Menjemput Waktu

Menjemput Waktu
Lastri dan Aku


__ADS_3

Kembali, senandung cinta di musim hujan diputar olehku. Alunannya merdu sebab pengantin baru sepertiku hanya memikirkan bagaimana pulang membawa senyuman dan bungkusan nasi goreng untuk dimakan bersama.


Awan mendung kelabu. Mereka berarak mengikuti angin atau angin lah yang mendorong mereka untuk perlahan bergerak, menyingsingkan hari menuju senja.


Tok-tok-tok!


"Assalamu'alaikum! Dek, buka pintu. Mas sudah laper mau makan", kataku setiba di teras kontrakan kecil kami.


"Ya mas, sebentar! Lagi nyuci baju nih, lewat pintu belakang aja!", kata Lastri, istriku yang ku nikahi beberapa minggu lalu.


"Loh, mas Dirman. Itu kok banyak bawa barang emang apa aja itu? Untuk apa?"


"Ini loh dek, hadiah pernikahan dari teman kantor. Ada kado juga dari teteh-teteh staf kantor bagian pajak".


Langkahku semakin lelah menuju secangkir air putih hangat di atas meja.


"Aku tadi siang disuruh ngadep bos, tak kirain kenapa ternyata dikasih beginian banyak banget", jelasku kepada Lastri.


"Alhamdulillah, beresin dulu mas. Itu taruh di dekat lemari aja. Aku sudah siapkan makan malam".


"Oke deh, kamu masak lauk apa? Aku ada nasi goreng nih. Bagi dua aja gimana?".


"Jangan! Mas aja yang abisin. Aku mau ngurangin makanan berminyak, tar aku jadi gendut, mas ga suka gimana", Lastri bertingkah genit di depanku, seolah memancing romansa di atas kasur.


"Yasudah, coba beresin dulu mejanya aku mau bersih-bersih dulu, ya dek!".


"Nggih, mas".

__ADS_1


Sore menjelang malam ini diiringi adzan maghrib dari langgar di sebelah rumah. Oleh sebab lapar yang keterlaluan, aku berkata pada Lastri untuk lekas menutup pintu rapat-rapat, menyalakan lampu temaram di ruang tengah, dan membiarkan lampu kamar terang benderang.


Kami bercerita sambil menikmati "candle light dinner" versi minim biaya karena lampu temaram yang hampir putus atau lewat masa pakainya. Lastri mencolek ku ketika ku ceritakan demikian. Ia sedikit menggodaku karena mungkin senang dengan candaan ringan ala karyawan perusahaan sepertiku.


Terkadang, hidup banyak rasa. Rasa inilah yang membimbing secuil kebahagiaan di meja makan ini. Aku berharap kebahagiaan berlanjut ketika Lastri membuka kado-kado dan barang bawaanku tadi sore.


Ada hal yang agak sedikit mengusik ketenangan hati sebab di sana ada terselip satu nama yang tak lepas dalam ingatan. Ia sedikit banyaknya juga berjasa karena membuka jalan bagiku untuk bekerja di perkebunan swasta terbesar di Kalimantan.


_****_


Sedetik berlalu dalam lamunan.


Kenangan tadi siang menjadi kesan yang cukup dalam. Lola lah pelakunya. Ia memberiku kado pernikahan seraya menyunggingkan senyuman tanda suka atau tidak suka.


Berbeda, sungguh!


Perbedaannya sangat jelas ketika sehari-hari ia berinteraksi denganku.


"Mas, mas Dirman!"


"Eh? Lah? Ya dek? Lapo toh dek?"


"Mas itu loh yang kenapa melamun gitu, ga enak ya masakanku? Atau kurang? Mau nambah?".


"Eh, nggak dek, cukup loh ini. Lagian kalo kekenyangan ga enak nanti".


"Emang nanti gimana mas?".

__ADS_1


"Ya, gimana nanti dek. Hehehehe".


Lastri Marselina tersenyum memerah pertanda mengerti maksud dan tujuan pembicaraan ini. Rasanya sudah cukup aku bahagia bersamanya. Akan tetapi, senyumannya tiba-tiba gelap.


Mati lampu!


Ya ampun Gusti!


Suasana romantis di meja makan menjadi gelap gulita. Apa mungkin listrik habis token? Ataukah satu kampung terkena pemadaman bergilir?


Aku tak habis pikir karena segera ku raih senter hapeku kemudian berjalan ke dapur mencari lilin.


"Dek, lilin ditaruh dimana sih?".


"Ada mas, di warung, hehe".


"Loh, belum beli?".


"Belum, kan harus ijin mas dulu kalau mau keluar rumah. Aku ga ada pulsa mau telpon mas tadi siang".


"Welah-dalah, yasudah aku ke warung sebelah dulu ya. Kayanya mati lampunya bakal lama".


"Iya mas, bawa payung ya, udah ada tanda mau turun hujan".


"Mana? Ngawur kamu, masih keliatan bulan sama awan tuh".


Lastri berjalan perlahan mendekat seraya membisikkan kalimat di telingaku, "Ada mas, di bawah sana". Lastri mengangkat rok panjangnya dan menunjukkan pemandangan indah yang mungkin ditahannya sejak beberapa waktu.

__ADS_1


Sejurus kemudian, langkah tegap ku membawa payung, lengkap dengan uang recehan menuju warung sebelah (warung yang dibagi dua: sebelahnya warung dan sebelahnya lagi bukan warung, melainkan kamar pribadi).


"Kulo nuwun, mbak, nganu, tumbas lilin mbak".


__ADS_2