
Mentari Pov
Melihat kedekatan Adam dan Mas Darto membuat hatiku menghangat. Tak diragukan lagi rasa sayang dan cintanya Mas Darto pada Adam. Padahal Adam bukanlah darah dagingnya, tapi Mas Darto begitu menyayangi Adam.
Ah, aku juga sebenarnya bingung dengan perasaanku sendiri. Sebenarnya jika dilihat dari sudut apapun, Mas Darto begitu tulus padaku. Berkali mendapat penolakan dariku tapi tak menyurutkan niatnya untuk tetap meminangku.
Jujur, rasa sakit dari masa lalu selalu saja menghantuiku. Padahal sering sekali orang-orang terdekat ku memberikan wejangan dan masukkan. Bahwasannya tidak semua laki-laki sifatnya sama seperti Dimas.
"Mama, lihat. Buayanya besar sekali" ucap Adam membuyarkan lamunanku.
Aku pun hanya tersenyum mendengar celotahan Adam. Dia begitu menikmati sekali acara liburan ini. Melihat kebahagiaan Adam, ada yang tercubit dalam diriku, betapa aku selama ini belum bisa membahagiakan Adam.
Aku tau, dalam hati terdalam Adam pasti dia sangat merindukan sosok lelaki bergelar Ayah. Dari semenjak bayi, dia sama sekali tak merasakan kasih sayang sang Ayah sama sekali. Kesakitan di masa lalu harus merenggut semua kebahagiaan Adam.
Maafkan Mama nak, maaf jika Mama telah menjadi orang tua yang dzalim untukmu. Batinku.
"Jangan melamun terus, nanti kesambet baru tau rasa" ucap Mas Darto tepat di telingaku.
"Astagfirullah, demitnya nongol" ucapku setengah berteriak karena kaget dengan suara Mas Darto.
"Ish, masa Mas ganteng gini di bilang demit sih" jawab Mas Darto sambil mengerucutkan bibirnya. Ah manis sekali dia, astagfirullah dasar otak.
"Iye, lu bukan demit To. Tapi kalo kata orang sunda mah Ririwa" tak di sangka, Radit malah ikut menpali ucapanku.
"Eh, dasar kurang asem lu Dit. Sono gih temenin bini lo. Jangan jadi nyamuk ye diantara keluarga cemara ini"
"Emang Tari mau sama lo?"
"Ish kampret" jawab Mas Darto.
Sedangkan aku dan Adam hanya bisa geleng kepala melihat tingkah dua sahabat ini. Benar-benar seperti anak kecil saja mereka.
"Eh gue kesini mau pamit pulang duluan ya, soalnya Umi nelfon katanya ada di rumah. Ai udah di mobil, gue kesini cuman ngabarin aja, takut nantinya lu orang pada nyariin"
"Wah, ada Umi disini. Nanti gue ke rumah ya Dit. Kangen juga sama Umi" jawabku antusias. Umi adalah orang tua dari Aisyah, wanita yang lemah lembut dan keibuan sekali. Mangkannya, aku juga sudah menganggap Umi seperti Umi ku sendiri.
"Beres, ya sudah. Pamit ya, assalamualaikum " ucap Radit.
"Waalaikumsalam" jawabku dan Mas Darto serempak.
🌺🌺🌺
Setelah Radit pamit pulang duluan, kami pun kembali melanjutkan acara jalan-jalan ini. Adam begitu antusias sekali berkeliling kebuh binatang. Menanyakan ini dan itu kepadaku dan Mas Darto.
Sebenarnya aku sudah kelas, kebuh binatang ini lumayan luas. Tapi, Adam seperti tak ada capeknya. Untungnya, Mas Darto selalu menjawab semua pertanyaan yang dilontarkan oleh Adam. Sama seperti Adam, Mas Darto juga seperti tak lelah mengelilingi kebuh binatang ini.
Senyum tak pernah lepas dari wajah mereka, jika orang tidak tahu mungkin saja mereka menganggap Mas Darto sosok lelaki yang begitu sangat menyayangi anaknya sendiri.
Ya Allah, apakah ini sudah saatnya aku membuka hati untuk Mas Darto? Jika memang Mas Darto adalah jodohku, hilangkanlah segala prasangka buruk dari masa lalu, dan kikislah habis rasa sakit yang begitu tertanam kuat di hati akibat dari masa lalu.
🌺🌺🌺
Setelah puas mengelilingi kebuh binatang, kami pun berniat untuk pulang. Ku lihat Adam dalam gendongan Mas Darto sudah terkantuk-kantuk mungkin karena begitu lelahnya.
__ADS_1
"Dek, mau makan dulu apa langsung pulang?" tanya Mas Darto.
"Em, langsung pulang saja Mas. Kasian Adam sepertinya lelah sekali. Makan kita dirumah saja, nanti biar Bibik buatkan" jawabku.
"Baiklah, padahal Mas belum puas loh ajak Adam main Dek, tapi kek nya Adam udah lelah banget"
"Iya Mas, gak papa. Kan masih ada lain waktu"
Mas Darto pun hanya mengangguk saja.
🌺🌺🌺
Sampai di rumah, benar saja Adam sudah tertidur pulas. Bagaimana tidak capek, ia dari tadi bersemangat mengelilingi kebun binatang dengan begitu antusias. Sampai-sampai hampir semua kandang hewan kami datangi.
Bik Ijah sudah menyiapkan makan untuk kami semua. Ku panggil Ayah dan Mas Darto untuk segera makan. Menu makan siang sederhana namun rasanya tak perlu diragukan lagi, apalagi ini buatan Bik Ijah. Sudah pasti terthe best rasanya.
"Gimana rumah makan Papamu To?" tanya Ayah di sela-sela kami makan.
"Alhamdulillah Om, berjalan lancar. Rencananya saya juga ingin membuka cabang baru di kota sebelah. Cuman belum yakin aja sih" jawab Mas Darto.
"Wah Bagus itu, menurut Om itu prospek ke depannya menjanjikan loh. Apalagi disana banyak sekali tempat wisata. Pasti laku keras rumah makanmu"
"Amin, insha allah Om. Doa kan saja, nanti kalau dananya sudah cukup saya fikirkan lagi"
"Pasti dong, Om doakan yang terbaik buat kamu"
🌺🌺🌺
Selesai makan, ku bantu Bik Ijah membereskan bekas makan kami. Sedangkan Ayah dan Mas Darto bercengkrama di halaman rumah.
Terdengar suara cekikikan dari arah halaman, aku tak mengerti mereka sedang membicarakan apa sampai-sampai mereka tertawa seperti itu.
"Ya ampun, kalian ngomongin apaan sih. Rame banget kek bocah" ucapku sambil meletakkan nampan berisi minuman dan camilan.
"Ini, Om lagi liatin foto-foto kamu waktu kecil dek. Lucu banget, malah ada yang lagi nangis sampe ingusnya keluar. Ha ha ha" jawab Mas Darto sambil menunjukkan satu fotoku dengan keadaan menangis.
"Ya allah, Ayah buka aib aku aja" ucapku mencebik.
"He he, ya biarin tok. Kan liatin ke calon suami mu sendiri gak papa" jawab ayah santai.
Uhuk!
Aku dan Mas Darto malah tersedak bersama, karena saat ayah berucap seperti itu, posisiku dan Mas darto sedang minum.
"Alhamdulillah, Om restuin nih kalau saya meminang anak Om?" tanya Mas Darto antusias.
"Lah, dari dulu juga Om mah setuju-setuju saja. Tapi, tetap kan keputusan semua ada di tangan Tari" jawab Ayah.
Seketika Mas Darto mengalihkan pandangannya ke arahku. Aku yang mendapat tatapan seperti itu menjadi salah tingkah sendiri.
"Apa?" tanyaku pada Mas Darto.
"Ish, gemes! Malah tanya apa, gimana nih. Mau kan jadi istrinya Mas?"
__ADS_1
"Heleh, minta jadi istri kok kek minta permen" jawabku mencebik.
"Oh, mau yang romantis nih ceritanya? Yo wes. Mentari Wijaya anaknya Ayah Handoko Wijaya yang paling canti seantero jagad Raya, yang manis ngalahin manisnya permen sama gulali, yang imut-imut kek ceribel. Mau kah kamu menjadi istrinya Mamas ganteng ini?" ucap Mas Darto
Sungguh, sebenarnya aku ingin tertawa mendengar ucapan Mas Darto. Geli rasanya, kek lebai-lebai gimana gitu.
"Ish PD bin gombal" ucapku ketus, padahal dalam hati aku ingin terbahak.
"Ya Allah Om, anaku mu itu. Tadi katanya pengen dilamar romantis. Udah saya romantisin malah dibilang gombal Om"
Mendengar itu, Ayah malah tertawa terbahak-bahak. Tingkah Mas Darto memang terkadang selalu absurd bin nyeleneh. Ntahlah, kadang aku juga berfikir dulu, kok ya bisa orang kayak gini bisa jadi mata-mata. Harusnya, dia jadi pelawak saja.
"Wes welah, gini saja. Kalau kamu memang benar-benar serius sama Tari. Ajak keluargamu kesini" akhirnya Ayah bisa berhenti dari tertawanya.
"Asiap Om, jangankan keluarga. Disuruh bawain Monas juga saya mah sanggup Om" jawab Mas Darto jumawa. Sedangkan aku hanya bisa mencebikkan mulutku saja.
"Iya Mas, benar yag di katakan ayah. Jika memang Mas serius denganku. Datanglah besok kesini bersama keluargamu. Insha Allah, akan ku jawab bagaimana perasaanku padamu"
"Alhamdulillah Dek,terima kasih banyak. Segini juga Mas sudah bahagia. Mas janji, besok Mas akan datang kesini bersama Papa dan yang lainnya. Tunggu Mas besok ya dek"
"Iya Mas"
"Kalau begitu Mas pamit pulang ya. Mau memberitahukan kepada keluarga Mas. Om, saya pamit pulang ya. Saya titip calon istri saya ya Om, kalau nakal sentil aja. Jangan biarin dia keluyuran ya Om. Kalau bandel, omelin aja"
"Astagfirullah, Mas kamu ya" ucapku sambil melotot ke arah Mas Darto.
Dia malah nyengir sedangkan Ayah malah terbahak lagi melihat tingkah Mas Darto.
"Iya,iya. Kamu tenang sajalah. Om jagain dia baik-baik. Nanti Om sentil kalau Tari nakal"
Ya Allah, kenapa pula Ayah jadi ikut-ikutan begitu sih.
"Assalamualaikum"
"Waalaikumsalam" jawab aku dan ayah serempak.
🌺🌺🌺
Ya Allah,semoga keputusan yang ku ambil ini adalah yang terbaik. Akan ku coba menata hatiku lagi untuk laki-laki nanti yang bergelar suami.
Aku hanya berharap, semoga ini adalah jodohku yang terakhir. Semoga dengan ini, aku bisa membuang semua kenangan pahit dan sakit dari masa lalu.
Adam, tunggulah sebentar lagi nak. Mama akan mengabulkan keinginan mu untuk memiliki keluarga yang utuh.
Bersambung....
Assalamualaikum semuanyaaaa.
Gimana kabar kalian? Semoga sehat selalu ya. Masih adakah yang membaca cerita ini? Sekali lagi author mohon maaf bila cerinya Up lama banget.
Sepertinya cerita ini akan Up setiap weekend ya. Karena sekarang author disibukan dengan kegiatan anak sekolah.
Apalagi author di tunjuk sebagai korlas di kelas anak author dan masuk dalam jajaran komite sekolah. Jadi, author harus bagi waktu nih.
__ADS_1
Jadi, author putusin buat Up diakhir pekan aja saat anak libur sekolah. Biar dapet waktu banyak.
Sekali lagi author ucapin terima kasih banyak buat yang masih berkenan membaca cerita ini ☺