
Setelah sarapan, Vivian membawa ranselnya dan masuk ke dalam mobil yang akan di tumpangi dirinya bersama Rafli.
Erico dan Kevin berdiri di pintu seolah-olah mereka adalah orang tua yang mengawasi anak-anak mereka yang akan keluar melakukan perjalanan.
Erico kini mulai mengomel lagi.
"Tolong hati-hati."
"Jangan terlalu baik pada anak lain."
"Tolong kembali lebih awal dan masak makanan enak untuk kami."
“Tolong ambil foto yang lebih bagus saat melakukan perjalanan.”
"Silahkan..." ucap Erico Setelah berpesan panjang lebar pada Vivian, kini dia mempersilahkan kakaknya Kevin untuk memberinya pesan kepada Vivian
Kevin pun menatap Erico dengan acuh tak acuh. Setelah beberapa saat, kemudian dia mengangkat kepalanya. Kevin menatap Vivian dengan matanya yang besar dan berkilau.
"Bersenang - senanglah." ucap Kevin memberinya pesan untuk menikmati perjalanannya.
Vivian mengangguk, dan berkata, "Aku akan melakukannya."
Kali ini, dia hanya melakukan perjalanan untuk bersantai. Setelah dia kembali dari perjalanannya itu, dia pasti tidak akan peduli tentang Armand atau bahkan Naura.!
Rafli mengerutkan kening dan berkata dengan dingin ketika dia berdiri di belakang kedua anak laki-laki itu.
Vivian membuka pintu dan masuk ke dalam mobil.
Rafli, yang tampak tinggi, berbalik dan menatap dua anak laki-laki yang lebih pendek dari pahanya, dia berkata, "Aku sudah melakukan begitu banyak perjalanan bisnis, tapi aku belum pernah melihat kalian berdua mengantarku pergi sama sekali."
Erico memutar matanya, dan bertanya, "Ayah, kamu sudah dewasa. Apakah kamu masih membutuhkan perhatian kami?"
Rafli terkejut untuk beberapa saat. kemudian dia bertanya, "Bukankah Vivian juga sudah dewasa?"
“Itu berbeda.!" sahut Erico dengan cepat.
"Apa bedanya?" tanya Rafli
Erico mengerutkan bibirnya. Sebelum dia memikirkan jawabannya, Kevin berbalik dan berjalan untuk masuk kerumah. Saat berjalan kevin berkata, "Kami lebih menghargai wanita dari pada pria."
Erico mengangguk cepat, dia menyutujui ucapan kakaknya "Itu benar!"
"Ayah, jadi tolong jaga Vivian dengan baik!"
Setelah mengucapkan itu, Erico dengan cepat menyusul Kevin, "Saudaraku, tunggu aku!"
“Jangan sentuh kue yang dimasak Vivian untukku.!”
Rafli yang masih berdiri di sana sambil melihat punggung mereka yang menjauh dari pandangannya Rafli menatapnya dengan tajam, kemudian dia menghela nafas dengan lembut.
Bahkan tidak ada satu kata pun perpisahan untuknya dari mereka.?
Bagaimana mereka bisa menyukai orang lain tetapi bukan pada dirinya.!
__ADS_1
Rafli masih berdiri di sana sampai anak-anaknya menghilang dari pandangannya dan kemudian, dia masuk ke dalam mobil.
Vivian sedang menelepon Clara di dalam mobil.
{'Vivian, aku sudah menunggu di persimpangan!'} ucap Clara di sebrang panggilan telvonnya
{"Aku mengenakan pakaian paling mahal untuk diriku sendiri. Jika Tuan Nugroho masih berpikir bahwa pakaianku terlalu murah, ingatlah bahwa Aku sudah mencoba yang terbaik!"}
{“Aku bahkan bangun jam 5 pagi. Dan Aku menghabiskan waktu didepan cermin untuk bermake-up sekitar dua jam karena aku tidak ingin kamu merasa malu ..."} Clara berbicara begitu keras.
Meskipun Vivian tidak menggunakan speaker, dia bahkan mencoba menutupi speaker dengan tangannya, namun suara keras Clara masih bergema di dalam mobil.
Rafli, yang mengenakan setelan hitam, duduk di samping Vivian, memandangnya dengan acuh tak acuh.
Vivian tahu bahwa Rafli pasti mendengarnya!
"Pelankan suaramu!" ujar Vivian pada Clara yang berada di sambungan telvonnya.
Vivian mengerucutkan bibirnya dan menutupi pengeras suara sekeras yang dia bisa.
Tapi sepertinya tidak berhasil sama sekali.
"Meskipun Tuan Nugroho telah melihatku di video call pada saat terakhir kali, dia orang yang sangat sibuk sepanjang waktu sehingga dia tidak akan mengingat wajahku. Dan Kali ini, Aku akan membentuk citraku di benaknya.!”} sambungnya.
Vivian memutar matanya, dan memperingati Clara, dengan suara rendah Vivian berkata, "Clara, pelankan suaramu ..."
Sebelum dia bisa menyelesaikan kata-katanya, Rafli mengulurkan tangannya yang ramping.
Clara, yang masih mengucapkan kalimatnya di telepon, tiba-tiba berhenti seolah-olah dia membeku.
Suara Rafli yang rendah dan dingin, dia berkata, "Lain kali tidak perlu melakukan hal itu. Buang-buang waktu saja. Aku tidak akan memperhatikanmu dengan sangat hati-hati."
Clara seketika terdiam. Begitu juga dengan Vivian, dia pin ikut terdiam.
Dalam keheningan, Rafli menutup telepon dengan anggun dan mengembalikannya kepada Vivian.
"Nyalakan mobilnya." perintah Rafli pada sandi yang berada di kursi kemudi.
Saat dia menyelesaikan kalimatnya, Sandi pun dengan cepat menyalakan mesin mobilnya. Roll Royce hitam itu melaju kencang di jalanan ibu kota.
Vivian meremas ponselnya untuk sementara waktu karena dia tidak bisa mendapatkan kembali pikirannya.
Setelah beberapa saat, dia mengerutkan bibirnya dan menatap Rafli, dan bertanya, "Bagaimana kamu bisa ... melakukan itu?"
Apakah itu terlalu kasar?"
Rafli menggerakkan tubuhnya dan bersandar di kursi belakang mobil. Dia bersandar dengan malas dan menutup matanya untuk beristirahat. lalu Rafli berkata, "Dia terlalu gugup. Kamu adalah istriku, sementara dia adalah teman baikmu. Ada banyak kesempatan bagi kita untuk bertemu di masa depan."
Setelah menyelesaikan kalimatnya Rafli membuka matanya saat dia menatapnya dengan matanya yang dalam. Rafli bertanya, "Apakah kamu ingin dia gugup setiap saat.? ketika dia bertemu denganku?" Vivian seketika terdiam.
Vivian tidak yakin apakah itu karena matanya terlalu mempesona atau karena suaranya terlalu menarik sehingga dia hanya bisa tetap dalam keadaan linglung saat menatapnya saat ini.
Vivian bahkan berpikir bahwa apa pun yang Rafli katakan masuk akal. Vivian menatapnya dan begitu pun dengan Rafli yang juga menatap matanya. Untuk momen kontak mata seperti ini, Vivian merasa napasnya semakin sulit dan wajahnya seketika memanas…
__ADS_1
Ketika suasana di antara mereka berdua menjadi semakin dekat, mobil tiba-tiba berhenti.
Sandi menurunkan jendela kaca mobil dan memandang wanita yang berdiri di depan tanda halte bus, Sandi bertanya, "Apakah Anda Nona Clara Harcourt.?"
"iya, Ini saya!" jawab Clara.
Clara mengenakan gaun panjang yang indah, dia mengangguk cepat dan berlari menuju mobil mereka dengan penuh semangat.
Ketika dia berada sekitar lima meter dari Mobil Roll Royce, sepatu hak tingginya tiba-tiba patah…
"Bugh...!!"
Wajahnya langsung jatuh ke tanah.
Vivian menepuk dahinya tanpa daya, dia membuka pintu, dan keluar dari mobil. Dia bergegas menuju Clara dan menariknya untuk membantunya berdiri, dengan khawatir Vivian bertanya, "Apakah kamu baik-baik saja?"
“ tentu saja Saya baik-baik saja." jawab Clara.
Clara merasa malu saat ditolong oleh Vivian.
"Tidak apa-apa. Dia bukan orang lain."
"Dia suamiku, yang akan lebih sering kamu temui ke depannya." ujar Vivian.
Vivian membuka pintu kursi belakang mobil, "Masuk." ucap Vivian.
Ketika Clara hendak duduk di kursi belakang, dia melihat wajah Rafli. Dia berteriak dan seketika menjauh, dan berkata, "Um, tidak apa-apa. Aku akan duduk di depan."
Clara tidak peduli dengan kakinya yang terluka dan bergegas ke kursi depan, dia membuka pintu dan segera masuk ke dalam mobil.
Vivian hanya terdiam. Bahkan, dia ingin Rafli mengganti kursinya untuk Clara ...
Namun Saat dia melihat Clara duduk di kursi penumpang depan dan memakai sabuk pengamannya di ikat, Vivian tidak punya pilihan selain duduk di samping Rafli.
Jarak antara kartanegara dan Rajaguna cukup jauh. Dan hal Itu membuat keheningan mutlak di dalam mobil tersebut.
Vivian melihat pemandangan yang membosankan di luar jendela mobil dan mulai menguap.
Momen perjalanan terlalu nyaman dan suasana sepi, sehingga Vivian mulai mengantuk.
Dan Akhirnya, dia menarik napas dalam-dalam dan tertidur sambil menyandarkan kepalanya di jendela mobil.
Setelah beberapa saat, Vivian merasakan sebuah tangan terulur ke arahnya dan menarik kepalanya menjauh dari jendela kaca mobil.
Pada akhirnya, dia bersandar di dada Rafli yang hangat.
Tiba-tiba, ada suara yang tertangkap oleh indra pendengarannya.
"Tuan Nuhroho, Anda sangat baik ... kepada Vivian." puji Clara.
"Dia adalah istriku."
...****************...
__ADS_1