
Ayres mengembuskan napasnya, dengan tangan yang perlahan membuka kancing jaketnya. Disampirkannya jaket itu ke atas ranjang, lalu duduk dan menunduk dengan dua tangan yang memegang sisi kepalanya.
Tidak ada suara yang terdengar, hanya helaan napas gusarnya yang memenuhi kamarnya yang hitam dan mendominasi. Selama ini dia tak pernah segusar dan setertekan ini, oranglah yang dibuatnya gusar dan tertekan. Namun, hari ini, sejak sebulan lalu Andrienna hilang dari kamarnya. Satu lagi, dia merasa begitu terhenyak karena anaknya yang dia hadirkan dengan perbuatan kasar, dengan paksa. Tentunya itu sesuatu yang tak termaafkan baginya sendiri.
"Apa yang bisa kulakukan? Tidak mungkin aku mengatakan kalau aku ayahnya, tidak mungkin. Dia bisa membenciku, sementara aku harus mulai memikirkan tentang mereka. Apa yang bisa kulakukan. Haruskah aku menikahinya?"
Bola mata Ayres membelalak, sontak saja dia langsung bangkit dan tersenyum lebar.
"Nikah, ya, nikah! Aku akan menikahinya tanpa dia ketahui kalau akulah ayah bayi itu. Jika aku sudah menikahinya, maka akan mudah bagiku melakukan apa saja. Aku bisa mengawasinya, mengawasi anak itu." Ayres tersenyum, lalu menatap pintu kamarnya yang di ketuk.
"Ayres ... kau baru pulang, ya?" Tanpa malu dan tanpa segan, Felia, salah satu wanita dari Ayres langsung memeluk lengannya manja.
Ayres berdesis tidak nyaman, dia langsung menggerakkan lengannya agar wanita itu melepasnya.
"Mau apa kau masuk kedalam kamarku?" Ayres bertanya dingin, menatap mata wanita itu dengan tajam.
"Aku merindukanmu. Kau sudah pergi selama satu minggu. Wajar, 'kan? Lagipula kita punya hubungan, kita partner, Ayres."
Bola mata Ayres membulat tajam. "Keluar dari kamarku, sekarang!"
Felia menggeleng. "Ini malam," ucapnya sambil memegang bahu Ayres. "Aku ingin memandikan-"
Plak!
"Aww ..." Felia memegang pergelangan tangannya, menatap Ayres dengan tatapan cemberut takut.
Seisi kamar mulai hening, dengan aura negatif yang keluar dari tubuh Ayres.
"Kau tidak dengan ucapanku, Felia? Atau perlukah aku menghancurkanmu?"
Felia membeliak, masih memegang pergelangan tangannya.
"Aku sedang pusing, jangan ganggu aku sampai aku yang mendatangi kalian. Paham?"
"I-iya."
"Keluar!" Sentaknya tajam, hingga Felia menunduk pelan dan berbalik.
__ADS_1
Tak peduli bagaimana pakaian seksi yang di pakai Felia. Ayres yang biasanya menyambut mereka kini merasa kesal karena kedatangannya yang tak di minta.
Dia kembali duduk, mengusap wajahnya dan memangku dagunya yang terpahat sempurna.
"Sepertinya aku harus membuat peraturan baru." Dia bergumam datar. "Akan sangat membahayakan kalau Andrienna kubawa kemari sedangkan para wanita itu suka masuk ke dalam kamarku. Itu hanya akan membuatnya jijik padaku."
Helaan napas panjang terasa keluar dari mulut dan hidungnya. Memenuhi ruang depannya dengan uap karena cuaca yang tengah dingin.
Tubuhnya beranjak bangkit, menuju ke meja kerjanya yang ada di kamar itu. Dia mengambil ponsel, lalu mengetikkan sesuatu untuk anak buahnya.
Setelahnya dia melangkah kekamar mandi. Membersihkan diri dengan tubuh yang ada di sana, tapi tidak tahu ke mana pikirannya melayang-layang.
Tak lama, shower sudah mati beserta dengan akhir dari mandinya. Dia memakai pakaiannya, menata rambutnya dan menyemprotkan parfume. Jika biasanya salah satu dari wanitanya yang akan menyiapkan semuanya untuknya, kali ini dia lebih suka sendiri. Bahkan saat mengikat sepatu, dia menaikkan kakinya keatas meja dan mengikatnya dengan santai.
Diambilnya sebuah shotgun dari dalam lemari brankas, lalu melangkah setelah menyambar ponsel dan menyelipkan senjata itu di balik jaketnya.
"Mau ke mana?"
"****! Mengapa kau selalu heboh, Morgan?" Ayres bertanya tajam, hingga kakaknya tiba di hadapannya dengan aura tenang tak peduli.
"Kau mau ke mana?"
"Kau gila, ya? Kenapa kau menjegalku, hah?"
Morgan tersenyum tipis, lalu berjingkat naik saat Ayres melibaskan kaki panjangnya untuk menyabet kaki kakaknya. Tak berhenti di sana, Ayres bangkit dan melayangkan tinjunya saat Morgan turun. Morgan sudah mengantisipasi itu, hingga dengan santai dia menoleh ke kanan. Ayres yang mempelajari beladiri langsung membelokkan kakinya dan mengapit leher Morgan. Dia mengeluarkan softgun, lalu mengarahkannya ke pelipis kiri kakaknya yang sudah mengajaknya berkelahi lebih awal.
"Mau mati, hah? Kau sudah bosan hidup?"
Morgan terkekeh, dia mengangkat tangannya seolah takluk. Ayres sampai meludah dengan kesal, sebelum membuka kaitan lengannya di leher sang kakak. Mereka bersitatap dengan pandangan tajam, di perhatikan oleh puluhan anak buah yang langsung berlarian saat tahu kalau dua bos besar mereka berkelahi lagi.
Lagi? Ya, bukan pertama kalinya mereka berkelahi seperti ini. Bahkan pernah keduanya saling hampir membunuh hanya karena kesalahpahaman yang terjadi.
"Cih, memuakkan." Ayres melepas pandang pertama kali, seraya menyisipkan softgun itu ke dalam jaketnya.
Memandang Morgan sekali lagi, Ayres berdecih lalu melangkah pergi meninggalkan kakaknya yang sudah tersenyum tipis.
"I know where you're going, Ayres. Aku akan memberimu sebuah kejutan berharga." Dia memutar di tempat, melihat adiknya yang sudah berlari kecil menuruni tangga.
__ADS_1
Pria itu melangkah ke arah pagar pembatas lantai dua, melihat Ayres yang sudah bicara dengan seorang pria yang tak lain adalah kepala pelayan. Saat adiknya berlalu pergi, Morgan melangkah turun dan menghampiri kepala pelayan itu.
"Tell me."
Pria itu menunduk. "Tuan Ayres meminta para wanitanya dipindahkan ke rumah samping, Tuan Muda."
Morgan tersenyum tipis, hanya sebatas ******* kecil di bibir.
"Lakukanlah, itu perintah yang mengartikan semuanya."
Kepala pelayan itu menunduk, lalu melangkah ke arah belakang.
"Alzein!"
Seorang pria sebaya Morgan mendekat, menunduk di belakangnya.
"Ikut aku, kita akan melakukan hal yang seru."
"Siap, Tuan Muda."
Morgan tersenyum lagi, nyaris tak terlihat. Langkahnya terayun, menuju keluar mansion.
"Hit you, Ayres."
***
Ayres mendarat turun ke lantai yang ada di dalam kost-an milik Andrienna. Dia menatap sekitarnya yang lenggang dengan tatapan datar dan senyum tipis yang tercetak di sana. Langkahnya terayun tanpa suara padahal memakai sepatu hitam bertapak kuat. Dia menuju ke sebuah pintu, membukanya tanpa suara dan melihat siapa yang meringkuk di atas ranjang itu.
"Baby, i'm coming for you." Tanpa suara dia berbisik, lalu menaiki ranjang dan menyingkap sedikit rambut Andrienna yang terlelap.
Tangannya menyusuri garis pipi Andrienna dengan lembut, sebelum mendekatkan bibirnya. Namun, baru saja dia akan mencium pipi itu ada suara ramai di luar kost-annya yang membuat Ayres mengernyit. Di dengarnya dengan yakin suara itu, hingga akhirnya dia mengangkat bahu. Ayres kembali mendekatkan wajahnya, lalu memeluk tubuh lembut temannya yang sekarang tengah mengandung anaknya.
Anggaplah itu anaknya, Andrienna adalah gadis yang selalu menjaga dirinya, bukan? Lagipula, dia adalah orang pertama yang mendapatkannya. Suara keributan itu masih terdengar dan semakin dekat, hingga Ayres merasa terganggu dan menatap ke pintu yang sudah di ketuk sekuat-kuatnya.
"Andrienna! Buka pintunya! Kau menyembunyikan seseorang di dalam kost-anmu, ya?"
"Buka Andrienna!"
__ADS_1
"Andrienna!"
Tubuh Andrienna tersentak, langsung duduk detik itu juga. "Hah? Ada apa?!"