
Setelah cukup Farel mencium bibir sang tetangga, Ia pun kembali ke posisi duduknya dengan mengucapkan, "Maaf! Aku tidak bermaksud untuk mencium mu, itu tadi cuma reflek." jawaban Farel seketika membuat Hani tertawa.
"Kenapa kamu malah tertawa?" Farel menatap Hani sembari melajukan kembali kendaraannya.
"Nggak apa-apa, kamu bilang tadi itu reflek. Itu bukan reflek, Mas. Tapi itu dari hati kamu, Aku bisa merasakannya." pernyataan Hani membuat Farel semakin yakin jika tetangganya itu sungguh bisa mengerti isi hatinya, keduanya pun sama-sama saling tersipu malu, akhirnya Farel melanjutkan kembali perjalanannya menuju ke pusara Hana.
Tak berselang lama, akhirnya mobil Farel tiba di sebuah pemakaman umum di mana terdapat pusara Hana yang berada di dalamnya.
Farel dan Hani turun dari mobil, dan Hani pun segera mengantarkan Farel sampai tiba di tempat Hana disemayamkan. Tidak menunggu waktu lama untuk Hani mengantarkan nya sampai ditempat kuburan yang sudah dipersiapkan oleh Hani untuk mengelabuhi suaminya.
"Ini dia, Mas! Ini kuburan Hana." tunjuk Hani pada sebuah kuburan lama yang bertuliskan Hana Setyorini. Kemudian Farel pun segera mendatangi kuburan istri pertamanya dan dirinya mulai menyentuh pusara itu sembari mendoakan sang istri.
Farel terlihat khusyuk mendoakan istrinya, sementara itu Hani terus memperhatikan wajah sang suami yang penuh penyesalan, Hani pun tak sengaja sayup-sayup mendengar ucapan Farel yang sedang meminta maaf kepada Hana.
"Hana! Aku minta maaf padamu, Aku tidak bermaksud meninggalkanmu, tapi Aku tidak tahu kenapa Aku bisa sampai seperti itu, sampai sekarang pun Aku masih aneh dengan diriku sendiri, kenapa Aku harus menikahi Nindy jika Aku sudah mempunyai seorang istri, meskipun pernikahan kita bukan karena cinta, tapi Aku sangat percaya jika Almarhum Papa tidak akan salah memilihkan istri untukku, Aku sangat menyesal, Hana! Tolong maafkanlah Aku."
__ADS_1
Sesaat Hani yang mendengar suara lirih Suaminya, Ia pun ingin sekali berkata kepada Farel jika dirinya adalah Hana. Namun, demi rencananya agar berhasil, dan dia bisa membalas sakit hati kepada Nindy. Maka untuk sementara dirinya terpaksa menyembunyikan identitas aslinya agar balas dendamnya semakin sukses dan Ia bisa membuat sang Adik sepupu menyesal karena telah merebut yang bukan miliknya.
"Andai kamu tahu, ini adalah Aku, Mas! Akulah Hana, istrimu!" batin Hani sembari memperhatikan suaminya yang masih berdoa di atas pusara palsu Hana.
Setelah Farel puas mengatakan segala unek-uneknya kepada mendiang istrinya. Pria itu pun beranjak pergi meninggalkan tempat peristirahatan terakhir Sang istri.
"Aku pergi dulu, Hana. Berbahagialah di sana! Aku sangat yakin di sana kamu akan mendapatkan tempat terindah di sisi-Nya. Aamiin." ucapan terakhir sebelum Farel meninggalkan tempat itu.
Setelah pergi mengunjungi makam istrinya, Farel pun tak lantas pulang ke rumah, Ia dan Hani pergi makan siang dulu, setelah itu Farel mengajak Hani jalan-jalan ke suatu tempat, menghilangkan sejenak rutinitas kantor yang membuat Farel stress dan juga menghibur dirinya yang sedang malas dengan sang istri yang terlalu sibuk dengan pekerjaannya.
Jam menunjukkan pukul sepuluh malam, Farel mengantarkan Hani pulang, mereka berdua pun berpisah, "Aku pulang dulu, Mas! Terima kasih untuk waktunya, hari ini Aku benar-benar sangat bahagia." seru Hani sebelum turun dari mobil Farel.
"Seharusnya Aku yang berterima kasih kepada mu, karena mu akhirnya Aku bisa datang ke pusara Hana, sehingga Aku tidak penasaran lagi tentang keberadaannya, karena sewaktu-waktu Aku bisa pergi sendiri untuk mendoakan Hana." balas Farel yang membuat Hani tersenyum.
"Iya Mas sama-sama." Hani pun mengangguk sembari tersenyum, kemudian Ia segera membuka handle pintu mobil. Namun, tiba-tiba saja Farel mengatakan sesuatu kepada sang tetangga.
__ADS_1
"Tunggu Hani!"
Hani menoleh dan menatap wajah Farel yang terlihat begitu tampan hari itu. "Iya, Mas! Ada apa lagi?" jawab Hani. Seketika Farel tanpa aba-aba mencium kening sang tetangga dengan lembut.
"Selamat malam, semoga kamu tidur nyenyak!" seru Farel kepada Hani yang terlihat melongo saat Farel mencium keningnya.
"Selamat malam juga, Mas!" balas Hani yang kemudian Ia pun segera keluar dari mobil Sang tetangga. Setelah itu, mobil mewah Farel masuk ke garasi mobil di rumahnya, Hani menyaksikan Farel yang mulai keluar dari mobilnya, sejenak Farel menoleh ke arah Hani yang masih berdiri dan belum masuk ke dalam rumah. Farel tersenyum dan melambaikan tangannya kepada Hani.
Tentu saja pemandangan itu tidak luput dari perhatian tetangga depan rumah yang melihat kejadian ganjil itu.
"Astaga itu kan Pak Farel sama tetangga baru, kok gitu ya!" seru Bu Vivi selaku tetangga depan rumah Farel.
"Ya ampun! Tuh tetangga baru pasti mau godain Pak Farel, kita musti laporan sama Bu Nindy, ini ada yang nggak beres. Pasti tetangga baru itu mau melakor." sahut tetangga satunya yang kebetulan malam itu mereka belum tidur karena mereka sedang membeli nasi goreng di depan rumah. Dan kebetulan mereka melihat Farel yang baru saja pulang bersama Hani.
...BERSAMBUNG...
__ADS_1