanita ini hingga dia tak mau memaksa.
"Aku hamil, Ayres menyukaiku. Namun, aku tak mungkin bisa menggunakan perasaannya padaku hanya untuk mendapatkan keuntungan sendiri. Aku akan meminta perceraian, setelah aku melahirkan anak ini dan juga aku akan membuat sifatku yang tak sukainya agar dia bisa membenciku setelah ini." Andrienna menghela napas pelan, lalu menatap wajah Ayres yang sedang menunggu apa yang akan dia katakan.
"Buat pernikahan kita yang biasa saja, jangan yang terlalu mewah. Karena kalau terlalu mewah, itu tidak pantas untukku yang sudah hamil anak diluar nikah."
__ADS_1
"Berhenti mengatakan dia anak diluar nikah." Ayres berkata dengan wajahnya yang serius membuat Andrienna menghela napansya.
"Kenyataannya memang begitu, Ayres."
Ayres tersenyum, lalu mengambil tangan Andrienna dan mengarahkannya ke arah perut wanita itu.
"Kau rasakan, dia tidak seburuk itu. Dia adalah anak yang baik, dia pastinya akan menjadi anak kita berdua dan bukan lagi anak si pria brengsek itu." Ayres berkata sengaja, agar perasaannya tak tercabik setiap kali Andrienna menghujatnya.
Walaupun dia pantas mendapatkan hujatan itu, hanya saja telinganya terasa panas akibat ucapan bibir wanitanya ini.
"Dia memang anak baik, hanya sering membuatku muntah dan mual saja. Yang kubenci adalah ayahnya yang tidak bertanggung jawab dan kurang ajar. Awas saja dia, kalau aku berhasil menemukannya maka aku akan membuat hidupnya-"
Andrienna berhenti bicara ketika Ayres mengecup bibirnya sejenak. Dia mematung dengan bodoh, lalu menatap Ayres yang sudah tersenyum dan mengambil piringnya tadi.
"Makanlah lagi, habiskan makanannya. Aku mau mengajakmu ke sebuah tempat untuk mengurus pernikahan kita." Ayres berkata seraya menyuapi Andrienna yang menerima suapannya dengan patuh.
"Apakah kau sungguh-sungguh mencintaiku?" tanyanya pelan membuat Ayres tersenyum.
"Kau mau aku membuktikannya?" tanya Ayres pula hingga Andrienna menelan makanannya dan menatap wajah Ayres.
"Bagaimana caranya kau akan membuktikan perasaanmu padaku?" tanya Andrienna tak paham, juga pikirannya mulai berubah menjadi agak lemot.
Dia memang begitu, Ayres sudah paham dan tahu bagaimana sikap wanita ini. Dulu saat dia masih sekolah dengan Andrienna, gadis ini juga kadang suka mengatakan kalau banyak pelajaran sekolah yang tak dia pahami, juga kadang kalau ada yang mengaku suka padanya maka Andrienna akan bersikap sama seperti sekarang, yaitu lemot.
Dia seperti tak paham walau sebenarnya dia juga mengerti. Ayres dan teman-teman lelaki dulu di kelasnya banyak tak mengerti dengan tingkah laku Andrienna yang polos dan menggemaskan itu. Dan sekarang, wanita yang polos dan menggemaskan ini sudah mengandung anaknya dan akan menjadi istrinya.
Suatu hal yang membuatnya tersenyum, seraya memeluk pinggang wanita yang sedang duduk di kursi itu.
__ADS_1
"Kau mau cara yang bagaimana, Baby? Aku akan lakukan selama kau yang meminta."