Menikahi Ayah Si Kembar Yang Tampan

Menikahi Ayah Si Kembar Yang Tampan
Bab 47.Dia Memperhatikanmu


__ADS_3

"Ya!" Sahut Vivian


Vivian menjawab dengan menganggukkan kepalanya, sambil mengambil makanan dengan sendoknya, lalu dia menatap Rafli dan bertanya "Ada apa?"


"Aku akan mengajak kalian jalan-jalan besok." jawab Rafli.


Rafli dengan elegan mengambil hidangan ikan masakan Vivian meletakkan di piringnya dan dia memakannya, lalu Rafli berkata, "Aku mengambil ini untuk ongkosnya."


Vivian seketika terdiam.


***********


["Ya Tuhan! Itu artinya aku bisa pergi ke Rajaguna bersama Tuan Nugroho.?"]


Ketika Vivian memberi tahu Clara berita setelah makan malam, Clara langsung menjadi histeris. Dia mengirim SMS balasan kepada Vivian, yang isinya : ["Awalnya aku hanya ingin santai.! Sekarang sepertinya aku harus memakai pakaianku yang paling mahal!"]


Vivian yang sedang duduk di sudut jendela kamarnya sambil melirik Raflu dari kejauhan secara diam-diam.


Pada saat ini Vivian melihat , Rafli sedang bersandar di tempat tidur sambil membaca bukunya.


Lampu meja bersinar di sisi wajahnya, yang membuat garis wajahnya semakin berbentuk dan lebih menawan.


Vivian mengerutkan bibirnya dan dengan hati-hati menjawab pesan dari Clara dengan isi balas, ["Kamu sangat berlebihan ..."]


["Kamu yang tidak mengerti.!"] Balas Clara


Clara pun mengiriminya emoji mata yang berputar, lalu Clara membalas pesan lagi yang isinya ["Vivian, aku sahabatmu.! Saya bertemu Tuan Nugroho untuk pertama kalinya jadi saya harus membuat kesan yang baik padanya.! Jika tidak, dia akan berpikir bahwa Kamu tidak memiliki teman baik, tetapi dia akan berfikir bahwa kamu hanya mempunyai kenalan Seperti bajingan Armand dan Naura.!"]


Entah kenapa Vivian seketika merasa kesal begitu Clara menyebutkan dua nama orang itu tak lain Naura dan Armand.


Vivian pun langsung mematikan ponselnya dan naik kembali ke tempat tidurnya setelah mengobrol dengan Clara.


"Sepertinya kamu tidak bahagia." ucap Rafli menebak keadaan Vivian.


Rafli lalu meletakkan bukunya secara perlahan di atas meja nakasnya yang berada di sampingnya dan mematikan lampunya.


"Ya, benar." jawab Vivian


Ruangan itu kini menjadi redup karena hanya satu lampu samping tempat tidur yang menyala.


Vivian melihat ke langit-langit dan berkata, "Naura sedang hamil."


"Jadi.?" tanya Rafli


Rafli bertanya dengan acuh tak acuh dengan suara rendahnya.


"Aku tidak ingin menyakiti wanita hamil." jawab Vivian


Vivian lalu memejamkan matanya, dan berkata, "Naura tadi Sore dia datang kepadaku lagi. Aku pikir ucapan kamu ada benarnya.! Aku telah meninggalkan kesan yang lemah sehingga mereka pikir mereka dapat dengan mudah menggertakku.! Aku ingin menjadi kuat dan Aku ingin mereka membayar apa yang sudah pernah mereka lakukan…”


Vivian berhenti sejenak dan menghela nafas panjang, kemudian dia melanjutkan kalimatnya Vivian berkata, "Tapi Saat aku ingin melakukannya Naura sedang hamil."

__ADS_1


Dia telah kehilangan seorang anak lima tahun yang lalu. Jadi dia sangat tahu rasa sakit kehilangan anak. Vivian bahkan jelas tentang betapa kejamnya mereka mengambil nyawa seorang anak yang belum lahir. Seorang anak yang tidak bersalah.


Dia telah terluka parah pada saat itu sehingga mereka bisa menyakiti bayi yang belum lahir.


"Tidak ada yang berbeda meskipun dia hamil." Ucap Rafli.


Suara Rafli terdengar samar dan tanpa banyak emosi, dia kemudian melanjutkan kalimatnya, dan berkata, "Jika mereka tidak menyayangi anak mereka... maka kamu juga tidak harus berbelas kasih. Itu adalah tugas orang tua anak untuk melindungi anaknya sendiri, dan itu bukan tugasmu!"


Kata-kata Rafli membuat Vivian terdiam lama.


Sudah menjadi kewajiban orang tua untuk melindungi anak-anaknya.


Untuk waktu yang lama, dia menutup matanya dan diam-diam meraih sudut selimut dengan kedua tangannya.


Dia adalah ibu yang tidak kompeten.


Lima tahun yang lalu, dia bersikeras untuk mengirim Armand ke bandara meskipun dia tahu bahwa anaknya kurang dari sebulan lagi akan lahir. Namun Naasnya Sebuah kecelakaan terjadi padanya dalam perjalanan ke bandara.


Itu adalah kecelakaan mobil yang parah.


Dia diselamatkan di ruang operasi sepanjang hari sebelum bangun. Bayi itu tidak selamat dan dia kehilangan ingatannya selama lebih dari sebulan.


Dia masih bisa mengingat betapa putus asanya dia pada hari itu.


Malam ini, Vivian bermimpi.


Dalam mimpi itu, ada seorang gadis kecil yang persis seperti dia, berdiri di depannya dan menangis.


“Bu, aku sangat merindukanmu, tapi kenapa kamu tidak datang kepadaku…” “Bu, aku sangat ingin bersamamu…”


Vivian marasa hatinya sangat menyakitkan, ketika dia melihat penampilan kecilnya yang menyedihkan. Dia mengejarnya dengan putus asa tetapi gadis kecil itu tampak seolah-olah dia semakin jauh saat akan menjangkaunya dan tidak peduli seberapa keras dia mengejarnya, dia tidak bisa menangkapnya.


Tapi dia akhirnya menyusul.


Dia memeluk gadis kecil itu erat-erat, sambil berkata, "Itu salah ibu. Ibu gagal melindungimu ..."


"Vivian!"


"ViVian..!"


Pada saat itu, suara dua anak terdengar di belakangnya.


Vivian buru-buru berbalik, menengok kepalanya kearah belakang. Dia melihat Di belakangnya, Ada Erico dan Kevin yang matanya penuh kesedihan.


Keduanya menatapnya dengan air mata yang mengalir tanpa suara, Mereka kemudian bertanya, "Apakah kamu tidak menginginkan kami lagi?"


Vivin Seketika tercengang. Dia memegang putrinya dengan satu tangan dan mencoba menjangkau mereka dengan tangan lainnya, mencoba menghapus air mata Kevin, dan berkata "Jangan menangis. Aku tidak akan meninggalkan kalian!"


"Aku tidak akan meninggalkan kalian!"


“Aku tidak akan…”

__ADS_1


Vivian terbangun duduk dari tidur. Mimpi itu menghilang dan tubuhnya sudah dipenuhi keringat dingin.


Dia meraih kerahnya dan menarik napas panjang sebelum emosinya berangsur-angsur kembali dari mimpi buruknya itu.


Akhirnya, dia menghela nafas panjang lega dan kemudian berbaring kembali di tempat tidur.


Tapi dia tidak bisa tidur lagi.


Vivian melirik jam yang menunjukkan bahwa baru pukul enam pagi. Dia kemudian memutuskan untuk bangun setelah berjuang di tempat tidurnya untuk waktu yang lama.


Vivian lalu melewati ruang kerja Saat melankahkan kakinya keluar dari pintu kamarnya.


Vivian melihat Pintu ruang belajar sedikit terbuka. Pria di dalam pintu ruangan itu menatap dengan sungguh-sungguh ke layar komputer.


Dari pengeras suara komputer, terdengar bahasa asing.


“Dia mengadakan pertemuan lagi.” gumam Vivian


Vivian pun mengerucutkan bibirnya, mengingat Rafli pernah berkata bahwa lebih baik dirinya yang begadang untuk rapat multinasional dari pada seluruh eksekutif begadang semalaman.


Berdiri di ambang pintu, jantungnya entah kenapa berdebar sesaat ketika dia melihat wajah serius pria itu di ruang kerjanya dan mendengarkan bahasa Prancisnya yang fasih.


Sampai…


Sampai pada akhirnya Erico yang masih mengantuk muncul, dan menyapanya saat dia melihat Vivian di depan pintu ruang kerja ayahnya, “Selamat pagi, Vivian.”


"Apa yang kamu dengar di depan ruang kerja Ayahku pagi-pagi begini.?"


Suaranya yang cukup keras. Begitu Erico mengatakan itu, Rafli, yang sedang berbicara bahasa Prancis di dalam ruang kerjanya, seketika berhenti.


Vivian mengerutkan bibirnya dan tanpa sadar mengangkat matanya untuk melihat ke dalam ruang kerja Rafli. Tapi Dia malah bertemu dengan matanya yang tajam dan dalam.


Matanya sangat berbahaya dan sepertinya Rafli bisa membaca semua pikirannya. Vivian sontak menjadi panik dan dia buru-buru berlari ke lantai bawah.


Erico tersenyum ketika melihat punggung Vivian pada saat dia pergi.


Erico menguap dan membuka pintu ruang kerja Mengabaikan Rafli yang masih rapat, dia langsung naik ke mejanya dan duduk di atasnya.


Dia duduk di tepi meja dengan kaki pendeknya dan celana piyama bebek kuningnya menjuntai di udara, lalu dia berkata, "Vivian menguping dan mengawasimu di pintu untuk waktu yang cukup lama. Kurasa dia tidak tahu bahasa Prancis, jadi dia tidak menguping rahasia perusahaan."


Rafli menatapnya samar dan mematikan komputernya, lalu dia bertanya, "Lalu apa yang dia lakukan?"


"Dia memperhatikanmu!" jawab Erico dengan cepat.


Erico memutar matanya, dan berkata "Ayah, kau berubah lebih percaya diri! pada saat Dia memperhatikanmu!"


Mata pria itu menunjukkan sedikit kegembiraan, dan bertanya, "Mengapa dia memperhatikanku?"


Erico mengerutkan kening dan berpikir sejenak, lalu dia berkata, “Mungkin dia sedang berpikir kapan kamu akan berangkat ke Rajaguna bersamanya.”


Rafli pun seketika terdiam.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2