Menggoda Suami Tetangga

Menggoda Suami Tetangga
Pengakuan Hani


__ADS_3

Setelah beberapa saat, Farel dan Hani tampak tersengal-sengal, akhirnya mereka berdua telah sampai pada puncak hasrat, keduanya pun saling memeluk satu sama lain dan akhirnya keduanya tertidur pulas.


Selang beberapa jam, mereka berdua dikejutkan dengan suara ketukan pintu dari depan rumah Hani, dan terdengar suara teriakan orang-orang yang memaksa penghuni rumah untuk segera keluar dari rumah itu.


Hani terbangun karena suara-suara gaduh itu terdengar menyebut namanya berkali-kali.


"Woi keluar, Hani! Kami tahu kalian berdua sedang ada di dalam, Pak Farel! Anda sudah tidak bisa menghindar lagi, kalian berdua harus keluar! Atau tidak kami akan mendobrak pintu ini." Teriak salah satu warga.


Terlihat warga lain juga ikut memaksa Hani keluar dari rumahnya.


"Ada apaan sih ya ampun! Berisik banget." Ucap Hani sembari memakai piyamanya dan melihat ke arah jendela kamar tidurnya, Hani melihat warga yang ramai-ramai datang ke rumahnya.


"Astaga! Ngapain sih mereka, gangguin orang aja." Umpat Hani. Farel pun ikut terbangun karena suara berisik dari depan rumah Hani memaksa dirinya juga penasaran apa yang sebenarnya terjadi.


"Ada apa, Sayang?" tanya Farel sembari menatap wajah sang tetangga.


"Nggak tahu tuh para warga, resek banget gangguin orang tidur saja." Balas Hani santai, seolah dirinya tidak merasa panik sama sekali. Farel pun segera bangkit dan memakai pakaiannya kembali. Ia merasa jika ada sesuatu yang tidak beres, sepertinya para warga sedang menggerebek mereka berdua.


"Sepertinya para warga ingin kita keluar, ayo kita hadapi mereka, tentu saja aku tidak takut karena aku pasti akan menikahimu." Seru Farel yang merasa tidak pernah takut jika para warga menggerebek keduanya, pun sama dengan Hani, ia justru bahagia karena pada akhirnya semua orang akan tahu siapa sebenarnya dirinya dan ada hubungan apa Hani dengan sang tetangga, meskipun Farel belum menyadari jika Hani adalah Hana, istrinya sendiri.


Farel pun tanpa ragu pergi keluar untuk menemui para warga, dan akhirnya para warga bisa melihat wajah Farel yang sedang membuka pintu rumah Hani.

__ADS_1


"Nah ... ini dia pasangan mesumnya, ayo kita bawa ke kantor polisi, benar-benar mencemarkan nama baik kompleks kita."


"Kita telanjangi saja mereka berdua, biar tahu rasa, pasangan yang sangat menjijikkan."


"Ayo ... ayo ...!"


Ketua RT pun berusaha untuk menenangkan warganya yang sudah dipengaruhi oleh emosi akibat laporan dari Arum. Para warga yang terdiri dari bapak-bapak dan ibu-ibu sekitar tempat tinggal Farel dan Hani terlihat antusias ingin membawa pasangan itu ke kantor polisi untuk di pidana atas dasar perzinahan dan perselingkuhan.


"Tenang semuanya! Jangan bertindak main hakim sendiri," seru ketua RT kepada para warganya.


Kemudian Pak RT berbicara kepada Farel secara baik-baik dan meminta kepada Farel dan Hani untuk segera ke kantor polisi, karena perbuatan mereka sudah sangat mengganggu kenyamanan warga sekitar.


"Maaf pak Farel, kami sebagai warga yang merasa terganggu dengan perbuatan Anda dengan Hani, kami tidak bisa mentolerir lagi, pak Farel lebih memilih kami antarkan ke kantor polisi ataukah perempuan ini yang harus pergi dari kompleks ini." Seru pak RT yang membuat Farel tidak terima jika Hani harus pergi dari sisinya.


Mereka pun tetap memaksa Hani untuk pergi jauh dan terus menghina Hani tanpa perasaan.


"Dasar wanita gatal! Suami orang diembat, kayak nggak laku aja."


"Emang dasar Pelakor tak tahu diri, enyah kamu dari sini."


"Cantik mukanya tapi hatinya busuk, mengambil suami wanita lain, dimana perasaanmu sebagai wanita?"

__ADS_1


"Perempuan tak tahu malu, masih berani kamu menunjukkan wajahmu dan merasa paling tidak berdosa, hhhh menjijikkan cuih!"


"Wanita jalaang, wanita laknat, dasar pelaacur!"


Tak terima dihina seperti itu, Farel pun berteriak kepada ibu-ibu untuk diam.


"Diaaaaammmmm kalian!" teriakan Farel yang keras memaksa mulut-mulut julid itu diam seketika.


"Tidak boleh ada yang menghina Hani, dia wanita yang kucintai, siapapun Hani aku tidak perduli, dan kalian harus tahu jika sebentar lagi Hani akan menjadi Nyonya Farel, dan saya akan menceraikan Nindy." Seru Farel dengan bangga.


Karena tak terima Farel akan menceraikan majikannya, Arum pun membeberkan jika Nindy sekarang sedang hamil dan itu membuat para warga semakin geram dengan apa yang dilakukan oleh Hani.


"Tuan tidak bisa berkata seperti itu, Tuan harus ingat dengan Nyonya yang sekarang sedang hamil anak, Tuan! Wanita itu Pelakor, Tuan! Untuk apa Tuan membela Pelakor jika Anda masih memiliki istri yang sedang mengandung anak Anda, dan kamu perempuan jalaang, jahat sekali kamu sudah merenggut kebahagiaan Nyonya Nindy, tidak kah kamu mempunyai perasaan kasihan kepada Nyonya Nindy? Dasar perempuan laknat!!!"


Mendengar makian dari Arum, Hani merasa habis kesabaran, Ia pun meminta Arum untuk tutup mulut dan tidak usah sok tahu.


"Hai tutup mulutmu! Tahu apa kamu tentang Nindy? Dan tahu apa kamu tentang aku?" seru Hani sembari menatap tajam ke arah Asisten rumah tangga Farel.


"Kamu bilang aku tidak punya perasaan karena telah merebut suami Nindy, hah? Terus apa yang Nindy lakukan saat ia datang dan membawa suamiku pergi? Kamu bilang aku ini wanita Pelakor? Lantas apa yang Nindy lakukan ketika suamiku dia curi, disaat aku dan suamiku baru dua hari menikah, Nindy datang untuk mengambil apa yang menjadi hakku, dia membunuh namaku dari hati suamiku, Nindy mengambil semuanya dariku, dan dia yang mengajarkan aku untuk merebut suaminya, aku kesini sengaja datang memang untuk merebut suaminya, karena suami Nindy adalah suamiku juga." Ungkap Hani sembari menangis kala mengingat bagaimana Nindy membawa dan mempengaruhi suaminya untuk meninggalkan Hana, seketika pengakuan Hani membuat para warga terhenyak, tak terkecuali Farel.


"Hani! Apa yang kamu bicarakan?"

__ADS_1


...BERSAMBUNG ...


__ADS_2