Mengejar Cinta Sang Mentari

Mengejar Cinta Sang Mentari
Kemarahan Santi, Berujung Petaka


__ADS_3

Santi Pov


Aarrgghhhttt


Si*lan!


Kenapa aku bisa kecolongan seperti ini. Ku kira acara pernikahan Mas Darto dan si pelakor itu dua bulan lagi seperti rencana awal. Nyatanya, hari ini aku melihat postingan anak buah Mas Darto sedang berada di acara pernikahan Mas Darto dan si Tari itu.


Sungguh si*lan memang!


Tadinya aku akan menyusun rencana agar pernikahan itu tidak jadi terlaksana. Apa pun caranya akan aku tempuh. Sekali pun jika harus menghabisi nyawa si Tari.


Tapi kini rencana tinggal lah rencana. Pernikahan mereka sudah tergelar dengan meriah. Kini, mereka sudah sah sebagai suami istri. Aku menyerah? Tentu saja tidak. Sebelum Mas Darto kembali menjadi milikku, akan ku lakukan segala usaha agar Mas Darto dan pelakor itu berpisah.


Ting


Notifikasi pada bilah aplikasi hijau kini menghiasi layar gawaiku. Ternyata dari pihak leasing yang menanyakan kapan aku akam membayar tunggakan cicilan mobil. Membuat kepalaku semakin pusing saja. Belum lagi credit card ku sudah melebihi over limit. Ditambah tiga arisan yang nominalnya tidak sedikit juga belum aku bayar.


Pening rasanya setiap hari harus ditagih hutang. Penghasilanku dari menjajakan diri pun sekarang tak banyak. Faktor usia ditambah banyaknya wanita muda yang masih fresh dan juga memiliki body yang aduhai membuatku kalah saing dari mereka. Tentu saja para hidung belang akan lebih berselera dengan mereka para daun muda.


Seperti sekarang saja, dari semalam aku hanya mendapat satu orderan. Untungnya saja pelangganku kali ini memakai jasaku long time. Jadi bayarannya pun lumayan juga.


Keluar dari hotel, aku berniat untuk pergi ke rumah Mas Darto terlebih dahulu sebelum pulang. Akan ku kacau kan hari pengantin baru itu. Pokoknya aku tak boleh kalah dari pelakor si*lan itu. Aku tak ingin jatuh miskin lagi, maka dari itu, jika Mas Darto kembali padaku, bisa dipastikan hidupku akan kembali bergelimang harta. Aku pun bisa membayar semua hutang-hutangku. Dengan begitu, gaya hidupku bisa hedon seperti semula. Apalagi jika aku bisa menguasai semua harta Mas Darto. Ah, sudah pasti hidupku sempurna.


Sampai di depan rumah Mas Darto, ku lihat ke sekeliling. Ku kira rumah ini akan ramai, ternyata yang ku dapati hanya kekosongan. Kemana perginya Mas Darto dengan yang lain? Akhirnya ku putuskan saja turun dari mobil dan bertanya pada tetangga. Kebetulan sekali ada tetangga yang sedang menyapu. Jika dilihat dari wajahnya sepertinya dia orang baru disini. Syukurlah, itu memudahkan ku.


"Permisi Bu. Maaf numpang tanya," ucapku pada seseibu yang sedang menyapu halaman rumahnya.


"Iya Mbak. Ada yang bisa saya bantu?" si Ibu bertanya balik padaku.


"Maaf sebelumnya. Saya mau nanya, penghuni rumah di samping Ibu ini kemana ya? Kok terlihat sepi sekali," ujarku berhati-hati.


"Oh, keluarga Pak Agus ya Mbak. Emm setau saya mereka menginap di rumah istrinya Mas Darto. Kan kemarin Mas Darto baru saja menikah Mbak. Kalai ART nya memang sudah dari tiga hari yang lalu sedang pulang ke kampungnya," papar si Ibu.

__ADS_1


"Kalau boleh tau Mbaknya siapa ya?" tanya si Ibu lagi padaku.


"Emmm, saya temannya Mas Darto Bu. Teman kuliahnya dulu. Kemarin saya gak sempat datang ke acara pernikahannya. Makannya saya kesini mau ngucapin selamat. Kirain saya mereka ada di rumah," jawabku berbohong.


"Oh seperti itu. Mbak kenapa gak dateng ke rumah istrinya aja. Lagian tidak terlalu jauh kok dari sini," ujar si Ibu. Ide bagus, dengan begitu aku tau dimana si pelakor itu tinggal. Aku pastikan nanti itu akan berguna dalam melancarkan rencanaku.


"Itu dia masalahnya Bu. Saya gak tau rumah istrinya. Waktu di undang saya hanya melalui pesan saja. Itu pun tak sengaja saya hapus. Jadi saya tidak tau alamatnya,"


"Yo wes. Mbak tunggu dulu. Kebetulan surat undangan punya saya masih ada. Mbak lihat saja alamatnya yang tertera di undangan ya," ujar si Ibu. Aku pun mengangguk setuju.


Akhirnya, aku bisa tahu alamat rumah si pelakor itu. Ini suatu kebetulan yang sangat menguntungkan bagiku. Dengan begini, aku akan lebih mudah memantau mereka.


"Ini Mbak. Silahkan bawa saja, siapa tau bisa membantu Mbaknya," ucap si Ibu sambil memberikan undangan tersebut.


Setelah mengucapkan terima kasih kepada si Ibu. Aku pun pamit untuk pulang. Menatap undangan yang ada di tangan. Kemarahanku semakin memuncak. Ku remas undangan tersebut. Jika saja tak ingat rencanaku, sudah ku buang undangan tersebut ke jalanan.


🍀🍀🍀


Rencana untuk pergi ke rumah Tari harus ku urungkan karena Mas Surya terus saja menelfonku. Puluhan pesan ia kirimkan. Isinya tentu saja bahasa kasar dan juga sumpah serapah.


Mengendarai mobil, ku lakukan dengan kecepatan sedang agar lebih cepat sampai ke rumah. Dalam perjalanan, sudah ku siapkan hati dan juga telinga agar acuh jika nanti Mas Surya memaki diriku.


Memasuki pekarangan rumah, aku sudah melihat Mas Surya di teras. Wajahnya sudah tentu merah padam.


Hufftt


Ku hembuskan nafas terlebih dahulu. Sudah tentu setelah ini akan ada pertikaian lagi antara aku dan juga Mas Surya.


"Dari mana saja kau hah?" bentak Mas Surya padaku begitu aku turun dari mobil.


"Bukan urusanmu!" balasku tak kalah sengit sambil berjalan melaluinya.


"Dasar wanita murahan. Tak tahu diri, suami nanya bukannya di jawab malah ngeloyor saja," ucapnya sambil mengekor di belakangku. Kini kami sudah berada di ruang tamu.

__ADS_1


"Kau yang tak tahu diri Mas. Sudah penyakitan, dan sekarang bisanya hanya menyusahkan ku saja. Dasar laki-laki tak berguna!" hardikku padanya.


Tak kuhiraukan dia yang masih saja meracau. Lebih baik aku pergi saja ke atas untuk menenangkan diriku. Pulang ke rumah berniat untuk istirahat, malah berakhir dengan pertengkaran. Rumah ini sudah seperti neraka bagiku.


"Heh Santi. Tunggu dulu. Aku belum selesai bicara dengamu wanita sundal!" ujar Mas Surya. Ku kira dia tak akan mengikuti ku ke atas.


Bisa di lihat, dengan tertatuh dia merayap sambil memegang pengangan tangga. Mulutnya tak henti mengeluarkan sumpah serapah dan memakiku. Telingaku rasanya sudah panas sekali.


"Dasar wanita sundal. Wanita si*lan. Pel*c*r," Mas Surya terus saja memaki diriku.


Sontak saja amarahku terpancing oleh kata-kata yang keluar dari mulut lelaki tak berguna ini. Dengan sekuay tenaga, ku tendang muka Mas Surya sehingga ia tergelincir dan tubuhnya jatuh ke bawah dengan posisi terlentang. Sebelum benar-benar terjatuh, dapat ku dengar benturan keras belakang kepalanya menghantam tembok. Apalagi posisi Mas Surya sudah lumayan tinggi.


Darah mengalir dari belakang kepala Mas Surya. Aku yang melihat itu sontak saja terkulai lemas. Sungguh, aku tak sengaja melakukan itu. Dengan langkah ketakutan, ku beranikan diri menghampiri tubuh Mas Surya yang sudah tergeletak tak berdaya di bawah sana.


Matanya melotot, darah mengalir dari belakang kepala dan telinganya. Dengan tangan bergetar, ku coba untuk mengecek hidung Mas Surya. Astaga, tak ada hembusan nafas disana. Lalu ku perhatikan bagian dadanya, tak ada gerakan nafas juga disana.


Dengan hati-hati, aku kembali memastikan. Memegang tangan Mas Surya dan mencoba mencari denyut nadinya. Namun lagi-lagi nihil, tak ada tanda-tanda kehidupan disana. Ya tuhan, Mas Surya meninggal. Sungguh aku tak bermaksud untuk membuatnya mati.


Niatku hanya ingin memberi pelajaran pada laki-laki tak tahu diri tersebut agar tak terus menerus menghinaku. Baiklah, aku tak boleh panik seperti ini. Aku harus bisa mencari cara agar aku tak terlibat sama sekali dalam hal kematian Mas Surya.


Dengan tangan masih gemetar, ku dorong kursi roda Mas Surya dan menggelar akan nya di dekat tubuh Mas Surya. Akan ku buat seolah-olah Mas Surya meninggal karena kecelakaan jatuh dari tangga. Setelah itu, aku akan pergi lagi dari rumah ini. Jadi seolah-olah Mas Surya meninggal disaat tak ada orang lain di rumah.


📍


Author Pov


Dengan berjalan mengendap, melihat kondisi disekitar rumah, Santi memastikan bahwa siang ini tak ada orang yang mengetahui dia sedang berada di rumah.


Setelah di rasa aman, Santi dengan tergesa kemudian mengemudikan mobilnya meninggalkan rumah. Ia lebih memilih jalan lewat belakang yang menghubungkan komplek perumahannya dengan warga sekitar agar tak terlalu menimbulkan kecurigaan.


Perasaannya lega ketika ia sudah berada di jalan besar tanpa sepengetahuan siapa pun. Dia yakin, kematian Surya tak akan menaruh curiga padanya. Semuanya telah ia atur. Apalagi tak ada saksi mata dan barang bukti yang bisa memberatkannya jika ia dituduh telah membunuh Surya.


Namun, tanpa Santi sadari. Semua rencana yang telah ia susun nyatanya tetap akan membawanya mendekam di dalam balik jeruji besi. Karena tanpa Santi sadari, ada salah satu CCTV milik tetangganya yang tanpa sengaja merekam apa yang telah dilakukan Santi terhadap Surya.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2