
Dari pertama tinggal di asrama ibu mertua selalu melarang untuk bergaul dengan tetangga, bahkan menjemur pakaian pun selalu di dampingi ibu mertua, kalau ada tetangga yg nanya maka ibu mertua yg jawab. Mereka sangat baik padaku juga pada adik perempuan ku, dulu bayi di kasih air gula aren sudah sehat, tanpa sufor tanpa pendamping ASI yang instan, cukup bubur nasi tambahin sayuran.
Waktu bergulir begitu cepat, segala keperluanku di berikan oleh suamiku, cuma dia tak pernah memberikanku uang sepeser pun juga, tapi untuk meminta pun ada rasa malu, karena kami menikah adalah kehendak emak, aku pun di sana numpang kasarannya mana bawa adik bayi pula. Menginjak tujuh bulan usia pernikanan kami, tak ada angin tak ada hujan, tiba tiba ada seorang wanita masuk tanpa permisi, nafasnya sangat penuh amarah, tapi wanita itu tidak mengeluarkan sepatah katapun, siapakah dia?, kenapa dia hanya diam saja?, entah jam berapa suamiku pulang, begitu pintu terbuka, dia sangat kaget melihat wanita itu, tanpa basa basi wanita itu memanggilku dan bertanya siapa aku?, aku jawab apa adanya, lantas dia memaki aku dan juga suamiku, ternyata wanita itu istri syah dr suamiku, yg di nikahi secara negara alias kantor.
Derai air mata mengalir dan membanjiri ruang hatiku, ingin rasanya mengakhiri hidup saat itu juga, namun melihat bayi mungil ini, maka niat gila itu sirna. Ku pulang ke gubuk emak, emak kaget melihatku pulang cuma berdua, karena memang biasanya sebulan sekali kang Syahjudin selalu mengantarku ke gubuk emak untuk menginap, 2 hari 2 malam baru di jemput.
Rupanya istri kang Syahjudin adalah seorang kepala sekolah di kampung yg jauh dari kami, pantas saja tak tinggal di asrama karena jarak tempuh yang jauh, informasi itu aku dapatkan dari orang yang mengenal aku juga mengenal kang Syahjudin, dan pada akhirnya kang Shahjudin di pecat dari pangkatnya sekaligus istrinya minta cerai.
Singkat cerita, beberapa tahun aku hidup sendiri, fokus membesarkan adik adik saja, omelan emak udah seperti kidung rindu buat ku, pergi jam 6 pagi ke ladang orang, pulang jam 6 petang, laporan emak abis ini abis itu sudah tak ku gubris lagi, ada uang langsung ku kasih ke emak, begitu seterusnya hingga adik adik tumbuh besar.
Pada suatu hari ku utarakan pada emak ingin merantau ke kota, karena adik adik sudah gede jd aku agak tenang meninggalkannya, kota kembang masih menjadi pilihanku, kali ini bukan mencari Aceng tapi mencari goceng hehehe, canda dikit biar ga tegang.
__ADS_1
Karena minimnya pengalaman kerja ku, juga pendidikanku, maka hanya sebagai buruh cuci piring yg bisa ku jalani, Tapi kan hasil cuci piring di kota lumayan daripada buruh potong padi di desa, hari hari kulalui dengan penuh kesabaran karena ada suatu tekad, aku akan membawa kedua adik ku pindah ke kota, setiap habis gajian aku tak pernah main karena takut uang abis ga jelas.
Tak ada niat sedikitpun juga untuk menikah lagi, tapi rupanya Tuhan punya kehendak, aku di pertemukan dengan seorang lelaki lumayan tampan saat itu, kerjanya sebagai sopir bemo, ya waktu itu bemo sedang naik daun ya, hampir tiap hari dia datang ke tempat kerjaku, sebuah rumah makan kecil, dia selalu pesan makanan di warung ini, satu bulan berlalu hingga dia pun mengutarakan maksudnya, ya kesempatan emas buatku, apakah dia mau membawa kedua adikku?, dan jawaban sungguh di luar nalar aku, dia setuju bahkan emak juga boleh ikut katanya.
Setelah menikah kami semua di boyong ke sebuah rumah sangat sederhana di kawasan Sukajadi, aku di larang kerja hanya boleh di rumah saja, adik laki laki ku sudah agak remaja waktu itu, suka di bawa kang Endang narik tentu dapat upah dong, makanya adik lelaki ku sangat patuh karena suamiku sangat baik, masalah datang dari emak, emak selalu merajuk minta pulang, duh emak ada ada ajah emak, emak pun ke rumah kakaknya yg baru pulang dari Mekkah, emak ingin tinggal di sana katanya, duh emak bikin malu saja mak.Oh ya emak adalah keluarga besar, semua kakak kakaknya hidup layak karena selalu nurutin apa kata indung (panggilan kami ke nenek). Tapi emak ya nakal jadi indung tak peduli lagi sama emak.
Aku dan suami balik lagi ke Bandung, beraktivitas seperti biasa. 2 bulan berlalu, emak datang mengambil adik perempuanku dengan alasan sepi tak ada teman, emak juga ngabarin sudah ga ikut kakak nya, emak nyewa rumah katanya di daerah Nenggang di Garut, ya sudah itu mau emak aku tak bisa berbuat apa apa. Kami tiap bulan selalu menjenguk emak, seperti biasa, meskipun suami cuma sopir bemo, tapi ga pernah itungan, ngasih emak uang biar adik perempuanku ga kekurangan jajan. Namuuuuuunnnn hufh menginjak bulan ke 6 di kontrakan, emak hamil lagi buah dr nikah sirri yang punya kontrakan, aku marah?, tentu saja hingga aku malas untuk menengoknya, terserah siapa yang mau bayarin sewa rumahnya, terserah emak mau makan apa?, aku benci sekali sama ulah emak, benciiiiiiii hufh.
Di suatu malam tiba tiba teringat pada adik perempuanku yg di bawa emak, seketika rasa khawatir datang melanda, dan keesokan pagi aku mengajak suami berangkat ke Garut.
Dan ternyata emak sudah terusir dari sana sama istri juragan kontrakan, maluuuuuu ya ampun sangat malu dengan akibat ulah emak aku juga kena tunjuk saat itu, langsung bergegas menuju rumah kakak emak alias uwak, dapat petunjuklah di sana, bahwa emak menempati rumah kosong seorang dukun beranak di daerah Cipangla, ooohh sangat terpencil sekali. Dari jauh ku lihat anak perempuan kurus, kumal, dekil dan aku tak mengenalinya, segera ku ketuk pintu ma paraji (panggilan dukun beranak), dan bertanya keberadaan emak. Mak paraji bilang, ya nyi ini kan anaknya nyi Kasih (nama emak), hah! , anak perempuan kucel ini adalah adik sekaligus anakku?. Segera ku rangkul adikku, ku tangisi, ku ciumi, ah pokonya tak ada kata yg dapat mewakili perasaanku saat itu.
__ADS_1
Sebelum adzan maghrib berkumandang, emak sudah pulang, bukannya pekukan hangat yg kudapat, malah umpatan yg kuterima dr mulut manis emak, lagi lagi aku pura pura tuli, karena tujuanku hanya ingin menjemput adik perempuanku, tapi tidak di ijinkan, alasannya cukup masuk akal, perut emak tinggal nunggu hari buat lahiran, nanti tak ada yang manggilin emak paraji, esoknya kami kembali ke Bandung tanpa adikku.
Zaman dulu blm ada expedisi, jadi paket aku titip elf yang arah daerah emak, jam 2 siang biasanya paket sampe dan di titip di warung depan, dulu zaman super aman, lah adikku tiap hari asruk asrukan ke kebun ga ada tuh namanya culik, jadi ga waswas ninggalin lama lama juga.
Emak lahiran aku tak tahu, aku ke Garut bayi itu udah lahir umur 3 mingguan, kami pun memboyong emak, adik petempuanku dan juga bayi laki laki itu, kemana lagi kalau bukan ke sisian kuburan China ini, suara pemakaman militer bergelegar, kalau yang meninggal anggota militer, awalnya sangat takut tapi lama lama terbiasa juga, tiap hari masak nyiapin buat emak karena abis lahiran takut emak kurang ASI, tak terlihat ada kejanggalan pada emak, sampai suatu hari suami mengutarakan sesuatu padaku. Katanya emak sering minta uang di belakangku, tapi suami kan semua uangnya di kasih sama aku.Geram sekali dengar itu, bagaimana tidak?, makan minum tinggal ngambil, yg kurang tidur aku, ko berani banget emak minta uang di belakangku.
Suatu saat ada pencurian pagar pagar makam, ada yang hilang pintunya, ada yg hilang bundar bundarnya pagar, entah siapa yang mencuri, suamiku yang harus bertanggung jawab ganti, dari mana uangnya?. Selang 1 minggu, datanglah 2 orang bapak bapak berseragam militer, mengetuk tempat kami dan menyeret suamiku tanpa ampun, aku menangis dan mengikuti suamiku yang di seret dan di tendangi sepanjang jalan, di sana suamiku di masukan sebuah kamar yang sangat sejuk entah sangat panas yg jelas aku tak dapat merasakan apa apa lagi melihat suami bercucuran darah, ternyata semua ini ulah emak, emak melaporkan suami sebagai pencuri pintu besi kuburan, ya ampun maaaaaaakkkkk, tegaaaaaaa.
Rasa tak sanggup lagi berdampingan dengan emak, ku suruh emak pergi, ku kasih uang buat bekal emak, namun adik perempuan ku tahan karena takut tak terawat. Emak pun pergi membawa bayi laki laki hasil ga jelasnya.
Dua minggu berlalu suami bebas tapi harus pergi dari Pandu, kami pun mencari kontrakan dengan bekal seadanya. Entah hantu apa yg merasuki suami, setelah 3 bulan ngontak, suami mengirimku ke Garut, ada apa gerangan?.
__ADS_1