
Mentari POV
Alhamdulillah, aku bisa sedikit bernafas lega ketika semua urusan tentang pernikahan sudah dibicarakan dan ditemui kesepakatan.
Melihat senyum di wajah orang-orang yang aku sayangi membuat hatiku sangat bahagia. Ayah dan Papa yang kini sama-sama duduk di kursi roda begitu sangat akrab. Stroke yang di derita Ayah memang sudah berangsur membaik, sebenarnya Ayah sudah bisa menggerakkan kakinya untuk berjalan, namun beluk bisa lama dan masih membutuhkan bantuan kursi roda.
Sedangkan Papa, kini juga sudah mulai semangat lagi untuk terapi. Lumpuh yang di alami Papa bukanlah permanen. Sifatnya sementara, jika rajin terapi Papa pun akan berangsur bisa jalan kembali.
Hatiku bertambah bahagia ketika Papa bisa menerima Adam seperti cucunya sendiri. Darah dagingnya sendiri.
🍀🍀🍀
Hari ini aku akan bertemu dengan Rico, sahabat Alya untuk membahas tentang persiapan pernikahan. Mas Darto tidak bisa menemani karena ia akan pergi ke percetakan setelah itu menjemput keluarga Alya.
Untuk urusan kantor, kembali aku serahkan kepada sekretarisku. Lagian pekerjaan untuk sekarang tidak terlalu banyak. Jadi masih bisa di handle oleh sekretatisku.
Menempuh perjalanan hampir 30 menit, akhirnya aku sampai di cafe tempat janjian dengan Rico. Berbekal foto yanh diberikan Alya, dengan mudah aku bisa mengenali Rico.
"Maaf, menunggu lama ya?" tanyaku pada Rico. Ku hempaskan tubuh di kursi yang berada di depan Rico.
"Mbak Tari ya? Nggak papa Mbak santai aja. Lagian aku juga baru sampai," jawab Rico.
"Iya, saya Tari. Jadi bagaimana, kita langsung mulai saja?"
Rico pun mengangguk. Kemudian ia mulai menjelaskan apa-apa saja yang ada di usaha WO miliknya. Jujur, aku kagum pada dia. Di umurnya yang masih terbilang muda, dia sudah punya usaha sendiri dan juga sangat fasih dalam hal menjelaskan kepada clientnya.
Menderkan dengan seksama dan menyuarakan keinginanku, akhirnya pertemuan yang hampir memakan waktu sekitar 1,5 jam itu berakhir juga. Rico dan timnya akan mulai bekerja hari ini juga. Dan bisa dipastikan semuanya akan berjalan sesuai rencana.
🍀🍀🍀
Selesai bertemu dengan Rico, ku putuskan untuk mampir ke kantor sebentar. Siapa tau ada berkas yang harus aku tanda tangani.
Melajukan mobil dengan kecepatan sedang. Akhirnya aku sampai juga di halaman kantor. Ketika akan memasuki gedung kantor, salah satu security tergopoh menghampiriku.
"Bu, gawat Bu," ucap security sambil tergopoh menghampiriku.
__ADS_1
"Gawat kenapa Pak?" tanyaku dengan mimik wajah heran.
"A-anu Bu i-itu. Ada perempuan yang mengamuk di dalam. Dia mencari-cari Ibu," jawab security dengan nada terbata.
Tanpa menimpali omomgan security lagi, aku bergegas masuk ke dalam kantor. Dan benar saja, di depan meja resepsionis sudah berdiri seorang wanita dengan pakaian kurang bahan sedang memarahi sekretarisku Nara.
Tunggu, sepertinya aku mengenali wanita itu, ya ampun. Bukankah itu Santi? Untuk apa dia membuat keributan di kantorku? Dan untuk apa dia datang kesini. Benar-benar menjengkelkan.
Ku lihat tangan Santi sudah terangkat ke atas dan hendak menampar Nara. Dengan sigap aku langsung mencekal tangan Santi. Santi menoleh padaku ketika aku sudah berhasil mencekal tangannya.
"Ada apa ini? Kenapa kau membuat kegaduhan di kantorku?" tanyaku pada Santi. Ku berikan tatapan tajam padanya.
"Oh, rupanya datang juga kau pelakor. Baguslah, aku sudah menunggumu dari tadi," jawabnya dengan senyum mengejek.
Ku hempaskan tangannya dengan kasar. Mendapat perlakuan seperti itu, tubuh Santi hampir saja terhuyung. Dapat ku lihat wajahnya merah padam.
"Siapa yang kau sebut Pelakor? Apa kau tak memiliki kaca dirumah hem? Aku bukanlah pelakor. Jika aku pelakor, lalu sebutan apa yang pantas untukmu wanita yang menjajakan dirinya pada lelaki hidung belang? Perempuan murahan," jawabku penuh penekanan. Kini dada Santi terlihat naik turun. Sudah ku pastikan aku bisa memancing emosinya. Jika ia berani macam-macam padaku, tak segan aku akan melaporkannya pada polisi. Apalagi di kantorku banyak CCTV.
"Kurang ajar!" tangan Santi sudah terangkat ke udara lagi. Dapat ku baca pergerakannya. Dan ku ulangi lagi hal yang tadi pada Santi.
"Si*lan! Dengar ya pelakor. Aku pastikan kau tak akan bahagia bersama Mas Darto. Mas Darto itu Cinta mati padaku. Asal kau tau, Mas Darto itu hanya menjadikan mu pelarian saja. Lihat lah video ini jika kau tak percaya," ujar Santi sambil memperlihatkan sebuah video padaku.
Di video itu terlihat Mas Darto sedang mengungkapkan isi hatinya. Awalnya aku biasa saja, namun seketika hatiku tersayat pilu ketika Mas Darto mengatakan bahwa ia sangat mencintai dan menyayangi Santi. Santi adalah segalanya bagi dirinya, hidupnya akan hampa tanpa adanya Santi. Bahkan secara terang-terangan Mas Darto mengatakan jika ia tak bisa lepas dari Santi, meskipun nantinya akan ada wanita yang ia cintai, tapi Cinta itu tak akan besar seperti cintanya pada Santi. Dan mungkin santi lah perempuan satu-satunya yang akan terus bertakhta di hatinya.
Aku tidak tau kapan video itu direkam. Mungkin saja itu di rekam saat Mas Darto masih berstatus suami Santi. Namun tetap saja itu menyakitkan untukku. Kata-kata bahwa Santi adalah satu-satunya wanita yang bertakhta di hati Mas Darto, membuat luka di hati ini semakin menjadi.
"Bagaimana? Kau lihat sendiri kan pelakor? Bagaimana cintanya Mas Darto padaku. Kau itu hanya di jadikan selingan saja. Dapat ku pastikan pasti sebentar lagi Mas Darto akan kembali padaku, " ucapnya percaya diri.
Tidak, aku tidak boleh terlihat lemah dan kalah dihadapan Santi. Aku tau jika dia sedang memancing emosiku. Sebenarnya aku sudah ingin menangis. Namun kutahan. Aku tak boleh kalah dari wanita murahan ini.
"Aku bukan pelakor. Sekali lagi, ku tegaskan bahwa aku ini bukan pelakor! Aku dan Mas Darto menjalin hubungan ketika kami sama-sama tak memiliki pasangan. Bukankah kau yang meminta cerai dari Mas Darto? Tapi kenapa sekarang seolah-olah kau adalah korban dari sebuah pengkhianatan? Bukankah malah kau yang mengkhianati Mas Darto hem?" jawabku penuh penekanan disetiap katanya.
"Kau" terlihat Santi ingin kembali menyerangku. Namun sebelum itu terjadi aku segera memanggil bagian keamanan. Mereka langsung sigap memegangi tubuh Santi.
"Bawa perempuan ini keluar dari kantor saya. Pastikan hama seperti dia tidak kembali kesini," ucapku pada dua security yang memegangi tubuh Santi. Dan dengan sigap kedua security itu menyeret tubuh Santi keluar dari kantorku.
__ADS_1
Masih terdengar sumpah serapah dan caci maki dari mulut Santi. Namun tak ku perdulikan itu semuan. Menatap ke sekeliling, ternyata banyak karyawan yang menyaksikan hal ini.
"Kaliam bisa kembali bekerja. Saya minta maaf jika kejadian tadi menganggu kerja kalian," ucapku kepada semua yang berada disini.
"Kalian jangan dengarkan kata-kata perempuan tadi. Bu Tari bukanlah orang seperti itu. Saya sangat mengenali bos saya ini. Dan dipastikan calon suami Bu Tari juga bukan suami orang," kini, Nara ikut berbicara. Aku tau mungkin ia hanya ingin meluruskan saja kesalahpahaman ini.
Aku tau pasti para karyawanku ingin mengetahui kebenarannya. Untung saja Nara memang tau bagaimana hubunganku dengan Mas Darto, karena kepada dialah aku sering bercerita.
Mendengar penuturan Nara, para karyawan pun mengangguk tanda mengerti. Setelah itu mereka pun pamit kembali bekerja.
"Terima kasih Ra," ucapku pada Nara sepeninggal para karyawan.
"Sama-sama Bu. Saya tau Ibu orang baik, saya tidak Ridho jika orang sebaik Ibu diperlakukan seperti itu," jawab Nara. Aku pun hanya tersenyum mendengar jawabannya. Aku pun mengajak Nara kembali ke ruangan untuk membahas masalah pekerjaan.
🍀🍀🍀
Sampai di ruangan, Nara memberikan beberapa berkas yang harus aku tanda tangani. Namun bukan ku kaji malah aku melamun memikirkan kejadian barusan.
Rasanya sakit sekali mendengar penuturan Mas Darto. Meskipun rekaman itu mungkin diambil sudah lama, tetap saja kata-kata Mas Darto bagai belati yang menghujam hatiku.
Jika sudah seperti ini, rasanya aku ragu untuk melanjutkan pernikahanku dengan Mas Darto. Ujian ini tidak mungkin berhenti. Apalagi masih terikat dengan masa lalu. Aku juga memiliki masa lalu, namun dapat ku pastikan masa laluku tak akan pernah mengganggu karena keadaan Dimas yang sekarang. Sedangkan masa lalu Mas Darto? Lihatlah, ujian banyak datang dari masa lalunya.
Aku tidak yakin jika aku bisa mengahadapi ini terus menerus. Belum lagi rasa trauma dan luka dari masa lalu belum sembuh sepenuhnya.
Ddrrttt
Dddrrtt
Gawaiku bergetar.
Terpampang nama Mas Darto disana melakukan panggilan. Namun rasanya aku enggan untuk menjawab panggilan itu. Menatap nama yang terpampang dilayar malah membuat air mata yang tadi ku tahan akhirnya tumpah juga.
Video Mas Darto tadi, malah kini berkelebat di fikiranku. Mengingat kata-kata yang keluar dari mulutnya, bagaimana tatapannya saat mengeluarkan isi hatinya untuk Santi terus terngiang di ingatanku. Dan itu semakin membuat hatiku remuk redam. Tangis yang tadinya pelan malah kini menjadi keras. Sungguh, rasanya sakit sekali. Tak ku pedulikan jika Nara mendengar tangisanku. Untuk saat ini aku hanya ingin mengeluarkan semua rasa sesak di dalam dada.
Bersambung...
__ADS_1