
aden tiba di bandara internasional jendral ahmad yani sekitar pukul 07.00 pagi ia melanjutkan perjalanan menggunakan mobil yang di pesan online untuk mengantarkan nya menuju rumah sakit tempat delisa di rawat setelah sampai di rumah sakit tujuan aden langsung menghubungi mama sekar untuk memberi informasi bahwa ia telah sampai di rumah sakit tujuan
"assalamu'alaikum ma aku udah di rumah sakit tempat delis di rawat aku mau bertanya dimana delis di rawat mah" ucap aden di sebrang telpon
"waalaikum salam den sudah sampai nak? " tanya sang mama
"alhamdulillah sudah ma kebetulan tadi dapet jadwal penerbangan pagi mah"
"ya sudah kamu langsung ke sini ajh ya " setelah memberi tahu ruangan delisa mereka mengakhiri telpon tersebut
namun ketika aden berjalan menuju ruang delisa ia di hadang oleh aryo
aden tampak tak menghiraukan keberadaan aryo saat aden berjalan melewati aryo iya di jegal oleh aryo
"sory aku buru buru bisa tolong meinggir jalan ku tehalang" ucap aden
aryo tampak menyeringai
"nggak ada jalan buat lo liat delisa lo tau lo udah jadi mantan M-A-N-T-A-N"
"lalu apa yang salah jika mantan ku butuh di jenguk, dia sedang sakit kan"jawab aden santai
" Hu um ngk ada yang salah emang cuma yang salah itu elo datang ke sini loe tau itu bisa memperburuk keadaan delisa "
"oh ya? bukan kah sebalik nya kalo elo yang jenguk ? oh iya gue tau mungkin delisa belum tau rahasia elo kan emmm kalo tau delisa pasti syok banget punya sahabat monster ke elu" aden malah menyandarkan punggung nya di dinding rumah sakit itu ia terlihat santai menghadapi aryo
"lu ngancem gue lu ngk tau siapa gue hah?! " aryo sudah tersulut emosi
"gue ngk perduli elo siapa yang jelas gue punya semua kartu As elo "
"bang**t lu"
"heh setiap ****** yang lu kubur tetap bakal kecium jadi siap siap sebelum terjadi"
"anj**ng lu"
bugghhh
aryo memberikan bogem mentah nya
"hahaha ck gak usah emosi bro selow ok"
bugghhh
__ADS_1
ssstthhh aden meringis ia tak tinggal diam ia membalas jotosan aryo akhirnya mereka terlibat perkelahian
sedangakan di ruang rawat delisa mama sekar tengah berbicara pada sang suami ia merasa khawatir sebab aden belum sampai di ruang delisa ia menduga duga keberadaan aden
"mas kok aden belum sampai sini tadi dia udah telpon aku lho masa iya nyasar aan ngk mungkin banget mas" ucap mama sekar pada sang suami
"coba telpon lagi "
"ngk di angkat mas, coba cari dulu mas takutnya dia nyasar syukur syukur dia lagi sarapan kan kesini nya masih pagi mas"
pak Adhi mengangguk lalu pergi dari hadapan sang istri tiba di lobi rumah sakit ia mendapati pemandangan dua orang yang berkelahi sedang di pisahkan para sekuriti namun tenaga sang sekuriti kalah telak dari para pria yang sedang adu jotos itu
pak adi bergegas memisahkan mereka ia hapal dengan postur tubuh kedua nya jadi tampa ragu mendekat dan melerai mereka
"HENTI KAN ADEN ARYO APA APAAN KALIAN INI MEMALUKAN! " suara pak adi mengelegar sambil menarik kerah baju aden sedangkan aryo di pegang oleh dua sekuriti
"ARYO PULANG! "
"tapi om"
"PERGI ATAU DELISA AKAN TAHU SEMUA INI"
jika sudah pak adi berbicara aryo pun menuruti kemauan Pak Adi ia pun pergi dengan gontai namun menatap aden dengan sinis ia mendekati aden lalu berbisik
aden hanya tersenyum mengejek ke arah aryo
"ayo kita ke ruang delisa tapi sebelum itu kita obati luka luka kamu ya biar delisa ngk khawatir sama kamu pas liat muka kamu lebam semu seenggaknya luka lebam ini harus di obati agar tidak terjadi infeksi"
"bagai angin pagi begitu sejuk saat pak adi berkata delisa akan khawatir ahh rasanya seperti mimpi apakah mungkin delisa mengkhawatirkan dirinya"
"heh ayo kok malah bengong, ck cepetan ayah pengen pas delisa sadar ayah ada di sampingnya" pak adi menarik tangan aden tidak sabaran
"eh... iya yah eeeuung delisa belum sadarkan diri juga yah?
" hem menurut dokter kemungkinan kepala delisa sedikit terbentur itu juga yang mungkin menyebabkan delisa belum juga sadarkan diri tapi sejauh ini kondisi nya baik baik saja kok , sini dulu kita obati luka luka kamu dan kamu punya hutang benyak penjelasan sama ayah hem"
setelah luka luka aden di obati mereka berjalan menuju ruangan delisa
cek lek
"assalamu'alaikum" ucap aden dan pak adi berbarengan
"waalaikum salam" Jawab mama sekar
__ADS_1
"astaghfirullah itu kamu kanapa muka mu bonyok begitu den" tanya mama sekar histeris
"ngk papa kok mah cuma sedikit insiden ajh kok "
mama sekar memincingkan mata nya mencari jawaban dari sang suami yang berada di belakang tubuh aden namun sang suami hanya mengedikkan bahu nya
"ya sudah sini duduk mama mau cari sarapan dulu kamu temenin delis dulu sebentar ya,! "
"yok mas temenin mama sarapan " anaknya pada sang suami
"aku cape bolak-balik terus dari tadi loh" ucap sang suami namun penolakan itu tak berarti ketika sang istri membolakan matanya kepada sang suami sudah seperti mau keluar itu mata dari sarang nyaman nya
pak adi pun tak berdaya ia mengikuti sang istri meski dengan langkah pelan
"kita tinggal dulu sebentar ya den " pamit mama sekar
aden pun hanya mengangguk kan kepalanya lalu berjalan menuju kursi di sebelah brangkar tempat delisa berbaring
ada rasa yang tak bisa tergambar di hati aden saat melihat delisa terbaring lemah tak berdaya ia seperti berjalan di atas serpihan kaca yang melukai hati nya sampai berdarah darah
tak bisa di pungkiri bahwa rasa itu masih lah sama meskipun kini sudah tidak utuh namun semua masih di tempat yang sama aden hanya memandang delisa ada hati yang hancur saat ia menatap delisa namun sekuat yang aden bisa ia menahan rasa perih itu perlahan ia mendekat kn diri tepat di telinga delisa aden berbisik
"bangun del, jangan tertidur terlalu lama ngk baik lho"
"kamu tau saat kou mungkin celaka aku merasakan sakit nya"
"tapi kamu harus tau saat aku melihat mu aku bagai meremas serpih an kaca sampai melukai ku"
"Hai mantan kamu harus baik baik saja aku disini buat jenguk kamu lho mantan, masa aku di anggurin bangun dong ngk baik membiarkan tamu lho"
aden terkekeh sendiri melihat delisa masih diam membisu tetap lelap dalam tidurnya
"Hai mantan jangan lemah dong kamu kan wonder women kamu sering bilang begitu sama aku dulu jadi kamu ngk boleh diem ajah kayak gini bangun"
"mantan bangun kamu belum liat aku bahagia lho"
seperti keajaiban kedatangan aden membawa aura Fositiv yang berefek baik pada delisa ia perlahan menggerakkan jari tangan nya ia mengerjap kan kedua mata nya
pertama yang ia tangkap dari penglihatan nya adalah sosok aden yang berada di sisiNya
"a.. den" panggil delisa lirih
"Hai" jawab aden tersenyum manis ke arah delisa
__ADS_1
sepersekian detik mereka hanya diam saling memandang dalam rasa masing masing yang entah lah