
-Selamat membaca-
Jangan lupa like nya 😊😊
🍀🍀🍀
Bel sekolah berbunyi lima kali, itu berarti kegiatan belajar mengajar sudah usai. Caca jadi tak sabar ingin melihat kembali wajah tampan kakak dari sahabatnya itu, setelah hampir empat tahun berada di negeri Sakura.
"Ca, lo kesambet jin di mana? Perasaan dari dateng sampe pulang tuh muka senyam senyum bae..?" Tanya Atika yang penasaran, mereka berdua berjalan bersama dari kelas menuju gerbang sekolah.
"Pangeran gue hari ini bakal dateng, jadi nggak sabar pengen lihat muka ganteng nya lagi" ujar Caca cekikikan bak pasien RSJ, membuat Atika yang melihat tingkah absurd nya jadi bergidik sendiri.
"Ya ampun, nih anak otak nya lagi geser kali ya?? Kebanyakan halu sih."
"Gue nggak halu ya,sembarangan. Eh iya, Tik gue nebeng lo ya hari ini biar cepet nyampe gue nya. Boleh ya?" Pinta Caca sambil mengedip-ngedipkan kedua matanya sok imut.
"Iya" jawab Atika malas,tapi dia menyetujui nya.
Motor matic yang dikendarai oleh Atik, sudah berhenti tepat di depan rumah Leo. Bukannya pulang dulu kerumah, gadis itu malah lebih dulu mampir ke tempat sahabatnya. Yah, meskipun dengan modus hendak menjenguk Leo yang sakit padahal niat sesungguhnya ingin bertemu Gibran,pria pujaan hatinya.
"Makasih ya Tik, lo nggak mau mampir dulu nih sekalian jenguk dia?" Ucap Caca menawari Atika untuk ikut mampir bersama dengannya.
"Nggak deh, mak gue nyuruh pulang cepet soal nya motor mau di pake jualan" kata Atika yang di angguki oleh Caca.
Kedua netra Atika melirik sekilas pada kantong asoi berwarna bening yang berisikan batagor yang Caca beli didepan sekolah tadi. Dimana-mana menjenguk orang sakit itu bawaannya adalah buah atau roti, tapi Caca malah membelikan Leo batagor. Benar-benar tak habis pikir dia dengan jalan pikiran Caca.
"Yakin lo cuma bawa itu Ca, lo mau niat jenguk orang sakit atau bagaimana sih? Dimana-mana ya jenguk orang sakit itu bawaan nya buah kalau nggak roti, nah lo malah bawa batagor" cerocos Atika yang membuat telinga Caca jadi gatal mendengarnya. Bagi Caca,Atika ini adalah titisan mami nya mereka berdua sama-sama cerewet dan suka mengomel.
"Dia kan udah kaya, pasti di rumah nya udah banyak yang begituan. Nah kalau batagor, di rumah Leo pasti nggak ada" jawab Caca, kemudian ia membuka pintu gerbang rumah Leo.
__ADS_1
"Hati-hati lo bawa motor nya jangan ngebut" ucap Caca sebelum ia menutup kembali pintu gerbang rumah Leo. Atika hanya mendengus pelan, kemudian gadis berambut berhijab itu langsung pergi dari sana.
Caca menelisik sejenak rumah Leo yang tampak sepi, bukannya Gibran pulang? Lalu kenapa suasana rumah nya masih terasa sepi?
Caca mencoba membuka pintu yang ternyata tak di kunci.
"Assalamualaikum, keripik kentang! Yuhuuuu!!" Teriak Caca menyembulkan kepalanya sambil memanggil Leo. Dia tak langsung masuk, mengingat keadaan rumah yang sepi membuat jiwa penakut Caca mulai menggelitik perasaannya.
"Siapa kamu??" Tiba-tiba muncul seorang pria dengan wajah rupawan, tubuh tegap bak atlet datang menghampiri nya. Sontak saja Caca melongo terpesona akan ketampanan pria yang sedang berjalan ke arahnya.
"Hei!! Anak kecil, kamu siapa?? Di tanya kok malah ngelamun" kata Gibran yang sudah berdiri didepan Caca sambil melambai-lambaikan tangannya didepan wajah Caca,sampai si empunya tersadar.
"E-eh! Maaf mas" jawab Caca gelagapan.
"Mas??" Kening Gibran berkerut ketika mendengar Caca memanggilnya dengan sebutan mas. Ternyata Gibran sedikit lupa dengan wajah Caca, karena terakhir ia bertemu, Caca masih kecil dan tubuh nya pun masih gemuk. Tidak seperti sekarang, Caca sudah menjadi remaja cantik yang memiliki tubuh langsing dengan tinggi sekitar 165cm.
"Kamu Caca??" Beberapa detik kemudian tampak raut wajah Gibran terkejut. Dan Caca hanya mengangguk pelan.
"Kok kurusan? Diet ya?" Senyum Caca langsung luntur ketika mendengar ucapan Gibran yang malah mengingatkan akan tubuh gemuknya dulu.
"Enggak lah, ak-" belum selesai Caca berbicara, Leo muncul menuruni tangga.
"Caca" panggil Leo. Ia menghampiri keduanya yang tengah berdiri didepan pintu. Terlebih ketika ia melihat reaksi Caca yang terus menatap kakaknya dengan tatapan memuja.
"Kedip woy!! Kedip!! Nggak pernah lihat cowok ganteng ya?" Celetuk Leo yang sukses mendapat sebuah pukulan maut dari Caca.
Caca memicingkan kedua matanya menatap sinis pada Leo yang tengah meringis sambil mengusap-usap lengannya yang terasa sakit.
Melihat adiknya di pukul kencang,padahal dia sedang sakit sontak saja Gibran menarik Leo kesampingnya.
__ADS_1
"Kamu kenapa pukul adik saya?dia lagi sakit" ujar Gibran menatap tajam Caca, hingga gadis itu menundukkan kepalanya.
"Jangan galak-galak kak, udah biasa kok dia nindas gue. Ini mah belum seberapa" celetuk Leo yang menambah suasana semakin panas.
Demi kolor iron man! Caca pengen banget nenggelemin Leo di sungai amazon saat ini juga. Bukannya di bela malah dengan sengaja mengumbar kesalahannya. Benar-benar sahabat laknat!
"Kamu suka bully adek saya?" Kedua mata Gibran semakin melebar.
"Mana ada, dia tuh yang ngeselin. Sembarangan aja nuduh orang" Caca membela diri sambil menunjuk ke arah sahabatnya. Hancur sudah image nya didepan sang pujaan hati jika seperti ini kejadiannya.
Sementara Leo, malah menjulurkan lidahnya seolah mengejek Caca yang sedang di marahi oleh kakaknya. Leo tau, tujuan utama Caca datang ke sini karena ingin bertemu dengan kakaknya.
"Nih, gue beliin batagor! Awas aja kalo besok ngemis-ngemis minjem catetan nggak bakal gue kasih" ujar nya sambil memberikan sebungkus batagor yang ia beli tadi.
Dengan wajahnya yang memerah menahan marah, Caca langsung pergi begitu saja. Membuat Gibran jadi semakin bingung dengan sikap Caca yang sangat aneh menurutnya.
"Yah..dia ngambek. Bentar kak, aku susulin dia dulu" ucap Leo memberikan batagor itu ke kakaknya, tapi saat ia hendak melangkahkan kakinya keluar dengan cepat Gibran menahannya.
"Mau kemana? Masih sakit kok malah keluyuran. Masuk!"
"Temen gue lagi ngambek itu, bisa berabe kalau sampe dia ngambek nya lama"
"Masuk Leo" ucap Gibran penuh penekanan. Mau tak mau Leo pun masuk kembali dan mengurungkan niatnya untuk menyusul Caca.
Sementara Gibran, pria itu menutup pintu nya sembari menatap Caca yang baru masuk kedalam rumah. Fyi, rumah Caca dan Leo itu saling berhadapan.
"Kenapa bisa berubah sedrastis itu ya? Dia jadi cantik banget sekarang" gumam Gibran tanpa sadar menyunggingkan senyumannya.
-bersambung
__ADS_1