Menikah 14 Kali

Menikah 14 Kali
Bab 9


__ADS_3

Ayah sangat perhatian sekali, namun tak pernah ada kala malam hari, ya karena ayah punya keluarga, kenapa aku mau menjadi istri sirrinya? Karena istrinya mengijinkan secara lisan pada ayah, dengan syarat jangan sampai istri pertama tau wajah istri sirri ayah.


Ah seperti sinetron ya cerita hidupku? Ayah ga mungkin menikahi resmi aku karena ayah pensiunan TNI, uang pensiun ayah mutlak hak milik istrinya. Yg di kasihkan buat belanja dapurku adalah uang sampingan sebagai sopir pic up aspal.


Aku cukup tenang dan nyaman hidup seperti sekarang, namun kebahagiaan rupanya tak membiarkanku larut dalam keadaan. Masalah datang dari anak sulung ayah yang selalu datang memakiku.


Aku hanya diam tanpa suara ketika anak sulungnya menunjuk nunjuk mukaku seraya mencelaku, nangis dalam diam tentu menyakitkan.


Aku mengadu pada ayah, oh rupanya Dewi yang datang. Ya Dewi anak ayah yang paling berani di keluarga. Ayah sibuk menghubungi teman teman nya untuk mencarikan kontrakan untuk ku.


Di tempat baru adaptasi ulang dengan lingkungan baru, alhamdullilah semua tetangga baik padaku. Empat bulan berlalu, lagi lagi Dewi datang kembali, jam 2 siang dia datang karena biasanya jam jam segitu ayah ada istirahat di tempatku. Nihil Dewi karena ayah kebetulan ada kerjaan di luar kota hingga udah tiga hari ga ada datang padaku.


Hidupku mulai tak tenang kembali, bukan masalah takut sama Dewi, tapi lebih pada rasa malu pada tetangga. Dewi sangat lantang dalam bicara.


Pas satu minggu ayah datang, aku cerita semuanya. Ayah diam seribu bahasa, aku minta pisah karena aku tak mau selalu jd kambing hitam. Karena yg datang awal ayah, yg ngajak nikah ayah. Sekarang yg kena caci maki ko aku, sungguh tak adil ku rasa.


Ayah janji tak akan membiarkan Dewi berani datang lagi, ya ternyata memang benar Dewi tak pernah menampakan batang hidungnya lagi di hadapanku.


Makin lama penghasilan ayah makin menurun, ada buat kontrakan tak ada buat makan, mungkin inilah kalau suami hasil mencuri.


Aku mulai cari lagi kerjaan, sebagai asisten rumah tangga alias pembantu tapi ga nginep cuma dr jam 8 pagi sampai jam 2 siang saja.


Dalam rasa letih luar biasa, adik pulang dari Singapura. Mencari ke alamat lama dan di antar sahabat baik ku hingga ke alamat yg di tempati sekarang.

__ADS_1


Adikku sangat prihatin melihat keadaanku, cuma seminggu di Bandung lantas berangkat lagi ke Jakarta menuju sebuah PT buat proses ke Timur Tengah.


Tiga bulan proses adikku di terbangkan ke Mesir. Adik berpesan agar aku pisah sama ayah biar nanti di kirim uang dari Mesir buat modal usahaku.


Dua bulan adik kerja di sana sebagai pengasuh anak, pagi pagi adik nelpon ngabarin mau ngirim uang gajinya. Uang gaji dua bulan di sana banyak ya ternyata.


Selalu per dua bulan adik kirimin aku uang, salahnya aku terlalu boros. Uang yang di kirim selalu habis buat makan dan bayar kontrakan. Tapi adikku tak pernah membahasnya malah bilang dia enam bulan ga akan kirim uang, biar nanti udah kumpul baru di kirimin.


Ya selama enam bulan itu aku biasakan buat kerja kembali, tepat bulan Desember thn 2012 adik mengirimkan uang gajinya yg enam bulan itu. Aaaaahhh aku terlalu girang bak dapat lotre, uang itu aku belikan HP, bayar kontrakan buat 2 bulan, bayar ke warung bekas utangan, hingga uang hanya tersisa 1 juta.


Seminggu kemudian adik cari info sama suaminya adik yang sebapa sama aku, di pake apa uang itu, adik ipar jawab jujur karena memang itu yang terjadi, marahlah adikku saat itu. Ya aku salah terlalu boros, harusnya uang itu aku pakai modal usaha.


Adik sangat marah rupanya, hingga dia lari ke KBRI buat minta bantuan proses pulang. 11 bulan adikku di KBRI karena kasus lari itu.


Aku udah lama pisah sama ayah, meski sesekali ayah nelpon dan mengunjungi ku sekedar ngasih buat jajan dan bawain makanan.


Cuma tiga hari adik tinggal di Bandung, sudah berangkat lagi ke Tanjung Pinang buat proses ke Malaysia. Adik memang gila kerja bukan gila kawin sepertiku.


Rupanya cuma 3 bulan adik di sana, kembali dalam keadaan kucel, muka rusak flek hitam memenuhi wajahnya yang terhitung mulus saat itu. Adik tak nyaman kerja di Malaysia karena kerja dua tempat, rumah dan toko.


Adik memutuskan buat kerja di Bandung di sebuah spa karena kebetulan adik bisa mijit. Bukan plus plus ya hanya teraphis biasa hehehe. Adik melarangku buat kerja dan segala kebutuhanku dari kontrakan, beras hingga ***** bengek kosmetik adik yg tanggung.


Nasib baik berpihak pada adik, adik dapat kenalan seorang laki laki bujang, selang 45 hari mereka menikah dalam kesederhanaan.

__ADS_1


Adik mengandung 3 bulan dan memilih pindah mencari rumah yang agak luas, aku turut serta buat jagain adikku.


Dua tahun aku ikut mereka, rasa mulai jenuh dan tak kerasan saat itu, aku putuskan untuk misah kembali dan tinggal di kontrakan sepetak lagi.


Lagi lagi aku masih di berikan laki laki yang mengajak ku menikah, aaaahhh aku menolak nya karena malu sama usia. Namun dia tak begitu saja menyerah setiap kali aku menolaknya. Makin aku menolak maka dia makin mendekat.


Lama lama hati ku luluh juga dengan sikap baiknya, semua orang memanggil dia Apih, aku pun ikut ikutan memanggilnya Apih.


Kami menikah yang jadi wali adik laki laki sebapak ku, memang di awal Apih sangat perhatian. Kerjanya Apih di sebuah catering, namun kalau catering lagi kosong dia narik ojek. Aku berharap Apih yg terakhir. Ya yang ke 13.


Namun cerita berubah menginjak satu tahun rumah tangga, mulai acuh dan ga begitu mempedulikan ku. Untuk cerita sama adik pun malu rasanya karena sempat menentang waktu itu.


Dua tahun kandas sudah, berawal dari sakit ku yang tak kunjung sembuh, 3x ke dokter selama tiga minggu itu. Namun bukan nya membaik malah memburuk. Dia tak ada merawatku sama sekali, bahkan lebih mementingkan yang ga penting di banding menemaniku yg sedang tak berdaya.


Adik sebapak ku nlp anak angkat ku dan menceritakan keadaanku, maka malam itu juga anak beserta suaminya menjemputku untuk di rawat di rumahnya.


Ke dokter cuma 1x saja, setiap pagi sudah terhidang sosis rebus panas, roti dan segelas susu. Makanan selalu tepat waktu masuk mengisi perut ku. Air hangat buat mandi pun selalu tersedia seusai aku sarapan.


Apih yg seharusnya merawat malah raib entah ke mana, hanya 2x datang itu pun hanya nganterin rebus cacing tanpa bertanya kabar aku. Yg ke 2x datang hanya nganterin nasi beserta lauk saja tanpa memberiku uang bekal sepeserpun juga.


Dua minggu aku di rawat anakku, mulai sehat kembali. Mungkin di sana tak kunjung sembuh karena tak ada yang memperhatikan makanan ku. Bagaimana tidak, suami nganterin bubur jam 11 siang, nganterin lagi makanan jam 8 mlm. Hufh karma apa ini ya rabb?


Setelah sehat aku minta pulang, aku sengaja nelpon suami ku biar dia yang jemput. Ku nelpon dia jam 10 pagi, dia datang jam 2 siang, lucunya dia datang hanya teriak dari bawah menyuruhku lekas turun karena takut keburu hujan. Orang tua macam apa ini? Datang tak ada permisi, tak ada ucapan terima kasih karena istrinya telah di rawat.

__ADS_1


Setengah perjalanan pulang tanpa aba aba hujan langsung menyerang kami, beberapa kali aku minta berhenti buat berteduh, namun dia terus saja tancap gas hingga aku basah kuyup. Sampai kontrakan pun dia cuma menurunkan aku dan barang bawaanku, lantas dia pergi tanpa sepatah katapun


__ADS_2