
Happy reading...😊
☘☘☘
"Tapi saya tidak suka" sahut Gibran spontan.
"Hah?" Leo dan Caca terkejut dengan ucapan Gibran barusan. Lalu setelah nya Leo mengulum senyum menatap penuh arti pada kakaknya ini.
"Maksud saya, saya tidak suka ada wanita yang tidak ada hubungan darah masuk sembarangan ke kamar laki-laki meskipun hanya teman" ucap Gibran memperjelas ucapannya. Dalam hati ia merutuki mulut bodohnya. Ia melirik sekilas Caca yang terlihat menunduk, ia yakin kalau gadis remaja didepannya ini tidak konek dengan ucapannya tadi.
Berbeda dengan Caca, Leo justru sudah merasakan gelagat aneh pada kakaknya. Leo sangat tau bagaimana watak Gibran, meski di luar nya tampak cuek dan dingin sebenarnya Gibran itu adalah sosok yang perhatian.
"Udah lah kak, kita kan temenan udah dari bayi. Nggak nafsu aku sama cewek tepos kaya dia" ujar Leo kemudian di iringi gelak tawa mengejek pada Caca.
"Dih, siapa juga yang mau sama cowok modelan kayak lo. Ganteng juga masih gantengan mas Gibran, pinter? Apalagi, lo masuk sepuluh besar itu karena beruntung doang" balas Caca yang tak terima dirinya di perolok oleh sahabat lucknut nya ini.
Gibran kian menggeram, kepalanya terasa berdenyut setiapkali mendengar perdebatan Caca dan Leo yang tidak ada habisnya.
"Kalian berdua kalau mau masih ribut mending keluar, telinga saya sakit dengerin ocehan kalian berdua" ujar Gibran dengan raut wajah muram.
Caca dan Leo langsung terdiam, dan menghabiskan makanan mereka. Hari semakin menggelap, waktu maghrib pun sudah tiba. Mereka bertiga melaksanakan ibadah sholat dengan Gibran yang menjadi imamnya. Sungguh ini adalah momen berharga bagi Caca dimana dirinya bisa menjadi makmum dari Gibran, pria yang sangat ia sukai sejak dulu. Yah, meskipun ia tau kalau Gibran tak akan mudah untuk di luluhkan.
Setelah selesai menunaikan ibadah sholat, Gibran kembali masuk kedalam kamarnya. Sedangkan Leo dan Caca menonton televisi berdua diruang tengah. Dengan beberapa bungkus camilan yang menemani mereka.
"Mereka kondangan kemana sih, lama banget perasaan" gerutu Caca yang mulai jenuh dengan aktivitasnya saat ini.
"Jauh pokok nya, kalau lo ngantuk tidur aja dulu di sini ntar kalau mereka pulang gue bangunin" ujar Leo denhan kedua matanya terfokus menatap televisi.
Mata Caca sudah mulai memberat, ia pun langsung membaringkan tubuhnya dengan paha Leo yang menjadi bantalannya.
"Le"
__ADS_1
"Hmm?"
"Mas Gibran pernah pacaran nggak?" Tanya nya tiba-tiba.
"Gue nggak tau, soal nya mas Gibran itu tertutup orang nya."
"Kira-kira gue bisa nggak ya dapetin hati dia? Tapi kelihatannya dia susah banget buat di deketin."
Leo terdiam sejenak tak langsung menjawab perkataan Caca. Ia juga tak yakin kalau ada wanita yang mau dengan pria dingin seperti kakaknya, yang ia yakin tak mempunyai sisi romantis sama sekali. Kemudian ia menunduk melihat Caca yang tengah memainkan ponselnya. Tangannya terulur menyurai rambut Caca yang terasa halus.
"Jangan deh Ca, gue kasihan sama lo kalau sampe kalian jadian. Dia itu bukan tipe cowok yang romantis" ujar Leo, sontak saja hal itu langsung mendapat tatapan elang dari gadis yang tengah menjadikan pahanya sebagai bantalan kepalanya.
"Lo kok gitu sih, bukannya bantuin atau dukung malah matahin semangat orang. Gak like gue" sungut Caca.
Bukan karena apa, meski Gibran adalah kakak kandungnya sendiri. Tapi ia tak rela jika gadis yang selalu ia jaga selama ini akan tersakiti dengan cintanya yang bertepuk sebelah tangan. Dan jika hal itu benar-benar terjadi, mungkin orang pertama yang akan memusuhi Gibran adalah dirinya.
"Kalo gue aja yang jadi pacar lo gimana?"
"Ngadi-ngadi lo" ucap Caca usai memukul tangan Leo yang masih membelai rambutnya. Hingga pria itu mengaduh kesakitan.
"Canda, serius amat nanggepin nya" cengir Leo menampakkan deretan giginya.
Dari lantai dua, Gibran tengah berdiri memperhatikan mereka. Jika orang lain yang melihat, pasti mereka menyangka kalau Leo dan Caca pacaran. Lihat saja bagaimana posisi Caca yang tidur dengan paha Leo yang menjadi bantalan, tangan Leo yang terus mengusap kepala Caca menampakkan sikap romantis di antara keduanya. Tungu, tunggu! Lalu apa hubungan nya Gibran yang saat ini tengah menatap mereka berdua dengan perasaan aneh yang tak dapat ia jelaskan dengan kata-kata? Mungkin kah dia...
"No,no..gak mungkin aku cemburu. Caca bukanlah tipikal wanita yang aku idam kan" gumam Gibran menampik perasaannya yang panas ketika melihat mereka.
Ia bergegas kembali masuk kedalam kamarnya, sebelum salah satu dari mereka ada yang melihat dirinya.
Pukul sepuluh malam, kedua orang tua mereka baru saja tiba. Seperti biasa, papi Caca akan lebih dulu mampir ke rumah Gibran untuk menjemput Caca yang ia yakini saat ini sudah tertidur.
"Udah pada tidur mereka" ucap ayah Gibran ketika masuk kedalam rumah.
__ADS_1
Caca dan Leo tidur terpisah, Caca di sofa yang menghadap langsung ke TV sedangkan Leo di sofa yang satu lagi. Padahal posisi awal mereka tadi tidak seperti itu. Andra menghampiri putrinya,mencoba membangunkan Caca yang tengah terlelap.
"Caca, bangun nak pulang dulu" dengan nada lembut Andra berusaha membangunkan Caca. Tapi ya gitu, namanya juga Caca kalau udah tidur pasti sangat sulit untuk dibangunkan.
"Caca"panggil nya sekali lagi, tapi tetap saja gadis itu tak juga membuka kedua matanya.
Akhirnya mau tak mau Andra harus menggendong Caca pulang. Tapi saat ia hendak mengangkat tubuh sang putri tercinta, tiba-tiba Lukman menahan Andra.
"Kenapa Man?"
"Inget pinggang kamu kata Anjani kemarin kamu habis urut gara-gara ngeluh pinggang mu encok. Kalau kamu ngangkat Caca yang ada malah tambah parah" ujar Lukman yang memang mengetahui kondisi kesehatan tulang sahabatnya ini sedang tak sehat.
"Terus gimana? Tidur disini juga anak kamu cowok semua, kalau dulu sih iya pas mereka masih kecil. Lah sekarang, mereka udah pada besar."
"Ya enggak lah aku juga tau kali Ndra, biar aku bangunin Leo dulu" jawab Lukman yang kini menghampiri Leo dan berusaha membangunkannya. Tapi sudah lebih lima kali dia mencoba untuk membangunkan Leo, putra bungsunya itu tak juga bangun. Sifat mereka memang benar-benar mirip.
"Biarin aja lah Man, aku udah nggak apa-apa kok"
Tiba-tiba saja tanpa sengaja Gibran turun, membuat Lukman sontak memanggilnya.
"Sini dulu bang" panggil Lukman pada putra sulungnya. Melihat ada Andra Gibran menyalami Andra terlebih dahulu.
"Ada apa yah?"
"Tolong kamu gendong Caca ya ke rumah nya, adik kamu di bangunin susah. Caca juga begitu, tolong ya kasihan om Andra pinggang nya baru encok kemarin" ujar Lukman yang pada akhirnya meminta bantuan pada Gibran. Dam Gibran pun tak bisa menolak.
"Makasih ya nak Gibran" ucap Andra yang kemudian ia berjalan terlebih dahulu keluar dari rumah itu.
Dengan hati-hati, Gibran menggendong Caca ala bridestyle menuju ke rumahnya.
"Gadis merepotkan" batin Gibran dalam hati.
__ADS_1
-Bersambung