Menikahi Ayah Si Kembar Yang Tampan

Menikahi Ayah Si Kembar Yang Tampan
Bab 101.Vivian, Aku Menyukaimu


__ADS_3

Armand yang terkejut tiba-tiba menjadi pucat.


“Mengapa Bara tiba-tiba muncul.?” gumam Armand di dalam hatinya.


Armand kini menatap Bara dan berkata, “Bara, aku tidak menyinggung perasaanmu. Mengapa kamu mencampuri urusan antara mantan saya dan saya.?”


Meskipun Armand mencoba yang terbaik untuk merendahkan suaranya, Namun ucapannya pria itu masih didengar oleh banyak reporter.


Misalnya, lebih dari selusin kamera diarahkan ke arah Armand dan Bara. Bara pun tersenyum dan memandangi para reporter sambil berkata dengan tenang, “Tuan Armand maulana, katamu Vivian adalah mantan pacarmu.”


“Jadi, semua orang bisa mengejarnya sekarang ini, Bukan.?”


Setelah berkata seperti itu, Bara pun tersenyum dan berjalan menuju Vivian. Dia mengulurkan tangannya dengan lembut, kemudia dia berkata,


"Vivian, aku menyukaimu."


"Maukah Kamu memberiku kesempatan untuk mengejarmu.?"


Mendengar ucapan Bara yang menyatakan perasaannya padanya, Vivian pun memandang Bara dengan bingung, dia tidak tahu harus berbuat apa.


Vivian mengira Bara adalah orang yang hebat di industri hiburan. Jika dirinya menolaknya, Vivian berfikir akan mendapatkan masalah. Vivian tahu bahwa Bara ada di sini untuk membantu dirinya. Dia seharusnya tidak perlu berterima kasih pada pria itu.


Vivian pun Mengambil napas dalam-dalam, dia menatap Bara dan tersenyum,


"Tuan Gunawan."


Vivian tidak menyentuh tangan Bara, dan menjawabnya tanpa sikap yang jelas. Di satu sisi, itu bisa menghindari rasa malu mereka.


Di sisi lain, itu bisa dengan jelas menunjukkan sikapnya karena dia menolak Armand dan menjawab Bara dengan samar.


Karena Vivian tidak ingin Terjadi keributan di ruang ganti.


"Nona Sucipto, bolehkah aku mengantarmu pulang.?” tawar Bara.


Saat dia berbicara, Bara menatap kearah Armand dengan dingin, kemudian dia melanjutkan ucapannya, dengan berkata, "Aku khawatir seseorang akan mengikutimu."


Mendengar ucapan Bara, Vivian seketika berpikir sejenak, lalu dia mengangguk. Bara kini melindungi Vivian dan Clara untuk keluar dari ruang ganti, seperti seorang kesatria.


Para wartawan berbondong-bondong untuk mengikuti mereka, tetapi semua orang menjaga jarak dan sesekali mengajukan beberapa pertanyaan kepada Bara. Tidak ada yang berani mengajukan pertanyaan yang lebih kritis pada Pria itu.


Lagi pula, Bara berhak untuk melakukan yang dia kehendaki, Bara berani melakukan dan mengatakan apa pun yang dia inginkan.


Seperti yang dia katakan, di industri hiburan di kota kartanegara, Bara bisa membuat karirnya sulit. Jika dia kesal, para reporter itu akan kehilangan pekerjaannya.!


Tetapi beberapa wartawan masih tidak menyerah.


"Tuan Gunawan, tidak pernah ada desas-desus tentangmu selama bertahun-tahun. Sekarang mengingat Anda menunjukkan kesan baik Anda tentang Vivian di depan umum, apakah Anda bertekad dan yakin akan bersamanya.?” tanya salah satu reporter yang mengikutinya.


Bara terus berjalan dengan acuh tak acuh, namun iya tetap menjawab pertanyaan reporter tersebut dengan singkat, "Itu bukan urusanmu."

__ADS_1


"Aku suka Nona Sucipto, tapi apakah kita bisa bersama atau tidak tergantung padanya." sambungnya.


Reporter yang mendengar jawaban Aktor papan atas itu, dia pun tersenyum, Reporter yang tidak mau kehilangan kesempatan itu pun bertanya lagi, “Tuan Gunawan, siapa yang bisa menolak pesonamu di kota kartanegara.?”


"Jika kamu bertekad, Nona Sucipto akhirnya harus bersamamu.!"


Mendengar ucapan Reporter itu, Bara seketika berhenti. Dia berbalik dan menatap reporter yang barusan berbicara, dia kemudian berkata


"Semua wanita menyukaiku.?"


"Kenapa menurutmu begitu?"


Mendapat pertanyaan dari Bara, Reporter itu pun tersenyum, kemudian dia berkata, "Semuanya berpikir begitu.!"


Reporter menoleh ke Clara yang berada di depan dan bertanya, "Apakah kamu menyukai Tuan Gunawan.?"


Clara yang masih linglung bahwa dia bisa berdiri di samping Bara. Dia segera menjawab,


"Ya.!"


"Aku suka Tuan Bara Gunawan.!"


Mendengar jawaban Clara Reporter itu pun melirik Bara dengan puas, dia berkata,


“Tuan Gunawan, anda lihat. Semua orang berpikir begitu, Bahwa semua perempua menyukai anda.”


Vivian yang menyaksikan hal tersebut pun manjadi terhibur oleh reporter itu. Dia berhenti dan menunggu Clara. Tapi dia tidak menyangka bahwa Bara pun juga ikut berhenti.


Sambil memegang tangan Clara, Vivian mempercepat langkahnya agar bisa segera sampai ke tempat parkir.


Ketika dia keluar dari lokasi syuting, dia melihat Mobil Roll Royce milik Rafli yang diparkir di pinggir jalan.


Dari kaca jendela belakang yang di turunkan, samar-samar dia bisa melihat bahwa Rafli sedang bekerja dengan kepala menunduk.


Pria itu datang untuk menjemputnya lagi.!


Saat melihat kedatangannya Vivian tiba-tiba menjadi bersemangat dan semua perasaan tidak menyenangkan yang ditimbulkan oleh Armand hilang seketika.! Bara menoleh untuk melihat Bara, dia kemudian berkata dengan pria itu, "Bara, aku harus pergi."


"Keluargaku datang menjemputku.!"


Mendengar ucapan Vivian, Bara seketika mengerutkan keningnya dengan aura dingin saat melihat Mobil Roll Royce hitam itu.


Dia pun mengangguk dengan lembut, kemudian menjawab, "Oke."


"Terima kasih, Bara.!" ucap Vivian menatap pria di hadapannya itu.


Setelah mengucapkan kalimatnya Vivian pun pergi dengan tasnya.


Namun Tiba-tiba, dia berhenti karna ada sesuatu yang terlupakan.

__ADS_1


Vivian berbalik dan menatap Clara yang berdiri tidak jauh dari Bara dengan wajah merah, dia berkata, "Bara, tolong pulangkan sahabatku.!"


Mendengar permintaan Vivian, Bara sedikit mengernyitkan keningnya, tetapi dia mengangguk dan menjawab,


"Oke."


"Terima kasih.!" timpal Vivian,


Dan pada akhirnya Vivian pun kemudian masuk ke dalam mobil Suaminya. Mobil Roll Royce hitam itu pun pergi saat semua orang menontonnya.


Ketika Bara melihat mobil itu sudah tidak terlihat dari pandangannya, matanya pun berangsur-angsur redup.


“Dia terlihat sangat mencintai suaminya.” gumam Bara.


Bara bisa merasakan bahwa Vivian menjadi bersemangat saat melihat mobil Suaminya Rafli.


Para wartawan tahu bahwa ini sudah berakhir dan tidak ada berita lagi, jadi mereka pergi, tetapi Clara masih menunggunya.


Dia ingat bahwa Vivian memintanya untuk mengirim sahabatnya pulang.


Bara sedikit mengernyitkan keningnya Saat melihat Clara dan dia pun akhirnya memerintahkan asistennya untuk mengantarnya pulang, "Kirim wanita ini pulang kerumahnya."


Di kursi belakang mobil, Rafli yang masih bekerja dengan penuh konsentrasi.


Dia dalam keadaan mengenakan kemeja putih yang disetrika dengan baik dan celana panjang hitam yang terlihat rapi.


Lengan bajunya digulung, memperlihatkan lengannya yang kuat. Saat ini Dia sedang mengetik di keyboard laptopnya.


Setelah beberapa saat, Rafli berhenti bekerja dan bertanya dengan tenang, "Mengapa ada begitu banyak orang.?"


"Tidak ... tidak ada yang terjadi." Jawab Vivian.


Vivian mengeluarkan ponselnya dengan wajah merah.


Untungnya, berita tentang dia dan Armand belum dirilis secara online. Beberapa netizen akan memperhatikan Armand sekarang.


Vivian memeriksa berita online dan menghela nafas dalam hati.


Sebulan yang lalu, Armand adalah kandidat terbaik untuk Penghargaan Gemini tahun ini.


Tapi sekarang… Semuanya berbeda.


Sambil memikirkan hal ini, dia terus meluncur ke bawah.


"Nona Sucipto, aku menyukaimu.”


"Maukah kamu memberi saya kesempatan untuk mengejarmu.?"


Suara elegan Bara datang dari telepon. Dalam sekejap, udara sedingin es di dalam mobil membuat tubuh siapapun akan merasa merinding.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2