Mengandung Bayi Mafia

Mengandung Bayi Mafia
Pertanyaan Ayres


__ADS_3

Andrienna tergeletak lemah usai memuntahkan apa yang mau dia muntahkan. Rasanya seluruh kepalanya berdenyut sakit, membuat Ayres cemas seraya memijat kepala wanita itu.


Efek kehamilan yang dialami olehnya membuat Andrienna begitu kasihan baginya. Dia harus muntah-muntah dan wajahnya terlihat pucat, membuat Ayres tak tega dan rela menjadi tukang pijatnya. Karena bagaimanapun juga, wanita ini mengalami semuanya karena sedang mengandung anaknya.


"Apakah sudah lebih baik? Istirahat saja, pejamkan matamu. Aku sudah meminta pelayan membuatkan teh jahe, sebentar lagi pasti akan datang."


Andrienna tak mengatakan apapun, dia merasa mual. Morning sickness yang dia alami cukup parah. Diusapnya dengan lembut wajah wanita itu, hingga Andrienna merasa nyaman dan perlahan terlelap karena dia merasa lemah.


Ketika dia benar-benar tertidur, Ayres melihat ke arah pintu dan bangkit membukanya. Seorang dokter sudah berdiri dengan pelayan yang membawakan teh jahe hangat membuat Ayres langsung meminta mereka masuk.


"Apakah ada keluhan pada kekasih anda, Tuan Muda?" tanya dokter wanita itu, seraya meletakkan tasnya dan mulai memeriksa keadaan wanita yang terlelap di atas ranjangnya.


"Dia hamil," ucap Ayres membuat dokter itu beroh ria cepat. "Kau berikan dia obat untuk mencegah muntah-muntah atau pereda mual. Juga berikanlah dia suntikan penguat kandungan. Keadaannya sekarang sedang dalam pikiran stress, aku tidak mau dia dan anakku kenapa-napa."


Dokter itu mengangguk dengan patuh, melakukan apa yang dia minta dengan cepat dan memastikan keadaan kekasih dari Tuannya itu bisa membaik. Dia adalah dokter wanita yang selalu datang ketika Ayres memanggilnya jika ada beberapa anggota mafia pria ini yang terluka. Dia adalah dokter pribadi, Ayres menjadikannya sebagai itu karena dia cekatan dan juga pandai segala hal dalam ilmu pengobatan.


Makanya hari ini Ayres juga mempercayainya dengan membawanya untuk memeriksa Andrienna. Gadis yang sedang mengandung bayinya itu, mengandung bayi pemimpin mafia.


"Nona sudah lebih baik, Tuan. Memang hormon kehamilan pastinya akan berar di awal. Muntah-muntah, tidak selera makan dan juga mudah bad mood atau menangis. Semua faktor ini karena bayi yang ada di kandungannya, juga bisa karena sebuah ketakutan yang dialami. Sebagai calon ayah saya berharap Anda bisa menjadi ayah yang siaga. Karena bagaimanapun juga, mengandung itu tidak mudah."


Ayres mengangguk pelan.

__ADS_1


"Saya akan segera kembali setelah membawa obat yang harus Nona Muda minum agar bisa mengurangi mual muntah yang dia alami. Saya permisi, Tuan Muda. Selamat atas kehamilan kekasih anda."


Ayres mengangguk lagi. "Terima kasih."


Dokter wanita itu mengangguk dalam, lalu beranjak pergi. Dia menatap wajah Andrienna yang terlelap itu, sebelum akhirnya menghela napasnya.


"Andrienna ... maafkan aku," gumamnya seraya duduk di sebelah wanita yang sedang tak sadarkan diri itu. "Maaf karena kebodohanku yang tidak mengenalimu makanya kau harus mengalami ini. Aku menyesal, melihat keadaanmu yang sulit dalam mengandung anakku, aku jadi tidak tahu apa yang bisa kulakukan untukmu. Namun, aku janji, aku akan mendampingimu melewati semuanya. Tidak akan kubiarkan kau menjalaninya sendiri. Aku tidak akan melewatkan sedikitpun perkembangan anak kita."


Ayres tersenyum, wajahnya merasa bersalah tapi dia tak bisa melakukan apapun selain menjalani semuanya dengan baik bersama dengan Andrienna. Dia akan menjaga dan merawat wanita ini, lalu juga akan menyiapkan acara pesta pernikahan yang baik untuk mereka. Karena dia ingin menghabiskan waktunya dengan Andrienna.


Didekati Ayres wajah wanitanya itu, lalu mulai mencium bibirnya dan memagutnya dalam penuh perasaan. Sudah sejak tiga minggu terakhir dia tak menyentuh satupun wanita yang sengaja dia bawa ke rumahnya untuk menjadi pemuas dahaganya. Semenjak dia menghabiskan malam dengan Andrienna uang merupakan temannya, sejak saat itu cinta dan hasratnya seolah terjebak dengan gadis ini hingga dia tak bisa jika harus melakukannya dengan wanita lain.


Apalagi keempat wanita itu sudah mulai membosankan baginya. Bagaimana tidak? Mereka rata-rata matre dan menyebalkan. Bahkan dalam diam Ayres selalu menunggu apakah mereka ada yang hamil atau tidak, tapi selama beberapa tahun bersamanya tak ada yang berhasil hamil diantara mereka membuatnya merasa sebal.


Andrienna dalam tidurnya yang separuh pingsan merasakan ciuman hangat itu. Dia tersenyum, memejamkan matanya semakin nyaman dan membiarkan seseorang itu memeluknya dengan lembut. Entah mengapa dia malah merasa tenang, tak ada rasa takut sama sekali pada sosok yang sedang memeluknya dengan lembut ini.


Ayres juga memeluknya dengan nyaman, sengaja berlama-lama meletakkan kepalanya di atas tubuh Andrienna. Sementara itu, Morgan terdiam melihat ulah adiknya itu, sebelum akhirnya dia tersenyum kecil dan meninggalkan pintu kamar Ayres.


"Wanita itu benar sudah baik-baik saja?" tanyanya pada Dokter wanita yang tadi memeriksa Andrienna.


"Ya, Tuan. Nona itu sudah baik-baik saja dan sekarang dia dalam keadaan lelap. Morning sicknes adalah hal yang sangat wajar terjadi dalam kehamilan, apalagi kehamilan trimester pertama adalah hal yang lebih berat. Semuanya akan baik-baik saja, apalagi Tuan Muda Ayres juga peduli padanya. Dia pasti menginginkan anak dalam kandungan kekasihnya itu."

__ADS_1


Morgan tak mengatakan apapun, wajahnya tetap datar dan tegas seperti biasanya. "Pergilah."


Wanita itu mengangguk sopan, lalu melangkah pergi dari hadapannya. Morgan menatap ke arah kepergian gadis itu, sampai pada akhirnya dia menghela napas dan menatap berkasnya.


"Pernikahan Ayres dan gadis itu akan terjadi, aku tidak yakin apakah Ayres akan terus menjadi pemimpin dalam waktu dekat ini. Istrinya tentu harus dia urus lebih banyak apalagi kehamilan wanita itu adalah hal yang utama bagi hidupnya. Dia pastinya akan mencurahkan semua perhatiannya pada Andrienna." Morgan menghela napas pelan, lalu mengangguk dan kembali membaca berkas di ruangannya.


Dia senang, setidaknya Ayres pasti akan berhenti bermain-main dengan empat wanita itu. Hidup adiknya akan lebih baik kalau dia memusatkan perhatian pada gadis yang terlihat baik itu.


***


"Apakah masih akan muntah?"


Andrienna menatap wajah Ayres di seberang meja makan, pria itu tampak agak cemas membuatnya tersenyum kecil dan menggeleng.


"Tidak, aku masih bisa menahannya. Aku lapar," ucapnya seraya kembali memakan makanannya.


Ayres menghela napas, lalu memakan makanannya juga dan menatap wajah Andrienna yang tampak masih pucat.


"Maaf sudah membuatmu cemas dan repot, sampai memanggil dokter untukku. Seharusnya, aku tidak merepotkanmu, harusnya ayah dari bayi ini yang bertanggung jawab padaku. Namun, aku tidak tahu siapa dia makanya begini." Andrienna berkata dengan mata berkaca-kaca.


Sedih sekali, dia tak sanggup menahan tangisannya bahkan di hadapan Ayres yang sudah menghela napas pelan sebelum bertanya dengan ragu.

__ADS_1


"Kalaupun kau bertemu dengannya, apakah kau akan memaafkannya, Baby?"


"Tidak, sama sekali tidak."


__ADS_2