
Nama ku Julia, usia ku saat ini hampir 60 tahun.
Sedari kecil aku tak pernah di ajar kan pendidikan sekolah maupun pendidikan agama oleh ibu ,karena saat aku masih BATITA kedua orang tua bercerai.
Di besar kan di sebuah pedesaan dengan kehidupan yang sangat jauh dari kata sejahtera, makan alakadar nya, kadang cuma nasi sama garam saja.
Ibu juga adalah sosok wanita yang sangat ringan tangan, ada salah atau pun tidak salah, ibu selalu melayangkan pukulan pada bagian bagian tubuh ku. Sakit ya sangat sakit, menangis pun hanya menambah amarah ibu kian memuncak.
Saat aku beranjak remaja, ibu menikahi seorang lelaki status perjaka, saat ibu hamil suami nya pergi entah ke mana, aku selalu di suruh ibu buat kerja untuk makan kami, saat itu apa yang bisa menghasil kan uang ? Dengan tenaga yang belum seberapa, ibu selalu menyiksa ku kalau pulang tidak bawa uang atau makanan, akhir nya aku mulai berani mencuri, pisang tetangga, ayam tetangga, kelinci, ubi, ya biar aku terbebas dari siksaan ibu.
Tepat usia ku 13 tahun, ibu memaksa ku menikah dengan lelaki yang lebih pantas jadi kakek ku, aku menolak tapi lagi lagi siksaan dan ancaman yang ku terima, tak ada pilihan lain, aku terima keinginan ibu itu agar aku tak lagi menerima siksaan ibu, rupa nya bukan uang sedikit yang ibu terima dari bandot itu untuk meminang ku, alasan ibu sangan ringan, buat bekal dan biaya persalinan ibu yang saat itu sedang hamil tua dari lelaki yang tak bertanggung jawab.
Usai akad nikah, aku di bawa pindah ke desa lain oleh suami ku, di tengah perkebunan teh rumah itu di bangun, udara sangat sejuk, hingga aku tak kuat untuk mandi atau pun hanya sekedar cuci muka. Aku rebah kan tubuh kurus ku di atas kasur kapuk yang udah usang, sprei alakadar nya, tapi lumayan nyaman di banding tinggal sama ibu yang kejam, tapi inilah awal derita ku dari bandot itu.
Dia memaksa ku masuk kamar mandi seraya mengguyur tubuh ku, menggigil ya tentu saja, aku menangis saat itu, tapi bandot itu malah sengaja melempar gayung tepat mengenai muka ku, aku meraung keras, dia tambah gila, ya Tuhan mungkin ini akhir hidup ku, aku di tampar sana sini, tendangan demi tendangan aku rasakan begitu keras hingga rasa tak lagi mampu mencerna, dia jambak rambut ku, dia dorong badan ku sampai terpelanting, darah segar terasa begitu hangat mengalir dari hidung dan sudut bibir ku, gelap tak lagi mampu aku merasakan dan melihat sekeliling. Pasrah dalam do"a, menghadapi garis hidup yang sangat pahit.
__ADS_1
****
Part 2
Sebelum siksaan bandot itu makin ganas, terasa ada yang membisiki kalau aku harus cepat pura pura pingsan, segera ku lemaskan seluruh badan ini hingga menyentuh lantai kamar mandi, ada bayangan manis dalam benak ku ini, barangkali itu bandot merasa iba dengan keadaan ini, bandot itu segera keluar kamar mandi dan memanggil para buruh petik teh untuk menggotong ku ke kamar tidur, dalam hati aku merasa menang, terus lah dengan acting ini, pingsan karena ini hanya satu satunya jalan biar bandot itu tak berkelanjutan menyiksa ku.
Para pesuruh bandot itu segera pergi setelah menaruh tubuh ku di atas dipan tua, terdengar suara bandot itu memasuki kamar, dia tutup lalu di kunci nya pintu kamar tidur itu, jleb hati ku seketika membeku, mau apa bandot sialan ini ?.
Dia melepas seluruh pakaian nya, lalu dia lucuti seluruh pakaian ku, seketika ku berontak karena rasa takut yang begitu dalam, namun secepat kilat dia raih tangan ini, dia ciumin, dia elus kepala ku, lalu dia merayu ku dengan sejuta kata yang seumur hidup baru aku dengar.
Ku hela nafas panjang, siapa kah bandot ini ? Kenapa sikap nya mendadak manis ?
Karena masih polos, bandot itu dengan mudah memperdaya ku, saat terdiam, dia langsung menyerang ku dengan ganas nya, serangan malam pertama buat dia, namun serangan menyakit kan buat ku, tak cukup 1 kali dia melampias kan hasrat biologis nya, tapi sampai berkali kali hingga air mata sudah tak mampu lagi mewakili kepedihan ini.
Menjelang petang, datang seorang wanita setengah baya membawa makanan yang sangat lezat menurut ku waktu itu, ya karena ibu tak pernah memberi makanan yang layak untuk di konsumsi, ada ayam goreng, ikan goreng, sambal terasi, lalapan, tahu tempe , nasi liwet makanan khas orang sunda .Ku lupa kalau aku habis di siksa, ku santap makanan itu tanpa komando dari bandot itu, lezat, kenyang, puas rasa nya menikmati makanan yang sangat sedap itu dan berakhir dengan tidur pulas di ruang tengah di temani TV hitam putih ukuran 12 inc yang nyala karena tenaga accu.
__ADS_1
Keesokan pagi nya bandot edan itu mengguyur badan ku yang masih lelap, ku gelagapan karena kaget luar biasa, aku menangis sejadi jadi nya, tapi dia malah menendang ku ,rambut yang panjang nya sepinggang lagi lagi jadi korban kebrutalan kakek liar itu, dia ikat badan ku di atas kursi rotan, lantas dia silet seluruh pakaian ku, aku pasrah, berdo"a yang terbaik dalam hati, dia pun kembali menggauli ku yang tidak berdaya, sampai petang menjelang, ku tunggu kedatangan wanita setengah baya itu, bukan ingin menikmati makanan nya, tapi ingin mengadukan nasib ku pada nya, siapa tahu wanita itu bisa membantu ku.
Dayung bersambut, ternyata wanita itu tahu persis kondisi ku, karena dia telah bukan cuma bekerja sebagai pengantar makanan, tapi juga pemetik teh di perkebunan bandot sialan ini, wanita itu bilang, jangan lari dulu, sabar sampai esok petang dia datang, dia akan memberikan uang buat ongkos dan bekal ku di perjalanan.
Semalam suntuk tak dapat memejam kan mata sama sekali, bayangan hari esok sangat menyiksa ku, kenapa bandot itu meminta jatah selalu di siang hari ? Kenapa harus menyiksa dahulu ? apakah ibu yang membeberkan biar aku nurut harus di siksa dulu ? Aaaahhh ibu macam apa kamu buuuu ? .
Ingin shalat tahajjud, tapi tak mengerti, akhir nya hanya bolak balik baca surat al fatihah, sampai menjelang adzan subuh pun mata ini masih tak dapat di pejam kan.
Keesokan pagi nya, ku rangkul bandot itu, seperti saran wanita yg antar makanan pada kami, ku ajak dia mandi, ku gosok punggung nya, lepas itu ku pakai kan pakaian pada nya, dia tersenyum dan menepuk nepuk bahu ku.
" Juli, kamu kan belum pernah akang ajak main ke perkebunan ? mau kan kamu ikut akan mengontrol pemetik teh ?". Segera mengangguk riang, ku mengekor di belakang bandot itu, begitu banyak pemetik teh di sana, akhir nya bertemu lah sama wanita itu. Ku pura pura memetik teh, pura pura bertanya cara memetik teh pada wanita itu, saat lengah wanita itu bilang, "nanti sore di rantang paling bawa ada uang buat ongkos mu, besok pagi pagi sekali kamu pergi, kalau sampai kamu ketahuan, jangan sampai bawa bawa aku", begitu kata nya , ku anggukan kepala tanda setuju.
Keliling perkebunan teh yang begitu luas, tak terasa waktu begitu cepat, hati riang gembira, karena cuma semalam lagi ketakutan akan segera berakhir.
Singkat cerita abis adzan subuh, segera ku buka pintu sangat pelan, berjalan dalam kegelapan menyusuri kebun teh ,tak ada lagi rasa takut akan hewan buas atau pun manusia jahat, yang ada di benak hanyalah ingin segera berjumpa kendaraan ke mana pun tujuan nya, karena tak mungkin kembali pada ibu yang keji.
__ADS_1