
Vivian seketika tercengang, Saat mendengar ucapan Rafli.
Dalam perjalanan kembali ke Tempat Syuting, dia mengingat suara Rafli dan kata-katanya,
"Bagi mereka, kamu hanyalah orang lemah yang bisa diganggu semua orang.Jika kamu ingin menghindari diganggu dan ditipu oleh orang lain di masa depan, maka kamu harus bekerja keras dan menjadi lebih kuat sampai kamu bisa menginjak mereka.”
Vivian harus menjadi lebih kuat sampai dia bisa menginjak mereka …
Vivian menutup matanya dan tangannya mengepal dalam diam. Mungkin itu satu-satunya cara untuknya.
Mungkin Untuk kali ini, dia memiliki orang yang bisa membantunya dan melindunginya. Rafli, yang akan menyelesaikan semua masalah untuknya.
Namun, bagaimana dengan waktu berikutnya?
Bagaimana dengan masa depannya.?
Jika dia memilih untuk terus bekerja di bidang itu, dia tidak bisa menghindari bertemu dengan mereka dan tidak bisa menghindari untuk berhubungan dengan mereka.
Karena memang harus seperti itu, maka dia harus…
Dia seharusnya bertarung dan melawan seperti yang disarankan oleh Rafli.!
Ketika dia berpikir, mobil telah berhenti di depan Villa Nugroho. Ketika Vivian naik ke atas, dia menemukan bahwa Erico sedang menyelinap keluar dari kamarnya.
Saat anak laki-laki itu berbalik, penglihatannya bersinggungan dengan tatapan eksploratif Vivian.
Dia kaget tapi dia masih menyapanya.Pada saat yang sama, dia memindahkan tubuh kecilnya ke ruang kerja dengan tenang, dan dia bertanya, "Oh, kamu kembali sepagi ini?"
"Ya." sahut Vivian
Vivian menghalangi jalannya, lalu dia bertanya pada Erico "Mengapa kamu pergi ke kamarku? Apa yang kamu lakukan di sana?"
Erico mengerutkan bibirnya dan mengalihkan pandangannya, melihat ke arah tangga, dan berteriak memanggil ayahnya.
"Ayah."
Vivian mengerutkan keningnya. Bukankah Rafli mengatakan bahwa dia akan pergi ke perusahaan.?
Vivian menoleh dan melihat tempat itu tanpa sadar. Namun, tangga di sana kosong. Bahkan tidak ada orang di sana.
'Bang—!'
Suara keras dari bantingan pintu terdengar di belakang punggungnya. Ketika dia berbalik, Erico sudah tidak ada di sana lagi.
Vivian menggelengkan kepalanya pasrah, lalu masuk ke kamarnya. Dia melihat Ada dua tumpukan buku yang di letakkan di meja kamarnya.
Apakah Ternyata Erico yang baru saja menaruh buku di kamarnya secara diam-diam barusan.? Vivian berjalan ke arah tumpukan buku tersebut dengan alis berkerut dan membaca buku satu per satu.
__ADS_1
Itu semua adalah buku referensi yang akan digunakan untuk akting, beberapa buku tentang cara meningkatkan kemampuan akting, ada juga buku yang mengajarkan hal-hal penting tentang pertunjukan dan ada juga buku pelajaran untuk pertunjukan profesional.
Sebuah kartu biru muda ditempatkan di antara dua tumpukan buku.
Kata-kata kecil yang lucu dan indah tertulis di kartu yang berisi tentang harapan untuknya, “Selamat kepada Vivian karena Anda telah mencapai impianmu dan menjadi aktris sejati. Saya berharap Vivian bisa lebih kuat lagi untuk masa depan.
-Kekasihmu, Kevin dan Eriko.”
hati Vivian seketika merasakan hangat saat memegang kartu harapan itu. Impian menjadi aktris terbentuk secara tidak sengaja ketika dia masih muda. Setelah itu, ide untuk menjadi aktris yang hebat berkecambah di benaknya.
Namun, bahkan dia telah lulus ujian masuk perguruan tinggi seni, dan berkorban demi Armand pada akhirnya dia masih tidak dapat mencapai mimpinya.
Sudah bertahun-tahun Namun, baik anggota keluarga Sucipto maupun Angga, semua kerabatnya tidak mendukung impiannya menjadi seorang aktris.
Dengan begitu, Vivian Sudah terbiasa menjadi pemeran pengganti secara bertahap dan tidak tahu mimpinya di masa lalu.
Tapi untuk saat ini…
Dua bocah lelaki, Kevin dan Erico, mendukung mimpinya menjadi seorang aktris dengan tindakan mereka meskipun dirinya baru saja menjadi anggota keluarga mereka selama sebulan.
Ketika Vivian memikirkan hal itu, Tiba-tiba matanya dipenuhi dengan air mata. Dia terisak, lalu melipat kartu harapan kedua anak itu, dan memasukkannya ke dalam dompetnya.
Akhurnya, Vuvian mengatur buku-buku di mejanya menjadi beberapa jenis. Setelah itu, dia mengambil sebuah buku dan mulai membacanya dengan serius.
"Kevin." panggil Erico pada kakaknya.
Erico sedang menatap wajah serius Vivian dari kejauhan melalui celah pintu yang terbuka, "Apakah kamu merasa wajah Vivian mirip dengan wajahmu saat dia membaca.?"
"Benarkah.?" tanya Kevin
"Ya!" sahut Erico
Erico sedang menyilangkan kakinya sambil mengemut permen lolipop di mulutnya, dia melirik Vivian yang ada di kamarnya dari kejauhan. Kemudian, dia melihat sekilas Kevin yang duduk di sampingnya dan membaca buku dengan serius.
“Saat aku mengamati lebih teliti, aku merasa kalian berdua lebih mirip satu sama lain. Kau benar-benar terlihat sangat mirip dengan Vivian.”
Setelah beberapa saat kemudian, dia tersenyum dengan permen di mulutnya dan berbisik di telinga Kevin, "Kevin, apakah menurutmu dia adalah ibu kandung kita?"
Kevin mengangkat matanya dan meliriknya dengan samar, lalu berkata, "Ibu kandung kita. sudah mati. kepala Pelayan mengatakan bahwa mayat ibu kita dibakar menjadi arang. Meskipun wajah mayat itu tidak dapat dikenali, itu menegaskan bahwa dia adalah ibu kita."
Setelah kevin selesai berbicara, dia menghela nafas dan melirik Vivian yang tinggal jauh dari mereka, lalu berkata, "Aku juga berharap dia adalah ibu kandung kita. Tapi kita tidak akan memiliki dua ibu kandung."
"Ah."
Meskipun Eriko berharap Kevin akan mengatakan itu, dia masih memiliki suasana hati yang biru, lalu berkata. "Kalau saja dia adalah ibu kandung kita.! Namun Jika bukan, aku akan merasa kasihan pada ibu kandung kita ketika kita memiliki hubungan dekat dengannya."
Erico berbaring di atas meja dan menghela nafas, lalu bertanya pada kakaknya, "Apakah ibu kandung kita akan marah ketika dia tahu bahwa kita baru saja menerima orang asing dan memanggilnya ibu dalam waktu yang singkat.?"
__ADS_1
Kevin mengerutkan kening dan kemudian dia mengangkat tangannya dan mengetuk kepala Eriko, "Dia tidak akan begitu picik sepertimu." Erico pun terdiam.
Apakah dia picik?
"Tidak masalah apakah dia ibu kandung kita atau bukan." ucap Kevin.
Kevin pun menatap Vivian yang sedang membaca buku, dan berkata, "Aku suka dia menjadi ibu kita. Selain itu, dia juga memperlakukan kita dengan sangat baik dan itu sudah lebih dari cukup.”
"Sayangnya, ayah tidak menyukainya." timpal Eriko.
Erico memainkan jari-jarinya, dan bertanya, “Kevin, menurutmu, apa yang bisa kita lakukan untuk membuat ayah jatuh cinta padanya?”
Erico merasa itu adalah tugas yang berat baginya. Dia baru berusia lima tahun dan dia harus khawatir tentang kehidupan cinta ayahnya.
Kevin melihatnya sekilas dari samping tanpa suara, dia berkata, "Bagaimana kamu bisa tahu bahwa ayah tidak menyukainya?"
Meskipun sepertinya Kevin adalah orang yang merancang rencana untuk membalas dendam pada Armand dan Naura sebelumnya, Namun ternyata sebenarnya justru Rafli lah orang yang benar-benar menguasai semuanya.
Ayahnya telah menunda beberapa pertemuan internasional dan pergi untuk melindungi Vivian hari itu. Dia juga tahu dengan jelas bahwa Rafli di masa lalu hanya menaruh semua perhatiannya pada perusahaan dan kariernya.
Tapi Untuk saat ini, dia bersedia mengesampingkan pekerjaannya dan pergi untuk memeriksa topik yang sedang hangat terkait dengannya ...
Bukankah itu cinta?
Vivian pergi ke pasar untuk membeli beberapa bahan untuk makan malam. Beberapa buku yang dibeli Kevin dan Erico untuknya tidak dapat ditemukan di Kartanegara.
Mereka pasti telah menghabiskan banyak usaha dalam mempersiapkan hadiah untuknya.
Oleh Karena itu berkat dua anak laki-laki kecil yang telah mengirimkan harapan terbaik mereka kepadanya, Vivian pastikan akan memasak makanan yang nikmat dan lezat untuk ucapan berterima kasih pada mereka.
Setelah Vivian selesai berbelanja, dia melihat ada kemacetan lalu lintas, kemudian dia memutuskan untuk melewati gang dan naik kereta bawah tanah ke jalan berikutnya.
Tepat ketika dia keluar dari gang, sesosok orang menghalanginya di depannya dari jalannya.
Itu adalah Naura.
Vivian mengerutkan kening dan berbalik untuk pergi tanpa sadar, tetapi jalannya kembali dihalangi oleh seseorang juga.
Dia dikelilingi oleh orang-orang. Vivian dilingkari oleh mereka di tengah tanpa daya.
"Kamu wanita yang hebat.!" ucap Naura
Naura mendengus dingin dan berjalan dengan perlahan ke arah Vivian, Naura mendekati Vivian sedikit demi sedikit lebih dekat. lalu dia berkata "Vivian, mengapa aku baru menemukan bahwa kamu begitu hebat.?"
“Kamu.!" ucap Vivian tercekat saat mendengar ucapan Naura.
Saat berbicara, dia di sertai tawanya yang terbahak-bahak, “Kudengar Nina mendapat kesempatan peran utama pertamanya dengan menyanjung sutradara casting. Bagaimana denganmu.? Apakah kamu juga mendapatkan semua hal dengan cara yang sama?"
__ADS_1
"Vivian, kau benar-benar wanita murahan.!"
...****************...