
Bag 4
Senyum malu malu saat ku samperin mereka, ooohhh ternyata mereka menyedot asep dari tembakau yang di bungkus pake kertas pahpir namanya kalau di kampungku lalu di lintingin jadi menyerupai roko, karena memang waktu itu jumlah roko belum seperti sekarang.
Satu persatu mereka menanyakan nama, dari mana asalku, ku jawab apa yang mereka tanyakan dan apa tujuanku saat ini tak lebih dari ingin bebas. Mereka mengajak ku ke sebuah rumah di sana ada sebuah keluarga yang menyambutku, baru aku tau ternyata mereka adalah anak buah dari keluarga itu, apa? anak buah? memang mereka bisnis apa?
Baru keesokan harinya ku tau tugas tugas mereka di pagi sampai siang hari, bangun semua sekitar jam 6 pagi lalu gotong royong beberes rumah, masak lalu kami di suruh sarapan dulu, masih belum menguasai keadaan tapi ku ikuti cara mereka saja biar tak menemui kendala.
Rupanya mereka di siang hari pada punya tugas, ada yang kerja cuci mobil di terminal, ada yang bantu bantu di warung makan, ada yang jualan makanan tentu saja barangnya ngambil dari orang lain, hitungan nya nanti adalah persenan dari pemilik dagangan. Sementara aku masih celingukan bingung belum punya pegangan, hanya mengikuti saja kemana mereka melangkah.
Selepas dinas mereka sekitar pukul 5 sore, mereka pun kumpul di tempat kemaren sambil merenung, ternyata mereka di tampung keluarga itu karena uang hasil kerjanya di serahkan pada keluarga itu, ooohhhh tentu saja aku berubah fikiran ga mau dong hasil cape harus jadi milik orang lain, tanpa pamitan ku menjauh dan berjalan terus berjalan hingga sampailah ke sebuah tempat yang lumayan rame.
Rasa lapar dan dahaga tak lagi kurasa hanya tekad ingin berubah, ku duduk di sebuah kios kecil ada jual mie rebus di sana, eeehhh pucuk di cinta ulampun tiba, tak berapa lama datang ibu sekitar usia 50 thn an waktu itu, bertanya ini itu ku jawab selurus mungkin, ibu itu habis ngunjungin anaknya yang tinggal di Bandung, beliau hendak pulang ke Jakarta tepatnya daerah Klender waktu itu, entah mengajak dengan tulus ataukah hanya basa basi, tapi ku jawab dengan tangkas bahwa aku mau ikut ke Jakarta, bus yang di tunggu pun datang kami segera naik dan mengambil tempat duduk tepat di deretan sopir karena lebih aman kalau terjadi kecelakaan tak akan terlalu parah, karena sopir kalau menemui kendala jelas akan banting stir ke sebelah kiri maka kami duduk sebelah kanan.
Entah berapa jam perjalanan kami sampai tujuan tengah malam kayanya, keadaan sudah sangat sepi mungkin sudah pada tidur fikir ku saat itu, ibu Ika nama Ibu penolongku kali ini, pakaian sederhana rumah pun nampak sederhana tapi luas, ternyata Ibu Ika tinggal cuma berdua sama suaminya, anaknya sudah pada berkeluarga salah satunya tinggal masih dekat dengan rumah Bu Ika, hampir tiap hari mereka datang main dan makan di rumah Ibu Ika, pantas saja menantunya sayang sama Ibu Ika, karena mertuanya sangat baik pada anak mantunya, aaaahhh andai Bu Ika masih punya anak bujang, mau deh aku di pinang hehehehe.
Tinggal di rumah orang lain tanpa komitmen apa apa saat itu terasa nyaman ajah yang penting bisa makan, minum dan tidur, masalah tenaga yang ku keluarkan buat bantu bantu di rumah tak masalah. Entah berapa lama tinggal di rumah Bu Ika sampai lupa untuk menghitungnya, meskipun tak di gaji sama tuan rumah tapi uang selalu ku kantongi, dari mana? tentu saja dari anak mantu Bu Ika kalau datang mengunjungi orang tuanya.
__ADS_1
Sampai pada suatu hari, entah ibu main dukun atau memang naluri seorang anak, tiba tiba rasa kangen akan sosok ibu muncul tiba tiba dalam benakku, semalam suntuk tak bisa tidur hingga esok pagi selesai bantu bantu, ku utarakan maksudku untuk pamit pulang pada keluarga Bu Ika, ya beliau sangat faham dengan keadaanku dan mengijinkan pulang esok pagi tentu saja di antar sampai terminal dan di titip ke sopir.
Singkat cerita ku sampai ke kampung halaman, ku lihat anak laki laki yang asyik bermain usianya sekitar 2 thn lebih, ohhh itu mungkin adik ku Supyadi, ku bawa tas berisi pakain yg di kasih anak mantu Bu Ika, sendal dan asesoris wanita .
Sebelum sempat memanggil ibu, ternyata ibu sudah berdiri depan pintu, jleb langsung muka pucat pasi hati bagai di sandera tanpa kata.
"Juleha, emak minta maaf Juleha, selama ini emak sering menyiksa kamu". Begitu kata emak seraya memeluk tubuhku. Jelas tak bisa berkata apa apalagi aku waktu itu cuma diam tanpa ada suara.
Dua minggu berlalu datanglah seorang laki laki yang usianya belum terlalu tua tapi juga tidak muda, namanya Asop duda anak 1, seperti sebelumnya ibu tak meminta pendapatku langsung terima saja.
Asop penyayang juga baik tak banyak nuntut selain pagi pagi minta di bikinin kopi item sebelum berangkat kerja, oow masalah baru muncul dari si anak tiri yang selalu ngamuk kalau bapaknya tidur sama aku, akhirnya bapaknya selalu tidur sama bocah rewel itu. Tau mungkin perasaanku kan seperti apa?, bahagia karena dapat suami baik meskipun duda tapi jengkel juga karena sikap anak tiri yang kelewat manja. Asop selalu menguatkan hatiku dengan kata kata lembut, katanya sabar ya Nyi, Uwan kan masih kecil baru juga umur 5 tahun, nanti juga kalau udah agak gede pasti mengerti, ku anggukan kepala meski hati sangat keseeeeelllll banget.
Enam bulan berlalu, masalah datang dari mantan istrinya Asop, dari mulai sering nemuin anaknya sering ngajak anaknya nginep di rumahnya, sampai berani minta uang sama Asop buat keperluan pribadi. Awalnya ku biarkan yang penting Asop masih bertanggung jawab menafkahiku, sampai pada akhirnya Asop beberapa malam tak ada pulang ke rumah dan ternyata Asop nginep di rumah mantan istrinya alasan nemenin anak. Hancuuuuuuurrr hati Juleha maaaaaakkkk,,, tepat 1 tahun pernikahan ku sama Asop hal buruk terjadi maaaaaaakkkk.
Tanpa fikir panjang ku minta cerai dari Asop tapi Asop tak mau menceraikanku, sampai pada suatu senja, Asop belum pulang ke rumah, rumah jaman dulu seperti panggung gituh, pake papan dan kolongnya bisa buat ternak ayam atau pun sekedar buat main anak anak sambil mencari hewan tanah, apa ya namanya kalau di kota, kalau di kampungku sih namanya undur undur. Huum kesempatan emas nih ga akan ku sia siakan, anak Asop tengah asik bermain di kolong rumah, cepat cepat ku nyalakan tungku dan merebus air segayung, begitu mendidih ku guyurkan air itu dari papan atas tepat di bawahnya anak tiriku main, lalu tau kan apa yang terjadi? Yaaaaa anak tiriku yang malang tersiram air mendidih, dia teriak kepanasan nangis sambil loncat loncat menahan pedihnya air panas itu, ya selamat menikmati bocah ***** itu balasan ulah ibu bapakmu padaku.
Rupanya Asop faham dengan musibah itu, segera Asop mengantarkanku ke rumah emak, ya emak karena kalau kupanggil ibu terlalu bagus hehehe, Asop menutupi kelakuanku mungkin karena takut juga kelakuan dia ku bongkar di depan emak, jatuhlah talak 1 dari Asop untukku dan Asop pun segera pergi dari hadapan kami.
__ADS_1
Eeeeiiittt emak mukanya mulai ga enak di liat nih, segera ku cari obrolan yang sekiranya bikin emak bahagia, apalagi selain obrolan duit, emak sangat sumringah waktu ku bilang mau ke Bandung buat kerja tapi nunggu 3 harian ya mak, biar badanku rehat dulu kataku,emak tentu mengangguk dong kan Neng Juleha mau gawe cari duit buat emak hehehe.
Bandung tentu ada yang ku tuju di kota kembang ini yaitu Aceng barangkali masih ingat sama anak ingusan yang pernah di tolongnya, beruntungnya aku akhirnya di pertemukan sama Aceng sang kakak angkatku, Aceng begitu kaget melihatku mungkin mukaku udah agak dewasa kali ya.Selepas Aceng oprasi,
Aceng mengajakku nongkrong di warung kopi langganannya, srupuuuutttt srupuuuttt minum kopi sambil ngunyah bala bala alias bakwan istilahnya, cerita ngalor ngidul hingga lupa waktu hihihihi temu kangen ceritanya. Minta kerjaan lagi ke Aceng tapi ga mau yang nginep pingin yang pulang pergi, Aceng nawarin bantu bantu di warung nasi dari jam 6 pagi sampe jam 9 malam, siaaappp laksanakan lepas kerja pulang ke mess kosong tempat dulu pernah tinggal.
Di suatu hari ada pelanggan laki laki memesan nasi rames, segera ku layani tanpa canggung karena telah terbiasa, abis makan bayar dan pergi, e e eh tiap hari orang itu datang buat makan dan tak pernah ambil kembaliannya, wah ras GR mulai menghantuiku, apa mungkin dia suka padaku ?.
Sampai pada suatu malam lepas ku kerja menuju mess, dia ada mengikutiku, aaahh mungkin kebetulan saja fikirku, tapi ga salah dia mengikutiku sampai pintu mess, sontak saja aku kaget di buatnya juga takut sama Aceng, huum tapi segera ku balik badan dan nanyain tujuan dia ke mess, mungkin saja kan dia temannya para sopir?. Tapi dia jawab jelas tujuannya mau ketemu sama aku, aaaahhh manusia ganteng kenapa baru sekarang kita ketemu?,tak berani membawa masuk orang asing ke dalam kamarku, kita pun janjian di luar buat ketemu biar bebas bicara banyak.
Lelaki tampan itu bernama Erwan duitnya lumayan tebal menurutku waktu itu, buktinya aku di traktir jajan baso, di beliin gulali harum manis, sate keong dan beberapa ikat rambutan untuk oleh oleh ke mess. Aaaahhh andai waktu itu udah ada KFC, MC'D, Pizza Hut pasti ku pilih Dunkin Donuts hehehe, sayang jaman remaja belum ada makanan makanan seperti sekarang.
Kang Erwan sangat baik juga supel, mudah akrab dengan Aceng dan memintaku untuk menjadi kekasihnya, Aceng memberi kelonggaran padaku artinya semua terserah aku, maka ku terima Kang Erwan jadi kekasihku.
Erwan menempatkan ku di sebuah kontrakan yang terbilang tersembunyi, alasan Erwan sederhana karena belum menikah, statusku yg janda 2x tak begitu rumit mengartikan maksud Erwan ya karena aku juga suka sama dia jadi ga salah dong kalau kita berakit bersama? .
Walau belum menikah tapi Erwan cukupi segala kebutuhanku dari makanan, pakaian, uang dan waktu buat jalan jalan meski hanya cari angin dan sekedar jajan sate keong saja. Nikmat hidup benar benar ku rasakan, bak seorang ratu yg mendampingi raja di singgasana, bulan madu terlarang pun kita tunaikan saling memburu dalam gulita malam, jangan tanya kenapa aku serendah itu ya , karena nikah depan emak pun percuma ya kalau panjang usia pernikahannya, nah kalau seperti yang sudah sudah bagai mana?. Semenjak ngontrak sama Erwan langsung aku undur diri dari pekerjaanku, pamit baik baik sama ibu warung nasi, pamit juga sama Aceng biar kalau ada apa apa tak malu buat minta bantuan lagi.
__ADS_1