Menikah 14 Kali

Menikah 14 Kali
Bab 6


__ADS_3

Cerita sebelumnya Julia hendak di antar pulang ke Garut ya? Ternyata selama tiga bulan hidup bersama di kontrakan tanpa kehadiran emak, hati kang Endang tak tenang, bukan kangen sama emak, tapi benci luar biasa. Saat bersamaku pun hatinya kang Endang selalu di liputi kebencian, hingga kang Endang mencari tau keberadaan emak tanpa sepengetahuanku. Pagi pagi sekali kang Endang menyuruhku siap siap berangkat, alasan nya biar sampai Garut belum terlalu panas.


Sepanjang perjalanan tak ada obrolan antara kami, suasana hening seolah kita tak saling mengenal, akhirnya sampailah kita di terminal tujuan. Lalu kami jalan kaki karena kata kang Endang dekat letaknya, memasuki sebuah gang lalu sampailah kami di sebuah kontrakan anyaman bambu alias bilik, ku lihat adik perempuanku sedang main karet tali, apa maksud kang Endang? Belum sempat aku bertanya tanganku segera di tarik buat masuk ke rumah tersebut, hufh sesak seketika rasanya, pandanganku berasa kabur tatkala ku melihat kembali wajah emak.


"Mah, maaf papah ga bisa ngasih tau mamah sebelumnya, papah ada kerjaan ke Sumatera, jadi papah fikir lebih baik mamah di sini dulu biar ada teman", kata suamiku membuka pembicaraan. "Tapi berapa lama pah? Tanyaku dengan rasa khawatir, "setelah beres papah langsung jemput mamah", jawab suamiku. Rupanya kang Endang saat itu berbohong, dia memang sengaja membuangku karena rasa sakit hati yg di bikin emak. Semenjak kepergian kang Endang, aku mencoba cari kerja semampuku, adik perempuanku sudah saatnya masuk sekolah, sehari hari emak aku udah ga mau tau lagi, ada yg butuh pegawai buat di pasar, lumayan di jongko sayur saat itu, mendapatkan upah harian, makan 1x di kasih.


Dua bulan kepergian suamiku, ku selalu merindukan kang Endang datang menjemput, namun lagi lagi pil pahit yg harus ku telan, pulang dari pasar jam 2 siang, ada wanita menungguku, tanpa basa basi dia sodorkan 2 buah buku nikah, aku belum faham dengan situasi ini, ku buka buku itu, ada foto suamiku dan foto wanita itu, eh ko mataku basah ya, air mata mengalir bak anak sungai di pipi ini, apa maksudmu kaaaaaaaaaaaanngggggg?.

__ADS_1


Dalam situasi kalut ini, emak mencoba mengambil hatiku, menghiburku seolah tak pernah terjadi apa apa, adik perempuanku selalu memanggil mamah padaku, rupanya anak itu tak tau kalau aku cuma kakaknya saja. Emak bilang aku harus fokus, aku masih muda, masih bisa berjalan tegak walau tanpa sandaran, aaahhh bulshit emak itu, rencana apa coba yang sedang emak fikirkan? Tanpa pamit ke emak, aku pergi menyusul kang Endang ke Sukajadi, tapi nihil, lanjut ke kontrakan kita, tak ada juga, ku datangi pangkalan bemo barangkali kang Endang narik lagi, tapi gelap, malam itu aku nginep di rumah temanku daerah Pandu, keesokannya baru kembali ke Garut, bukan demi emak tentunya, tapi demi kedua adikku yang selalu manja memanggilku mamah.


Di kontrakan sana benar benar tidak nyaman, tiap ada tamu yang datang, tetangga selalu kepo, selalu bertanya tamu dari mana, ada tujuan apa, kenapa sering ke sini? Gerah kan kalau terus terusan seperti ini, sigap ku cari kontrakan baru, kami pun pindah, setelah menempati sekitar 4 bulan, adik ku yang kerja di Bandung datang, tentu ku sambut dengan sukacita, namun dua bulan kemudian dia berulah, ya Allah emak hanya menumpuk kan segala masalah di pundaku, bagai mana tidak, adikku macarin dua gadis sekaligus dan parahnya mereka kakak beradik, dari sana morot dari sini pun morot, alhasil mereka tau dan ga terima, salah satu dari mereka menyuruh orang buat membunuh adikku, untunglah ada orang baik memberitahuku masalah ini, emak cuma bisa mengeluh, sementara otak ku di peras buat mikir, ku sembunyikan adik ku di majikan ku, biar dia tidur di pasar tempat ku kerja, tengah malam orang suruhan itu gedor pintu, ku buka sambil gemetar, dia nenteng golok yang keliatan sangat tajam, namun ku coba bicara pelan hingga orang mabuk itu pergi tanpa pesan. Begitulah hari hari kami selalu mencekam, tanpa rasa takut pemuda itu datang tak tau waktu, akhirnya aku pergi ke kantor polisi, alhamdullillah bapak polisi cepat gerak, namun pemuda itu tak di temukan di mana mana, entah di mana mahluk itu sembunyi, hari ke tiga barulah pemuda itu dapat di temukan dan di amankan, dia sedang berada di tengah kebun bambu dan sedang santai menggunakan narkoba yang di suntik di lengan lantas tangannya di irisin pisau lalu di **** darahnya, amanlah kami dari rasa takut, selama seminggu aku mondar mandir ke kantor polisi guna memberi keterangan.


Kapan hidupku akan menemui ketenangan? Rasanya lelah menjalani hidup ini? Apakah semua anak cikal mengalami hal ini? Hanya karena melihat adik adik yang masih kecil saja yang bisa membuatku terus bertahan, kehadiran adikku yang telah dewasa hanyalah sebuah bumerang buatku.


Akhirnya aku bertemu seorang duda anak tiga, namanya kang Dadang asli Garut, benar nenar perfect dia itu di mata aku, sayang sama keluargaku terutama sama adik adik yg masih kecil, bukan tidak kapok nikah dalam kegalagalan, tapi aku butuh sosok bapak buat kedua adikku, aku juga cape kerja sendiri untuk menopang beberapa nyawa, kami menikah di rumah bapakku dan jelas tak ada pesta cuma kumpul kelurga saja, kang Dadang dr awal udah jujur tentang kerjaannya yg hanya penarik becak, tapi melihat dia sangat dekat dengan adik adikku atau lebih tepat anakku, maka aku menerima dia dengan lapang dada.

__ADS_1


Rupanya selama ini kang Dadang mencari nafkah di Bandung, waktu bertemu aku kang Dadang abis nengok anaknya, aku pun di bawa pindah ke Bandung beserta anak anakku, bagaimana dengan emak? Tentu saja emak turut serta dengan alasan buat jagain anak anak. Kang Dadang orang yg sangat penyabar, selalu mengalah.


Tak terasa anak perempuanku udah kls 4 SD, kami masih menempati rumah kontrakan yg agak luas tentunya karena anak anak mulai besar, kang Dadang berniat usaha sambilan sebagai pedagang bunga, tentu dong aku dukung sepenuhnya, mulailah dia beli benerapa pot bunga dan di taro depan rumah, karena memang ada terasnya, para tetangga mulai berdatangan dan memesan beraneka ragam bunga, alhamdullillah ucap syukur tak henti ku ucapkan, saat usaha sampingan kang Dadang mulai membuahkan hasil, emak kepergok sedang meminta uang sama kang Dadang, padahal tiap hari aku selalu memberikan uang jajan untuk emak.


Lama lama banyak berita pedagang besar bunga sering kehilangan bunga, selang seminggu datanglah 2 orang polisi ke kontrakan kami, menuduh kang Dadang pelaku pencurian bunga bunga itu, tentu kang Dadang berontak karena kang Dadang membeli bunga itu dr sahabatnya yang jualan bunga, polisi ga mau tau dengan alasan apapun dari kami, bahkan polisi meminta kang Dadang ikut ke kantor, ternyata yg buat laporan itu adalah emak, apa salah kang Dadang sama emak? Seminggu berlalu kang Dadang di nyatakan tidak bersalah. Kang Dadang pulang dalam keadaan yang sangat kucel, kasian sekali aku melihatnya, emak tanpa wajah dosa malah memberi ceramah pada kang Dadang, rupanya kang Dadang diam bukan tak berani melawan emak, namun kang Dadang menghargai perasaanku.


Keesokan harinya, kang Dadang pamit kerja, tapi waktunya pulang dia tak kunjung datang, gelisah melandaku takut terjadi apa apa pada suamiku, pagi bertemu pagi kang Dadang tak jua muncul, sampai seminggu ku sabar menunggu namun tak ada tanda tanda kalau kamg Dadang akan pulang, untunglah aku sering di ajak main ke rumah kakaknya, lumayan jauh tapi aku masih ingat betul tempatnya. Ternyata benar saja dia ada di sana dengan badan yg lusuh tak terawat, aku membujuknya buat pulang tapi kang Dadang ga mau dengan alasan emak, saat itu aku di suruh memilih, kalau mau kang Dadang pulang tapi emak harus pergi, kalau mau emak tetap tinggal maka kang Dadang yang akan pergi. Tentu saja aku memilih kang Dadang yang tinggal bersamaku.

__ADS_1


Sepanjang perjalanan ku bulatkan tekad untuk meminta emak pergi, bukan tanpa alasan tapi suami sakit hati karena ulah emak, kata suami kalau pun misalnya benar mencuri sebelum lapor polisi kan emak berhak buat menegur kalau memang salah, lah ini langsung ajah main lapor polisi, malu sama tetangga, udah kita keadaan ngontrak, kerja cm narik becak, masa iya kita bumbui dengan mencuri? Ya malu sekali rasanya waktu suami di giring pak polisi. Emak tak terima waktu ku kasih uang buat ongkos pulang ke Garut sama buat bekal, emak ngamuk marah dan tentu mengeluarkan kata kata yg kurang pantas di ucapkan ibu pada anaknya, emak beresin semua pakaiannya, juga perabot dapur miliknya dia masukin ke dalam karung. Lalu emak pergi tanpa membawa kedua adikku yg menangis pingin ikut, aku menenangkan anak angkatku hingga diam tak ada lagi tangis, esoknya ku jemput kang Dadang ke rumah kakaknya.


__ADS_2