
Happy reading! 😊
Jangan lupa like,komen dan vote nya...
🍁🍁🍁
"Caca!!! Kamu mau sekolah apa nggak?? Udah jam enam nih. Caca!!" Suara alarm paling ampuh yang setiap pagi sukses membangunkan seisi kediaman Herlambang.
Chakira Maharani Herlambang,atau sering dipanggil Caca adalah anak bungsu dari dua bersaudara. Kakaknya bernama Alvaro Wahyu Herlambang,seorang manager hotel. Jarak usia antar keduanya cukup jauh, yakni sepuluh tahun, oleh karena itu Caca menjadi putri kesayangan di keluarganya.
"Caca!! Kalau dalam hitungan ke tiga kamu nggak mau bangun, mami bakal potong uang jajan kamu setengah!" Ancam Anjani-mami Caca.
Ancaman paling ampuh yang langsung membuat kedua mata Caca terbuka sempurna. Ia langsung menyibak selimut tebal bermotif doraemon hingga terjatuh ke atas lanti.
"Iya mi, ini udah bangun" sahut Caca dari dalam kamar.
Anjani yang mendengar suara sahutan dari dalam kamar putrinya, langsung beranjak dari sana dan kembali ke dapur. Keluarga Caca bukanlah keluarga konglomerat, papi nya seorang Dosen sedangkan maminya hanya seorang ibu rumah tangga biasa. Kakaknya juga baru di angkat jadi manager hotel dua bulan yang lalu.
"Pagi papi" sapa Caca yang sudah rapi mengenakan seragam sekolahnya, ia mencium pipi Andra-papi Caca lalu duduk disebelah papi nya.
"Pagi juga sayang" jawab Andra tersenyum manis pada sang putri.
Berbeda dengan papi nya yang begitu manis saat menyambut kedatangannya. Anjani justru malah melebarkan kedua matanya, menatap sinis Caca.
"Papi, mami tuh melototin aku. Caca kan jadi takut" rengek Caca mengadu pada Andra dengan raut muka yang dibuat sedramatis mungkin.
"Dihh, beraninya ngadu sama papi. Kamu itu ya, anak gadis susah banget di bangunin. Gimana kalau udah berkeluarga? Bisa-bisa di tendang keluar kamu sama mertua karena punya mantu males" omel Anjani yang sudah biasa menghiasi sarapan pagi mereka. Tapi hanya pada Caca, meski dia anak kesayangan Anjani selalu menerapkan hidup mandiri pada putri bungsunya itu.
"Itu terus yang mami omongin, Caca masih kelas dua mi" jawab Caca mendengus.
__ADS_1
"Susah ngomongin anak bandel kayak kamu" ujar Anjani masih dalam mode maung.
"Papi" panggil Caca.
"Apa"
"Cari mami baru yok!" Celetuk Caca tiba-tiba, tidak tau saja dia kalau diseberangnya wanita yang selalu ia panggil dengan sebutan mami tengah menatap tajam dirinya. Wajahnya sudah merah padam,tangannya mengepal erat di sendok makan yang sedang ia pegang.
"Papi, mami Caca udah telat mau berangkat duluan ya. Assalamualaikum.." buru-buru Caca bangkit dari tempat duduknya dan berlari keluar. Bisa-bisa dirinya tak jadi sekolah jika maminya mengamuk.
Sedangkan Andra yang sudah biasa melihat ibu dan anak yang selalu beradu argumen itu hanya menggelengkan kepalanya pelan sambil tersenyum tipis. Ia tahu meskipun kedua wanita itu kerap bertengkar, sebenarnya mereka sangat peduli satu sama lain.
"Udah lah mi, anaknya kok di omeli terus. Kalau dia pergi sibuk cari."
"Caca itu ngeselin pi, masa nyuruh papi cari mama baru. Nggak tau aja dia gimana rasanya di siksa sama ibu tiri. Dasar bocah gemblung"
***
"Keripik kentang!!! Berangkat yukk!!" Teriak Caca dengan tidak sopannya di depan pintu pagar Leo. Namun hal itu sama sekali tak membuat si pemilik rumah marah, justru mereka sangat senang akan kedatangan Caca.
"Keripik kentang!!" Panggil Caca lagi, sebab yang di panggil tak juga menampakkan batang hidungnya.
"Ck..kemana sih tuh orang, biasanya juga sekali panggil langsung nongol" gerutu Caca dalam hati.
Ia bermaksud hendak membuka pintu pagar dan masuk kedalam, tapi belum juga niat nya terlaksana tiba-tiba pintu pagar itu sudah terbuka.
Bukan Leo yang membuka kan pintu tersebut, melainkan seorang wanita yang berusia sekitar empat puluh tahunan lebih dengan wajah yang masih terlihat segar. Wanita yang sering ia panggil bunda itu, tersenyum tipis menyambut Caca yang tengah menyalami tangannya.
"Assalamualaikum bunda, Leo nya ada?" Tanya Caca setelah ia mengucapkan salam.
"Leo nya demam Ca. Ini bunda titip surat ya tolong kasihkan ke wali kelas kalian" jawab Rika-bunda Leo, sambil menyerahkan amplop putih pada Caca.
__ADS_1
"Ya ampun kok bisa tan, kemarin dia kayak nya baik- baik aja kok?"
"Bunda juga nggak tau, nanti mau bunda bawa ke klinik sekalian jemput abang nya di bandara" ujar Rika.
"Mas Gibran pulang bun?" Kedua mata Caca terbelalak saat mendengar pangeran halu nya akan pulang hari ini.
Baik keluarga Rika maupun keluarga Caca sudah mengetahui kalau Caca sangat mengidolakan Gibran Pratama sejak dulu. Meski Gibran selalu bersikap cuek dan kerap menolak secara terang-terangan kehadiran Caca. Tapi gadis itu, selalu kembali untuk mendekati Gibran.
Seutas senyuman terbit di sudut bibir Caca, "Ya udah deh bun, Caca pulang sekolah aja dateng jenguk Leo. Soal nya udah siang, salam untuk mas Gibran ya bun" ucap Caca kemudian ia pergi sambil melambaikan tangannya dengan senyum yang terus mengembang di bibirnya.
"Belum juga nyerah dia" gumam Rika menatap Caca dan membalas lambaian tangannya.
Gibran Pratama, anak sulung dari pasangan Rika dan Lukman yang baru saja menyelesaikan pendidikan S1 nya di Jepang. Usia Gibran dan Leo hanya terpaut lima tahun saja, meski begitu sifat dan sikap kakak beradik itu sangat jauh berbeda. Jika Leo hyper aktif,maka Gibran sangat pendiam dan banyak menghabisakan waktu untuk membaca buku.
Biasa berangkat berdua dengan Leo, membuat Caca merasa seperti ada yang kurang. Tak ada Leo maka tak ada yang bisa di ajak bercanda, dan hal itu membuat Caca jadi kurang bersemangat untuk pergi kesekolah. Terlebih saat ia tau kalau sang pujaan hati akan kembali ketanah air.
"Waktu cepat lah berlalu, gue udah nggak sabar pengen lihat muka ganteng mas Gibran lagi. Pulang dari jepang pasti makin glowing tuh muka" ujar nya berbicara sendiri, bahkan sampai ia senyum-senyum sendiri. Tanpa di sadari beberapa orang yang berpapasan dengannya mengira kalau Caca agak kurang.
Greeeekkk...
Suara pintu pagar sekolah yang hendak di tutup,sukses membuat Caca langsung tersadar dari ke haluan nya. Dan ia bergegas berlari menghampiri satpam yang nyaris saja menutup rapat pintu pagar
"Rumah deket kok kesiangan terus sih neng, heran deh!" Gerutu mang Diman-satpam di sekolah nya.
"Hehe...nggak setiap hari juga kali mang, kadang-kadang aja" cengir Caca menjawab ucapan mang Diman.
Setelahnya ia berlari menuju kelasnya, takut keduluan dengan guru yang akan masuk dijam pertama.
"Dasar anak jaman sekarang" ucap mang Diman geleng-geleng kepala melihat Caca yang tengah berlari.
-Bersambung
__ADS_1
Terimakasih sudah mampir membaca, jangan lupa tinggalkan jejak ya.😊😊🙏🙏