
Happy reading!!😊😊
Jangan lupa tekan like nya ya..
🍁🍁🍁
"Gini banget hidup gue ya rabb, punya otak minim ketemu sama guru badas modelan mas Gibran. Sengsara banget dah!!" Gerutu Caca yang saat ini sedang merapikan buku-buku di perpustakaan. Setelah penderitaan membersihkan toilet berakhir dengan dirinya yang terus muntah-muntah. Kini ia di hadapkan dengan buku-buku berdebu yang harus di rapi kan. Benar-benar sial!
Di awasi oleh penjaga perpustakaan, Caca dengan cepat merapikan buku-buku yang begitu berserakan.
"Gila! Ternyata cape juga ya ngerjain sendiri. Mereka mah enak cuma lari doang palingan juga nggak sampe setengah jam. Lah gue, udah kaya babu" lanjutnya.
Setelah di rasa pekerjaan sudah cukup, Caca duduk bersimpuh dilantai dengan menyandar tembok. Tubuh nya benar-benar terasa lelah, bahkan di rumah pun mami nya tidak pernah menyuruh nya sampai seperti ini. Saking lelah nya Caca, sampai-sampai ia ketiduran di pojokan lemari dekat jendela. Hembusan angin yang sepoi-sepoi membuat kedua matanya begitu terasa berat.
Gibran yang sudah keluar dari kelas Caca, ia langsung mendatangi toilet untuk memeriksa pekerjaan Caca. Lalu kemudian baru ia masuk kedalam perpustakaan.
"Kemana tuh anak?" Gumam Gibran yang menoleh kesana-kemari mencari keberadaan Caca. Sebab saat ia bertanya dengan petugas perpustakaan katanya Caca masih berada didalam.
Sampai saat dia berada di pojokan lemari dekat jendela, Gibran melihat Caca tertidur dengan posisi kaki di luruskan dan tubuh disandarkan ke tembok. Sudut bibir Gibran terangkat kala ia melihat Caca yang terlihat begitu terlelap.
Gibran berjongkok didepan Caca memperhatikan wajah gadis kecilnya yang kini telah menjelma menjadi gadis cantik dengan sejuta pesona. Kemudian ia mengambil ponselnya dan memotret wajah Caca.
"Cantik" ucapnya ketika Gibran melihat hasil jepretannya. Gibran segera memasukkan kembali ponsel miliknya kedalam kantong.
Dengan memasang kembali raut wajah seperti biasa, Gibran pun membangunkan Caca.
"Chakira Maharani, bangun!!" Panggil Gibran sambil menepuk pelan pipi Caca.
"Eunghh..ntar dulu mi Caca masih ngantuk" jawab Caca yang tanpa sadar menepis tangan Gibran.
"Caca, ini saya guru kamu. Bukan mami kamu!" Ucap Gibran mengeraskan suara nya. Sontak saja hal itu membuat Caca terbangun seketika. Kedua matanya membulat saat melihat Gibran berada dihadapan nya.
"Mas Gibran! Eh,maksud nya pak Gibran!! Kok bapak ada disini?"
__ADS_1
"Harus nya saya yang tanya, ngapain kamu tidur di sini? Jangan-jangan kamu lupa sama hukuman yang saya berikan ya?" Tunjuk Gibran pura-pura tak tahu.
Caca langsung berdiri, "Udah pak, tuh lihat buku-buku nya udah rapi semua. Toilet juga udah saya bersihkan. Kalau nggak percaya tanya aja sama petugas yang disana, dia lihat saya kok" jelas Caca.
Caca melirik jam dinding, yang ternyata masih menunjukkan pukul setengah sembilan. Itu berarti jam pelajaran Gibran belum selesai,lantas kenapa pria itu sudah berada di sini sekarang?
"Jam pelajaran bapak belum habis kan? Saya boleh masuk?"
"Memang belum habis, tapi kamu tidak diperbolehkan mengikuti pelajaran saya hari ini. Ada tugas lain yang harus kamu kerjakan"
"Yah, bapak..saya capek banget loh dari tadi bersih-bersih terus kok ditambah" rengek Caca memasang wajah lesu meminta keringanan pada guru nya ini.
"Ini juga demi perkembangan otak kamu. Biar pinter" ucap Gibran, kemudian ia berjalan menuju rak kumpulan buku matematika. Lalu ia mengambil salah satu buku cetak yang yang ukuran nya cukup besar dab tebal.
"Kamu tulis rumus-rumus disini, setelah istirahat kumpulkan ke meja saya" ujar Gibran sembari memberikan buku itu pada Caca.
Oh tidak!! Tugas ini lebih berat dari pada tugas yang ia kerjakan tadi. Sungguh, Caca sangat alergi sama yang namanya matematika.
"Pak ganti buku lain aja ya pak, saya alergi sama rumus" pinta Caca sambil memohon pada Gibran.
Dengan langkah yang gontai, Caca pergi meninggalkan perpustakaan.
"Caca" panggil bu Fitri-penjaga perpustakaan.
Caca langsung menoleh, "Iya bu?"
"Semangat ya" ucap nya sambil tersenyum. Sedangkan Caca hanya mengangguk pelan sambil sedikit tersenyum.
***
Caca berjalan dengan wajah yang lesu menuju gerbang sekolah bersama kedua sahabatnya. Leo dan Atika sudah menebak penyebab murung nya Caca hari ini ya pasti karena hukuman dari Gibran yang membuat Caca bahkan sampai tak sempat makan di jam istirahat pertama.
Gibran benar-benar guru ter-killer yang pernah Caca temui semasa sekolahnya. Tapi ia juga bingung dengan hatinya yang masih saja menyukai bahkan sangat mencintai Gibran meski dengan sikap nya yang galak dan terkadang angkuh.
__ADS_1
"Mau nebeng gue nggak Ca pulang nya" Atika menawarkan tumpangan nya pada Caca.
"Lah kalau dia naik sama lo, gue gimana? Masa jalan sendiri sih" sahut Leo tak terima.
"Lo bareng abang lo aja deh, ya kali kita tarik tiga. Bisa disangka cabe-cabean ntar sama orang-orang" jawab Atika.
Leo masih tak terima dan ia langsung menggandeng tangan Caca,menariknya berlari menjauhi Atika yang sudah melotot karena ditinggalkan begitu saja.
"Ih, Leo pelan-pelan. Ngapain pake lari segala sih" sungut Caca yang kesusahan mengikuti langkah lebar Leo.
"Gue nggak mau ya lo naik motor sama dia, kan lo udah janji pulang nanti mau mampir ke warnet" ujar Leo.
"Mau ngapain ke warnet?" Tiba-tiba suara bariton yang amat Caca hafal siapa pemilik suara tersebut, mendekat kearah mereka.
Sontak saja, Leo dan Caca berhenti lalu menoleh kebelakang. Sementara Atika, ia lebih memilih untuk mengambil motornya yang berada di parkiran sekolah saat melihat Gibran disana.
"Saya tanya mau ngapai kalian berdua ke warnet. Tau kan, waktu pulang sekolah itu ya pulang jangan kelayapan" ucapnya mengulang perkataan nya yang tadi.
Leo hanya cengengesan nggak jelas sambil menggaruk tengkuknya yang tak gatal,sementara Caca sudah ketar ketir saat melihat wajah Gibran yang sepertinya akan melahap dirinya habis sekarang ini.
"Pak bukan saya yang ngajak, Leo nih. Saya cuma nurut aja,beneran deh pak. Jangan hukum lagi ya?" Pinta Caca memohon dengan memasang wajah semelas mungkin.
"Kok gitu? Kan lo juga setuju,gimana sih" elak Leo yang tak ingin disalah kan seorang diri.
Gibran menghembuskan nafas nya kasar,pusing mendengarkan perdebatan kedua remaja labil dihadapan nya ini. Kemudian ia menarik tangan Caca hingga tanpa sengaja tubuh Caca terjerembab memeluk Gibran.
"Caca pulang sama abang, kamu duluan aja" ucap Gibran tiba-tiba.
"Males bang, biasa pulang berdua nggak enak kalau sendiri" tolak Leo yang tanpa sadar membuat hati Gibran merasa kesal.
"Kamu boleh ikut abang,sekalian kamu belajar sama dia. Nilai matematika kamu juga jeblok kan? Nggak jauh beda sama Caca" ujar Gibran sambil menunjuk kearah Caca yang tengah tertunduk. Matanya melirik Leo,supaya ia juga ikut bersama dengan dirinya. Tapi..
"Oke deh, hari ini gue mau pulang sendiri. Baik-baik ya lo sama abang gue Ca, semoga jadi anak yang pinter" ucap Leo malah memberi semangat pada Caca lalu kemudian ia kembali melangkah pergi.
__ADS_1
"Dasar singa! Nggak setia kawan banget sih jadi orang. Mami tolongin Caca!!"
-Bersambung