Menikah 14 Kali

Menikah 14 Kali
Bab 10


__ADS_3

Hidup sendiri di usia senja tentu bukan hal yang ku inginkan, meskipun sering hidup sendiri dan sudah terbiasa, namun tetaplah ada rasa sepi kembali menemani.


Terkadang aku merasa benci dengan kehidupan yang ku jalani, namun aku belajar bahwa aku harus yakin Tuhan begitu menyayangiku hingga sampai detik ini masih mengujiku.


Kembali ke rutinitas, pagi seperti biasa bebenah kamar kontrakan yang memang cuma satu petak, rasanya ingin sekali di usiaku saat ini, aku menempati sebuah rumah agak luas. Namun aku kembali ke kata mustahil.


Belajar bisnis dari barang orang adalah kegiatanku, ada yang bayar cash ada juga yang ngutang dari satu minggu hingga satu bulan. Alhamdullillah yang punya barang sangat mengerti keadaanku.


Pulang dari rumah teman tanpa sengaja aku bertemu Ayah mantan suami ke 12 ku, dia mengajak makan dan memberi uang jajan. Namanya rejeki ga boleh di tolak, pamali kata orang tua. He he he


Ayah sering nelpon aku dan memberi uang saku padaku, bahkan ayah ngajak rujuk lagi, tapi ku tolak karena lebih nyaman hidup sendiri. Ayah faham dengan isi hatiku, namun Ayah selalu berpesan kalau perlu apa-apa hubungi Ayah.

__ADS_1


Setelah beberapa bulan hidup sendiri, pulang pengajian rutin tanpa sengaja aku bertemu Yana, manusia kejam yang rela berselingkuh dengan badut dan membiarkan istri tersiksa. Ku fikir perkawinan Yana dengan badut bernama Fani itu bahagia, tapi malah sebaliknya. Yana menyuruhku naik kemotornya, dia bilang ada hal yang ingin dia sampaikan. Aku tak menolaknya karena aku sangat ingin tau cerita hidupnya.


Masuk rumah makan sangat sederhana, Yana memesan makanan yang sangat sederhana pula, dia tak habis memujiku, ya sekarang badanku berisi, kulitku tetap bersih, 


bahkan ku pakai perhiasan yang di belikan adiku dulu waktu adik belum menikah.


Yana cerita kehidupan dia dengan istrinya sangat sengsara, gaji dia sebagai PNS tak mampu mencukupi kebutuhan keluarga barunya. Gali lobang tutup lobang itulah yang Yana lakukan saat ini, hatiku tertawa? Tentu saja, hatiku puas? Jangan di tanya. Liat pakaian Yana sangat lusuh, muka kucel bukan kepalang, katanya harta istrinya juga habis di jualin.


"Ga apa apa kang, semua sudah jalan hidupku harus begitu, kan waktu kamu kena PHK, waktu kamu jadi pengangguran, waktu kamu baru jadi guru honorer, yang setia menemani kamu ya si jelek, si miskin," timpalku dengan nada agak kesal.


Lalu aku melanjutkan semua ucapanku demi meluapkan kekesalan yang membelenggu hatiku. "Setelah ada kabar kamu bakal di angkat jadi PNS maka si cantik dan si kaya yang kamu pilih untuk menikmati kebahagiaan denganmu.

__ADS_1


Yana terlihat begitu terpukul dengan ucapanku, dia menunduk dan ku lihat ada rasa kecewa dan sesal dari raut wajah dan matanya.


Mata Yana berkaca-kaca, apa? Yana menangis? Bukankah lelaki itu dulu sangat gagah waktu berkacak pinggang di depanku? Waktu membela perempuan iblis itu?


Yana meminta maaf karena dulu menjatuhkan air mataku yang tak terhingga, ibunya Yana selalu menyuruh Yana untuk mencariku guna meminta maaf. Aku sudah memaafkan tapi tak bisa melupakan apa yang sudah mereka lakukan padaku. Yana memintaku rujuk, sungguh jijik aku mendengarnya. Setelah puas dengan cerita pahitnya, ku kembali ke kontrakan dengan hati penuh bahagia.


Hampir satu tahun hidup sendiri, rasa sepi mulai pergi. Tanpa mimpi atau petunjuk, pagi-pagi sekitar jam 10 datang laki-laki seusiku. Aku fikir orang salah alamat, namun beliau nanya namaku, aku persilahkan masuk dan aku bikin secangkir kopi buat tamu. Beliau cerita ngalor ngidul tentang anak-anaknya, menantu dan juga tentang cucunya. Istri beliau meninggal sudah lama, aku ga begitu fokus karena ga penting buatku.


Aku tersentak begitu beliau bertanya tentang ku, kaget setengah mati rasanya, siapa orang ini? Ada maksud apa datang ke sini? Ya meskipun hati masih di liputi penasaran, namun ku tetap cerita apa adanya. Dari saat itu beliau sering mengunjungiku, bahkan beliau yang bayarin kontrakanku tiap bulan. Ku memanggilnya Bapa, Bapa sangat sopan, kalau mau mengajak makan keluar, selalu bertanya terlebih dahulu, takutnya aku lagi sibuk, begitu kata Bapa.


Aku merasa sangat nyaman, merasa di hargai, dan merasa menjadi manusia pada umumnya. Bapa seorang duda anak tiga, anak Bapa laki-laki dua orang dan sudah menikah. Yang cikal punya anak dua masih TK dan usia 2 tahun. Yang ke dua punya anak 1 masih usia 1 tahun, sedang yang bungsu perempuan kuliah di ibukota.

__ADS_1


__ADS_2