
seorang pria berjalan tergesa-gesa di bawah guyuran hujan ya siang ini kota yang padat dan ramai tengah di guyur hujan meski masih siang namun cuaca begitu gelap seakan semesta ikut bersedih akan kepedihan seseorang yang kini tengah terisak di bawah guyuran hujan
"cengeng" gumam sang pria ia tersenyum miris sekali nasib nya cinta bertepuk sebelah tangan di usir dari rumah sang istri ya begini lah hidup laki-laki susah tak di inginkan oleh sang istri sudah miskin, penganguran parasit menyusah kan "aaaaahh kata-kata itu kembali terngiang"
ia duduk di bangku halte bus pikiran nya melayang entah lah kenapa miskin begitu sangat sulit mendapatkan cinta apa harus menjadi kaya baru cinta itu ku dapat jika memang begitu baik lah akan ku cari kekayaan itu tapi jika sudah ku dapat apa aku akan mempunyai cinta sejati "aaaahhh rumit sekali cinta itu, andai saja ada yang mau berjuang tanpa merendahkan. mencintai tampa menyakiti sungguh indah hidup ini sesungguh nya aku hanya ingin keluarga kecil yang bahagia saling melengkapi melindungi dan menyempurnakan tampa tuntutan, dasar bodoh mana ada perempuan seperti itu zaman sekarang bohong sekaleeee"
bus berhenti di hadapan sang pria ia pun menaiki nya dengan satu tujuan
yah dia akan berdamai dengan hati nya meski pilu sakit tak berperi luka yang menganga ia harus tetap lanjutkan hidup ia akan berangkat menemui sang ibu di kampung halaman meski jauh tapi untuk saat ini ia hanya ingin tenang bertemu dan menangis di pangkuan sang ibu
"mas baju nya basah nanti sakit apa tidak sebaik nya ganti dulu bantu sakit perjalan kita jauh"tegur sang kernet bus
ia tersenyum tipis " ngk usah pak ngk papa lagian tempat berhentinya masih jauh masa aku
mau ganti di dalam bus"kekeh aden
"ya sudah duduk nanti kita berhenti dulu di mesjid sekalian pada istirahat sholat ashar ya"
aden mengangguk ia pun duduk di kursi yang masih kosong bus pun berjalan membelah hujan menuju tujuan
...----------------...
Aden menatap bangunan di hadapan nya rumah yang sederhana namun mampu membuat nya selalu rindu rumah yang penuh kenangan masa kecil yang amat sangat ia rindukan ia berjalan perlahan mengetuk pintu
tok tok tok
"assalamu'alaikum bu ambu ini aden bu "
"waalaikum salam "suara teriakan melengkin terdengar menyahut dari dalam rumah kemudian berlari ter gopoh-gopoh
cek lek
" akaaaaannnnnggg, bu ada akang pulang bu"teriak mesi sang adik semata wayangnya yah aden dia punya adik perempuan bernama mesi
"masuk kang kenapa pulng ngk ngabarin sih kang?
" ambu ada? "ia mengabaikan pertnyaan sang adik lalu masuk bersama sang adik
" ada baru tidur kayaknya tadi ambu sedikit pusing tapi kayaknya bangun deh denger suara mesi yang cempreng gara-gara kaget akang pulang"ucap mesi mengaruk tengkuknya yang tak gatal
"kenapa harus teriak - teriak atuh de pan kasian ambu"
__ADS_1
"pan kaget akang "
"apa sih kok ribut-ribut..ampun gusti den kaseepp eleuuh ujang uih kadieu cep" teriak wanita sepuh dengan logat Sunda khas nya sambil merentangkan tangan
Grep
"ambu.... huhuhuh bu ambu huhuhuh" aden terisak dalm pelukan ibunya
"yeee malah mewek dateng-dateng gaje " ucap sang adik
ambu langsung mendelik menatap sang anak bungsu yang ceplas ceplos ambu menggeleng kan kepala lalu memberi isyarat untuk pergi sang ank pun mengerti lalu pergi meninggalkan mereka
ambu mengusap kepala sang anak penuh kasih ia tak berniat bertanya biarlah sang anak menangis menumpakan segala sakit yang sedang di rasakan tangis yang begitu menyayat kalbu sang ibu membuat nya ikut menangis meski belum tau apa masalah yang sedang du hadapi sang anak
"menangis lah " ucap sang ibu lembut
...----------------...
"kang... " panggil mesi
"hem"
"akang kenapa pulang pulang lansung nangis semalem? terus kenapa pulang nya sendirian ngk sama teh delis?
"kalo kakang mu belum siap cerita jangan di paksa to de.. " sahut sang ibu menghampiri ke dua anak nya sambil membawa nasi goreng lalu meletakan nya di hadapan ke dua anak nya
"tapi.. mau nanti atau sekarang semua sama saja bu aku harus cerita kuat ngk kuat aku harus hadapi kan bu"
"cerita nya nanti ajh ya sekarang kita sarapan dulu ngk baik bicara di depan makanan pan"
mereka pun sarapan dengan tenang
...----------------...
"aku cerai sama delisa bu " ucap aden pelanggan ragu ia mengatakan nya namun semua harus tahu kenyataan bahwa saat ini semua sudah tak lagi sama
"astaghfirullah, kenapa kok bisa? "
"kami udah ngk sejalan menuju ridho nya Alloh bu, sudah takdir suratan aden kali bu"
ambu menarik nafas berat
__ADS_1
"aden belum bisa jadi apa yang di inginkan sama delis bu aden kan pengangguran, miskin kasta kita berbeda bu"
"bukan nya usaha kamu udah mulai maju den? jangan bilang kalo delis ngak tahu soal usaha kamu? telisik ambu
" akang gimna sih kenapa ngk bilng ajh kalo akang punya usaha meskipun masih belum sebesar punya orang tapikan tetap menghasilkan kang"
"jangan bilang kalo kamu ngk pernah ngasih uang sama delisa den? timpal ambu
" aden pernah kasih ATM buat delisa tapi delisa malah marah katanya ATM itu takut dapet uang hsil nyuri bu, aden ngk pernah minta ATM itu kembali kok bu aden juga rutin ngirim tiap bulan ke ATM itu bu tapi emang delisa ngk pernah anggep aku bu, pernah juga aden kasih uang kes malah delisa tambah marah takut itu beneran hasil nyuri terus aden harus gimana aden dah ngak sanggup bu mungkin berpisah itulah jalan terbaik mungkin delis bukan jodoh aden bu "
"lagian akang bukan nya jujur kalo punya usah onlen sih " gerutu mesi
ambu mendelik ke arah sang ank bungsu tanda supaya berhenti berbicara
"akang kan pengen nguji dia dulu de"
"nguji nyampe dua taun kang keburu bosen orang"
"ya sudah kalo itu keputusan kamu den ibu dukung ajh apapun itu yang penting kamu jangan pernah dendam sama dia ya den kamu juga tetep salah kamu ngk jujur dari awal kalo kamu itu punya usaha "
"iya bu aden ngerti aden bakal selalu ingat pesan dan didikan ambu tapi aden mau merantau ya bu aden pengen nenangin hati bu hati aden dah terlanjur sakit aden butuh pemulihan pembaharuan penyucian"
"dih kaya hutan gundul ajh kang reboisasi " kekeh ng adik
"adek.... " tegur sang ibu
"akng emng gitu sedih ya guyon marah ya guyon ngk asik coba kayak cowok cool di novel novel itu lho kang bikin gereget"
ambu memijit pelipis nynya begitulah kao kedua anak nya berkumpul pasti saling sindir dan berdebat tapi ambu tau meraka saling menyayangi
"kapan berangkat den? "
"insya Alloh lusa bu doakan aden ya supaya bisa sembuh dari luka luka ini.. aden pengen pergi membawa luka mencari obat buat sembuh dan kembali dengan sejuta kebahagiaan bu"
ambu menggunakan pasrah
"pergilah doa ambu menyertai mu jaga diri baik baik jangan bandel ya"
"pasti ambu, peluk cinta aden bu"
merka pun berpelukan melepas rindu menyimpan kenangan yang entah kapan mereka di pertemukan kembali sampai sang anak siap untuk kembali
__ADS_1
"