
Ayres melihat para warga yang meneriaki mereka untuk mempertanggungjawabkan apa yang sudah mereka lakukan. Mereka dituduh sudah melakukan hubungan gelap atau kencan semalam di dalam kost-an, hingga ibu kost bahkan datang dan melihat kerusuhan yang sudah terjadi di kost miliknya.
Adrienna dan juga seorang pria muda yang tampan. Pemilik kost itu menyadari kalau pria itu tidak sama dengan pria yang selalu dibawa oleh Andrienna kemari. Dia sungguh tak menyangka kalau gadis yang selalu berkelakuan baik dan bersikap lembut itu berani membawa banyak pria ke dalam kamar kostnya.
"Kami sungguhan tidak melakukan apapun, Nyonya. Jangan salah paham, dia adalah teman saya." Andrienna berkata, membela dirinya sendiri seraya menatap Ayres yang hanya diam saja tertunduk di sampingnya.
"Mana ada yang mau mengakui kesalahannya, kalian pasti sudah melakukan apa-apa! Bagaimana bisa ada seorang wanita dan pria di dalam suatu tempat tanpa melakukan apa-apa? Jangan bercanda!"
"Aku sungguhan tidak melakukan apapun!" Andrienna membentak pria yang merupakan penghuni salah satu unit kost itu. "Kau jangan menyebarkan rumor atau aku bisa membeli harga dirimu!"
Ayres menatap wajah Andrienna yang memerah, seolah siap menangis. Hal itu membuatnya menghela napas dan menatap wajah pemilik kost yang tampak tak mampu bicara.
"Karena kesalahan ini, saya sebagai laki-laki bersedia untuk bertanggung jawab." Ayres berkata dengan wajahnya yang serius membuat pemilik kost itu menaikkan alisnya.
"Tanggung jawab apa yang akan kamu lakukan memangnya?" tanyanya datar membuat Ayres mengerutkan wajahnya tajam. "Ulah Kalian berdua sudah membuat kenyamanan di tempat tinggal ini terganggu. Apakah kau tahu nama baik kost-anku ini bisa jelek di mata orang-orang yang akan menyewanya. Selama ini kost laki-laki dan perempuan berbeda, tapi kau malah berani untuk masuk ke dalam kost perempuan dan bahkan tidur di atas ranjangnya."
Ayres mengepalkan tangannya mendengar ucapan itu. Pemilik kost ini benar-benar seperti menyepelekannya. Dia adalah seorang mafia, bagaimana bisa disepelekan oleh manusia biasa yang hanya memiliki kost-kost-an? Brengsek sekali!
__ADS_1
"Saya akan ganti rugi-"
"Aku akan menikahinya!" Ayres memotong ucapan Andrienna dengan tegas dan dalam membuat Andrienna membulatkan matanya menatap wajah Ayres yang tampak serius memandang pemilik kost itu. "Itu adalah tanggung jawab paling besar, bukan? Dan aku bisa membeli kost ini hanya dengan satu perintahku. Katakan saja berapa harganya, aku akan membelinya!"
Pemilik kost itu tampak menggenggam tangannya sendiri ketika Ayres bangkit dan membantu Andrienna yang masih mematung. Dia menoleh pada semua penghuni kost yang langsung menunduk seolah melihat kalau kemarahan pria ini mulai berkobar.
"Aku akan mengirimkan anak buahku untuk mengantarkan uang. Aku juga bisa membuat kantor notaris buka untuk membuat surat pergantian nama untuk kost ini. Tunggu saja besok siang, aku akan membeli kostmu tanpa ada bantahan atau kau yang akan menyesal." Usai mengatakannya, Ayres berjalan pergi.
Andrienna hanya bisa melangkah mengikutinya turun dari lantai atas ke bawah. Wanita yang ada dalam genggamannya ini terasa menegang tapi Ayres tak mau menekankan.
"Kenapa kau bisa ada di atas ranjangku, Ayres?" Saat mereka sudah menuju mobil, Andrienna baru berani bicara setelah menekan semua keterangannya.
"Bagaimana mungkin? Kalau kau mau bertamu seharusnya kamu mengetuk pintu kostku, bukan malah asal masuk. Kau masuk darimana?" tanya Andrienna lagi, wajahnya tampak begitu kesal dan juga cemas.
Ayres menghela napas, bersandar di badan mobilnya dan bersedekap menatap kegelisahan wanitanya itu.
"Saat aku datang, aku sudah mengetuk pintu kamar kostmu dan kau tidak menjawab. Aku sudah akan pergi tapi aku melihat kalau pintu kamarmu belum terkunci jadi aku masuk ke dalam. Bagaimana bisa kau malah mau menyalahkanku? Kau sangat ceroboh hingga bisa membiarkan pintumu terbuka dan kau tidak menguncinya dari dalam."
__ADS_1
Andrienna mengerutkan wajahnya, dia berhenti melangkah dan menatap Ayres yang sudah bicara.
"Pintu kamar kostku dikunci, bagaimana bisa kau mengatakan kalau pintunya tidak di kunci?" Andrienna mengelak, dia memang merasa sudah menguncinya dan tidak ada yang salah.
Bahkan dia ingat sudah meletakkan kunci itu ke atas nakas sebelum akhirnya dia tidur.
"Kalau memang sudah dikunci, bagaimana aku bisa masuk, Baby?" tanya Ayres dengan tatapannya yang tak paham. "Aku bukan tikus yang bisa masuk dari saluran pipa atau sebuah lubang? Aku masuk katakan pintunya juga tidak dikunci. Aku menguncinya, lalu melihatmu yang sudah tidur. Coba Kau Bayangkan, bagaimana jadinya kalau aku tidak lewat? Kau pasti akan tetap tidur dengan keadaan kamar yang masih terbuka? Bagaimana jika ada pencuri masuk dan membunuhmu untuk merampok perhiasan atau barang-barangmu. Apakah kau pernah memikirkan kesana? Kau hanya menyalahkan kenapa aku bisa ada di kamarku, sementara kau tidak tahu kalau tidak ada aku maka kau bisa saja dalam keadaan bahaya."
Andrienna terdiam mendengarnya, seraya menatap wajah Ayres yang sudah bergerak dan memegang bahunya dengan lembut.
"Tadi siang aku sudah meninggalkanmu, maaf. Tadi aku datang lagi dan akhirnya menjadi seperti ini. Aku akan mengembalikan nama baikmu, kita akan menikah agar kabar ini tidak menyebar," putusnya membuat Andrienna membulatkan matanya.
"Ayres! Tidak perlu menikah, aku bisa mengurus nama baikku sendiri. Kau tahu bagaimana keadaanku, aku bahkan sudah hamil diluar pernikahan. Jangan mempertaruhkan hidupmu hanya karena aku, aku tidak mau kau bertanggung jawab sementara yang seharusnya bertanggung jawab adalah pria yang sudah merenggut kesucianku." Andrienna berkata seraya menangis, kehidupannya benar-benar berbanding terbalik dan dia sungguhan tak pernah menyangka.
Ayres menggenggam bahunya makin erat. "Aku akan menikahimu, itu sudah menjadi keputusanku," ucapnya dengan tatapan lembut menatapnya wajah Andrienna yang tampak memejamkan matanya dan menggeleng.
"Aku hamil, Ayres. Hamil anak orang lain, hamil anak pria lain. Bagaimana bisa kau malah mau menikah denganku yang seperti ini? Kau jangan gila, tidak ada pria yang benar-benar mau menikahi gadis hamil diluar nikah sepertiku," ucapnya semakin terisak-isak membuat Ayres memeluknya dan membiarkan Andrienna menangis dalam pelukannya.
__ADS_1
"Kenapa hidupku begitu sial? Setelah kematian orang tuaku, kenapa aku harus mengalami ini semua? Kenapa aku harus ternoda oleh pria tidak bertanggung jawab? Sampai aku akhirnya mengandung anak pria brengsek itu! Lalu lihatlah bagaimana takdir mempermainkan hidupku! Aku mau mati saja rasanya, hidup juga tidak ada gunanya. Seumur hidupku, aku hanya akan membawa malu dan juga aib ini!" Andrienna berkata seraya menangis, terisak-isak di dada Ayres yang sudah diam seperti patung.
Sungguhan ... setelah sekian lama dia akhirnya menyadari kalau dia sangat brengsek.