
Andrienna menatap wajah Ayres dengan tatapan yang tampak mengerut. Dia menggeser kursinya membuat pria itu tersenyum dan meraih tangannya dan membawanya lebih dekat.
"Ih, Ayres, lepaskan …. Jangan melakukan apapun padaku atau aku akan membuatmu menyesal!" ancamnya membuat Ayres tersenyum kecil.
Dia menyuapkan makanan lagi ke mulut Andrienna, membuat wanita itu akhirnya menerima makanannya lagi dan menatap wajah Ayres yang tampak lembut menatapnya.
"Kita mau kemana setelah ini?" tanya Andrienna setelah memakan dua kali suapan dari Ayres.
"Ke suatu tempat, habiskan makanannya."
Andrienna menatapnya yang tampak sangat pengertian hingga gadis itu tersenyum dan memakan makanannya dengan baik. Dia suka dengan cara Ayres memperlakukannya, hingga sekarang dia merasa kalau pria ini terlalu tulus hingga dia merasa malu.
"Ayres ...."
Ayres yang merasa dipanggil namanya menoleh. Dia mendapati seorang wanita yang selama ini tinggal di sisinya sudah melangkah mendekati dengan anak buah Ayres yang mengikuti langkahnya.
"Siapa yang meminta kalian membawanya masuk?" tanyanya datar membuat Ghea yang merupakan nama wanita itu mengerutkan wajahnya.
Andrienna ikut mengerutkan wajahnya, dia melihat Ayres yang sudah menegakkan tubuhnya dengan datar sebelum melihat wanita itu.
"Memangnya kenapa? Kau tidak pernah- Hei! Apa yang kalian lakukan? Lepaskan aku! Ayres! Mengapa kau melakukan ini padaku?"
Ayres terlihat tak peduli, dia hanya diam dengan datar, membuat Andrienna tak mengerti apa yang sudah terjadi.
"Ada apa, Ayres? Kau kenal wanita tadi?" tanyanya dengan tatapan bingung membuat Ayres menatap ke arahnya dan menghela napas pelan.
"Hanya seorang pelayan rumah belakang, bukan orang yang penting." Ayres berkata seraya meletakkan piring bekas makan lalu menatap wajah Andrienna yang sudah mengangguk-angguk.
__ADS_1
"Namun, kalau pelayan kenapa dia berani memanggilmu dengan sebutan nama dan bahkan mengancammu? Kalian sepertinya cukup dekat." Andrienna berkata pelan, seolah sedang berpikir sendiri, hal yang membuat Ayres tersenyum kecil.
"Dia memang suka membantah perintahku, aku akan mengurusnya nanti. Baiklah, karena kau sudah selesai, bagaimana kalau kita pergi sekarang?" tanyanya membuat Andrienna akhirnya mengalihkan rasa penasarannya dan mengambil gelas untuk minum.
Dia menatap wajah Ayres yang sudah tersenyum. Pria itu bangkit lebih dulu dan mengambil tangannya, sebelum akhirnya mereka meninggalkan ruang makan dan pelayan yang sejak tadi ada disana bergerak merapikan bekas makan mereka.
"Kita ke kost dulu, ya? Aku mau mengambil barang-barang berhargaku dari sana." Andrienna berkata membuat Ayres menatapnya seraya berjalan menuju luar.
"Kau mau tinggal di mana setelah ini?"
Andrienna diam sejenak. "Entahlah, mungkin ke apartemen dan menyewanya sampai kita menikah. Kapan kau akan menikahiku?" tanyanya membuat Ayres tersenyum mendengar kata 'menikah' dari bibir Andrienna.
Dulunya dia berpikir kalau tak akan sampai di jenjang ini dalam waktu dekat karena belum menemukan gadis yang sesuai. Namun sekarang, siapa yang menyangka kalau wanita yang membuatnya yakin adalah teman sekolahnya sendiri.
"Dalam minggu ini, tinggallah denganku saja, aku tidak akan tenang kalau kau diluar sendiri. Nanti kalau kau muntah-muntah lagi bagaimana? Siapa yang akan mengurusmu? Aku tidak mau kau malah mengalami kesulitan sendiri nantinya. Karena kau muntah-muntah tadi pagi, aku sudah khawatir berlebihan padamu."
"Apakah tidak masalah? Bagaimana kalau nanti ada yang keberatan?"
"Siapa yang akan keberatan? Setelah kita pulang nanti, aku akan mengumumkan secara resmi di rumah ini kalau kau adalah calon istriku. Siapa yang akan melarangmu untuk tinggal di rumah calon suamimu sendiri?" tanyanya dengan alis terangkat membuat Andrienna terdiam.
Rasanya ucapan itu adalah hal yang menyenangkan didengar. Andrienna memang memiliki seorang yang baginya spesial, Kevin yang dia sebut sebagai pacarnya tadi, bahkan dia menaruh hati padanya. Namun, pria itu memintanya menunggu entah sampai berapa lama lagi dan itu cukup membuatnya merasa sedih sendiri.
Dia sudah menunggu selama lebih dari tiga tahun dan belum ada kepastian sama sekali. Sementara dengan Ayres, baru bertemu selama sehari dia sudah dicap sebagai calon istri.
Hal yang membuatnya kesal, mengapa ... mengapa Ayres tak katakan sejak awal kalau menyukainya? Kenapa harus sekarang di saat semuanya dalam keadaan begini? Saat dia bahkan sudah mengandung anak pria lain?
"Ayo kita pergi, itu mobilku sudah dikeluarkan."
__ADS_1
Andrienna melangkah akibat tarikan tangan Ayres, dia akhirnya menghela napas dan membiarkan Ayres membukakan pintu mobil untuknya. Tak lama, keduanya sudah masuk mobil dan Ayres sendiri yang membawa mobil Buggati berwarna hitam merah itu melesat meninggalkan kediaman.
Andrienna diam di tempatnya, lalu menatap wajah Ayres yang serius mengemudi dan sudah memakai earphone-nya.
"Hmm, kirimkan kurang lebih sepuluh orang. Ya, ada yang mau kulakukan. Sisanya kalian urus saja, ada Morgan disana jadi kalian bisa langsung koordinasikan dengannya. Aku sedang sibuk beberapa hari ini, setelah menikah maka aku akan kembali mengurusnya."
Panggilan berakhir, Ayres menekan sisi airphone-nya dan langsung tersambung dengan yang lainnya.
"Mungkin kurang dari satu jam kami akan tiba di sana. Kau tunggulah, kalau kau tidak ada disana maka aku akan membuat perhitungan denganmu."
Andrienna menggeleng pelan mendengarnya, seraya menatap ke arah luar. Jalanan yang mereka lalui terlihat agak ramai. Dia tak membawa apapun saat ini, hanya membawa dirinya sendiri karena tadi malam saat mereka di gerebek dia langsung dibawa oleh Ayres ke rumah pria ini tanpa sempat memikirkan yang lainnya.
Tak lama, mereka sudah tiba di parkiran kost. Lalu dengan tatapan lembut dia menatap Andrienna dan mengajaknya turun. Seorang anak buah Ayres yang mengikuti mereka melangkah lebih dulu membuat Andrienna dapat mengenali dari pakaiannya kalau itu adalah anak buah Ayres yang tiga orang berjaga di bawah, sementara enam orang lagi berjaga di atas dan bahkan ada yang sudah membukakan pintu.
Andrienna mengerutkan dahinya, dia menatap ke arah Ayres yang santai membawanya masuk ke dalam kost-an.
"Kita akan pindah ke rumahku, ambillah beberapa barang berharga yang kau katakan. Sisanya biar di urus anak buah, biar mereka yang membawanya ke kediamanku nanti."
Andrienna mengangguk mendengarnya. Dia melangkah ke arah nakas, tapi sebelumnya dia mengambil tas dan juga bag dari bawah ranjang. Ayres memperhatikan apa yang dilakukan oleh Andrienna, seraya melangkah mendekat dan melihat Andrienna yang sudah mengeluarkan beberapa ikat uang.
Tatapan Ayres tampak menyipit melihatnya, Andrienna memiliki banyak uang dan itu membuatnya heran.
"Kenapa kau menyimpan uang disini? Kenapa tidak dimasukkan ke bank?" tanyanya seraya berjongkok dan membantu melebarkan tas itu agar Andrienna mudah memasukkannya.
"Niatnya aku akan pergi hari ini karena uang ini baru diantarkan asistenku semalam. Mungkin nanti, setelah kita mengurus apa yang mau diurus baru aku akan ke bank."
Ayres terdiam mendengarnya, dia sudah tahu kalau Andrienna memang memiliki sebuah perusahaan. Makanya dia harus bersikap sabar mulai sekarang, agar Andrienna bisa terus bersamanya.
__ADS_1
Karena wanita itu tak bisa diiming-imingi dengan uang dan harta benda, berbeda dengan para wanita lain yang sengaja mengincarnya hanya karena tertarik dengan kekayaannya.