Mengejar Cinta Sang Mentari

Mengejar Cinta Sang Mentari
Malam Syahdu


__ADS_3

Mohon maaf bila di bab ini ada adegan dewasanya. Tapi masih batas normal kok. Gak vulgar karena author harus tetap mematuhi syarat yang ada yaaa.


Happy reading everyone 💕


Darto Pov


Acara pernikahan ku dengan Tari berlangsung meriah. Tak menyangka jika tamu yang datang ternyata banyak juga. Sampai karyawan restoranku beberapa kali kewalahan karena saking banyaknya tamu yang datang. Tapi syukurnya mereka bisa menghandle semua dan bisa menyajikan makanan terbaik. Sehingga tak sedikit yang memuji jamuan kami.


Acara selesai tepat pukul 4 sore. Setelah isya tadi, kami sengaja berkumpul di ruang keluarga. Melepas penat sekaligus berbincang ringan. Papa, Bulek dan Alya sengaja menginap di rumah Tari karena besok rencanya kami akan pergi berziarah ke makam Mama dan juga Bunda. Sedangkan Paklek harus kembali pulang karena pekerjaan yang tidak bisa di tinggal.


"Mbak, Mas selamat ya. Semoga pernikahan kalian sakinah mawaddah warahmah," ucap Alya.


"Amin amin, makasih ya Al," jawab Tari sambil memeluk Alya. Alhamdulillah, pernikahan ku kali ini, Alya bisa menerimanya dengan senang hati. Tak seperti dulu, saat aku menikah dengan Santi.


"Besok, kita berangkat pagi-pagi agar jalanan tak terlalu macet dan juga panas," ujar Ayah. Kami pun hanya mengangguk tanda setuju.


🍀🍀🍀


Waktu menunjukkan pukul 10 malam, Ayah dan Papa pamit untuk beristirahat karena lelah. Untung saja di rumah Tari terdapat 3 kamar tamu. Sehingga Papa, Bulek dan Alya mendapatkan kamar masing-masing.


"Ma, Adam mau tidur sama Mama dan juga Ayah," ujar Adam sambil memeluk diriku. Semua orang yang berada disana malah melirik ke arah ku dan juga Tari. Aku tau ada yang ada di fikiran mereka, pasti mereka takut jika Adam tidur bersama kami.


"Emm, a-anu i-itu," jawab Tari terbata. Mungkin Tari tak enak padaku. Padahal aku tidak apa-apa jika Adam ingin tidur bersama kami.


"Adam tidur sama Kakek saja ya," ucap Ayah pada Adam. Namun Adam menggeleng.


"Sama Eyang aja ya. Mau?" kini giliran Papa yang membujuk Adam. Tapi lagi-lagi Adam menggeleng.


"Adam, Adam tau tidak ada film kartun seru loh. Ateu yakin deh Adam belum pernah nonton. Adam mau gak nonton sama ateu?" giliran Alya yang mencoba membujuk Adam.

__ADS_1


"Film apa te?" tanya Adam antusias.


"Film tentang super hero. Ateu yakin deh Adam pasti suka sama filmnya. Jadi, mendingan Adam sekarang tidurnya sama Ateu aja ya. Nanti besok kalau Adam suka sama filmnya, ateu beliin action figurnya deh," lagi, Alya membujuk Adam.


"Horeeee, janji ya te?" ujar Adam sambil memberikan kelingkingnya kepada Alya. Alya pun menautkan kelingkingnya pertanda ia janji pada Adam.


Setelah Adam mau tidur bersama Alya, dapat terlihat wajah kelegaan dari semuanya termasuk Tari. Setelah itu kami pun masuk ke dalam kamar masing-masing. Kecuali Alya dan juga aku.


"Tuh Mas, demi malam pertama kamu, aku rela keliarin duit loh," rajuk Alya padaku. Lah bocah, dia sendiri yang menawarkan, dia sendiri yang merajuk.


"Tenang, nanti Mas ganti sepuluh kali lipat," jawabku jumawa.


"Nah, gitu kam enak. Tenang aja, besok aku minta Adam beli yang mahal sekalian. Biar nanti digantiin sama Mas nya juga gede. Kan lumayan buat jajan cilok,"


"Eh somplak. Kamu itu Al, mencari kesempatan dalam kesempitan ya," ujarku sambil menoyor kepalanya.


Sebelum aku membalas ucapannya, Alya sudah berlari meninggalkan ku sendirian. Dasar bocah edyan!


🍀🍀🍀


Ku buka pintu kamar Tari perlahan. Melihat aku datang, Tari pun kemudian menoleh ke arahku. Entahlah suasananya kenapa menjadi canggung begini.


Tari yang duduk di tepi ranjang pun malah diam tak bersuara. Semakin membuat keadaan tak enak saja. Aku pun, yang biasanya banyak bicara, entah kenapa sekarang lidahku seakan kelu untuk berkata.


Akhirnya ku putuskan untuk melangkah mendekati Tari. Mengelus kepalanya lembut dan duduk di sampingnya. Tapi belum ada kata yang keluar dari mulut kami berdua.


"Emm, Mas. Aku izin ke toilet sebentar ya," akhirnya Tari bersuara. Aku pun mengangguk.


Mencoba menetralisir dada yang bergemuruh. Aku berusaha serelaks mungkin. Jangan sampai malam pertamaku dengan Tari tak memberikan kesan apa-apa. Memang, aku dan Tari bukanlah gadis dan perjaka. Namun tetap saja, malam pertama membuat kami canggung tak karuan.

__ADS_1


Klek


Pintu kamar mandi terbuka. Terlihat Tari keluar dari sana. Namun belum melangkah. Akhirnya, setelah gemuruh di dada bisa terkontrol, aku pun memberanikan diri untuk bersuara.


"Sini Yang, kenapa diam saja disitu? Kamu gak pegel apa?" ujarku pada Tari. Tanpa bersuara, Tari pun melangkah mendekatiku.


"Duduk sini Yang, dekat Mas," ucapku lagi sambil menepuk ruang kosong di sebelahku. Tari pun mengiyakan. Kini, kami sama-sama duduk di atas tempat tidur dengan punggung menyandar pada dipan.


Entah keberanian dari mana, dengan refleks ku rengkuh tubuh Tari ke dalam pelukanku. Mencium ubun-ubun kepalanya lumayan lama. Ada yang bergejolak dibawah sana, namun aku belum berani meminta hak ku kepada Tari.


"Maaf, Mas gak sengaja," Ucapku lirih sambil melepas pelukan. Tapi, siapa sangka. Setelah aku melepas pelukan, Tari malah kembali memelukku dan menenggelamkan wajahnya ke dalam dadaku.


Sungguh itu semakin membuat hatiku tak karuan. Dada ini berdebar hebat. Sedangkan yang dibawah sana, sudah tak bisa ku jelaskan lagi. Seperti ada ribuan volt yang mengaliri tubuhku.


"Tak apa Mas. Sekarang aku adalah istrimu. Kau berhak atas semua yang ada padaku Mas," papar Tari sambil tersenyum padaku.


Seperti mendapat lampu hijau, tak menunggu lama aku mendaratkan bibirku ke bibir Tari. ******* pelan bibir ranum tersebut. Sesekali ku gigit pelan bibir bawah Tari sehingga Tari mengeluarkan des*h*n.


Selain itu, kusentuh area-area sensitif Tari dengan lembut. Jujur aku ingin melakukannya dengan penuh kelembutan. Sehingga Tari bisa merasakan semua sensasinya. Tak ingin membuat Tari sakit, setiap sentuhan ku lakukan dengan pelan.


Hingga kami berdua sudah berada di Puncak, segera ku tanggalkan pakaian Tari dan juga pakaian ku. Dengan membaca bismillah dan do'a sebelum melakukan hubungan suami istri. Akhirnya aku dan Tari mengarungi malam yang syahdu. Penuh dengan Cinta dan juga kasih sayang.


Kamar yang semula hening, kini berganti penuh dengan erangan kenikmatan dan des*h*n yang keluar dari mulutku dan juga Tari. Semoga, setelah ini, Allah segera titipkan amanah di rahim Tari.


"Aaaggghhh," lengguh aku dan Tari di saat kami sudah sama-sama mencapai Puncak.


Ku cium kening Tari dengan penuh Cinta. Mengusap sisa peluh yang keluar dari tubuh kami. Membiarkan Tari beristirahat dahulu. Karena setelah ini, sepertinya akan kembali terjadi pertempuran antara aku dan juga Tari. Jujur saja, kini Tari sudah menjadi candu untukku.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2