Menikahi Ayah Si Kembar Yang Tampan

Menikahi Ayah Si Kembar Yang Tampan
Bab 51.Tunjukkan Kasih Sayang.


__ADS_3

Malam ini Vivian bermimpi. Dia bermimpi bahwa Rafli sedang menggendong dua anak di dalam api yang berkobar dan bergegas keluar dengan putus asa.


Api telah membakar celananya, tetapi dia tidak punya waktu untuk mengkhawatirkannya. Ketika dia bergegas keluar dari api dengan anak-anak di pelukannya, dia terlihat sudah sangat kelelahan.


Setelah menyerahkan anak-anak ke dokter, dia langsung jatuh ke tanah.


"Rafli.."


"Rafli.!"


Dia memanggil namanya dan terbangun dari mimpi buruknya dengan keadaan terkaget.


"Apakah kau bermimpi buruk.?" tanya Rafli


Vivian mendengar suara Rafli yang dalam dan rendah. Vivian perlahan membuka matanya dan mendapati dirinya berada di ruangan asing, yang membuatnya tertegun sejenak.


Setelah beberapa saat, dia ingat bahwa dia bertemu Rafli yang terluka tadi malam, jadi dia datang ke ruangan saat ini bersama Sandi untuk merawat Rafli. Sampai pada Akhirnya, dia berbaring di samping tempat tidurnya dan tanpa sadar dirinya tertidur di sana.


Saat Dia mengangkat kepalanya dan bertemu dengan mata Rafli yang dalam.


Pada saat ini, pria itu sedang bersandar di kepala ranjang, bahu kirinya masih terbungkus kain kasa sementara tangan kanannya membalik dokumen yang diletakkan di pahanya.


Vivian seketika mengerutkan keningnya.


Vivian berpikir, "Dia masih bekerja.! Apakah dia gila kerja.? Apakah Dia ingin bunuh diri.?” gumam Vivian dalam hatinya.


Dia langsung berdiri dan mengambil dokumennya dari tangan Rafli, dengan sedikit kesal dia berkata, "Istirahatlah."


Rafli berkata sambil tersenyum, "Itu hanya luka kecil. Banyak orang menunggu pesanan saya. Jika saya berhenti bekerja, banyak orang akan kehilangan pekerjaan mereka. "


Vivian mengerutkan bibirnya dan berkata, "Meski begitu, Kamu tidak harus mulai bekerja sepagi ini."


Dia melihat waktu, dan menemukan bahwa sekarang jam menunjukkan pukul enam pagi lewat beberapa menit.


"Aku akan pergi membelikanmu sarapan." ucap Vivian


Setelah dia mengatakan itu, Vivian melirik Rafli, "Aku akan mengoleskan obat ke lukamu setelah sarapan. Sebelum itu, kamu tidak boleh bekerja. Dan Istirahatlah dengan baik!"


Untuk pertama kalinya, Rafli diperintahkan oleh seseorang. Dia menggelengkan kepalanya tanpa daya, dan berkata, "Saya benar-benar baik-baik saja."


Sebagai penerus Nugroho Group di masa depan, hal yang harus dia atasi bukan hanya pesaing yang jahat terhadapnya dan kelompoknya tetapi juga tekanan persaingan di dalam keluarganya.


Selama bertahun-tahun, dia sering diserang dan hampir dibunuh.


Dia sudah terbiasa dengan itu semua untuk waktu yang lama.


"Istirahatlah bahkan jika kamu baik-baik saja." ujar Vivian


Vivian mengerutkan bibirnya, memegang dokumen itu di tangannya, menoleh, dan pergi, "Aku akan membawa ini saat aku pergi untuk membeli sarapan."


Dengan suara dentuman, pintu tertutup.


Vivian benar-benar pergi membeli sarapan dengan dokumen Rafli.

__ADS_1


Sandi melihat ke pintu yang tertutup dan berkata, "Tuan Nugroho, apakah Anda ingin saya menyusul Nyonya Nugroho dan mengembalikan dokumen itu kepada Anda?"


Rafli memejamkan matanya, dan berkata, "Tidak usah. Karena dia ingin mengambilnya, biarkan dia membawanya pergi."


Sandi terdiam, Dan kemudian Dia mencoba mengingatkan Rafli, dia berkata, "Tuan Nugroho, dokumen-dokumen itu adalah laporan keuangan taman air selama setahun terakhir. Itu adalah dokumen paling rahasia ..."


Nyonya Nugroho hanya mengira itu adalah dokumen biasa dan mengeluarkannya ketika dia pergi ke toko sarapan untuk membeli sarapan…


Sandi berpikir, 'Bukankah itu sedikit tidak menghormati kerahasiaan dokumen-dokumen itu.?'


Rafli berbicara dengan suara ringan, dan berkata, "Apakah menurutmu orang akan menemukan bahwa itu adalah dokumen rahasia bahkan jika seorang wanita lugu dan murni pergi ke sana untuk membeli sarapan dengan dokumen-dokumen seperti itu?"


Sean terdiam lagi.


Setelah membeli sarapan, Vivian tinggal memasukkan dokumen laporan keuangan ke dalam tas yang digunakan untuk membawa roti.


Dalam perjalanan kembali ke hotel setelah membeli sarapan, dia melihat gadis kecil yang dia temui di mal kemarin.


Hari ini, dia berubah menjadi pakaian tradisional berwarna merah muda ceri dengan rambut diikat di sanggul, dia tampak seperti gadis kecil dari keluarga kaya di zaman kuno.


Pada saat itu, dia dibawa keluar dari hotel oleh seorang wanita yang tampak seperti pengasuh. Begitu gadis kecil itu mendongak, dia melihat Vivian masuk.


“Nona Cantik!” ucap Anasya saat melihat Vivian


Gadis kecil itu melepaskan tangannya dari pengasuh dan berlari cepat dengan kaki pendeknya, dan berkata "Kamu tinggal di sini juga.! Kita benar-benar ditakdirkan untuk bertemu!"


Vivian tersenyum dan mengangguk setuju atas ucapan gadis tersebut, dan berkata,"Iya... kamu benar, Kami benar-benar ditakdirkan untuk bertemu lagi."


Melihat wajah mulus dan menggemaskan gadis kecil itu, Vivian merasa hatinya seketika meleleh.


Dia berjongkok dan mengeluarkan roti kecil dari sakunya dan memberikannya kepada gadis tersebut, lalu dia berkata, "Namaku Vivian Sucipto. Kita mungkin bisa menjadi keluarga di masa depan!"


Anasya lalu mengambil roti dari tangan Vivian, "Nona Sucipto, untuk berterima kasih atas hadiah Anda, saya akan mentraktir Anda untuk sarapan.! Saya bisa meminta Tuan Gunawan untuk sarapan bersama Anda!"


"Tuan Gunawan sangat tampan. Kamu pasti akan menyukainya, Nona Vivian.!"


Vivian yang mendengar ocehan Anasya menganggapnya gadis itu sangatlah lucu. Dia berpikir, 'Apakah gadis kecil ini mencoba mencarikan pacar untuknya?'


Vivian tidak punya pilihan selain tersenyum, lalu dia berkata "Lain kali. Aku akan sarapan dengan suamiku, jadi terima kasih ajakannya."


Cahaya di mata gadis kecil itu memudar secara bertahap.


"Nona Sucipto sudah menikah ..." ucapnya dengan sedih


“Nona kecilku!” panggil pengasuh.


Pada saat ini, pengasuh bergegas ke arah mereka dan meraih lengan Anasya, "Jangan lari ..."


"Selamat tinggal, Anasya kecil!"


Vivian berdiri, lalu berpamitan dengan gadis kecil itu, dan pergi.


Anasya melihat ke arah Vivian yang mulai meninggalkan dirinya, dan dia merasa sangat bersalah hingga hampir menangis. Dia akhirnya bertemu dengan seorang wanita yang dia sukai!

__ADS_1


Tapi dia sudah menikah!


"Gadisku."


Pengasuh itu mengerutkan kening saat dia melihat roti di tangannya, "Ayo buang ini, oke.?Tuan Gunawan memperingatkan pada anda bahwa Anda tidak bisa makan apa pun yang diberikan oleh orang asing."


"Aku tidak akan membuangnya.!" sahut Anasya.


Anasya mengangkat tangannya dan menyeka air matanya, lalu dia berkata, "Rencanaku untuk mencari ibu baru telah gagal. Aku akan makan roti ini dengan perasaan sedihku.!" Dia mengatakan itu sambil menundukkan kepalanya dan menggigit roti itu dengan keras.


Anasya berpikir, 'Oh, ini enak sekali.' gumam Anasya dalam hati.


"Tary, aku ingin roti lagi. Pergi dan belikan untukku.!” ujar Anasya memerintahkan pengasuhnya untuk membelikan dirinya Roti.


“Tidak, aku ingin sepuluh yang sama seperti ini.!" sambung Anasya.


Ketika Vivian kembali ke kamar, Rafli sudah berdandan dan duduk di sofa menunggunya. Sepertinya Rafli sudah terbiasa dengan hal-hal seperti itu, setidaknya dia pulih begitu cepat.


Memang benar Rafli kembali kemarin dengan wajah pucat, bahkan pingsan.


Tapi pagi ini, Rafli hanya bisa duduk di sofa dengan wajah yang semangat dan terlihat sehat, dia tidak bisa melihat bekas luka di ekspresinya.


Vivian meletakkan sarapan di atas meja teh.


Pada akhirnya, dia menyerahkan dokumen itu kepada Rafli, "Ini dia."


Rafli dengan ringan menyerahkan dokumen itu kepada Sandi, dan berkata, "Sandi tolong Simpan dokumen ini."


Sandi mengambil dokumen dan mencium aroma roti daging, dia bahkan tidak tahu perasaan seperti apa yang seharusnya dia rasakan sekarang. Dokumen-dokumen rahasia itu sekarang berbau seperti roti!


Ketika mereka selesai sarapan, ponsel Vivian berdering. Itu panggilan dari Clara yang masuk.


"Vivian, kemana saja kamu.? Kenapa aku tidak bisa melihatmu ketika aku bangun di pagi hari?" suara Clara yang terdengar cemas saat panggilan televonnya tersambung.


Vivian berdiri dan menjelaskan kepada Clara saat dia berjalan, dan berkata, "Rafli terluka. Aku datang untuk merawatnya tadi malam."


Clara terdiam beberapa saat, kemudian dia bertanya "Bisakah kamu kembali tepat waktu.?Kami akan pergi ke taman air pada jam delapan ..."


Clara bahkan belum menyelesaikan kata-katanya, sementara Vivian sudah mendorong pintu kamar penginapannya dan masuk.


Clara pun benar-benar di bikin terkejut ketika Vivian tersenyum dan berkata, "Kurasa aku bisa."


Clara yang terkejut seketika terdiam.


"Mengapa Tuan Nugroho tinggal bersebelahan dengan kita.?" tanya Clara setelah dia bisa mengendalikan keterkejutannya.


Vivian tersenyum, kemudian dia berkata, "Mungkin, dia melakukannya untuk istrinya."


Clara, yang tiba-tiba merasa bahwa temannya menunjukkan kasih sayang padanya, tidak bisa berkata apa-apa.


"Mereka yang suka menunjukkan kasih sayang sangat menyebalkan.!"


...****************...

__ADS_1


__ADS_2