
Setelah puas menangis, hatiku setidaknya sudah sedikit lega. Dengan fikiran tak karuan, ku minta Nara masuk ke ruanganku. Saat masuk keruangan dapat terlihat jelas rasa ke khawatirkan pada wajah Nara.
"Ibu tidak apa-apa?" tanya Nara padaku.
"Tidak Nara. Aku hanya ingin melepaskan kekesalan ku saja. Sekarang aku sudah baik-baik saja," jawabku di iringi senyum yang di paksakan.
"Baiklah. Ibu harus kuat. Jangan kalah dari wanita tadi ya Bu,"
"Iya," jawabku. "Aku ingin pulang, berkas yang tadi kau beri belum aku tanda tangani. Mungkin besok baru bisa aku tanda tangani. Kumpulkan saja berkas-berkas yang harus ku tanda tangani dan ku pelajari. Besok aku akan selesaikan semuanya," ujarku pada Nara. Ia pun hanya mengangguk mendengar penjelasanku.
Setelah pamit pada Nara, aku pun segera pergi meninggalkan kantor. Ku lajukan mobil entah akan kemana. Fikiran ku benar-benar kacau untuk saat ini. Untung saja hari ini Mang Ujang sudah kembali bekerja setelah kemarin tiga hari izin pulang kampung. Jadi aku tak perlu menjemput Adam ke sekolahnya.
🍀🍀🍀
Gawaiku terus bergetar, beberapa pesan dan panggilan dari Mas Darto masuk ke dalam gawaiku. Namun aku sama sekali tak berniat untuk membalasnya. Masih ada rasa sakit dan kesal dalam hati ini.
Aku masih mengendarai mobil tak tentu arah. Bingung juga mau kemana dalam situasi hati seperti ini.
Ting
Satu pesan masuk ke dalam gawaiku. Ku kira dari Mas Darto, ternyata dari Aisyah. Segera ku tepikan mobil agar lebih leluasa membaca dan membalas pesan dari Aisyah.
[Kau dimana? Datanglah ke rumah jika ada waktu. Aku membuatkan bolu brownies kesukaan mu,]
Aku berbinar membaca pesan yang dikirim Aisyah. Ah Ai, kau memang sahabat terbaikku. Membaca Aisyah membuat bolu brownies tanpa fikir panjang aku pun segera menuju ke rumahnya. Brownies buatan Aisyah memang selalu juara. Dan itu termasuk salah satu makan favorite ku.
[Oke, otw!] send.
Ku simpan kembali gawai ke dalam tas. Kemudian ku lajukan lagi mobil ke rumah Aisyah.
🍀🍀🍀
"Assalamualaikum," ucapku saat sudah sampai di depan rumah Aisyah.
"Waalaikumsalam," terdengar jawaban dari dalam. "Masuk Ri," ucap Aisyah ketika sudah membuka kan pintu untukku.
Aku pun segera masuk ke rumah Radit dan juga Aisyah ini. Ku akui Aisyah sebagai istri begitu sempurna. Selain cantik, dia juga pintar. Telaten mengurus suami, anak dan juga rumah. Terbukti, rumah Aisyah ini begitu asri.
"Zahra mana Ai?" tanyaku pada Zahra. Karena dari tadi aku tak melihat keberadaan bocah imut itu.
"Lagi dibawa sama nenek dan kakeknya Ri. Biasa jalan-jalan," jawab Aisyah sambil meletakkan minuman dan brownies buatannya.
__ADS_1
"Wah, Om Har dan Tante Sum kesini?" tanyaku antusias. Om Hardian dan Tante Sumi adalah orang tua Aisyah.
"Iya. Biasa Abi kangen sama cucu nya. Baru kemarin kok mereka datang,"
"Aku kangen sama mereka. Nunggu mereka pulang ah. Dah lama juga gak ketemu,"
"Boleh. Asal jangan nginep aja sih," jawab Aisyah sambil mencomot kue buatannya. Sedangkan aku hanya mencebik mendengar jawaban Aisyah.
Aroma harum dari brownies buatan Aisyah sudah menggoda imanku. Tanpa berlama-lama, segera ku ambil satu potong brownies dan melahapnya. Subhanallah, brownies buatan Aisyah memang selalu juara.
"Masha Allah, brownies mu tak pernah gagal Ai. Selalu memanjakan lidah," ucapku sambil terus mengunyah brwonies.
"Alhamdulillah," jawab Aisyah. "Makan yang banyak. Nanti pulang bawa satu loyang untukmu dan juga Adam," sambung Aisyah.
"Siap kanjeng ndoro," jawabku sambil mencomot lagi potongan brownies.
Setelah menghabiskan hampir 5 potong brownies, akhirnya perutku kenyang juga.
"Bagaimana persiapan pernikahan mu Ri?" tanya Aisyah padaku. Untung saja dia bertanya setelah aku kenyang, jika tidak bisa dipastikan brownies yang nikmat ini akan menjadi hambar.
"Aku tak yakin untuk melanjutkan acara pernikahan ini Ai," jawabku lirih.
Akhirnya aku pun menceritakan kejadian tadi di kantor kepada Aisyah tanpa kurang sedikit pun. Beberapa kali terdengar helaan nafas berat dari Aisyah.
"Mentari Wijaya, dengarkan aku. Semua hubungan itu pasti ada ujiannya. Itu pasti. Tapi kau tak bisa menyimpulkan begitu saja. Lagian kau tidak tau kan rekaman itu diambil kapan. Atau bisa saja itu hanya editan. Apalagi sekarang zaman sudah semakin canggih," ujar Aisyah setelah mendengar ceritaku.
"Aku pastikan itu bukan editan Ai. Memang aku tidak tau rekaman itu diambil kapan. Kalau pun sudah lama dan posisinya Mas Darto masih suami Santi, tetap saja rasanya sakit," ujarku. "Aku sudah berusaha menerima semuanya. Melupakan kekecewaan ketika Mas Darto baru jujur padaku tentang statusnya ketika kami terlah bertunangan. Tapi untuk hal yang satu ini, rasa-rasanya aku sangat kecewa sekali. Bagaimana jika memang sampai saat ini di hati Mas Darto masih tersemat nama Santi. Perasaan tidak ada yang tau kan?" lanjutku lagi.
"Ya, kau benar. Perasaan seseorang memang tidak ada yang tau. Tapi kau tak bisa menyimpulkan sepihak jika kau sendiri belum mendengar penjelasan dari pihak lain. Bersikaplah terbuka dan dewasa, Tari. Memang, di dunia ini tidak semua berjalan sesuai keinginan kita," nasihat Aisyah padaku. "Cobalah bicarakan dengan kepala dingin. Dengarkan penjelasan Mas Darto. Mungkin dia memiliki alasan kenapa dia dulu berkata seperti itu. Jangan bersikap kekanakan. Cobalah menyelesaikan masalah dengan hati yang tenang,"
"Tapi Ai, aku hanya takut. Takut jika apa yang aku inginkan tidak sesuai dengan yang aku mau. Aku hanya tidak ingin terluka untuk kedua kalinya. Aku tak ingin menambah luka pada hati ini," ucapku lirih.
"Sudah ku bilang kan Ri. Di dunia ini tidak semua berjalan sesuai keinginan kita. Tapi bukankah lebih baik kita berusaha untuk berfikiran positif? Saranku, bicarakan masalah ini dengan Mas Darto, cari solusi sama-sama. Jika belum menemukan titik terang. Shalat istikharah lah. Minta petunjuk dan jalan yang terbaik kepada Allah," jawab Aisyah.
Aku pun tak menyahut lagi ucapan Aisyah. Benar apa yang dikatakan Aisyah. Seharusnya aku bisa mendengarkan penjelasan dari Mas Darto juga. Tak hanya mendengar dari Santi saja yang notabene nya memang bertujuan ingin menghancurkan hubunganku dengan Mas Darto.
Ddrrtt
Ddrrtt
Kembali gawaiku berdering, Mas Darto kembali menelfonku. Ini entah sudah panggilan ke berapa darinya yang tak ku respon. Terakhir ku lihat ada hampir 25 pesan dan 15 panggilan tak terjawab dari Mas Darto.
__ADS_1
"Angkatlah. Bicarakan dengan Mas Darto baik-baik," ujar Aisyah.
Aku pun mengangguk. Mengangkat telfon dari Mas Darto walaupun sebenarnya hati ini masih terasa sakit.
"Halo, assalamualaikum," ucapku setelah panggilan telfon ku angkat.
"Waalaikumsalam. Ya Allah yang, kamu kemana aja sih. Mas dari tadi nelfon sama WA kamu kenapa gak di angkat sama bales sih," terdengar omelan Mas Darto di seberang sana.
"Aku perlu bicara sama kamu Mas. Temui aku di taman komplek rumah Radit. Jangan banyak bertanya. Langsung datang saja. Aku akan menunggu mu disana,"
"Tapi Yang..."
"Assalamualaikum," belum sempat Mas Darto melanjutkan ucapannya, aku sudah memotong dahulu dan memberikan salam. Setelah tanpa menunggu jawaban Mas Darto, aku langsung menutup panggilan.
"Ingat, bicarakan dengan kepala dan hati yang dingin. Dengarkan semua penjelasan Mas Darto. Kau harus dengar dari pihak lain juga, ingat. Kamu sudah dewasa dan pernah berumah tangga. Jadi, aku berharap kau bisa menyelesaikan masalah ini dengam bijak," Aisyah kembali mengingatkan ku.
"Baiklah Ai. Kalau begitu aku permisi dulu. Aku akan menunggu Mas Darto di taman komplek ini. Sampaikan salam rinduku untuk Zahra, Radit dan kedua orang tuamu. Insha Allah, jika orang tuamu masih lama berada disini, aku akan berkunjung lagi kesini," ucapku.
"Pasti. Nanti ku sampaikan salam rindumu kepada mereka. Jika tak ada aral melintang lagi, kami akan hadir di pesta pernikahanmu," jawab Aisyah.
Aku pun hanya menanggapi dengan senyuman. Aku masih bimbang dan ragu. Masih belum tau juga akan bagaimana nantinya hubunganku ini. Ku ucap salam pada Aisyah dan setelah itu pergi meninggalkan rumahnya.
🍀🍀🍀
Duduk di salah satu bangku yang berada di taman ini, pandangku lurus ke depan. Menunggu Mas Darto datang agar bisa membicarakan dan mencari solusi bersama-sama.
Pandangan kini ku alihkan ke sisi lain. Dan tanpa sengaja aku malah terpaku melihat pemandangan di depanku. Bagaimana tidak, aku sangat iri melihat pasangan yang berada lumayan jauh ditempatku duduk.
Pasangan yang tak lagi muda, mungkin usia keduanya hampir sama dengan Ayah. Aku terenyuh ketika melihat sang suami begitu lembut memperlakukan istrinya. Di usai mereka yang tak lagi muda, mereka masih bisa menjaga Cinta yang mereka bina.
Dulu aku selalu berharap bisa membina rumah tangga seperti mereka. Menua bersama hingga hanya maut memisahkan. Persis seperti kisah Cinta Ayah dan Bunda. Mereka berpisah karena maut lebih dulu datang menjemput Bunda.
Namun harapan tinggalah harapan. Sekuat tenaga aku berencana, tapi tetap saja Allah yang menentukan. Pernikahan yang ku impikan akan langgeng hingga menua nyatanya harus kandas karena orang ketiga.
Kini disaat luka hati dari masa lalu hampir bisa ku sembuhkan karena kehadiran Mas Darto, apakah kejadiannya akan sama dengan Dimas? Apakah aku akan kembali lagi merasakan rasanya di khianati dan akan hancur juga oleh orang ketiga?
Ya Allah, sungguh, aku hanya ingin membina rumah tangga yang sakinah, mawaddah, warahmah. Aku tak sanggup jika harus terluka untuk kedua kalinya. Sungguh, hatiku sudah rapuh.
Aku tak ingin menggantungkan harapan yang berlebihan kepada manusia. Biarlah sekarang aku pasrahkan semuanya kepada sang pencipta. Aku yakin, Allah akan memilih yang terbaik untukku.
Bersambung...
__ADS_1