
Happy reading..😊😊
🍂🍂🍂
Gibran berjalan dengan gaya cool nya melewati sekumpulan siswi-siswi yang kini tengah menatap nya dengan lapar. Tubuh Gibran yang tegap bak atlet, raut wajah yang datar, hidung mancung serta sorot mata nya yang tajam membuat dia dipandang menjadi jelmaan cowok perfect yang biasa mereka baca di novel-novel.
Tampang dingin nya tak membuat para siswa/siswi takut pada nya, justru mereka malah semakin mengidolakan pria tersebut. Membuat Caca jadi sering uring-uringan sendiri saat melihat banyak murid-murid lain yang terang-terangan menggoda Gibran.
"Nih minum dulu es teh lo, biar nggak gerah hati dan gerah bodi lihatin mereka" ujar Leo sambil menyerahkan es teh yang ia beli di kantin tadi.
Caca menolak, gerah hati nya tak cukup hanya di dinginkan dengan es teh saja. Ia butuh pelampiasan untuk meredakan panas di hatinya.
"Mereka ke ganjenan banget sih jadi cewek, sok kecentilan. Nggak tau apa kalau mas Gibran itu nggak suka sama cewek yang dandanan nya kayak ondel-ondel simpang perempatan" cerocos Caca dengan emosi sambil terus menatap beberapa siswi yang masih betah memandangi Gibran yang sedang bercakap-cakap dengan seorang guru didepan perpustakaan.
"Resiko orang ganteng Ca, gue saranin lo jangan sama dia. Bisa makan hati tiap hari" sahut Atika dari belakang.
Leo menoleh menatap tak suka pada Atika.
"Apa? Emang bener kan? Lihat aja gimana dia jadi pusat perhatian satu sekolah, emang bisa tahan Caca kalau mereka jadian kemana-mana harus nahan emosi karena semua cewek pada merhatiin pacar nya?" Ujar Atika dengan gamblang mengutarakan isi hati nya. Walau ia akui kalau pesona Gibran memang tak main-main, membuat ia khawatir akan perasaan Caca kedepannya.
"Abang gue nggak kayak gitu, sembarangan banget lo kalau ngomong" balas Leo dengan nada yang sengit.
Bau-bau adu mulut sudah tercium,dengan bergegas Caca langsung melerai keduanya sebelum mereka benar-benar beradu mulut di sini.
"Udah-udah, jangan pada ribut. Mending kita masuk kelas aja" ucap Caca kemudian merangkul lengan kedua sahabat nya itu dan pergi menuju kelas mereka.
Panggilan 'mas' yang di lontarkan Caca dua hari lalu saat Gibran pertamakali masuk kekelas mereka. Ternyata sukses membuat dirinya menjadi cibiran dari teman-teman sekelasnya,terutama para kaum hawa yang merasa kalau Caca sok kenal dengan Gibran. Padahal kan memang kedua nya saling mengenal,bahkan rumah pun saling berhadapan.
"Nikmat mana lagi yang kau dustakan" batin Caca sembari menopang dagunya dengan tatapan yang tak beralih sedikitpun dari wajah tampan yang sedang menjelaskan pelajaran didepan kelas.
__ADS_1
"Oke,penjelasan nya sampai di sini. Ada yang mau di tanyakan?" Ucap Gibran setelah selesai menjelaskan pelajaran mengenai aljabar. Matanya melirik satu persatu murid didalam kelas Caca yang hanya diam sambil mencatat.
"Jika masih kurang paham silahkan bertanya" Gibran mengulang ucapan nya lagi.
Tiba-tiba Caca mengangkat tangannya, membuat syok satu kelas karena selama mereka satu kelas dengan Caca. Ini adalah kali pertama gadis itu pedulu dengan pelajaran matematika.
"Apa yang mau kamu tanya kan?" Tanya Gibran.
"Bapak tau nggak arti hidup saya tanpa bapak?" Tanya Caca nyeleneh. Mendadak suasana kelas jadi horor karena semua mata tertuju pada Caca.
"Perasaan gue jadi nggak enak" gumam Leo menatap Caca yang sedang menyengir menatap Gibran.
"Saya nggak mau tau" jawab Gibran yang sudah tau akan mengarah kemana ucapan Caca nantinya. Sontak jawaban Gibran langsung membuat si empunya mengerucutkam bibirnya.
"Ih bapak mah, saya beneran loh. Hidup saya tanpa bapak itu bagaikan cos90\=0. Kosong, hampa dan tak berarti apa-apa" jelas Caca dengan wajah di buat se-dramatis mungkin,benar-benar sangat menyimpang dari pelajaran yang sedang dijelaskan. Tapi..
Krik..
Krik..
"Chakira Maharani" panggil Gibran dengan sorot mata bak elang.
"I-iya pak"
"Kerjakan soal di halaman 35,istirahat nanti kumpul kan di meja saya. Bawa buku kamu kerjakan di luar" ujar Gibran.
"Yah pak kok gitu, maaf deh pak saya janji nggak bakal ngulangin lagi. Tapi saya mohon jangan suruh saya kerjain soal itu pak, saya nggak ngerti" Caca memohon agar di beri keringanan. Jangankan mengerjakan soal Cos,Sin,Tan atau apalah itu,jika menghitung pecahan sederhana saja Caca tidak bisa. Jangan lupakan kalau Caca memiliki phobia matematika!.
"Kamu kan saya lihat seperti mengerti tentang pelajaran Cos, jadi tidak akan sulit bukan untuk mengerjakan lima soal yang sangat mudah itu"
__ADS_1
"Mudah bagi situ, lah gue? Ngerjain satu soal aja bisa sampe sehari baru kelar"
"Pokok nya kamu kerjakan sekarang, atau kamu tidak saya perbolehkan mengikuti pelajaran saya lagi" ancam Gibran. Melihat kilatan amarah pada mata Gibran membuat Caca bergegas mengambil bukunya dan keluar kelas. Sementara Leo, hanya bisa menatap iba pada sahabatnya itu.
Kelas kembali berjalan seperti sediakala tanpa kehadiran Caca. Gadis itu sekarang sedang duduk di emperan kelas sambil membolak-balik buku nya yang sama sekali tak ia mengerti.
"Akibat copas gombalan di google,jadi sial gue hari ini" gerutu Caca.
Sikap Gibran yang dulu dengan yang sekarang sangat berbeda sekali. Seingat nya Gibran itu sangat lembut dan hangat pada nya, oleh karena itu Caca sampai di buat tergila-gila dengan sosok Gibran yang amat penyayang. Tapi sekarang? Jangan kan tersenyum lembut seperti dulu, untuk sekedar membalas sapaan nya pun Gibran terlihat dingin. Caca jadi merindukan sosok Gibran yang dulu.
"Aish..ini apaan lagi jawaban nya. Contoh soal sama soal nya beneran bisa beda banget gini sih!" Teriak Caca mengacak-acak rambutnya frustasi.
**
"Ca, nanti tanding main PS yuk. Gue ada game baru nih" ajak Leo ketika mereka berjalan bersama hendak pulang.
Caca hanya mengangguk lesu, bukan tanpa sebab. Karena saat istirahat Caca tak juga bisa mengerjakan tugas yang di berikan Gibran. Alhasil, selama jam istirahat ia mendapat ceramah sekaligus tambahan belajar di ruangan Gibran. Membuat otak nya jadi kusut seketika.
"Lo sih, pake acara mau godain kakak gue. Mampus kan lo?" Ucap Leo yang bisa menebak penyebab badmood Caca.
"Mulut gue nggak bisa di tahan, kalo deket mas Gibran bawaan nya pengen nge-gombal mulu."
"Udah lah, tipe-tipe cowok kayak kak Gibran itu paling nggak suka sama cewek yang terlalu agresif kaya lo. Coba deh lo ubah diri lo jadi lebih kalem,rajin belajar dan pinter. Pasti abang gue bakal suka" kata Leo memberi masukan. Dan masukan yang ia berikan tentu saja akan sulit untuk terlaksanakan.
"Kalau itu sih, gue mending angkat tangan. Otak gue nggak mampu" jawab Caca mendengus. Leo hanya terkekeh melihat wajah lesu Caca. Temannya ini memang anti dengan yang namanya belajar.
"Gimana mau nggak? Kalau lo menang gue bakal bantu lo buat PDKT sama kak Gibran" ujar Leo dengan tawaran yang cukup menggiurkan.
"Oke!" Caca menyambutnya dengan senang hati. Leo merangkul bahu Caca dan mereka berjalan cukup cepat agar segera sampai ke rumah. Tanpa mereka sadari seseorang memperhatikan mereka dari belakang dengan kepalan tangan yang tergenggam erat.
__ADS_1
"****!"
-Bersambung