Mengejar Cinta Sang Mentari

Mengejar Cinta Sang Mentari
Mempercepat Pernikahan


__ADS_3

Darto Pov


"Kamu gak papa yang?" Tanyaku pada Tari. Dia hanya menggeleng saat mendengar pertanyaanku. Melihat itu, aku bisa bernafas lega.


Gila!


Kenapa bisa bertemu dengan Santi sih. Ku kira Tari akan marah besar padaku, namun nyatanya dia malah bisa mempermalukan Santi seperti itu. Memang, Tari termasuk wanita yang cerdas dan juga bijak.


Untung saja saat kejadian tadi Adam tak ada disini. Kalau anak itu ada disini, entahlah bagaimana nasibnya nanti. Sepeninggal Santi, beberapa pengunjung yang tadi sempat mencemooh Tari langsung meminta maaf pada wanitaku itu. Aku juga tak lupa meminta maaf pada mereka jika karena kejadian tadi membuat tak nyaman.


Aku yakin, Santi tak akan menyerah begitu saja. Dia pasti mempunyai seribu satu cara agar hubunganku dengan Tari kandas. Pernah berumah tangga dengannya, membuatku hafal bagaimana sikap dan tabiat Santi.


Jika sudah begini, aku menjadi merasa tak nyaman. Takut-takut kejadian yang lebih parah dari ini akan memperburuk hubunganku dengan Tari.


"Dek, lebih baik pernikahan kita di percepat saja," ucapku setelah keadaan kembali normal.


"Hah? Dipercepat? Jangan ngaco deh Mas," jawab Tari.


"Mas serius sayang. Lebih baik pernikahan kita dipercepat. Agar hal-hal yang tak diinginkan tidak terjadi," ujarku lagi.


"Tapi Mas? Aku gak papa loh nikah kita gak di percepat juga. Kan siapa tau Mas berubah fikiran. Misal mau balik lagi sama mantan gitu," jawab Tari sambil mengaduk minumannya.


Ya tuhan..


Ku kira dia benar tidak apa-apa dan tak akan marah. Nyatanya Tari malah marah padaku. Padahal bukan mau ku seperti ini. Ah sial, gara-gara Santi ini.


"Kamu marah yang?" tanyaku lagi. Dan lagi-lagi Tari hanya menggeleng. Namun dari raut wajahnya aku tau dia sedang marah padaku. Melihat itu, jiwa jahilku meronta-ronta. Lebih baik aku kerjai saja Tari sekalian.


"Bener nih? Atau kamu cemburu?" tanyaku lagi sambil menatap Tari.


"Nggak. Ngapain juga cemburu. Aku sih biasa aja tuh, " jawabnya dengan sedikit cemberut.


"Yakin nih?"


"Yakinlah, kalau kamu mau balikan lagi sama dia juga gak papa. Sana kejar, kan katanya dia, kamu itu Cinta mati sama dia," ujar Tari dengan nada menahan kesal. Ingin rasanya tertawa melihat Tari merajuk seperti itu. Namun harus ku tahan dulu. Aku senang jika dia bersikap seperti itu. Itu artinya dia mencintaiku.


"Ya udah. Mas kejar Santi dulu ya. Nanti Mas ajak dia jalan-jalan sekalian. Terus belanjain dia. Terus..."


"Awwww" ucapan ku terhenti akibat cubitan maut pada tanganku oleh Tari. Sumpah, rasanya sakit sekali. Kalian bayangkan saja di cubit kecil dengan durasi lumayan lama.


"Sakit yang," ujarku sambil mengelus bekas cubitan Tari. "Galak banget sih kamu," ujarku lagi.


"Habis kamu itu nyebelin Mas. Malah ngomong kek gitu. Aku gak suka ya," ucap Tari.


"Ya lagian kamu yang nyuruh kan Yang. Kenapa malah jadi nyalahin Mas sih,"

__ADS_1


"Kamu itu gak peka banget jadi cowok Mas. Tau ah, kamu nyebelin," rajuk Tari lagi. Aku hanya bisa terkikik geli melihat tingkah Tari.


"Ya maaf, maaf. Mas salah,"


"Emang Mas salah!"


"Iyaaaa, Mas memang salah. Lagian kenapa gak jujur aja sih kalau sayang itu cemburu sama Mas,"


"Ya Mas mikir aja. Aku gak cemburu gimana liat tadi kamu dipeluk kek gitu sama itu si ulat bulu. Kamu kira aku gak punya hati apa hah?" ucap Tari. Dapat ku lihat air mata kini lolos dari matanya. Ya Allah, apa aku telah menyakitinya.


"Hei, kenapa nangis? Sudah jangan nangis, malu di lihat orang. Maafin Mas ya, Mas gak maksud buat nyakitin kamu sayang," ucapku sambil menyeka air mata Tari.


"Maaf Mas. Jika aku terlalu cemburu padamu. Aku hanya takut, luka masa laluku akan kembali lagi. Aku takut di khianati kedua kalinya," ucap Tari lirih.


Ya aku tau, seberapa besar luka yang ia alami. Aku mengerti pasti tak akan mudah melupakan sakit itu. Aku pun sama seperti Tari. Pernah mengalami yang namanya pengkhianatan. Tapi disini Tari adalah seorang perempuan, sudah pasti ia akan lebih lama sembuh dari rasa sakitnya.


"Maafin Mas ya Sayang. Mas janji, Mas akan Setia sama kamu. Maka dari itu, Mas ingin pernikahan kita di percepat saja. Agar menghindari masalah yang tak di inginkan. Lagian, bukankah niat baik itu harus disegerakan?" ujarku.


"Baiklah Mas, jika itu mau mu. Bicarakan lagi saja dengan keluargaku dan keluargamu. Kita tak bisa mengambil langkah sepihak tanpa melibatkan keluarga kita,"


"Siap tuan Putri. Akhir pekan ini Mas akan datang lagi bersama Papa ke rumah mu,"


Tari pun hanya mengangguk setuju. Alhamdulillah, satu masalah teratasi. Aku hanya berharap tak akan ada lagi masalah yang mendera pada hubunganku dengan Tari.


"Mama, Ayah," teriak Adam sambil berlari ke arah kami.


"Iya, tadi Mama nangis loh. Soalnya tadi ada yang nakal sama Mama," jawabku. Sedangkan Tari yang mendengar jawabanku memberikan tatapan mengerikan padaku.


"Mama jangan nangis lagi ya. Kalau Adam nanti sudah besar, Adam bakalan jagain Mama dari orang yang nakal sama Mama," ujar Adam polos.


Hatiku terenyuh mendengar penuturan anak kecil itu, sebegitu sayangnya ia terhadap Tari. Aku tau, pasti Adam tak akan membuat Tari terluka. Di besarkan seorang diri oleh sang Mama, pastinya Adam tak akan siapa pun menyakiti Ibunya kelak saat ia dewasa.


"Pinter, Adam kalau sudah besar harus bisa jagain Mama ya nak. Jadilah anak yang shaleh. Buat Ayah dan Mama bangga padamu ya nak," ucapku sambil membelai rambut Adam.


"Baik Ayah," jawab Adam sambil tersenyum.


🍀🍀🍀


Sesuai janjiku, akhir pekan ini aku datang bersama Papa dan juga Alya. Mereka begitu antusias sekali saat aku mengutarakan keinginanku. Menurut Papa memang lebih baik acara pernikahanku dengan Tari diadakan secepatnya. Papa malah ingin kami menikah minggu depan.


Aku sih mau-mau saja. Tapi bagaimana pun aku harus berunding dulu dengan Tari dan keluarganya. Dan aku harap Tari juga setuju dengan itu.


"Assalamualaikum," ucap kami setelah sampai di rumah Tari.


"Waalaikumsalam," ucap Ayah Tari. "Ayo masuk, masuk" ucap Ayah lagi.

__ADS_1


"Gimana kabarnya besan?" tanya Ayah pada Papa.


"Alhamdulillah saya sehat San. Hanya ya seperti ini, belum bisa jalan saja," jawab Ayah.


"Insha Allah besan pasti sembuh, asal rajin terapi lagi,"


"Amin amin. Terima kasih besan. Pasti saya akan rajin terapi lagi. Saya juga sudah pengen sembuh lagi, apalagi sebentar lagi bakalan ada cucu yang pasti nanti minta main bola," ujar Papa. Ayah hanya tersenyum mendengar itu. Alhamdulillah, memang semenjak aku berniat menikah lagi dan mengenalkan Tari pada Papa, semangat Papa untuk bisa kembali berjalan besar lagi, apalagi saat aku menceritakan tentang Adam. Nampak binar kebahagiaan di wajah Papa.


"Kakek, Eyang," Adam berteriak sambil berlari ke arah kami.


"Cucu Eyang, sini sayang," ucap Papa sambil merentangkan tangannya. Adam yang mengerti segera memeluk Papa ku dengan erat.


"Eyang aja nih yang di peluk? Ateu cantik nan imut ini gak dipeluk juga gitu?" ujar Alya. Ya ampun, percaya diri sekali anak ini. Rasanya ingin aku timpuk.


Mendengar itu, Adam langsung melepas pelukan papa dan beralih memeluk Alya. Tanpa di komando Alya malah menghujani Adam dengan ciuman di pipinya. Mendapatkan perlakuan seperti itu, Adam malah tertawa.


Tak berselang lama Tari datang bersama Bik Ijah dengan membawa beberapa cemilan dan juga minuman.


Setelah basa basi sebentar, akhirnya ku utarakan niat ku kepada Ayah dan juga Tari tentang mempercepat acara pernikahan.


"Ayah setuju saja. Lagian benar apa kata kamu To. Niat baik memang harus di segerakan. Tapi semua keputusan tetap Ayah serahkan sama Tari," ujar Ayah setelah mendengar penjelasan ku.


"Tapi, apa tak terlalu cepat Mas jika Minggu depan?" Tari bertanya padaku. Dapat ku lihat wajahnya sedikit ragu.


"Yakinlah Dek. Lebih cepat lebih baik," jawabku.


"Tapi persiapannya mendadak loh Mas. Gimana kita mau mempersiapkan jika waktunya mepet gini," ucap Tari lagi. "Belum lagi pihak WO. Apa mereka bisa mempersiapkan dalam waktu singkat?" Ucapnya lagi.


"Coba Mas tanya dulu sama mereka ya Dek,"


Setelah itu aku segera menghubungi pihak jasa WO. Namun kami harus kecewa karena mereka tidak bisa. Satu Minggu lagi jadwal mereka sudah full. Untung saja kami belum terikat kontrak apa pun jadi aku bisa mencari WO lain. Dan syukurnya mereka menerima dengan lapang dada.


"Nah kan gak bisa Mas," ucap Tari. Dapat ku lihat raut kekecewaan di wajahnya.


"Mas, Mbak. Maaf jika aku menyela. Jika kalian berkenan, kalian bisa menyewa jasa WO temanku. Mas ingat tidak Rico? Teman SMA ku? Dia kan punya usaha WO sejak SMA dulu. Dan Mas sudah tau sendiri kan hasilnya seperti apa," Alya berujar.


"Ya, Mas tau. Rico, anak yang pandai usaha. Di usia muda dia sudah memiliki usaha WO sendiri. Dan ya, di teman kalian Rico sudah cukup terkenal. Mas sering liat testimoni dari para pelanggannya. Tapi apa bisa dia ke Jakarta?"


"Insha Allah bisa Mas. Setahuku dia juga sekarang tinggal disini. Karena dia juga akan mengembangkan usahanya di Jakarta. Sebentar deh aku hubungi dia dulu ya," ujar Alya lagi. Kemudian dia menghubungi Rico.


Setelah aku mejelaskan pada Rico, Alhamdulillah dia bersedia dan siap membantu acara pernikahanku dengan Tari. Ku jelaskan dulu secara garis besarnya. Baru besok aku dan Tari akan langsung bertemu dengan Rico.


Usai berdiskusi, akhirnya pernikahanku dengan Tari sepakat akan dilaksanakan Minggu depan. Alya tentu saja akan membantu mempersiapkan. Dan mungkin nanti juga aku akan meminta bantuan pada beberapa mantan anak buahku juga untuk membantuku.


Aku bernafas lega, Alhamdulillah satu langkah lagi aku dan Tari akan menjadi suami istri. Aku berharap semoga pernikahanku kali ini adalah pernikahan yang terakhir. Semoga Allah selalu ridhoi niat baikku dan juga Tari.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2