
"cari orang yang aku kirim fotonya"suara delisa di sebrang telpon
" kemana bos? "
"mana aku tau kalo aku tau sudah ketemu dasar aneh" maki delisa
"apa kamu kehilangan dia? "
"jangan buat aku marah cari ya cari!!"
"hahahahh ok ok hemmm ku rasa ada aroma aroma yang berbeda dari mu bos? "
"jangan membuat ku kesal atau ku potong gajih mu selama tiga bulan mau? "
"jangan lah bos baik lah siap laksanakan, sesuai perintah "
"bagus aku harap kou bekerja cepat"
"dasar putri salju sedingin es kutub sekeras batu " maki sang asisten
"aku mendengar nya mikoooo"
tut
delisa mematikan ponselnya lalu memijat kening nya kepala teras berat
delisa adalah anak tunggal dari pengusaha kaya pemilik dari berbagai usaha di bidang tekstil ia terkenal arogan dan dingin meskipun ia perempuan ia adalah sosok yang mandiri ia juga sosok yang handal dalam pekerjaan nya ia juga terkenal sangat bengis dan angkuh meskipun begitu ia tetaplah anak yang manja
Tak tak tak suara hills beradu dengan lantai marmer memecah kesunyaian ia berniat menemuu sang ayah di ruang kantornya
cek lek
"assalamu'alaikum ayah"
"waalaikum salam " sahut sang ayah menatap sang anak
"kamu sudah sembuh kok kekantor"
"harus sembuh " delisa berjalan menuju sopa di samping meja kerja sang ayah
"papa dengar kamu kerumah ambu kemarin, apa sudah ketemu sama aden? "
__ADS_1
delisa menghela nafas berat lalu menggelengkan kepala nya
"aden udah pergi yah, delisa telat! "
"ngk ada kata terlambat kamu pasti bisa tapi untuk saat ini mungkin ini yang terbaik untuk kalian "
"delisa heran deh, pas delisa bilang aden gini gitu gini gitu kok ngak ada yang percaya ya sama omongan delisa sebenarnya yang anak kalian itu delis apa aden sih"
sang ayah terkekeh mendengar anak nya merajuk
"kami tau aden anak yang baik makanya kami emang ngk percaya dengan apa yng kamu tuduhkan pada nya, lagian kamu udah cinta ngapa masih ajah egois sih udah gini baru nanti kamu ter rindu rindu sama aden kan repot orang nya ngk ada hahahh" jawab sang ayah sembari menhampiri sang anak lalu ia merengkuh sang ank ke dalam pelukan nya
"maaf ayah ngk pernah cerita tentang kenapa kami begitu menyayangi aden tapi suatu saat ayah akan cerita biar kamu makin ter sayang sayang sama si aden"
delisa hanya menunduk ia berusaha menahan air mata nya supaya tidak keluar namun sekuat apapun ia berusaha ia hanyalah seorang wanita yang rapuh ia telat menyadari kehadiran aden di hidup nya ahhh andai waktu bisa ku putar pasti akan ku cari tahu dulu bagaimana aden bisa berakhir bersama wanita itu delisa melepaskan pelukan sang ayah dengan kasar
"ayah.... kenapa aku bisa jadi bodoh begini "
sang ayah hanya memincingkan matanya
"bodoh... kenapa aku tidak mencari tahu dari wanita kemaren , mungkin ada informasi, bodoh juga aku kenapa tidak menyelidiki wanita itu sebenarnya mau nya apa juga kenapa dia bisa berakhir dengan aden di... " delisa menepuk kepala nya sendiri
"tapi bagaimana kalo dia memang beneran selingkuh aku tidak akan sanggup menerima kenyataan itu aaaahhh.... bantu aku berpikir ayaaaahh" jerit delisa prustasi
"seyakin itu ayah? "
"aiissss sudah lah kamu pulang lah tenang kan pikiran mu berubah lah jangan nangis terus berusaha memantaskan diri mu belajar lah dari kesalahan nak perbaiki diri mu bukan kah kamu sudah mencintai aden kou tau aden pribadi seperti apa jadi kou pun harus bisa berubah nak, jangan pikirkan yang lain dulu biarkan semua mengalir menuju takdirnya"
"ayaaahhh"
"cari tahu kebenarannya nya nak cari tahu dan buktikan karna kita tak tau siapa musuh kita yang sebenarnya nya "
"pulang dan istirahat! " jika sudah begitu maka tak ada penolakan delisa pergi dari ruang sang ayah dengan langkah gontai
"disini tak ada solusi kemana aku mencari teman untuk mencari aden "
"ah kenapa tak meminta saran dari aryo ya emmm sepertinya aku akan menemui nya " delisa melihat jam di tangan nya menunjukkan jam istirahat ia berniat menuju kantor sang sahabat berharap ada sedikit pencerahan
sampai di kantor aryo delisa menghampiri resepsionis menanyakan sang sahabat
"mbk pak aryo nya ada"
__ADS_1
"ada mbk kebetulan tak aryo lagi istirahat di ruang nya, "
"ok makasih ya" delisa pun pergi dari hadapan resepsionis itu menuju ruangan aryo
cek lek
"assalamu'alaikum, gangu kah yo? "
"waalaikum salam, delis ngk kok ngk nganggu sama sekali aku baru istirahat , kok tumben kesini ? " jawab aryo beranjak dari kursinya menuju sopa mengajak delis untuk duduk santai disana
"aku boleh minta bantuan kamu yo? " sahut delisa to the poin
"bentuan apa kalo aku bisa pasti aku bantu del kamu kan sahabat aku"
"bantu cari aden, dia ngk ada di rumah ambu aku ngk tau dia di mana aku pengen minta maaf"
tanpa sepengetahuan delisa aryo mengepalkan tangan nya kuat hingga buku tangan nya memutih
"bisa kan yo ? aku ingin memperbaiki semua nya dengan aden "
aryo sekuat tenaga menahan emosi nya
"yo... "
"aryo kamu denger aku ngk sih?
" ah iya maaf tadi aku melamun, gimana-gimana? "
"aiiisss sudah lah ngk ada yang bisa ngasih aku solusi emang nya berati aku harus nyari aden sendiri kalo gini " gerutu delisa beranjak dari tempat duduk nya
"del jangan gitu del aku cuma ngk abis pikir ajah sama kamu ngapain kamu mau nyari aden yang jelas jelas dia salah udah selingkuh di belakang kamu"
delisa memincingkan matanya
"kamu tau? "
"ya tau kan aku sahabat kamu! "
"aku belum ngasih tau kamu loh "selidik delisa merasa curiga
" emmm "aryo mengaruk tengkuknya yang tak gatal " akuu... "belum sempat aryo menjawab delisa sudah beranjak pergi meninggalkan aryo
__ADS_1
" arrrggghhh sial umpat aryo"
sedangkan delisa pergi dengan sejuta tanya di benak nya