Menikah 14 Kali

Menikah 14 Kali
Bab 2


__ADS_3

Lepas dari rumah bandot itu rasanya lega luar biasa, meskipun hati masih waswas takut tiba tiba tuh bandot ada di belakang dan mencengkeram kembali badan lemah ini. Lari sambil sesekali nengok ke belakang bukanlah hal mudah, dari jauh sudah kelihatan jalan yang berbelok belok , aaaaahhhh sepertinya itu jalan raya yang biasa di lalui kendaraan, betul saja sesampainya di sana banyak sekali kendaraan lewat, ku coba menghentikan nya namun tak satupun yang berhenti, mungkin mereka aneh ada anak kecil lusuh pagi pagi di pinggir jalan, apakah rupaku seperti pengemis ?. Gontai ku melangkah mengikuti arah kendaraan sambil tak henti berdo"a, tiba tiba ada minibus yang berhenti dan bertanya hendak ke mana, ku jawab polos bahwa aku mau lari karena di siksa, bapa itu membukakan pintu depan untuk ku, legaaaaaa rasanya walau tak tahu akan di bawa kemana raga lemah ini, mata mengantuk lelah sekali rasanya hingga tak sadar aku pun tertidur sangat pulas.


Terbangun saat mendengar suara para laki laki mencari penumpang, ooohhh rupanya sudah sampai tujuan ini, eh tujuan para sopir maksudku bukan tujuanku. Kaget ya sangat kaget di manakah bapak yang baik hati itu ? bapak yang sudi memberi tumpangan untuk ku. Celangak celinguk barangkali bisa menemukan bapak baik hati itu tapi nihil, dengan rasa takut ku buka pintu minibus itu dan ku samperin salah satu laki laki seraya ku bertanya keberadaan bapak itu.


"Aa maaf mau nanya sopir mobil ini ke mana ya ?".


"Ooohhh Pa Karna neng ? Sudah pulang ke mess, Pa Karna bilang, neng makan ajah dulu, nanti biar Aa yang bayarin, begitu neng pesan Pa Karna sama Aa".


"Ga usah di bayarin A, aku juga punya uang buat makan mah A, ga usah repot repot Aa bayarin, kasih tau ajah di mana letak warung makan nya."


"Panggil A Aceng neng ya biar neng nanti kalau perlu apa apa cari A Aceng ke teman teman Aa, mereka pada tau neng."


"Oh ya A, makasih atas bantuan Aa, Aa tau kan mess Pa Karna ? "


"Tau lah neng kan satu mess sama Aa, ada apa gituh neng nanyain Pa Karna ?, Oh ya nama neng siapa, biar Aa mudah manggilnya".


"Mau bayar ongkos A, sekalian mau ngucapin terima kasih sama Pa Karna, karena sudah bantu saya".

__ADS_1


Akhirnya sampai juga di warung makan, lumayan ramai walau pun tampilan nya sangat sederhana sekali, A Aceng pesanin makanan buat santapanku, minumnya teh manis hangat , terasa begitu nikmat menjalari aliran darahku yang membeku, A Aceng bertanya ini itu , ku jawab apa adanya karena saat itu memang masih sangat polos. A Aceng pun janji mau carikan kerjaan buat ku walau pun cuma tukang cuci piring.


Singkat cerita sebulan telah ku lalui, ku di tampung di mess para sopir dan kernet yang mayoritas laki laki, namun mereka tak ada yang berani menggaggu karena tahunya mereka aku adalah adik dari A Aceng, yang datang dari kampung buat cari kerja, mereka memperlakukan ku sangat baik, selalu membawakan makanan dan minuman kalau habis operasi. Tak terasa 2 bulan sudah aku berada di mess ini, rasa mulai tak nyaman mulai menghantuiku, pada suatu malam ku beranikan memanggil A Aceng menanyakan perihal kerjaan buatku itu.


"Ooohhh ya neng, Aa hampir lupa maaf ya neng besok ya


Aa pastiin ke orangnya".


Tiga hari berlalu A Aceng pun mengajak ku menemui seorang ibu muda, cantik, pakaian rapi dan bagus, kata A Aceng ibu itu calon majikanku, baik ramah dan aku langsung setuju. Hari itu juga beliau membawaku ke rumahnya yang terbilang mewah pada masanya.


Ternyata majiakan orang sibuk, kerja di sebuah kantor tapi entah kantor apa, suami nya Pa Candra kerja di sebuah bank, di rumah hanya berdua sama anak yang masih umur 7 tahun baru kls 1 SD, tak di suruh masak karena selepas sholat shubuh ibu masuk dapur dan aku hanya sekedarĀ 


Lebaran majikan berikan ku cuti lama katanya biar aku bisa kumpul sama keluargaku, buat menolakpun rasanya tak enak sama sekali, malam itu malam yang tak pernah ku rindui, kembali lagi gundah menyelusup dalam rangka nyawaku.


Aaaaahhhh kenapa aku ga pulang saja menemui ibu, barangkali ibu sudah berubah sekarang ? Lagian kan aku juga pulang bawa uang lumayan banyak, baju bagus juga aku bisa beliin ibu oleh oleh, iya iya pulang saja ke gubuk ibu ya, mudah mudahan ibu merasa rindu sama aku.


Ku datangi mess hendak pamit sama Pa Karna dan juga A Aceng juga sama para sopir dan kernet lain nya yang selama ini banyak membantuku, A Aceng seperti keberatan buat melepasku kembali ke pelukan ibu kejam, tapi tekad sudah bulat, aku harus pulang menemui ibu apa pun yang terjadi. Malam itu aku tidur di mess kosong bekas ku waktu itu dan keesokan paginya berangkat ke terminal di temani kakak angkat ku .A Aceng menitipkan ku pada teman nya agar aku sampai ke tujuan dengan selamat. Ku lihat mata kakak angkatku berkaca kaca, begitupun aku.

__ADS_1


Sesampainya di rumah tapi sangat sepi, ke manakah ibu dan adik bayi yang masih di kandungnya waktu itu? , tanya sana sini akhirnya ada yang ngasih tau kalau ibu kerja jadi buruh potong padi di sawah milik Pa Udin, ku susul ke sana ternyata benar saja ibu lagi mengayunkan aritnya , sementara dede bayi di tidurkan di saung tempat istirahat makan para buruh. Teriak ku memanggil ibu, "Emaaaaakkkk, emaaaaakkk", emak adalah panggilanku pada ibu, ibu menoleh setengah kaget, mengucek mata lantas nyamperin aku, "Juleha kamu pulang," alamaaaakkk emak lagi lagi manggil Juleha, nama yang sangat ku benci, aku mau nama ku Julia, Julia emaaaaaakkk Julia. Baru ketemu lagi setelah 14 bulan tak tahu lagi kabar ibu, wah ibu memberondongku dengan jutaan peetanyaan, ibu juga cerita tuh bandot ada datang memaki maki ibu di hari kepergianku dari sarang bandot itu, aku minta maaf pada ibu karena tak patuh pada perintah ibu ,tapi aku ga cerita kalau bandot itu menganiaya aku, karena tak ingin ku menguak luka lama yang telah sirna dari hati dan fikiran.


Ku gendong adik laki laki ku yang di beri nama Supyadi, ya seorang bayi yang lahir saat aku tak ada di samping ibu, semua uang hasil kerja di kota kembang ku serahkan semua pada ibu, ibu sangat senang, keesokan harinya ibu menitipkan adik sama aku, beliau pergi ke pasar belanja segala kebutuhan, alhamdullillah ibu akhirnya bisa memeluk raga lemah ku.


Waktu bergulir begitu cepat, uang abis tak bersisa, ibu kembali pada sifat aslinya, mulai kasar lagi dan membentak lagi, tangis ku hanya dapat di luapkan pada malam hari saja seraya meminta pada sang pencipta agar esok pagi ibu baik kembali, namun hanya mimpi saja, watak ibu yang sekeras batu hanyalah luluh tatkala terhidang makanan dan selipan uang saja.


Mulai ku merambah sawah sawah tetangga, ku menjadi buruh kored, buruh tandur, ngarambet dan potong padi, saat ku bawa padi bagian ku setelah beberapa hari kuli potong padi, karena memang saat itu tenaga di bayar pake padi bukan pake uang, 1 karung padi ku gendong buat di bawa pulang guna ku persembahkan untuk ibu, namun apa daya tenaga tak mampu menahan beban segitu beratnya, aku dan padi jatuh ke sawah hingga badan beserta karung habis berlumur lumpur, ku tinggalkan padi di sawah, ku pulang ke rumah mengadu pada ibu, bukan kata yang menghibur yang di dengar tapi malah tamparan dan caci maki.


"Dasar anak tak berguna, tak tau diri kenapa kamu ga mati saja sekalian tadi di makan lumpur ", begitu hardik ibu.


Air mata oh air mata, jangan sampai kamu bergenang karena akan menambah emosi ibu . Ku tahan sebisa mungki air mata agar tak jatuh, ibu menarik tangan ku, menyeret badan hingga sampai ke sawah tempat jatuh padi tadi, ibu mendorong badan ku lantas ibu menyusul turun ke sawah dan menginjak badan ku hingga abis di penuhi lumpur, hidung, mulut, telinga di penuhi lumpur, setelah puas ibu naik dan pulang ke rumah mungkin, ku tertatih bangun menuju pancuran air untuk membersihkan kotoran yang melekat pada tubuhku, tak perduli lagi dengan padi itu bagaimana nasibnya aku tak mau tahu lagi, yang ku inginkan malam ini bisa tidur nyenyak tanpa suara omelan ibu, ku menuju mushola baju basah ku lepas ganti dengan mukena, lelap dalam balutan mukena terasa begitu hangat.


Hingga shubuh para jamaah melaksanakan ibadah, aku tak kuat buat bangun meski hanya sekedar duduk karena seluruh tulang ku terasa patah.


Seorang ibu mengguncang badanku hingga mataku terbuka , ibu itu menyuruh bangun tapi wajah ku meringis tanpa di suruh, ibu itu sepertinya mengerti keadaan ku dan bertanya, ku tutupi kelakuan ibu , ku bilang terjatuh di sawah tapi takut pulang karena pakaian ku kotor semua makanya sampai tidur di mushola mengenakan mukena.


Beliau pamit hendak pulang buat ambilkan pakaian untuk ku kenakan, beliau juga bawakan makanan untuk sarapan ku, sungguh Allah selalu menolongku. Selesai sarapan ku ucapkan terima kasih dan pamit pulang, tentu saja tak mau lagi kembali ke rumah ibu tapi pergi lagi walau tanpa tujuan.

__ADS_1


Sudah tak tahan lagi dengan tingkah ibu yang tak ada berubahnya, ku putuskan untuk pergi lagi ke kota meski tanpa bekal sepeserpun juga, ya ada satu nama dalam benak ku yaitu A Aceng yang selama ini jadi kakak angkatku.


Sesampainya di kota ku cari nama itu, namun kabar yang ku dapat, A Aceng lagi pulang kampung karena orang tuanya sakit, buat datang ke rumah majikan pun aku malu, eh tanpa sengaja ku melihat anak anak seumuran ku sedang kumpul, di jari tangan nya terselip rokok yang menyala, ragu ragu ku samperin mereka ,mereka menyambutku dengan senyum ramahnya, aku fikir enak jadi mereka, kumpul dan ketawa riang main sama teman seusia, apalagi sekarang mereka seolah mengharap aku gabung sama mereka. Inilah awal ku menikmati dunia kebebasan tanpa pengawasan.


__ADS_2