
Selamat membaca😊
🌺🌺🌺
Di depan pintu pagar rumah Leo, Caca sudah berdiri menyandar tembok sembari menyilangkan kedua tangannya menunggu Leo yang tak kunjung menunjukkan batang hidungnya. Tapi, bukan nya Leo yang datang justru Gibran. Pria yang sudah membuat ia kesal seharian serta penyebab kepala nya menjadi sakit.
"Ngapain kamu nyender kayak gitu didepan rumah orang? Kayak orang mau minta sumbangan aja" ujar Gibran dengan ketus yang sontak membuat Caca mendelik tak terima.
"Ya kali orang minta sumbangan pake seragam pak, saya lagi nungguin Leo" jawab Caca memutar kedua matanya jengah. Jujur saja, rasa kesal nya kemarin belum hilang hingga saat ini. Sehingga rasa suka yang biasa nya mendominan tak berlaku untuk hari ini.
Gibran juga merasakan perubahan sikap Caca yang terkesan agak cuek padanya, karena selama ini biasanya Caca akan selalu menatap dirinya dengan mata berbinar. Tidak seperti sekarang, dan juga panggilannya masih saja 'pak' bukan 'mas'.
"Hari ini lagi waras ya?" Tanya Gibran tiba-tiba.
"Maksudnya?selama ini saya gila gitu?"
"Biasa nya kamu kan suka nempelin saya, tapi hari ini kamu kelihatan sedikit cuek? Apa saya ada buat salah?"
Lihat sendirikan? Dia bahkan tak meminta maaf soal kemarin. Benar-benar pria yang tidak peka.
"Bapak pikir sendiri aja" jawab Caca singkat. Lalu Caca mengambil nafas dalam dan..
"Woyyy!! Leo!! Cepetan! Lelet amat sih udah kayak anak gadis aja,heran gue!!" Teriak Caca dengan suara melengking yang membuat telinga Gibran langsung berdengung.
"Suara kamu Caca!" Tegur Gibran sambil menutupi kedua telinganya.
Caca tak menanggapi keluhan Gibran, lalu tak lama kemudian Leo keluar dan menghampiri nya.
"Ayo buruan, gue hari ini piket umum" ajak Caca langsung merangkul lengan Leo dan berjalan meninggalkan Gibran yang tengah menatap tak suka ke arah mereka karena terlalu dekat.
Gibran yang tadinya hendak berangkat menggunakan motor, di urungkan niat nya. Ia memasukkan kembali motor nya kedalam garasi kemudian ia berlari menyusul Caca dan juga Leo.
__ADS_1
"Loh abang kok ikutan jalan kaki juga? Motor nya kenapa?" Tanya Leo yang terkejut saat melihat abangnya sudah berjalan disebelah nya.
"Lagi pengen jalan, sekalian olahraga" jawab Gibran.
Leo melirik kearah Caca yang hanya diam tak seperti biasa nya, kemudian ia melirik Gibran yang juga bersikap tak seperti biasa. Membuat Leo semakin bingung dengan sikap kedua orang disamping nya ini. Suasana pun mendadak jadi terasa dingin, tak ada satu pun dari mereka yang mengeluarkan suara.
"Nggak seru banget,diem-dieman begini" batin Leo.
Saat ketiga nya tiba di depan gerbang sekolah, disana sudah ada Elsa yang tengah tersenyum ke arah mereka. Bukan ke arah Leo maupun Caca tapi hanya ke arah Gibran.
"Pagi pak Gibran" sapa Elsa begitu ramah, senyuman nya memang manis karena ada lesung pipi di kedua pipi nya.
"Pagi juga" jawab Gibran seperti biasa, datar!!
Dan mereka akhirnya berjalan bersama.
"Makasih loh pak udah traktir saya makan kemarin, udah gitu mau ajarin saya juga. Kapan-kapan boleh kan saya gantian traktir bapak" ucap Elsa yang entah sengaja mengatakan hal itu untuk memanasi Caca atau memang terjsdi begitu saja.
"Oh iya pak, saya udah bilang ke orang tua saya kalau saya mau bapak jadi guru les saya. Gimana pak? Bapak bisa?" Ternyata Elsa tak menyerah, terlihat sekali kalau dia juga menyukai pak Gibran.
Gibran tak langsung menjawab, ia tampak berfikir. Sejak ia kembali dari Jepang, kegiatannya memang hanya mengajar di sekolah saja. Ia juga belum kepikiran untuk membuka les privat.
"Boleh juga sih, tapi coba saya pikir-pikir dulu" jawab Gibran yang tak langsung menerima tawaran dari Elsa. Gadis itu tampak kecewa,tapi tak lama setelah itu ia mengeluarkan sebuah kartu nama dari dalam tas nya dan memberikan nya ke Gibran.
"Ini nomer papa saya pak, kalau bapak berubah pikiran langsung hubungi papa saya aja" ujar Elsa.
Sementara di sisi mereka, ada Caca yang sudah kembang kempis menahan emosi yang kian meluap melihat bagaimana usaha Elsa yang tengah berusaha mendekati Gibran dengan modus ingin les privat.
"Dasar munafik" gumam Caca menatap sinis Elsa yang terlihat begitu akrab dengan Gibran.
"Cemburu neng" bisik Leo yang menyadari kalau sahabatnya kini tengah memanas.
__ADS_1
"Gak!" Ketus Caca kemudian ia mempercepat langkah nya.
"Kok gue di tinggal sih, tungguin Ca!!" Panggil Leo sambil berlari menyusul Caca.
Gibran yang melihat Caca berjalan dengan cepat, tanpa sadar menyunggingkan senyumannya.
"Gimana pak?" Tanya Elsa lagi.
"Nanti saya kabari" jawab Gibran. Ia juga mempercepat langkah nya menuju ruangan guru meninggalkan Elsa yang tertinggal karena tak bisa menyeimbangkan langkah Gibran.
"Ish! Kok malah di tinggal sih" sungut Elsa menatap kesal Gibran yang sudah berjalan menjauh meninggalkan dirinya.
Elsa memang menyukai Gibran, dan jalan untuk lebih dekat dengan pria itu adalah dengan memanfaat kan ketertarikan nya pada pelajaran. Elsa bisa menebak kalau Gibran adalah tipikal pria yang menyukai gadis pintar berpengetahuan luas. Dan hal itu membuat Elsa jadi berpikir dirinya bisa mendapat simpati Gibran.
Didalam kelas,
Lagi-lagi Caca terlihat lesu dan murung, mengingat bagaimana interaksi antara Gibran dan Elsa yang terlihat begitu akrab membuat hati Caca seakan tercubit dengan kenyataan kalau dirinya jauh di bawah standar wanita idaman Gibran.
"Jangan galau terus Ca, lebih baik lo lupain aja deh pak Gibran. Mau sampe lebaran monyet juga, otak lo nggak akan mampu ngalahin kepinteran nya si Elsa" ujar Atika yang berniat untuk menenangkan sahabatnya tapu justru membuat Caca semakin down.
"Lo mau niat menistakan gue,atau mau mendukung gue sih? Gue tau kok dengan kapasitas otak gue yang gak seberapa,mana bisa ngalahin Elsa" jawan Caca.
"Gue itu mau kasih semangat buat lo, nih ya kalau lo emang beneran mau dapetin pak Gibran ya usaha lebih keras dong. Kalau perasaan lo cuma sekedar terobsesi aja sama dia,mending lepasin aja. Ntar hati lo jadi nya makin sakit" tutur Atika.
Caca melirik sekilas Atika yang tengah menatap nya dengan wajah serius.
"Bener juga sih kata Atika,gue harus pastiin perasaan gue dulu" batin Caca.
Leo yang duduk disebelah Caca, hanya fokus dengan game di ponselnya seolah ia tak mendengar perbincangan mereka. Padahal jauh didalam lubuk hatinya, ia merasa sedikit sesak melihat sahabatnya yang begitu menyukai kakak nya padahal selama ini diri nya lah yang selalu berada disamping Caca. Apakah hati gadis itu tak tergerak sama sekali untuk melihat dirinya?
"Selama ini gue juga berjuang, tapi lo nggak pernah peka Ca!"
__ADS_1
-bersambung