
Happy reading...
Terimakasih sudah mampir membaca jangan lupa like nya😊😊
♡♡♡♡♡
" Ya ampun nak Gibran, maaf ya jadi ngerepotin" ujar Anjani sembari membukakan pintu kamar milik putrinya.
"Nggak apa-apa tante" jawab Gibran tersenyum tipis.
"Makasih loh ya, kalau gitu tante tinggal dulu ya mau matiin kompor bentar" ucap Anjani terburu-buru keluar dari kamar Caca.
Gibran meletakkan Caca dengan hati-hati,kemudian ia menyelimuti gadis itu hingga menutupi sebagian tubuhnya. Gibran menatap lekat wajah Caca yang terlelap benar-benar nyenyak sekali dia tertidur.
"Mimpi indah, Caca embul" bisik Gibran kemudian ia pergi keluar dari kamar.
Caca embul, adalah panggilan Gibran ketika Caca masih kecil dan bertumbuh gemuk. Dulu setiap kali Caca dipanggil seperti itu, ia akan selalu tertawa sambil menampakkan giginya yang ompong. Mengingatnya saja sudah membuat Gibran ingin tertawa, namun siapa sangka gadis kecil yang gemuk dengan gigi ompongnya kini telah menjelma menjadi gadis cantik yang membuat pria manapun akan terpana.
**
Tok..tok..tok..tok..
"Caca!!!bangun!!" Suara teriakan yang membahana di iringi suara ketukan yang tak ada habisnya. Seperti biasa Anjani akan membangunkan Caca dengan cara yang tak biasa.
"Caca udah siang!!!" Teriak Anjani memanggil kembali sang putri.
Sementara Caca yang merasakan indera pendengarannya sakit akibat mendengar teriakan dari sang mama. Justru malah menutupi telinga nya dengan bantal.
Ceklek..
"Ya ampun nih anak, bukannya bangun" kata Anjani menggelengkan kepalanya saat melihat Caca yang tak juga ubah dari tempat tidur.
Anjani berjalan ke ranjang kemudian ia membuka paksa selimut yang menutupi seluruh bagian tubuh Caca.
"Caca udah siang, udah jam setengah tujuh tuh!" Ucap Anjani.
"Hah! Setengah tujuh mi?" Caca mendadak langsung terbangun. Dengan tergesa-gesa ia berlari mengambil handuk dan masuk kedalam kamar mandi. Membuat Anjani yang melihatnya hanya geleng-geleng kepala.
Setelah beberapa saat kemudian, Caca berlari menuruni tangga dengan pakaian yang sudah rapi. Ia menghampiri kedua orang tuanya yang tengah sarapan berdua.
"Caca kamu mandi apa enggak? Cepet banget?" Tanya Anjani yang heran dengan kecepatan mandi super kilat Caca.
__ADS_1
"Mandi mi, cuma nggak di resapi aja. Yang penting kena sabun sama air" jawab Caca kemudian ia mencium pipi kedua orang tuanya secara bergantian.
"Makan dulu sayang" ucap Andra dengan lembut.
"Udah kesiangan pi, makan di sekolah aja. Caca berangkat dulu ya,assalamuallaikum" Caca berpamitan.
"Caca!" Panggil Andra tiba-tiba sambil melambaikan tangannya menyuruh dia untuk kembali menghampirinya.
"Apa pi?" Tanya Caca berbalik lagi.
Andra memberikan uang dua puluh ribu ke Caca,"Nih buat tambahan jajan" ucap Andra.
Senyuman Caca langsung mengembang, papi nya ini memang layak disebut hero.
"Makasih papi!"
"Sama-sama."
Di kelas,
Caca yang baru saja tiba di kelas,merasa aneh dengan teman-temannya yang grasak-grusuk ke sana kemari sambil membawa buku,tak terkecuali Leo. Teman lukcnut yang sudah meninggalkan nya sehingga Caca berangkat sendirian tadi.
"Ada apaan sih Le,kok pada sibuk gitu?" Tanya nya pada Leo yang juga sedang menulis sesuatu di bukunya
"Serius??"
Caca pun akhirnya ikut panik,dan ia turut mengerjakan soal yang diberikan Gibran secara mendadak itu. Tapi sayang, baru saja menulis soal bel masuk sudah berbunyi. Jangankan untuk memikirkan jawabannya, ia pun tak sempat mencontek karena Gibran yang sudah berjalan memasuki kelas.
Seperti biasa pria tampan dengan aura dingin tak tersentuh itu, menatap ke sekeliling kelas. Sepertinya ia sudah tau kalau tugas yang ia berikan secara mendadak di grup belum ada yang bisa menyelesaikannya.
"Yang sudah selesai boleh kumpul didepan,selain itu yang lainnya silahkan berbaris di keuar kelas" ujar Gibran tanpa ekspresi di wajahnya.
Dan yang berhasil mengerjakan semua soal itu hanya enam orang saja. Sedangkan sisanya mereka keluar kelas sambil membawa buku masing-masing.
"Enak banget ya jadi orang pinter, gak perlu muter otak buat ngerjain soal kayak begitu" ucap Atika menatap iri dengan ke enam siswa yang sedang mengumpulkan buku tugas mereka.
"Heem,apa lagi Elsa dia paling pinter kalau masalah matematika. Tapi sayang, pelit!" Sahut Caca.
"Dimana-mana orang pinter emang pelit. Bilang nya belum, eh tau-tau dia udah ngumpul aja. Dasar pendusta" balas Leo sambil menatap sinis salah satu temannya yang tengah mengumpulkan tugas pada Gibran.
Caca dan Atika sontak menoleh,menatap Leo yang bingung dengan maksud tatapan mereka berdua pada dirinya.
__ADS_1
"Apaan?"
"Lo kan adek nya mas Gibran,masa nggak tau sih kalau ada tugas mendadak?" Tanya Caca memicingkan kedua matanya,menatap curiga Leo.
"Iya, atau lo sengaja ya biar kita sama-sama kena hukum" tuding Atika.
"Sumpah demi apa pun gue beneran nggak tau. Gue aja baru buka grup pagi tadi" Leo membela diri.
"Eh..eh..ada pak Gibran tuh" ucap salah satu siswa di belakang Atika yang langsung membuat perdebatan mereka terhentikan.
Raut wajah Gibran benar-benar sangat menyeramkan saat ini, sepertinya dia berbakat untuk menjadi guru killer pengganti bu Hilda.
"Kalian ini niat sekolah atau enggak sih? Masa dari 25 siswa hanya enam orang saja yang mengumpulkan tugas. Kalian ngapain aja di rumah?" Gibran memulai ceramahnya.
"Saya mengirimkan tugas itu pada malam hari loh, saya ingin mengetes minat belajar kalian. Tapi ternyata minat kalian untuk belajar itu sangat kecil" lanjutnya.
Sembilan belas orang siswa yang sedang di marahi oleh Gibran hanya bisa menundukkan kepalanya. Mereka pun merasa malu saat ini karena menjadi tontonan dari siswa lain. Jarang-jarang ada guru tegas seperti Gibran sampai membuat hampir semua murid dikelasnya terkena hukuman.
"Kalau kalian seperti ini terus,hanya memikirkan bersenang-senang saja saya khawatir dengan kemajuan negara ini jika anak-anak muda nya saja seperti kalian. Asik main game terus. Coba perlihat kan buku kalian, saya mau lihat sampai nomer berapa kalian mengerjakan nya" ujar Gibran kemudian ia memeriksa satu persatu buku tulis mereka.
Caca sudah ketar-ketir sendiri membayang kan nasibnya yang bahkan baru menulis soal di nomer satu. Ia bisa bayangkan bagaimana seram nya wajah Gibran saat itu.
"Mana buku kamu" tanpa di duga Gibran sudah berdiri didepannya sambil mengulurkan tangan.
Dengan ragu-ragu Caca memberikan buku miliknya. Gibran membuka nya dengan kening yang berkerut,lalu dengan cepat ia menutup kembali buku itu.
"Chakira Maharani" Gibran menyebutkan nama lengkapnya plus dengan wajah yang menyeramkan pula.
"Pak saya beneran baru buka ponsel di sekolah tadi, dari semalem batre ponsel saya lowbat pak" ujar Caca langsung menjelaskan.
"Kamu ini, yang lain meski belum selesai setidaknya sudah mengerjakan sampai soal kedua. Lah,kamu? Menulis soal nomer satu pun belum selesai? Astaga Caca!!" Omel Gibran sambil memijit pangkal hidung nya yang mancung itu. Ia benar-benar tak menyangka selain tingkah nya yang sedikit barbar tenyata Caca juga memiliki IQ yang rendah.
"Yang lain lari keliling lapangan sebanyak 15 kali, untuk kamu Caca selama jam pelajaran saya. Kamu bersihkan toilet dan juga perpustakaan. Setelah selesai mengajar saya akan mengecek nya" ujar Gibran.
Caca menghela nafas pelan, masa hukuman dirinya lebih berat dari yang lain. Tidakkah ada keringanan dari Gibran untuk mengurangi hukumannya.
"Pak jangan toilet dong, perpustakaan aja. Saya takut keco" pinta Caca memohon belas kasih dari sang guru.
"Nggak! Kerjakan atau nilai kamu akan saya buat di bawah KKM di rapot nanti" ujar Gibran kemudian ia kembali masuk.
"Pak Gibran!!"
__ADS_1
-bersambung