
Happy reading!! ππ
πΏπΏπΏ
Tanpa Caca duga, ternyata Gibran membawanya kesebuah tempat yang baru Caca ketahui keberadaannya sekarang ini. Selama berbelas tahun tinggal di sekitar daerah rumah nya, Caca baru mengetahui ada sebuah cafe bernuansa perpustakaan yang suasananya sangat cocok untuk menghabiskan waktu belajar. Tampak dari para pengunjung cafe ini,rata-rata adalah siswa sepert dirinya dan juga mahasiswa.
"Bapak tau dari mana tempat ini?" Tanya Caca yang penasaran. Pasalnya yang ia tau kalau Gibran ini bukan tipe-tipe orang yang suka bepergian.
"Kebetulan aja, memangnya kamu nggak tau?" Gibran balik bertanya, Caca pun hanya menggeleng.
"Wajar sih, kan kamu hanya tau tempat untuk bersenang-senang saja. Jadi meski ada tempat seperti ini didekat rumah pun pasti kamu nggak akan tau" ujar Gibran.
Caca melirik Gibran dengan sinis,sungguh hari ini ia sangat dongkol dengan guru sekaligus tetangganya ini. Tidak tahu kah dia,setelah menulis semua rumus di buku cetak saat di perpus baik jari maupun otak nya jadi keriting karena hukuman kejam dari pria kejam yang sayangnya ia sukai itu.
"Bapak punya dendam apa sih sebenarnya sama saya? Tangan saya masih pegel banget pak gara-gara nulis rumus segitu banyak nya,dan sekarang bapak mau nyuruh saya belajar lagi?" Ujar Caca yang entah dari mana ia mendapat keberanian untuk berbicara seperti itu pada Gibran. Gibran tak menjawab,ia malah menatap balik Caca dengan alis yang berkerut.
"Jangan panggil bapak, kita udah bukan disekolah lagi" ujar Gibran.
"Nggak usah mengalihkan pembicaraan pak,jawab aja" balas Caca yang sepertinya memang sudah kesal dengan Gibran.
"Saya nggak punya dendam apapun ke kamu, lagian saya melakukan ini demi kamu juga. Supaya nilai kamu bagus,memang kamu nggak malu selalu mendapat rangking tiga dari belakang?"
Caca mendengus mendengar pernyataan Gibran yang terlalu jujur. Jika kemampuan nya hanya sebatas itu lalu dia bisa apa?
"Otak saya memang begini pak,mau usaha sekeras apapun pasti lupa lagi. Saya juga pengen kali pak punya otak pinter"
"Kalau usaha pasti bisa, kamu nya aja yang gampang nyerah."
Cukup! Caca sudah tak tahan lagi. Hari ini kepalanya terasa akan pecah karena mengingat berbagai angka rumit yang ia tulis lagi. Dan sekaranf Gibran akan menambah beban itu lagi? No! Bisa-bisa pecah beneran kepala Caca.
"Pak saya beneran capek banget hari ini, jadi maaf kalau bapak mau kasih saya tugas ngerjain soal lagi. Saya nggak bisa, kirim kan saja soal nya saya usahakan untuk saya kerjakan di rumah" ujar Caca sembari beranjak dari tempat duduknya. Padahal pesanan mereka baru saja tiba. Gibran pun sontak menahan pergelangan tangan Caca.
"Mau kemana?"
"Pulang pak, saya capek."
"Minum dulu."
__ADS_1
"Saya nggak haus, lagian ojol yang saya pesan sudah mau sampai" jawab Caca sambil melepas tangan Gibran dari pergelangan tangannya.
Gibran turut bangkit, "Saya antar,kan kamu saya yang ajak pergi" ucap Gibran.
Saat Caca hendak menjawab tiba-tiba sosok perempuan seusianya yang mengenakan seragam sama seperti dirinya datang dan menyapa Gibran.
"Pak Gibran, bapak disini juga?" Tanya nya dengan raut wajah yang sumringah. Nampak sekali kalau perempuan itu juga menyukai Gibran,membuat hati Caca langsung mencelos.
"Iya" jawab Gibran singkat tanpa ekspresi,sama seperti biasa.
"Loh kamu juga disini Ca?" Tanya Elsa yang saat melihat Caca di sebelah Gibran.
"Iya, ini gue juga mau balik. Ya udah, saya duluan pak, Elsa" jawab Caca kemudian ia berpamitan pergi.
Gibran yang hendak menyusul Caca, Elsa langsung menahan pergelangan tangan Gibran.
"Bapak mau kemana?"
"Saya mau pulang."
Gibran tampak bingung, ia melihat keluar jendela cafe dan ternyata Caca sudah naik ojol. Meski hati nya gelisah dengan rasa bersalah akhrinya Gibran menyetujui permintaan Elsa.
"Yes!" Elsa bersorak dalam hati.
**
Leo melihat Caca sudah pulang menggunakan ojek online dari balkon kamarnya yang memang menghadap ke arah rumah Caca. Timbul rasa penasaran dalam hatinya mengenai kemana abangnya sampai Caca pulang menggunakan ojek online. Lalu buru-buru Leo turun dari kamar nya dan menghampiri Caca, mendadak ia jadi khawatir.
"Mau kemana Le? Buru-buru banget?" Tanya Rika yang heran melihat putra bungsunya berlari menuruni tangga seperti orang dikejar setan.
"Mau kerumah Caca bun" jawab Leo.
Setelah berada didepan rumah Caca, Leo langsung masuk kedalam. Bukan tidak sopan, tetapi bagi kedua keluarga itu terutama Leo dan Caca. Mereka sudah terbiasa masuk ke rumah tanpa harus mengetuk pintu terlebih dahulu seperti orang asing.
"Assalamualaikum tante,Leo permisi ke kamar Caca ya tan ada urusan mendadak" Leo memberi salam pada Anjani lalu setelah nya ia menaiki tangga menuju kamar Caca, yang bahkan Anjani sendiri belum sempat menjawab salam Leo.
"Mereka berantem?" Gumam Anjani salah sangka.
__ADS_1
Sesampainya didepan kamar Caca,Leo mengetuk pintu kamar itu terlebih dahulu. Baru kemudian ia masuk kedalam. Dilihat nya Caca tengah berbaring dengan kedua mata yang sudah terpejam.
"Udah tidur, cepet banget?" Lirih Leo, lalu ia menghampiri Caca dan membantu membukakan sepatu sahabat nya itu, salah satu kebiasaan buruk Caca yang masih menghinggap kini.
Leo membenarkan posisi tidur Caca yang terlihat kurang nyaman. Tapi tiba-tiba Caca terbangun.
Bugh!
Caca langsung memukul wajah Leo dengan keras.
"Awwhh..Caca! Lo gila ya?? Sakit tau?" Leo berteriak sambil memegangi pipinya yang terasa sakit.
"Lo ngapain hah! Mesum banget jadi cowok. Lo mau *****-***** gue ya?" tuduh Caca.
"Sembarangan! Nggak nafsu gue sama lo. Gue cuma bantuin lo aja,kayak nya posisi tidur lo nggak nyaman gitu. Tau gini, mending gue biarin aja deh" sungut Leo kemudian ia turun dari ranjang Caca,dan beralih duduk kursi.
Leo menelisik raut wajah sahabatnya yang terlihat kurang baik, ia yakin penyebabnya adalah sang kakak.
"Bang Gibran usir lo?"
"Enggak,gue sendiri yang mau pulang kenapa?"
"Kenapa? Biasanya seneng banget lo kalau berduaan sama abang gue. Lagi waras lo hari ini?" Ledek Leo sambil menertawakan Caca yang sudah cemberut.
"Hari ini otak gue lagi penat dan lelah,butuh istirahat. Lagian abang lo kalau deket gue bawaan nya pengen kasih tugas mulu. Sebel gue lama-lama sama dia" curhat Caca.
"Gue juga jadi insecure sendiri deh mau deketin mas Gibran. Dia kan pinter banget, nah gue nya goblok banget. Terlalu kontras perbedaan kita berdua" ujar Caca menekuk wajah nya kembali.
Leo juga merasa begitu, meski ia jarang mengobrol akrab dengan abangnya. Leo tau tipe seperti apa yang di ingin kan oleh Gibran, dan yang jelas bukan wanita yang malas belajar. Contoh nya adalah Caca. Leo beranjak dari tempat duduk nya, kemudian ia mengacak lembut pucuk kepala Caca.
"Kalau abang gue nolak lo, masih ada gue yang bakal nerima lo dengan tangan terbuka" ucap Leo kemudian ia berlalu pergi keluar kamar. Membuat Caca mematung mencoba mencerna maksud ucapan Leo barusan.
"Woyy!! Keripik kentang,maksud lo apaan??" Teriak Caca membahana.
Leo yang mendengar suara tujuh oktaf milik sahabatnya itu hanya tersenyum tipis, "Suatu hari lo juga bakal tau maksud gua Ca" gumamnya.
-bersambung
__ADS_1