
Satu bulan kemudian...
Darto POV
Satu bulan sudah usia pernikahan ku dengan Tari. Alhamdulillah, pernikahan ku kali ini penuh dengan keberkahan dan kebahagiaan. Tari memperlakukan ku begitu baik. Di sungguh istri sempurna untukku.
Meskipun ia sibuk di kantor, tapi ia tak pernah melalaikan kewajibannya sebagai istri dan juga Ibu. Sebenarnya aku sudah meminta Tari untuk berhenti bekerja saja. Dan memantau perusahaan lewat rumah lagi. Namun, Tari belum bisa melepas perusahaan karena belum mendapata orang yang bisa di percaya dan juga bisa menerima tanggung jawab sebesar itu.
Dulu masih ada Radit. Tapi kini, Radit pun sudah memiliki perusahaan dari orang tuanya. Jadi, mau tak mau Tari lah yang harus mengurus perusahaan sekarang.
Hueek
Hueek
Terdengar Tari muntah dari arah kamar mandi. Memang, sudah beberapa hari ini Tari selalu muntah. Apalagi jika di pagi hari.
"Yang, kamu mual lagi?" ucapku sambil menghampiri Tari di kamar mandi.
"Iya Mas. Kepala aku juga sakit banget ini," jawab Tari. Ku lihat wajah Tari begitu pucat pasi. Tapi saat aku memegang keningnya tak demam sama sekali.
"Ya sudah, Mas bantu kamu ke tempat tidur. Hari ini gak usah ngantor dulu. Nanti Mas bilang sama Naya," ujarku sambil menuntun Tari menuju tempat tidur.
Ku selimuti tubuhnya. Setelah itu aku pamit sebentar untuk membawakannya sarapan. Ku minta Tari untuk istirahat saja.
🍀🍀🍀
"Ayah, Mama mana?" tanya Adam padaku.
"Mama ada di kamar nak. Mama lagi kurang enak badan," jawabku.
"Mama sakit?"
"Emmm, iya Dam," jawabku. "Bik, minta tolong siapin makan buat Tari ya. Nanti biar saya aja yang bawa ke kamar," pintaku pada Bi Ijah.
"Tari kenapa To?" kini ayah bertanya padaku.
__ADS_1
"Gak tau Yah, beberapa hari ini Tari selalu muntah-muntah. Sekarang katanya ditambah kepala pusing. Udah Darto ajakin ke dokter kemarin juga, tapi Tari gak mau," jawabku sambil mengoles roti dengan selai.
"Jangan-jangan, Tari hamil To,"
Uhuk
Uhuk
Aku tersedak ketika mendengar ucapan Ayah. Apa mungkin Tari hamil? Memang aku tak terlalu tau bagaimana ciri-ciri orang hamil. Apa sebaiknya aku datangkan saja dokter kesini tanpa sepengetahuan Tari, agar tau Tari sakit apa.
"Panggil saja dokter ke rumah To. Biar nanti dokter yang periksa. Siapa tau tebakan Ayah benar kan," ucap Ayah lagi.
"Baiklah Yah. Sekarang Darto hubungi dulu dokter keluarga Darto," ucapku. "Adam tak apa kan kalau hari ini dianter sama abah Ujang dulu ke sekolahnya? Insha Allah, nanti pulang ayah yang jemput ya sayang," paparku pada Adam.
Adam pun mengangguk. Setelah itu Adam pamit padaku dan juga Ayah. Untung saja, Adam termasuk anak yang tidak pernah banyak menuntut dan juga rewel.
🍀🍀🍀
Dokter keluarga yang ku panggil akhirnya datang juga. Sarapan yang ku ambilkan hanya di makan sedikit saja oleh Tari. Katanya mual jika perutnya di isi makanan. Prediksi ku, mungkin penyakit maag Tari sedang kambuh.
"Emm, sepertinya belum dok. Memang dari semenjak setelah menikah, saya belum menstruasi sama sekali," jawab Tari lirih.
"Apa saat menikah Ibu Tari baru saja selesai datang bulan?" kembali dokter melontarkan pertanyaan. Tari pun mengangguk.
"Sepertinya Ibu tengah mengandung. Tapi untuk lebih memastikan lagi. Boleh di cek ya Bu. Ini alat tes kehamilannya," ujar dokter sambil memberikan alat yang seperti termometer menurutku.
Dengan bingung, Tari pun menerima alat tersebut. Ku bantu Tari untuk ke kamar mandi. Setelah itu membiarkan Tari masuk ke dalam. Menunggu beberapa saat, akhirnya Tari kembali. Ku papah ia dengan perlahan, karena wajah Tari masih terlihat pucat.
"Nah, benar dugaan saya kan. Selamat ya Bapak, Ibu. Ternyata sakitnya Bu Tari kali ini adalah dari kehamilan. Memang, trimester awal Ibu hamil akan mengalami kondisi seperti ini," papar sang dokter.
Mendengar itu, aku tentu saja terkejut. Tak menyangka, jika ternyata sekarang Tari tengah mengandung buah hati dari diriku. Dengan refleks, ku peluk tubuh Tari. Menciumi pipi dan keningnya. Sampai lupa, jika di kamar masih ada dokter disini.
"Selamat ya Pak. Jika ingin lebih tau usia kandungan dan untuk lebih memastikan. Silahkan Bapak dan Ibu bisa langsung memeriksakan ke dokter kandungan,"
Aku pun mengangguk. Setelah dirasa pemeriksaan selesai. Dokter pamit undur diri. Aku pun mengantarkannya sampai ke depan rumah dan tak lupa mengucapkan banyak terima kasih.
__ADS_1
🍀🍀🍀
"Alhamdulillah, terima kasih ya sayang. Kamu sudah mengandung buah hati dari Mas," ucapku sambil mencium kening Tari.
"Sama-sama Mas," jawab Tari.
"Gimana kalau nanti sekalian jemput Adam, kita ke rumah sakit ya sayang. Untuk memastikan semuanya,"
"Tapi kan, kamu harus ke resto Mas,"
"Resto biar di handle dulu sama asistenku. Yang terpenting sekarang, kamu dan calon anak kita dulu,"
🍀🍀🍀
Pukul 11 siang, setelah menjemput Adam dari sekolahnya. Kami memutuskan untuk datang ke rumah sakit terdekat. Awalnya Adam bingung kenapa kami mengajaknya ke rumah sakit.
Setelah menunggu selama kurang lebih 30 menit, akhirnya nama Tari di panggil. Kami bertiga masuk ke dalam ruang dokter. Disana, kembali Tari diberikan pertanyaan yang hampir sama dengan dokter yang datang ke rumah tadi.
"Ya sudah, kita lakukan USG ya. Agar lebih yakin dan juga jelas," ucap Dokter.
Tari dibantu oleh seorang perawat di minta untuk berbaring di atas tempat tidur. Dokter kemudian mulai mengolesi gel di atas perut Tari. Kemudian menempelkan sebuah alat yang terhubung dengan monitor.
"Nah benar. Bu Tari sedang hamil. Nah ini, sudah terlihat kantung janinnya. Kira-kira usia kandungan Bu Tari sudang masuk 3 minggu ini," dokter menjelaskan sambil terus menggerakan alat tersebut.
Mendengar penjelasan dokter, tak terasa air mataku menetes. Bahagia sekali rasanya. Terima kasih ya Allah, kau telah menitipkan anugerah terindah di rahim istriku.
Setelah pemeriksaan USG selesai, kami pun di minta duduk kembali. Karena dokter masih harus menjelaskan beberapa hal.
Setelah selesai. Kami pun pamit pada dokter. Aku meminta Tari dan Adam untuk menunggu sebentar karena harus menebus vitamin dan obat untuk Tari terlebih dahulu.
🍀🍀🍀
Sepanjang perjalanan tak hentinya aku mengecup tangan Tari. Berkali mengucapkan terima kasih padanya. Begitu pun dengan Adam, ia terlihat sangat antusias setelah mendengar jika ia akan segera memiliki seorang adik.
Lengkap sudah kebahagiaan ku. Di beri Istri shalihah, anak yang pintar, dan kini, aku akan menjadi seorang ayah.
__ADS_1
Bersambung...