
Happy reading..😄😄
🌿🌿🌿
Pagi-pagi sekali Leo sudah berada di rumah Caca,alasan nya ya karena dirinya ingin meminta maaf. Sejak sore kemarin Caca tak membalas pesan nya sama sekali,bahkan di telpon pun Caca enggan mengangkat.
"Tante Caca udah bangun belum?" Tanya Leo ketika Anjani membuka kan pintu rumah nya. Anjani cukup terkejut ketika melihat Leo sudah berada didepan rumah nya pagi-pagi buta sekali.
"Masih jam enam kurang Leo, mana mungkin Caca bisa bangun secepat itu. Kamujuga kok tumben pagi-pagi udah rapi?katanya kemarin sakit"
Leo hanya menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Kalau bukan karena sahabatnya marah ia juga malas bangun terlalu pagi. Ini sekua ia lakukan demi bisa membujuk Caca.
"Sekarang udah mendingan tan, nggak enak kelamaan libur" jawab Leo menyengir.
Kemudian Anjani mempersilahkan Leo masuk, di ruang tengah sudah ada papi nya Caca yang sedang duduk santai di sofa sembari menonton televisi.
"Pagi om" sapa Leo dengan ramah.
"Pagi juga, pagi banget kamu Leo tumben?" Pertanyaan yang sama dengan mami nya Caca.
"Iya om, lagi pengen berangkat cepat. Leo permisi bangunin Caca dulu ya om" ujar Leo yang di angguki oleh Andra.
Sudah biasa bagi keluarga itu membiarkan Leo masuk kedalam putri mereka. Bukan tanpa alasan, itu semua karena kedua nya memang sudah berteman sejak kecil. Jadi tak ada yang membuat mereka khawatir kalau-kalau Leo akan berbuat macam-macam pada Caca.
Leo pun berjalan menaiki tangga menuju kamar Caca yang berada di lantai dua,sama seperti letak kamar nya.
Krieet..
Leo dengan hati-hati membuka pintu kamar Caca,lalu ia masuk kedalam.
"Masih tidur,dasar kebo!" Cibir Leo saat melihay Caca masih bergelung di bawah selimut tebalnya.
Dengan langkah yang amat pelan,Leo berjalan menghampiri ranjang Caca dan..
"Caca maricaaa...!!! Kebakaran!!!" Teriak Leo dengan suara lantang tepat di telinga Caca,hingga berhasil membuat si empu nya terlonjak dan hampir saja jatuh dari tempat tidur.
__ADS_1
Berbeda dengan Caca yang kondisi jantung nya masih tidak stabil karena kaget, Leo malah tertawa terbahak-bahak sambil memegangi perutnya. Membuat Caca kembali murka dan langsung melempar bantal hingga mengenai tepat di wajah Leo.
Bukk!
"Aww..!!" Ringis Leo memegangi wajah nya,saking kencang nya Caca melempar bantal sampai membuat Leo jatuh terjengkang mengenaskan ke dasar lantai.
"Rasain, makan tuh lantai dasar keripik kentang!" Ujar Caca sambil menahan tawa melihat Leo yang sudah terduduk di lantai.
"Gue lagi sakit loh Ca, tega bener lo sama temen sendiri" gerutu Leo, lalu ia kembali berdiri.
"Salah lo sendiri sakit aja masih jahil, untung bukan pisau yang gue lempar" jawab Caca sinis.
"Jahat banget pikiran lo" lirih Leo.
Caca kembali berbaring, bukan untuk tidur kembali. Melainkan hanya mencoba menghilangkan rasa pening di kepalanya akibat terkejut. Bayangkan saja lagi enak-enak tidur,terus di kageti seperti itu. Auto sakit dah tuh kepala!
"Buruan mandi sana, udah jam enam tepat tuh" ujar Leo.
"Bentar kepala gue masih pening gara-gara lo, dasar keripik kentang asli!"
"Oh iya, gue kan masih marah sama lo. Sono gih, jauh-jauh dari gue males banget punya temen nggak setia kawan kek lo!" Kata Caca sembari melambai-lambaikan tangannya menyuruh Leo untuk pergi.
"Gue minta maaf deh Ca, jangan ngambek lagi dong. Gue nggak sanggup kalau kelamaan marahan sama lo" ucap Leo mendramatisir keadaan dengan memasang wajah yang sengaja disedih-sedih kan.
Sebenarnya Caca juga tak enak jika terlalu lama marahan dengan Leo, karena selama ini paling lama mereka marahan itu hanya dua hari. Itu pun terjadi saat mereka masih kelas satu SMA, dimana mereka bertengkar karena permasalahan kegiatan MOS di sekolah.
"Lo sebagai temen bukan nya di bantuin PDKT, malah nunjukin keburukan gue. Gak like banget gue sama lo."
Leo diam sejenak,di pikiran nya muncul sebuah ide hebat yang akan membuat sahabatnya itu akan segera memaafkan dirinya.
"Oke, gue bantu lo deket sama kakak gue. Gimana?"
Wow! Caca yang hendak memejamkan kedua matanya kembali terbuka lebar ketika mendengar tawaran yang begitu menggiurkan dari Leo. Bahkan gadis itu dengan cepat terbangun dari tidurnya.
"Deal!"
__ADS_1
*****
"Tik, ada apaan sih? Kok kayak nya anak-anak pada heboh gitu?" Tanya Caca yang penasaran dengan murid-murid yang ia perhatikan sejak memasuki pekarangan sekolah sampai masuk ke kelas. Banyak murid yang kasak-kusuk seperti membicarakan sesuatu.
"Lo nggak tau kalau di sekolah kita hari ini kedatangan guru baru, keren nya lagi dia itu lulusan dari jepang mana ganteng lagi. Pokok nya paket komplit" cerita Atika dengab mata yang berbinar.
Pikiran Caca langsung tertuju pada satu orang, yaitu GIBRAN.
Caca menoleh ke arah Leo yang sedang membuka tas dan mengeluarkan buku tulisnya. Lagi-lagi Leo tak memberitahu nya akan hal ini.
"Leo kok lo nggak bilang mas Gibran bakal ngajar di sekolah ini?" Tanya Caca langsung.
"Kan lo nggak nanya" jawab Leo singkat,padat dan mengesalkan.
"Oohh, jadi dia kakak lo singa. Kok nggak mirip sih?" Sahut Atika tak menyangka.
"Mirip lah,sama-sama ganteng kita berdua" jawab Leo.
Caca langsung menyahut, "Dia sama mas Gibran itu ibarat bumi sama langit Tik, jauh banget bedanya. Mas Gibran kalem,dia petakilan. Mas Gibran pinter dia nya goblok nggak ketulungan. Penyelamat ini orang ya cuma tampang nya yang rada ganteng doang. Selain itu mah, minus semua" tutur Caca membeberkan segala keburukan Leo,yah hitung-hitung sebagai balas dendam dia karena sudah menjatuhkan image nya didepan Gibran kemarin.
Leo hanya mendengus mendengar ucapan Caca, "Sama-sama bego aja belagu banget lo!" Ucap Leo.
Bel telah berbunyi, pertanda kelas akan di mulai. Semua siswa mulai grasak-grusuk kembali ke bangku mereka masing-masing. Terlebih jam pertama mereka adalah jam pelajaran matematika yang gurunya luar biasa galak. Tapi, rasa was-was dari semua murid di kelas Caca langsung berganti dengan rasa kagum dari mereka semua.Tak terkecuali Caca. Bagaimana tidak, bukan wajah garang bu Hilda yang datang tetapi malah wajah rupawan dari Gibran yang sukses membuat semua murid terpukau akan kesempurnaan wajahnya.
"Oh my god! Pangeran gue dateng!" Teriak Caca dengan suara tertahan. Reaksi nya dengan murid-murid yang lain pun tak berbeda. Hampir semua dari kaum hawa dari kelas 11 IPS2 menatap Gibran dengan tatapan memuja.
"Pagi anak-anak!" Sapa nya dengan tersenyum ramah,membuat siapa pun yang melihat nya langsung terpana.
"Pagi pak!!" Jawab semua murid,kecuali Caca.
"Pagi juga mas Gibran" jawab Caca dengan panggilan yang berbeda sendiri. Membuat semua mata langsung tertuju pada nya.
"Heheh..maksud saya pagi juga pak Gibran" Caca meralat panggilannya. Tapi lagi-lagi pandangan mereka mengarah padanya.
"Oh iya, mereka kan belum tau nama mas Gibran. Dasar ogeb!" Batin Caca merutuki kebodohan nya.
__ADS_1
-Bersambung