
Happy reading..😊😊
Jangan lupa like nya😁
💮💮💮
Suasana di ruang tengah terdengar riuh karena suara Leo dan Caca yang menggema di seluruh ruangan. Mereka tengah berlomba memainkan permainan PS yang sudah mereka mainkan hampir tiga jam lama nya. Bahkan tanpa sadar sekarang sudah hampir menjelang sore.
"Yes! Gue menang lagi!" Pekik Caca ketika ia berhasil mengalahkan Leo dalam permainan balap mobil. Saking senangnya Caca sampai jingkrak-jingkrak gak jelas.
"Jangan berisik!" Tegur seseorang yang tiba-tiba muncul menghampiri mereka.
"Maaf mas" cicit Caca langsung menutup mulutnya. Ia kembali duduk disebelah Leo.
"Kalian ini bukannya belajar malah main game, pantes nggak pernah masuk 10 besar" ujar Gibran menatap sinis kedua manusia yang tengah menundukkan kepalanya.
Gibran itu tipikal orang yang sangat disiplin akan waktu, sejak masa sekolahnya Gibran selalu menghabiska waktu untuk belajar dan membaca buku. Tidak seperti Leo, yang selalu abai jika di suruh belajar.
"Aku masuk terus ya mas, cuma ini orang aja yang rangking nya jeblok" bela Leon sambil menunjuk Caca,hingga gadis itua mendelik tajam pada Leo.
"Walaupun rangking aku jeblok, tapi aku selalu juara tekwondo ya. Itu tandanya aku masih berprestasi" elak Caca mencoba membela diri.
Leo hampir menyemburkan tawanya, "Gayaan lo, pake bahasa aku. Geli gue denger nya" ucap Leon sambil menoyor kepala Caca.
Gibran hanya memijit pangkal hidungnya mendengar perdebatan mereka. Dan ia memilih pergi kembali kekamarnya.
"Leo"
"Paan?"
"Laper nih,bunda masak apa?"
"Bunda dari pagi udah pergi sama ayah, gue sama kak Gibran aja beli. Kenapa lo laper? Pulang lah"
Caca mendengus sebal, giliran dirinya yang kelaparan malah di usir. Dasar temen semprul!
__ADS_1
"Lo lupa, orang tua kita kan barengan pergi nya. Gimana sih?"
"Oh iya lupa. Terus lo mau makan apa? Gue nggak bisa masak,masak air aja gosong" ujar Leo.
Caca tampak berfikir sejenak, tiba-tiba bayangan akan lezatnya nasi goreng depan gang komplek terlintas di benaknya.
"Beliin gue nasgor pak Min dong,enak tuh kayak nya di makan sore-sore begini"
"Mager gue, beli aja sendiri" tolak Leo.
"Pokok nya beliin, gue gerah mau mandi. Udah sana, gue traktir lo juga deh sekalian sama mas Gibran. Nih duit nya" Caca memberikan uang seratus ribu selembar pada Leo. Membuat pria itu langsung menyunggingkan senyumannya. Leo yang awalnya malas-malasan kini dengan semangat ia langsung berdiri dan mengambil kontak motor yang terletak di atas nakas dekat TV.
"Giliran dapet gratisan aja cepet" cibir Caca saat melihat wajah Leo yang sumringah, ia yakin kalau Leo pasti tidak akan membeli nasi goreng seperti dirinya. Dia akan membeli makanan lain yang harganya kadang lebih mahal dari harga makanan milik Caca, emang sahabat lukcnut dia.
Meski bagi sebagian orang kebiasaan Caca yang suka mandi di tempat Leo dipandang aneh, tapi bagi dia dan juga keluarga mereka hal itu biasa saja. Sebab Leo dan Caca itu sudah berteman sejak dalam kandungan, hari lahir mereka aja sama hanya berbeda jam nya saja. Leo lebih tua tiga jam dari Caca, mereka juga di lahirkan di rumah sakit yang sama. Jadi tak heran kalau kedua orang tua mereka menganggap kedua nya seperti saudara kandung.
Mendengar suara motor Leo yang sudah keluar, Caca bergegas masuk kedalam kamar Leo. Kamar Leo yang bersebelahan dengan kamar Gibran, memberikan kesempatan kecil pada gadis itu untuk mengintip sedikit melalui celah pintu yang terbuka sedikit. Terlihat Gibran tengah membaca sebuah buku, dengan kacamata yang menggantung di hidung mancung nya membuat pria itu terlihat tampan ketika kulit wajahnya diterpa sinar senja.
"Calon imam gue ganteng banget sih,jadi makin cinta" gumam Caca tersenyum simpul. Dengan gerakan sangat pelan, Caca berjalan ke kamar Leo dan menutup pintunya.
Kamar Gibran,
"Ck..mana sih buku yang Leo pinjem kemaren, kok nggak ada?" Gerutu Gibran sembari mencari-cari buku ensiklopedia yang di pinjam Leo beberapa hari yang lalu.
"Coba cari di kamar nya aja deh"ucapnya berhenti mencari. Kemudian ia berlalu pergi keluar kamar dan masuk kedalam kamar Leo yang tak di kunci.
Tanpa ada rasa curiga atau apapun, Gibran masuk kedalam dan mulai mencari-cari bukunya di meja belajar sang adik. Sampai tiba di saat pintu kamar mandi yang tiba-tiba terbuka,menampilkan sosok gadis cantik dengan balutan handuk yang mengekspos kulit mulus dan leher jenjangnya. Membuat nafas Gibran tercekat seketika. Matanya hampir tak berkedip melihat betapa indah nya ciptaan tuham di hadapannya ini,yang masih tak sadar kalau ada Gibran yang sedang menatap dirinya.
"Akhhhh..!!!!" Teriakan Caca langsung menggelegar memenuhi kamar yang kedap suara itu. Tangannya dengan reflek langsung ia silangkan didepan dadanya.
"Mas Gibran mesum!!!" Teriak Caca lagi, ia bergegas masuk kembali kedalam kamar mandi dengan wajah yang sudah memerah bak kepiting rebus.
"Sorry" hanya satu kata itu yang mampu terlontar dari bibir Gibran,sebelum akhirnya ia mengurungkan niatnya untuk mencari buku tersebut dan memilih pergi meninggalkan kamar Leo.
Tak hanya wajah Caca yang memerah, wajah Gibran juga tengah bersemu mengingat pemandangan yang tak seharusnya ia lihat. Tanpa sadar tangannya mengepal erat, penasaran akan Caca yang kenapa bisa mandi di kamar pria seenaknya seperti itu.
__ADS_1
"Akkhh..kenapa kau terus kepikiran sama bentuk tubuh nya itu" Gibran mengusap wajah nya frustasi dan memilih untuk masuk kedalam kamar mandi miliknya. Sungguh saat ini, ia sangat membutuhkan air dingin untuk menenangkan sesuatu yang bergejolak dibawah sana. Walau bagaimana sikap dan sifat Gibran, dia tetaplah seorang pria normal.
****
Dapur,
Leo menatap Gibran dan Caca secara bergantian. Terutama Caca yang jadi lebih pendiam saat berhadapan dengan Gibran, karena biasanya gadis itu akan selalu bersikap sok kecentilan jika sudah berdekatan dengan kakaknya.
Sikap mereka benar-benar membuat Leo jadi curiga.
"Tumben lo diem aja Ca, lagi sariawan?" Tanya Leo mencoba membuka suara yang hanya di balas anggukan oleh Caca.
"Kok lo pake baju gue sih, baju lo mana?" Tanya Leo lagi, saat tersadar kalau kaos oblong berwarna putih yang dipakai Caca itu adalah miliknya.
"Gue lupa bawa, masa iya gue mandi nggak ganti."
"Daleman gue juga lo pake?"
Uhuk..uhukk..
Gibran yang mendengar pertanyaan konyol adiknya itu langsung terbatuk-batuk. Sedetik kemudian ia menatap tajam Leo, "Pertanyaan kamu nggak sopan banget sih Le, dia itu cewek loh jangan samain sama kayak cowok" ucap Gibran.
"Halah, dia mah jangan di anggep cewek kak. Kelakuannya gak ada kalem-kalemnya sama sekali" jawab Leo, satu tendangan maut berhasil ia dapatkan dari Caca.
"Tuh kan apa aku bilang, dia ini suka banget nindas aku kak" ujar Leo meringis mengusap lutut nya yang terkena tendangan dari Caca.
Gibran mengabaikan rengekan Leo pandangannya kini beralih pada Caca.
"Caca lain kali jangan mandi dikamar cowok lagi, terlebih kalian itu tidak ada ikatan darah. Bisa saja ada hal-hal yang tidak diingin kan terjadi nantinya, kamu tau kan maksud saya" ujar Gibran dengan wajah seriusnya.
"Kenapa mas? Selama ini Caca udah sering kok numpang mandi di kamar Leo kalau mami sama papi lagi pergi. Kita berdua juga nggak mungkin kayak gitu" balas Caca.
"Tapi saya tidak suka"
"Hah??"
__ADS_1
-bersambung