
Kebaikan Bapak tentu aku faham maksudnya, cuma aku bersikap biasa saja karena memang aku benar-benar lagi menikmati kesendirian.
Pada suatu hari Bapak bilang kalau anak mantunya mau datang mengunjungi Bapak. Bapak meminta tolong buat menyiapkan segala sesuatunya.
Aku menyanggupi permintaan Bapak, ya hitung-hitung balas budi sama Bapak yang selama ini sangat baik padaku.
Untuk pertama kalinya ku menginjakan kaki di rumah Bapak, rumah yang cukup luas dengan 4 kamar tidur. Pekarangan rumah yang di hiasi beberapa macam bunga, tentu saja sangat nyaman apalagi aku penyuka bunga.
Ku menata perabotan, bersih-bersih ruangan, memasak alakadarnya yang ku bisa. Tepat jam 5 sore ada mobil berhenti depan pagar, Bapak yang sedari tadi duduk sambil baca koran, langsung berdiri dan membuka pagar.
Turunlah anak pertama Bapak beserta keluarga kecilnya, mereka berebut mencium punggung tangan Bapak. Ku lihat Bapak sangat bahagia menyambut kedatangan mereka, rupanya itu anak pertama Bapak. Ganteng, ramah, sopan. Begitupun istrinya, sangat serasi mereka membuatku melayang ke masa lalu yang kejam.
Aku duduk di teras depan sambil melihat taman kecil samping rumah, sedang mereka di dalam lagi pada ngobrol. Aku tak mau tau apa yang mereka bicarakan, yang penting tugasku sudah selesai membantu Bapak.
Lamunanku sedang merambah jauh, tiba-tiba Bapak nyamperin aku dan mengajak ku masuk untuk makan bersama, ku menolaknya karena malu, tapi Bapak tetap memintaku untuk gabung makan bersama anak cucunya.
__ADS_1
Tak ada obrolan apa apa selain celoteh cucu Bapak saat itu, dan suara menantunya yang sibuk menyuapi si kecil. Usai makan segera ku rapikan meja dan peralatan makan yang kotor, menantu Bapak hendak membantu tapi ku tolak dengan alasan anaknya lebih penting.
Usai di dapur ku samperin Bapak ke ruang keluarga, hendak pamit pulang. Namun Bapak menahanku, katanya anak Bapak mau bicara penting sama aku. Ada apa fikirku saat itu.
Anak pertama Bapak namanya Asep. Asep perlahan duduk di depanku dan mulai bicara.
"Ibu, Bapak banyak cerita tentang Ibu sama saya," ujarnya sambil menghela nafas pelan.
"Bapak sudah cukup akrab dan mengenal Ibu, Ibu hidup sendiri, begitupun Bapak," kata Asep bicara sangat hati-hati.
Tersentak hatiku saat itu, Bapak ga salah kan Pa? Apa cuma main-main saja ya? Bisik hatiku.
"Tolong Bu, kalau sekiranya Ibu bisa menjadi istri Bapak, saya tenang Bu, silahkan rumah beserta isinya Ibu yang rawat, Ibu yang jaga, karena nantinya akan menjadi milik Ibu." Lanjut Asep penuh harap.
Aku meminta waktu untuk berfikir dan diskusi sama anakku perihal ini, biar nanti semua ku serahkan pada waktu.
__ADS_1
*****
Anaku menyerahkan semuanya padaku, karena aku yang akan menjalaninya, begitu ujarnya.
Selang beberapa minggu, tanpa di duga ketiga anak Bapak mengundang ku ke rumah Bapak. Tanpa menantu dan cucu Bapak, hanya ketiga anaknya saja.
Asep, Agus dan Rani. Mereka anak-anak berpendidikan semua, sangat sopan dan beradab. Mereka memintaku untuk menjadi ibu sambung mereka, guna merawat Bapak. Rani bungsu sangat manja, dia setengah merengek memintaku jadi ibunya. Tak berfikir panjang lagi, aku mentetujuinya.
Bulan berikutnya kami menikah di rumah Bapak dalam keadaan yang sangat sederhana. Keluarga Bapak lumayan banyak ternyata, kalau dari keluargaku hanya beberapa adik sebapak sama anak angkatku beserta suaminya.
*****
Aku di bawa menempati rumah Bapak dan menjadi nyonya baru di rumah Bapak, segala keperluanku di cukupi sama Bapak. Anak Bapak sering telpon menanyakan kabar kami, sesekali mereka gantian menengok kami.
Namanya usia kami sudah tidak muda lagi, kami pun kadang merasa sakit, meskipun cuma pusing atau pun badan pegal-pegal. Kami gantian saling pijit, saling carikan obat di kotak, intinya kami saling menjaga satu sama lain.
__ADS_1
Mudah-mudahan ini yang ke 14 kali pernikahanku sekaligus yang terakhir. Semoga dapat mencapai surga ridho Nya. Aamiin.