Menikah 14 Kali

Menikah 14 Kali
Bab 7


__ADS_3

Sekembalinya kang Dadang ke kontrakan, cibiran tetangga tetaplah terasa pedih, lantas kami pun pindah kontrakan ke tempat yang tidak mengenal kami.


Di tempat baru kang Dadang usaha lebih giat, berangkat pagi sekali dan pulang lepas isya kadang jam 9 malam baru sampai kontrakan. Tak berani nanya apa apa karena tiap datang mukanya kang Dadang keliatan sangat lesu, uang hasil narikpun makin hari makin menyusut.


Entah dapat ide darimana, kang Dadang tiba tiba menawarkan kerjaan padaku, bukan kerjaan yang ku geluti selama ini sebagai tukang cuci piring, tapi kerjaan untuk kencan dengan laki laki hidung belang, aku berontak tapi tak mampu melawan keadaan memang anak anak perlu dana lebih untuk perkembangannya.


Memulai aktivitas baru, diantar kang Dadang menemui seorang lelaki di sebuah tempat, kami berkenalan lanjut makan dan saat itu hanya sekedar ngobrol saja, itu pun di temani kang Dadang jadi masih titik aman untukku, kami pun pamit pulang lantas dia menyelipkan uang yang jumlahnya lumayan besar untukku saat itu.


Lama lama laki laki itu di sebut kang Dadang adalah tamu, ke mana mana becak kang Dadang yg mengantarku, sampai suatu saat kang Dadang mengantarku ke sebuah Hotel Melati, katanya ada tamu menunggu di sana. Aku tak ada fikiran buruk saat itu karena selama ini aku sama tamu tamu itu sekedar ngobrol dan makan saja, di sebuah kamar telah menunggu seorang tamu, ternyata itu tamu yg pernah bertemu sebelumnya, pintu langsung dikunci sama dia, dan ah tak sanggup aku menceritakannya, terlalu hina yang kuperbuat, meskipun aku telah mencoba menghindar, namun dia telah memberikan sejumlah uang ke kang Dadang, ada rasa takut sama kang Dadang, takut kalau aku menolaknya kang Dadang pergi ninggalin aku. Bagaimana dengan nasib anak anak kalau harus kehilangan sosok bapak? Tiap hari kang Dadang selalu dapat mangsa buatku, aku hanya pasrah menjalani semuanya, menangis dalam hati tentu saja.


Tak terasa anak perempuanku telah kls 2 SMP. Dia cerdas selalu masuk 5 besar di kelasnya, anakku tak tahu sama sekali pekerjaanku, yang dia tau aku adalah pedagang mie rebus.


Rupanya Tuhan hendak mengangkat derajatku, di pertemukanlah aku dengan seorang tamu karyawan pabrik textil, dia rajin mengunjungiku bahkan dia mau tau rumahku, ya dari hasil ngelobi laki laki kami sudah membeli sebuah rumah sederhana dengan 3 kamar tidur, halaman lumayan luas, perabotan ya umum dengan orang lain, biar anak anak ga malu kalau ada teman sekolahnya datang ke rumah.


Kang Dadang kerjaan mabuk mabukan saja, ah rasanya ingin minggat tapi bagaimana nasib anak anak? Di hari yang di tentukan, ku beri sejumlah uang buat kang Dadang sabung ayam, karena tamu sekaligus kekasihku akan ngapelin aku ke rumah, sengaja aku main hati sama tamu ini, karena status dia bujang juga kerja tetap.


Lama lama terbongkarlah jalinan kasih kami, kang Dadang mengamuk seperti orang kesetanan, di guyurnya seluruh badanku dengan minyak tanah, di siksanya badanku dengan rantai sepeda sampai kepalaku bocor dan berlumuran darah, jeritan anak anak tak di hiraukan kang Dadang, dia masuk mau ngambil korek api untuk membakarku, secepat kilat aku lari dan mencari ojek, Allah maha adil di tengah malam aku bertemu ojek yang sering main ke rumah, langsung aku naik dan minta ojek itu buat lari ke mana saja, setelah di rasa aman, aku keluarkan kertas alamat pacarku itu dan ojek mengantar sampai ke tujuan.

__ADS_1


Jam 2 malam sampailah di rumah kekasihku, Yana namanya. Dia kaget melihat darah yg mengucur dari kepalaku, langsung dia keluarin motornya dan membawaku ke Rumah Sakit, dokter begitu cekatan menolongku, pakaian langsung di gunting karena seluruh tubuhku mengalami luka bakar dari panasnya minyak tanah.


Tiga hari di rawat pihak Rumah Sakit, Yana tetap beraktivitad kerja, sorenya pulang dari pabrik langsung ke RS membesuk ku, setelah di nyatakan boleh pulang oleh dokter, Yana langsung membawaku pulang ke rumah orang tuanya.


Yana tau aku cuma nikah sirri sama kang Dadang, makanya Yana langsung mengurus surat surat ke KUA buat menikahiku, rental mobil kami pun menuju rumah bapak di Tasik. Dua hari di Tasik sambil melepaskan penat dalam dada ini, aku sudah tidak perduli sama anak anak lagi karena untuk membawa anak anak pasti ada perang sama kang Dadang. Masalah rumah sama perabotan ga usah di fikirin kata Yana, nanti juga ada rejekinya untuk beli lagi.


Satu bulan kemudian kang Dadang datang ke rumah Yana, dia ngamuk ga jelas, ibunya Yana datang menunjukan buku nikah aku sama Yana, dan mengancam kang Dadang akan di laporkan ke polisi karena mengganggu, ibunya Yana seorang guru tapi beliau tidak pernah membahas masalalu aku, beliau sangat menyayangi ku, bahkan kalau Yana sedang bekerja, ibu atau neneknya Yana yang nganterin makanan ke kamar, bukan aku manja tapi memang keadaanku belum pulih, bekas jahitan di kepala saja lama keringnya, kalau ga salah ada 17 jahitan. Luka di badan saja masih basah, mempercepat nikah sama Yana biar ada kekuatan di mata hukum kata ibunya.


Menginjak ke tiga bulan, anak anak di anterin kang Dadang buat ikut bersamaku, alhamdullillah Yana dan keluarganya menerima dengan baik. Anak yang perempuan bilang rumah beserta isinya udah habis di jualin kang Dadang, makanya anak anak merengek minta di antarkan karena sudah tidak ada lagi tempat tinggal.


Bangun jam 3 subuh tiap hari, bikin nasi kuning dan goreng gorengan, jam 6 beli air seroda dan dorong sendiri karena Yana dan adiknya tidur pulas semalam habis main Play Station. Jam 7 angkutin dagangan ke lapak, jam 10 pulang ke rumah, nyuci,beberes rumah, masak, beres jam 1 siang. Rehat tidur siang sampai jam 3, lanjut belanja buat jualan besok. Begitu seterusnya.


Menjadi tulang punggung tentu sangat lelah, mengeluh pun bukan jalan keluar yang baik. hingga tak terasa 3 tahun aku seperti ini, neneknya jatuh sakit parah, di rawat di RS dua mimggu namun tak tertolong. Setelah neneknya tiada, rumah itu di jual ibunya tanpa tau aku, mertua cuma ngasih uang sekedarnya dari hasil jual rumah buat bekal kami ngontrak.


Yana semakin malas, malah selalu mengandalkan aku buat kerja, aku kerja di rumah orang sambil mgasuh buat menopang hidup kami, tiap di tanya kenapa ga cari kerja? Alasan selalu di bikin, "buat apa aku kerja, anak juga ga punya." Hufh mulai membahas anak meskipun hal yang wajar sebenarnya karena menikah sudah 9 tahun.


Menginjak tahun ke 10 pernikahan, Yana ada tawaran kerja jd penjaga sekolah, ada gudang luas bisa kami tempati, semangat ku bantuin kerjaan Yana bersiin semua kelas, nyapu halaman sebelum aktivitas ku di mulai, aku meminta bantuan anak perempuanku buat modalin jualan, kan lumayan jualan makanan di sekolahan.

__ADS_1


Setahun kami dengan rutinitas ini, tak terasa letih pun karena kita kerjasama, gaji Yana ga seberapa dan hanya setengahnya di kasih ke aku, tak masalah toh aku jualan dan hasilnya menutupi segala kebutuhan.


Yana faham hal tentang sepak bola, ibunya ngajuin Yana buat jadi guru olahraga honorer, tentu Yana menyambutnya.


Aku meminta bantuan lagi sama anak perempuanku buat beliin handphone, handphone itu buat Yana karena butuh katanya buat komunikasi antar guru.


Suatu hari mertua datang membawa kabar baik, katanya bakal ada pengangkatan guru, nama Yana terdaftar di sana karena bantuan ibunya yang seorang guru itu. Tentu saja hatiku sangat bahagia sekali, apa ini buah manis dari kesabaranku ya Allah? Air mata bahagia menetes tak terasa, Yana tersenyum merasa bahagia juga.


Sikap Yana tak ada yang mencurigakan, karena pergi selalu pamit. Dan selama 11 tahun berumah tangga, Yana pun tak pernah aneh aneh, jadi rasa curiga sudah tak ada di hati ini.


Pengangkatan guru tinggal 5 bulan lagi, namun badai melanda ketika Yana ber SMS mesra sama seorang wanita.


Loch Julia kan ga bisa baca tulis, darimana tau suaminya SMS an sama wanita? Eits kan ada anak perempuanku yang rajin mengunjungi, saat itu HP Yana bunyi berkali kali. Yana kemana ya? Aku pun iseng mengambil HP Yana yang sedang di isi baterai, ku serahkan pada anakku. Kata anakku isinya sayang sayangan gitu, anakku save no wanita itu di HPnya.


Lama lama terkuak kalau wanita itu adalah selingkuhan Yana, dia janda anak satu. Tentu semuanya bantuan anak perempuanku yang rajin mencari tau siapa wanita itu. Aku tak kuasa lagi untuk hidup, Yana pun bukannya menghindari wanita itu, malah lebih banyak dengan wanita itu, namanya Funny badan tinggi gede, gigi depan keropos, orang orang yang pernah melihatnya bilang si Funny itu kaya badut. Makin edan ulah suamiku, boncengan ke mana mana kaya ABG jatuh cinta, sampai suatu hari wanita itu di bawa ke hadapanku.


Di berikan pilihan oleh Yana,,menerima wanita itu buat jadi madu dengan alasan aku tak bisa ngasih keturunan, atau cerai karena tak mau di madu?.

__ADS_1


__ADS_2