
Pagi harinya, Farel pun pulang ke rumah, semalaman Ia menghabiskan waktu bersama sang tetangga, layaknya pengantin baru, Farel pun tidak menyia-nyiakan kesempatan untuk bermesraan dengan sang kekasih. Hari ini juga Farel akan melayangkan gugatan cerainya kepada Nindy, agar secepatnya dirinya bisa menikahi tetangganya itu.
Farel pun bersiap untuk pergi ke kantor. Dan seperti biasa, Nindy pun baru pulang dari acara syutingnya, Nindy melihat sang suami yang sedang duduk di meja makan tanpa menghiraukan kedatangan dirinya. Karena bagi Farel, Ia sudah menganggap Nindy bukan istrinya lagi, entahlah rasa cinta itu sudah berkurang untuk istrinya. Dan Ia merasa tidak ada kenyamanan lagi untuk hidup bersama Nindy.
Setelah Farel menyelesaikan sarapannya, Ia pun segera pergi ke kantor tanpa bertanya kepada Nindy, padahal Farel tahu jika istrinya baru saja pulang.
Tapi tidak bagi Nindy, Ia pun berusaha bertanya kepada suaminya tentang kabarnya hari ini. "Kamu mau berangkat, Mas?" tanyanya basa-basi.
"Hmm ...." Farel hanya menjawab seadanya. Ia pun terus berlalu meninggalkan Nindy yang saat itu sedang menatapnya penuh kesal.
"Brengsek! Ada apa sih dengannya, ini pasti gara-gara wanita sialan itu, Aku yakin sekali jika perempuan itu sudah membuat Mas Farel melupakan Aku. Semalam saja anak buahku gagal mencelakai perempuan itu pasti gara-gara ada Mas Farel di sana. Sepertinya Aku harus menggunakan cara lain untuk mengusir perempuan itu dari kompleks ini. Iya aku tahu caranya!" Nindy mulai berencana untuk membuat Hani tidak betah tinggal di lingkungan mereka.
Melihat majikan perempuannya pulang, Arum segera menghampiri Nindy yang saat itu sedang kesal kepada Farel.
"Nyonya! Untung Nyonya sudah pulang, ada yang ingin Saya sampaikan pada Nyonya." seru Arum sang asisten rumah tangga yang mengetahui skandal tentang perselingkuhan Farel dan Hani.
"Apa yang ingin kamu katakan?" Nindy pun penasaran dengan apa yang akan disampaikan oleh sang asisten.
"Begini, Nyonya! Maaf sebelumnya jika Saya lancang menyelidiki masalah ini, karena Saya sebagai wanita seperti Nyonya, Saya merasa terpanggil untuk membantu Nyonya untuk membasmi para Pelakor yang akan menggoda suami kita." ucap Arum menjelaskan.
"Sudah-sudah jangan banyak bicara, cepat katakan ada apa?" desak Nindy yang tidak terlalu perduli dengan alasan Arum.
"Tahu nggak sih, Nyonya! Semalam Tuan Farel berada di dalam rumah perempuan murahan itu, dan Nyonya bisa tebak apa yang sedang mereka lakukan, ihhh telinga saya yang terbiasa mendengar ceramah, kini Saya terpaksa harus mendengarkan suara-suara mereka berdua, Nyonya. Hiiii menjijikkan sekali Nyonya, suara mereka seperti ringkikan kuda, Nyonya bisa bayangkan apa yang sudah Tuan Farel lakukan bersama wanita itu, huuu pasti mereka sedang main kuda-kudaan." ungkap Arum yang membuat Nindy semakin panas dan emosi.
__ADS_1
"Ck ... brengsek! Mereka sudah berani berbuat seperti itu dibelakang ku, oke! Rupanya perempuan itu sudah berani bermain api denganku, Aku tidak akan membiarkan dia mengambil suamiku, tidak akan pernah. Tapi bagaimana caranya mengusir perempuan itu dari kompleks ini?" seru Nindy yang mulai berpikir sungguh-sungguh untuk mengusir Hani dari tempat tinggalnya.
Seketika sang asisten mempunyai cara untuk membantu majikannya. "Ahaaa ... saya punya ide, Nyonya! Bagaimana kalau kita kerahkan warga sekitar untuk mengusir Hani, kita fitnah Hani supaya Ibu-ibu di kompleks kebakaran jenggot karena suami-suami mereka telah digoda oleh Hani, dan kita juga harus laporan kepada ketua RT di sini, Nyonya! Supaya Pak RT bisa mengusir Hani dari kompleks kita karena adanya laporan dari warga sekitar jika Hani adalah wanita yang meresahkan."
"Iya ... kamu benar! Aku juga awalnya berpikir seperti itu, sehingga kita tidak perlu susah payah untuk mengusir perempuan gatal itu, ingin Aku bejek-bejek aja itu mukanya." kesal Nindy sembari mengepalkan kedua tangannya.
*
*
*
Sementara di luar, Farel yang saat itu sedang menuju ke mobilnya, Ia dikejutkan oleh beberapa tetangganya yang sedang berdiri di depan pagar rumah Hani, rupanya mereka adalah para suami-suami yang senang melihat Hani yang saat itu sedang berolahraga di halaman rumahnya.
"Aje gile! Seger banget tuh si Hani." seru Pak Amir, suami Bu Keke.
"Di rumah mata sepet, eh lihat di mari mata menjadi jreng kayak lampu stadion." sahut Pak Dadang, suami Bu Vivi.
"Coba bini di rumah kayak dia, hmm bakal tak naikin terus. Bini dah kayak buldozer, di naikin Akunya yang mental-mental." ucap Pak Ujang, suami Bu Endang.
Sementara itu, Hani tidak tahu kalau dirinya sedang diperhatikan oleh para suami tetangganya, Ia pun tetap santai melakukan gerakan yoga dan olahraga ringan agar tubuhnya terasa sehat dan lebih bugar.
Dion yang tahu kelakuan para tetangganya yang sedang memperhatikan kekasihnya. Ia pun tidak mau para pria itu melihat Hani. Maka dari itu, Dion menegur ketiga pria itu yang sedang berdiri sembari melongo melihat Hani yang sedang berolahraga.
__ADS_1
"Bapak-bapak ngapain di sini?"
Seketika ketiga pria itu terkejut saat melihat Farel yang sedang berdiri di belakang mereka. Sontak ketiganya senyum-senyum kepada Farel.
"Eh ada Pak Farel, bikin kaget saja." seru Pak Amir.
"Hehehe iya nih Pak Farel," balas Pak Dadang.
"Pak Farel bukannya berangkat kerja? Ngapain di sini?" seru Pak Ujang.
Farel pun berkata kepada tiga pria itu. "Seharusnya Saya yang tanya kepada bapak-bapak, ngapain bapak-bapak ada di sini? Nggak kerja? Malah sibuk nimbrung di rumah tetangga," seru Farel yang sejatinya Dirinya tidak suka juga Hani dilihat oleh para tetangga lainnya.
"Hehehe kami sedang cuci mata, Pak! Di rumah mata kami sakit karena lihat pemandangan yang udah buram, tapi di sini kami bisa melihat Mbak Hani yang cantik, bikin mata fresh dan sembuh." celetuk Pak Dadang.
Farel pun semakin kesal dengan ucapan Pak Dadang, Ia pun segera mengusir ketiga pria itu agar tidak melihat Hani lagi.
"Hei ... sudah-sudah, sekarang bapak-bapak mendingan pergi dari sini, nanti Istrinya tahu bakal kena hukuman loh, cepat-cepat!" ucap Farel sembari mengusir para tetangganya.
"Pak Farel ngga bisa dong ngusir kami gitu aja, terserah kita mau ada di sini, toh kita juga nggak aneh-aneh sama Mbak Hani, kita cuma lihat doang ngga bakalan macem-macem." sahut Pak Amir yang tak terima jika Farel mengusirnya.
"Saya tidak mau tahu, pokoknya bapak-bapak harus pergi atau ngga kalian bertiga harus berhadapan dengan Saya." jawab Farel yang seketika membuat ketiga pria itu curiga.
"Hei Pak Farel! Memangnya Anda ini siapa nya Mbak Hani? Anda dan kita sama, sama-sama tetangganya Hani, sok banget Anda melarang Kami, atau jangan-jangan Anda juga naksir dengan janda itu, iya?" seloroh Pak Ujang yang langsung membuat Farel salah tingkah.
__ADS_1
...BERSAMBUNG ...