
Fajar menyingsing di pagi yang cerah, masih terasa sejuk suasana pagi itu, terdengar suara kicauan burung yang sedang hinggap pada ranting pohon, menemani terbitnya matahari pagi yang kala itu sebagian sinarnya masuk ke dalam celah jendela, mengintip dua insan yang sedang berada di dalam kamar, keduanya berada di dalam selimut tebal, yang terlihat hanya kepala mereka saja.
Jam menunjukkan pukul enam pagi, cukup lama sang mentari menampakkan dirinya hari itu, gelap malam pun hilang, kini ruangan yang berukuran empat kali empat yang menjadi saksi bisu percintaan Farel dan Hani pun menjadi terang, dan tiba-tiba saja terdengar suara kokokan ayam milik tetangga memaksa Hani untuk mengerjapkan kedua matanya, Ia pun mulai membuka kelopak matanya, sejenak Ia memperhatikan langit-langit kamar tidurnya, rupanya malam telah berlalu, berganti pagi yang cerah secerah hatinya saat ini. Hani tersenyum saat dirinya telah merasa menjadi istri yang seutuhnya.
Hani mengingat kejadian semalam, dimana dirinya dan sang suami bersatu untuk pertama kali, Hani menoleh ke arah samping, dimana sang suami masih terpejam dalam tidurnya. Ia pun membelai wajah Farel kemudian mencium pipinya sekilas.
Setelah itu, Hani perlahan mulai turun dari tempat tidur, perlahan sekali Hani bergerak, karena dirinya merasakan sakit dan nyeri yang luar biasa pada area pangkal pahanya. Mungkin robekan selaput dara itu yang membuatnya terasa tidak nyaman, seperti ada sesuatu yang mengganjal dan dirinya belum terbiasa.
Dengan mimik wajah meringis, Hani mencoba menahan rasa sakit itu, Ia pun beranjak untuk berdiri, dengan langkah tertatih Hani berjalan menuju ke kamar mandi. Ia pun mulai membersihkan dirinya.
Sementara itu, Farel pun mulai membuka kedua matanya, Ia terbangun dan sungguh terkejut, Ia melihat sekeliling, ternyata dirinya tidak sedang berada di dalam kamar miliknya, Farel pun mulai sadar jika dirinya berada di dalam kamar sang tetangga. Sejenak pria itu tersenyum, Ia ingat betul bagaimana Ia dan Hani melewati saat indah semalaman. Saat dirinya menjebol gawang milik sang tetangga yang ternyata adalah masih seorang gadis. Padahal Hani mengaku jika dirinya adalah seorang janda.
__ADS_1
Farel pun melihat ke arah jam yang menunjukkan pukul enam pagi, Ia pun bergegas untuk pulang ke rumah, karena mungkin sang Asisten sudah menghubunginya lewat ponsel. Sementara ponselnya tertinggal di rumah.
Farel beranjak untuk pergi, Ia membuka selimut yang menutupi sebagian tubuhnya, namun tiba-tiba saja Ia melihat bercak darah pada sprei, sekilas Farel tersenyum dan dipastikan itu adalah bercak darah milik Hani akibat selaput dara yang robek.
Farel menyentuh noda bekas darah itu sembari berkata, "Kamu masih gadis, Hani. Dan keperawanan mu kau berikan kepadaku, sangat jahat sekali jika Aku meninggalkanmu, Aku akan bertanggung jawab setelah Aku menceraikan Nindy, dan kita akan menikah."
Setelah mengatakan hal itu, Farel pun segera memakai pakaiannya kembali, dari pakaian dalam yang Ia lepas hingga piyama tidur miliknya, setelah Farel memakai bajunya kembali, Ia pun keluar tanpa pamitan kepada Hani, karena dirinya tergesa-gesa mengingat Ia harus pergi ke kantor.
Setelah dipastikan aman, Farel pun segera keluar dari rumah Hani, Ia pun berjalan santai seolah-olah tidak terjadi apa-apa. Hingga akhirnya dirinya tiba di rumahnya. Farel bisa bernafas dengan lega, suasana pagi yang masih sepi, mendukung Farel untuk segera pergi dari rumah Hani.
"Syukurlah tidak ada orang. Hani, Aku pulang dulu, hari ini Aku harus ke kantor, terima kasih atas malam ini, malam yang tidak akan pernah lupakan." batin Farel sembari memperhatikan rumah Hani, dan dirinya pun segera masuk ke dalam rumahnya. Namun, saat Farel masuk ke dalam rumahnya, tiba-tiba saja dirinya dikejutkan dengan sang asisten rumah tangga yang berdiri di balik pintu ruang tamu.
__ADS_1
"Tuan Farel! Anda dari mana pagi-pagi sekali?" tanya Arum sang asisten rumah tangga.
"Oh ... em ... Aku dari joging sebentar di luar, iya ... joging hehehe." alasan Farel yang membuat Sang asisten mengerutkan keningnya.
"Joging? Masa joging pakai baju tidur sih, Tuan?" sahut Arum penasaran.
"Loh memangnya kenapa? Nggak boleh, suka-suka Aku dong. Udah! Aku mau mandi. Minggir!" sahut Farel sembari pergi begitu saja dari hadapan sang asisten.
Melihat Tuannya pergi, Arum pun mulai curiga, Ia baru saja membuka kunci rumah Farel. "Ini pasti ada yang nggak beres, selama ini Tuan tidak suka olahraga atau joging, kenapa mendadak jadi suka, apa jangan-jangan ....!" sejenak Arum mengingat jika tempo hari Ia melihat sang majikan berada dalam satu mobil bersama sang tetangga baru.
...BERSAMBUNG...
__ADS_1