Mengandung Bayi Mafia

Mengandung Bayi Mafia
Kamar Siapa?


__ADS_3

Morgan tersenyum kecil dari kejauhan melihat bagaimana ulah Ayres yang meyakinkan hati Andrienna. Gadis yang baginya lumayan cantik, tubuhnya ideal walau ya, lebih pendek darinya dan juga Ayres.


Mereka memang memiliki tinggi badan yang lebih daripada yang lainnya. Dikarenakan keduanya suka berolahraga sejak kecil dan memang harus memiliki tinggi badan yang di atas rata-rata agar bisa menjadi pemimpin. Para anggota mafia mereka adalah orang-orang yang kekar dan tinggi, jadi mereka harus bisa lebih tinggi lagi.


"Kau tidak akan menyesal jika menikah dengannya, Ayres. Kau harus menghentikan semua ulahmu yang menjijikkan itu. Bermain wanita hanya akan membuatmu menyesal kemudian, lebih baik kau mencari wanita yang satu agar bisa menghabiskan hidupmu dengannya."


Morgan melangkah pergi ketika melihat Ayres membawa wanita bernama Andrienna Cellia itu ke mobil. Anak buahnya ikut melangkah, berjalan bersamanya menuruni tangga yang ada di gedung yang mereka sebagai tempat untuk melihat apa yang akan terjadi pada Ayres setelah mereka membuat semua penghuni kost geger.


Tak lama, Morgan yang sudah melihat kedatangan Ayres. Pria itu tampak menggendong Andrienna yang tertidur, sebelum akhirnya masuk ke dalam rumah.


"Siapa dia?" Morgan bertanya datar, bangkit dari duduknya dan melihat Ayres yang tampak berhenti melangkah.


"Dia adalah wanitaku," ucap Ayres dengan tatapan serius pada kakaknya itu. "Jangan pernah menyentuhnya, atau aku akan membuat perhitungan denganmu."


Morgan tak mengatakan apapun, dia hanya diam bahkan sampai Ayres meninggalkannya dan membawa wanita itu ke arah tangga. Senyuman kecil hinggap di bibir Morgan, dia kembali duduk dan menatap berkas yang dibacanya. Sengaja dia pulang lebih cepat agar tak ada masalah atau agar Ayres tak curiga padanya yang ikut keluar. Hingga sekarang, dia tersenyum ketika


Ayres tiba di lantai atas dan masuk ke kamarnya, dia meletakkan tubuh wanitanya itu dengan lembut di atas ranjangnya. Tatapannya tampak lembut melihat wajah wanita yang sedang mengandung anaknya ini, terlebih lagi dia tampak nyaman dan lelah. Wajah Andrienna terlihat memang memiliki raut imut yang membuatnya tersenyum kecil sebelum mengecup lembut dahinya.


"Aku akan menikahimu, memang akan menikahimu ada ataupun tidaknya masalah tadi, Baby. Karena ... kau sudah mengandung anakku maka kau tidak akan kubiarkan sendirian mengalami ini semua."


Dengan lembut dia mengusap wajah Andrienna, lalu tersenyum dan bangkit menyelimutinya. Andrienna memiringkan tubuhnya, memejamkan matanya dengan lebih nyaman dan melupakan semua yang terjadi hari ini.


Berjalan keluar dari kamar, dia menuruni tangga dan melihat Morgan yang masih duduk membaca berkas.


"Morgan," panggilnya membuat pria itu menoleh pada sang adik.

__ADS_1


"Ya? Ada apa?" tanyanya dengan alis terangkat saat menatap wajah adiknya yang sudah duduk dihadapannya.


"Besok-besok selama seminggu kedepan, kau yang memegang urusan. Aku mau menikahinya jadi harus mempersiapkan semuanya." Ayres berkata dengan wajahnya yang datar membuat Morgan tersenyum kecil.


"Yakin kau akan menikahinya?"


"Ya, lantas apalagi? Kau yang mau menikahinya? Langkahi dulu mayatku baru kau bisa melakukannya, itupun kalau aku tidak menjadi hantu untuk membunuhmu sekali lagi."


Morgan tertawa kecil mendengar ucapan adiknya itu. "Baiklah, aku hanya mau tanya apakah kau menikahinya karena sesuatu hal? Kudengar dari anak buah yang mengikutimu, kau terpergok oleh para penghuni kost sehingga mereka memaksamu untuk menikahinya. Apakah karena hal itu makanya kau mau menikahinya, Ayres?" tanyanya datar membuat Ayres bersandar di punggung kursi.


"Tidak, aku sengaja datang kesana untuk melihatnya tapi aku tidak menyangka kalau dia sudah tidur. Sekarang keadaan tidak membuatku yakin untuk memberitahu kalau anak yang dia kandung adalah anakku. Makanya aku tidak akan katakan dalam waktu dekat," ucapnya membuat Morgan tersenyum kecil.


"Kapan kau akan katakan?"


"Aku belum tahu, kalau keadaan sudah normal maka aku berusaha mengatakannya. Bagaimanapun juga, selain karena aku sudah menjebaknya, dia juga merupakan temanku. Aku khawatir, dia kecewa dan malah akan berdampak buruk pada bayiku."


Ayres mengangguk pelan. "Ya, dia adalah temanku saat SMA, aku tidak menyangka sebelumnya makanya aku agak khawatir kalau dia akan kecewa dan malah meninggalkanku. Dia adalah orang kaya, dia memiliki banyak perusahaan. Aku tidak mau malah membuatnya meninggalkanku karena aku tidak ingin anakku malah membenciku nanti. Sementara aku butuh pewaris, kau mengerti, 'kan?"


Morgan mengangguk-angguk. "Kau benar, perlahan-lahan saja."


"Ya, kau juga sangat menyebalkan, Morgan." Ayres melipat kakinya, menatap wajah kakaknya yang sudah mengerut.


"Apa salahku?"


"Kapan kau akan mencari istri? Kau juga harus memberikan anak untuk usaha kita selanjutnya. Namun lihatlah, bagaimana kau masih santai seolah kau masih muda? Siapa yang tahu kalau aku akan mati besok? Lalu kau akan menyerahkan semua usaha ini padaku? Apakah kau pernah berpikir kalau melakukan usaha ini sendiri tidaklah mudah?"

__ADS_1


Morgan berdecak pelan. "Nanti saja, aku pasti akan menemukan gadis yang sesuai denganku. Karena bagaimanapun juga, usaha kita bukan usaha sembarangan jadi kita harus mencari gadis yang sesuai agar bisa menerima kalau kita ternyata adalah dua orang mafia. Sekarang kau sudah mendapatkan gadismu, jaga dia baik-baik dan minta para wanita itu pergi. Apakah kau masih memiliki akal? Gadis itu sekarang sudah menjadi calon istrimu, sedang mengandung anakmu, apakah kau masih memiliki pikiran hingga terus membiarkan kelima orang wanita itu bersamamu? Dia bisa sakit hati."


Ayres mengangguk-angguk. "Tenang saja, aku akan mengurusnya. Apakah itu adalah laporan dari anak buah? Biarkan aku membantumu memeriksanya."


"Kau tidak menemaninya tidur?"


Ayres menggeleng pelan. "Nanti saja, berikan padaku. Kita selesaikan bersama."


Morgan tersenyum, menyerahkan beberapa buah berkas dan memeriksa apa saja yang ada disana. Keduanya bertukar pendapat, membahas apa saja keuntungan dan kerugian, juga sebagian sorotan untuk aparat keamanan setempat.


Masing-masing tangan kanan mereka mendekat, membawakan minuman dan juga sama-sama berdiskusi terkait apa yang akan dilakukan.


***


Seorang wanita yang tengah tidur itu tiba-tiba meringis menahan sakit kepalanya di pagi hari yang masih buta. Dia membuka matanya, lalu menatap apa yang ada di sekitarnya.


"Dimana aku? Tadi malam Ayres datang dan sekarang dia membawaku kemana?" gumannya seraya membuka matanya lebih lebar dan menahan rasa mual yang terasa di ulu hatinya.


Dia pasti akan selalu mual kalau bangun pagi, hingga sekarang rasa mual itu juga terasa kuat. Tampak sekitarnya adalah kamar seorang yang dia ketahui dari interiornya adalah kamar pria. Apakah dia ada di kamar Ayres sekarang ini?


"Ayres?" panggilnya memberanikan diri, seraya bergerak turun dari atas ranjang dan menatap sandal hangat di kakinya.


Andrienna mengenakannya, lalu berjalan perlahan dan merasakan perutnya yang seolah terasa diaduk-aduk.


"Sshhh, aduh ..."

__ADS_1


Pintu kamar terbuka dan Ayres muncul di sana sebelum berjalan cepat ke arah Andrienna yang tengah memeluk perutnya.


"Andrienna ... ada apa? Apa yang terjadi padamu?"


__ADS_2