Menikahi Ayah Si Kembar Yang Tampan

Menikahi Ayah Si Kembar Yang Tampan
Bab 109.Mngapa Saya Harus Membantunya.


__ADS_3

Di bawah sinar rembulan yang bercahaya, sekelompok pengawal yang tinggi dan terlihat begitu tegap berdiri di luar kediaman Sucipto.


Dengan cahaya dari dalam ruangan, Airana melihat sekilas sosok tinggi dan tegap yang berdiri di tengah kerumunan.


Yang tak lain Itu adalah Rafli Nugroho!


Melihat Rafli di kediamannya Airana pun sangat bersemangat sehingga dia tidak bisa mengendalikan dirinya sendiri untuk segera menghampiri Rafli.


Dia tersenyum hangat dan menatap Rafli, "Tuan Nugroho, ini sudah sangat larut..."


"Aku di sini untuk mencari Tasya." ucap Rafli dengan tegas.


Rafli memotong ucapan Airana, dia tidak mengatakan apa-apa lagi dan langsung ke intinya.


Sedangkan Airana yang mendengar ucapan Rafli yang mencari putrinya, dia langsung sangat gembira.


Tentu saja!


Tasya benar-benar melakukan pekerjaan dengan baik. Bagaimana mungkin Vivian yang pernah memiliki bayi dengan orang lain sebanding dengannya.? Apakah Rafli mencari Tasya saat ini untuk berkencan.? Atau tujuan apa lagi yang bisa dia miliki.!


Memikirkan hal ini, Airana dengan cepat memberi jalan untuknya dengan bersemangat. "Kalau begitu Tuan Nugroho bisa masuk dan menunggunya terlebih dulu. Tasya baru saja mandi dan mungkin dia benar-benar sudah tidur. Aku akan memanggilnya ke bawah untuk menemui anda."


"Oke, kalau begitu." Rafli berhenti dan berjalan ke dalam ruang tamu kediaman Sucipto.


Pengawal di belakangnya juga mengikutinya.


Dia duduk di sofa dengan kaki bersilang, dengan keanggunan yang begitu tenang, kemudian Rafli berkata. “Suruh dia temui aku.”


“Oke!” sahut Airana dengan lembut, Airana yang jarang berkata lembut pada Vivian namun ia mampu berkata lembut pada orang-orang yang di anggapnya membawa keuntungan baginya itulah sikap Airana.


Airana kemudian naik ke atas dengan penuh semangat. Namun Saat Eira bergegas menaiki langkah pertama, pria itu memperingatkannya dengan dingin.


"Jangan katakan padanya bahwa aku mencarinya." pinta Rafli.


"A~ku me~ngerti, aku mengerti.!"


'Tuan Nugroho pasti ingin memberi Tasya kejutan! Aku tahu itu', pikir Eira.


Anak muda memang suka memainkan beberapa trik indah yang aneh.


Di kamar tidur lantai atas, Tasya masih dengan bangga mengirimkan pesan kepada Alea,


"Alea, setelah malam ini, Vivian akan sangat memalukan.!"


Begitu dia selesai mengirim pesan, Airana mengetuk pintu dengan cemas.


"Tasya, apakah kamu sudah tidur?"


Mendengar ketukan dan suara ibunya dari balik pintu Tasya pun mengerutkan keningnya. Dia meletakkan teleponnya dan bangkit untuk membuka pintu.


"Ada apa.?"


Pada saat ini, ponselnya bergetar. Namun Tasya mengabaikannya karena terganggu dengan panggilan Ibunya. Jadi dia tidak melihat pesan balasan dari Alea.


"Dasar idiot, kamu salah menangkap orang!" "Seseorang sedang mencarimu!"


Airana yang salah paham atas kedatangan Rafli yang ingin menemui putrinya Airana buru-buru meraih tangan Tasya dan menariknya, sambil berkata, “Ada tamu yang mencarimu!”


“Tamu yang sangat terhormat!”


Airana mengerjap padanya, meyakinkan putrinya.”Jadi Ikut ibu turun ke bawah.!”

__ADS_1


"Tunggu." Sela Tasya dia menahan langkah ibunya, karena merasa aneh melihat ibunya yang penuh bersemangat itu, jarang sekali ibunya itu memperlihatkan semangatnya pada dirinya untuk menemui seseorang.


Tasya pun mengerutkan keningnya dan menatap gaun tidurnya yang tipis.“Aku ​​akan mengganti bajuku…”


Belum sempat Tasya menyelesaikan kalimatnya, Namun sudah di sela oleh ucapan Airana.


"Apa lagi yang ingin kamu ubah? Gaun ini pas untukmu malam ini untuk menemuinya.!"


Airana memelototinya dengan kecewa. “Kamu masih tidak tahu apa maksudnya karena dia datang kepadamu larut malam.?”


Mendengar ucapan ibunya Tasya berhenti sejenak, tetapi dia tidak bersikeras untuk kembali dan berganti pakaian.


"Siapa orang yang ibu ingin aku bertemu padanya.?" tanya Tasya.


"Kamu akan tahu ketika kamu turun.!"


Airana mendorong Tasya menuruni tangga.”Jangan biarkan dia menunggu terlalu lama.!”


Dari lantai atas, Sekilas Tasya bisa melihat lelaki terhormat itu duduk di sofa.


Rafli.!?


“Mengapa dia datang menemuinya saat ini.?” gumamnya dalam hati Tasya.


Tiba-tiba Perasaan buruk membuncah di hatinya. Hampir secara naluriah, Tasya mundur selangkah.


Intuisinya memberitahunya alasan kunjungan Rafli padanya jelas bukan seperti yang dipikirkan Airana, ibunya itu. Kini Pria tampan dan tenang yang sedang duduk di sofa melihat kearahnya.


"Nona Sucipto."


Suara Rafli dingin dan tanpa kehangatan, "datanglah padaku, untuk membicarakan sesuatu."


Tasya menggigit bibirnya dan tanpa sadar ingin melarikan diri, namun sebelum dia bisa lari darinya, pengawal Rafli sudah terlebih dulu menangkapnya dengan cepet.


"Sepertinya kamu tahu mengapa aku datang menemuimu." ucap Rafli


Suara berat pria itu penuh wibawa yang sulit untuk diabaikan.


Tasya mengangkat kepalanya, kemudian dia berkata, “Aku tidak mengerti apa yang kamu bicarakan.”


"Kamu telah dikhianati. Kamu tidak bisa membalasku, kan?"


"Vivian bukanlah wanita suci. Apakah kamu tidak tahu sejak lama?"


"Bukankah kamu sendiri yang menghapus video dan foto kehamilannya? Kupikir kamu tidak peduli.!" Tasya mencibir dan dengan sengaja mengatakan semua yang menurutnya benar.


Di satu sisi, dia meremehkan kepribadian Vivian. Di sisi lain, dia juga menggunakan cara ini untuk memprovokasi Rafli, bukan?


Namun, Tasya tidak menyangka Rafli tidak marah setelah dirinya mengatakan itu.


Pria itu justru hanya mengutak-atik cangkir teh di atas meja ruang tamu, dengan senyum dingin dan sarkastik yang di perlihatkan di wajahnya. “Aku ​​belum memberitahumu kenapa aku berada di sini. Dan Mengapa Nona Sucipto memberi tahu saya begitu banyak penjelasan.?


"Kamu tahu sesuatu pasti akan terjadi pada Vivian malam ini, kan?"


Tasya memutar matanya, kemudian dengan percaya diri menatap Pada Rafli, dia berkata "Tuan Nugroho, Anda telah berbuat salah pada saya."


"Seseorang melihat Vivian dibawa pergi oleh tiga pria di hotel malam ini. Aku baru saja memikirkannya."


"Bukankah Tuan Nugroho datang ke sini larut malam untuk mencari jawaban.?"


"Ya saya yang melakukannya."

__ADS_1


Mendengar ucapan Tasya, Rafli menyesap tehnya dan melihat jam tangannya, dia kemudian berkata "Sudah waktunya."


Begitu dia selesai berbicara, sirene yang menusuk telinga terdengar di luar kediaman Sucipto.


Mata Tasya sontak terbelalak, "Kau menelepon polisi.?"


"Saya tidak melakukannya. Itu TP Entertainment yang memanggil polisi."


TP Entertainment adalah tempat Nina bekerja.Dan Kaisar adalah seseorang pemegang saham perusahaan terbesar yang tidak terlihat.


Mendengar hal itu Tasya sontak tertegun. Bahkan jika dia tidak terlibat dalam dunia hiburan, dia telah mendengar tentang perusahaan tersebut.


Sebagai agensi paling berpengaruh di industri hiburan, agensi ini telah membina sekelompok artis dengan pengaruh besar.


Ratu film, Nina, adalah aktris utama Perusahaan Manajemen TP.


Namun, apa hubungannya dengan Vivian?


Pria itu berdiri dengan anggun dari sofa, kemudian dengan nada suara yang dingin Rafli memperingatinya, dia berkata, "Kamu mungkin belum tahu."


"Wanita yang kamu hancurkan malam ini bukanlah Vivian, tapi Nina."


Sontak Tasya mengangkat kepalanya dengan terkejut. “Bagaimana mungkin?” tanya Tasya


Detik berikutnya, polisi bergegas masuk.


"Nona Sucipto, Anda dicurigai melakukan kasus penculikan. Jadi Silakan ikut kami untuk menjalankan proses hukum."


Di bawah tatapan kaget Airana, kedua tangan Tasya diborgol.


Tasya yang mengenakan piyama merah muda dibawa pergi oleh polisi begitu saja, bahkan tidak sempat berganti pakaian terlebih dahulu.


Ketika suara sirene menghilang, Airana baru tersadar.


Dia bergegas ke arah Rafli dan bertanya, "Tuan Nugroho, Sebenarnya apa yang terjadi?"


"Tasya..."


"Dia akan berada di penjara." jawab Rafli.


Pria itu berdiri dan menatap dingin ke wajah cemas Airana.“Terima kasih atas keramahan Anda.”


"Ngomong-ngomong, teh yang anda hidangkan rasanya tidak enak, dan aku tidak akan datang lagi."


Setelah selesai mengatakan itu, dia pergi dengan pengawalnya.


Airana tercengang sesaat sebelum dia mengerti apa yang dimaksud Rafli.


Dia bergegas lagi dan mengulurkan tangannya untuk menghentikan Rafli di depan. "Tuan Nugroho, ini pasti salah paham.! Anda harus membantu Tasya.!"


"Kenapa aku harus membantunya?" tanya Rafli sedikit muak dengan perilaku mereka.


"Karena..."


Airana menggigit bibirnya, dia tahu bahwa Rafli tidak peduli dengan Tasya.


Di saat putus asa, dia mencoba membujuknya dengan apa yang disebut keluarga, "Karena kamu suami Vivian, dan aku adalah ibu angkat Vivian.!"


"Biarkan Vivian datang menemuiku! Aku telah membesarkannya selama lebih dari 20 tahun. Dia pasti akan menyetujui permintaanku!"


Mendengar ucapan wanita itu, Rafli pun menghentikan langkahnya. Dia menatap dengan tajam pada Airana dan berkata dengan nada membunuh “Bukankah dia sudah membalas perhatian dan dukunganmu saat dia menikah denganku.?”

__ADS_1


...****************...


__ADS_2