Menjemput Waktu

Menjemput Waktu
Lola dan Lastri


__ADS_3

"Sore, mbak! Saya mau balikin ini nih, tensimeter. Tempo hari mbak berdua sudah baik nolongin saya. Mungkin, saat ini saya yang perlu balikin ini", kata Lola kepada kedua resepsionis cantik di depan mata.


"Anu mbak, sebaiknya disimpan saja. Kita sudah punya gantinya. Soalnya, mbak telat sih. Mending 'Medical Check-up' aja mbak, ada paket murah loh!", sahut Zuzu, begitu panggilan akrabnya yang tertulis di bajunya yang menonjol.


"Oh ya udah, kalau gitu saya taruh disini aja ya. Saya ga bisa pake ini lagi mbak", Lola menimpali.


"Gini mbak, saya ini bukan dokter praktik. Saya kerja di asuransi, tapi ga pake ribet begini. Tugas saya, ya cuma analisis keluhan pasien", bubuh Lola.


"Oh maaf, mbak dokter? Coba mbak bilang dari tadi. Teman saya ini mau ngurangin sesuatu supaya tidak terlihat aneh lagi", kata Zuzu.


"Apaan sih Zu!", ketus Sila ke Zuzu.


Ketiga wanita muda tersebut bercanda riang sambil menunggu ihwal administrasi selesai. Seorang calon ibu pun terlihat kesal karena kelamaan menunggu suaminya (yang sembunyi) di kamar mandi. Lastri, dengan kain panjang menutupi auratnya, berjalan mendekati toilet umum.


Ada logo yang tak biasa.


"Lah? Ini ga kebalik apa ya? Logo toilet kan mestinya gambar orang. Masak gambar aneh?", kata Lastri dalam diamnya.


Tok-tok-tok!


"Mas Dirman!"


"Dek Lastri! Dek, disini!"


"Loh mas? Tak tungguin loh dari tadi. Ngapain disini?", kata Lastri cemberut.


"Ini loh, aku baca kitab suci keramat ala dokter praktik", kata Dirman.


"Lah? Kitab apa mas? Ini kitab suci apa kitab keramat? Tar salah loh, aku takut loh mas nyasar!"


Kami berdua perlahan membaca kitab yang terpajang di lemari kaca.

__ADS_1


Hm, sepertinya menarik!


"Dek, kok gambar anu bisa begitu ya?"


"Lah kok tanya aku mas, kita antre aja dulu kenapa sih? Kan lumayan dapat waktu untuk ngadem deket A.C. tuh", kata Lastri.


"Jangan dek, tadi disitu aku lihat hantu cewek!"


"Ngawur kamu mas! Sejak kapan kamu bisa lihat yang begituan?".


"Sejak kamu mandiin aku semalem dek, hehehehe".


Pipi Lastri bersemu merah karena teringat adegan memandikan kucing jantan tadi malam. Kronologis kejadiannya agak menegangkan, tetapi hal yang sangat menginspirasi adalah bau keringat dua sejoli tersebut. Mereka seperti menebarkan feromon di sekeliling ruangan, mengalahkan wangi parfum.


Perlahan, Lastri merangkul lengan Dirman dengan sedikit menyembunyikan wajahnya yang memerah.


"Mas Dirman, kita pulang aja yuk!", ajak Lastri.


"Ya udah sih! Pokoknya aku mau pulang, titik!".


"Lah lah dek? Kok gitu? Ya udah kita pulang", Dirman sedikit riang seraya harap-harap cemas karena takut ketemu Lola di depan.


"Dek, aku nunggu di parkiran dulu ya, kamu selesain yang di resepsionis", kata Dirman berusaha berkelit.


"Iya mas, sana sih, aku mau cepat!", sahut Lastri.


"Oh ya udah dek, tar mampir dulu ya di masjid dekat Gg. Gede. Aku mau ikut jamaah".


"Ga usah!".


"Lah?".

__ADS_1


Dirman garuk-garuk kepala kebingungan. Saat ini yang dia butuhkan hanyalah air wudhu penghapus hadas. Setelah itu, Dirman butuh waktu bersama di barisan terdepan.


"Mas, ayok!", kata Lastri memeluk pinggang Dirman.


(Background music)


Setibanya di rumah, hape Dirman berbunyi menerima pesan WhatsApp. Ia membacanya. Isinya kurang lebih begini:


- Pak Dirman, besok siapkan kendaraan. Saya mau tugas keluar kota.


- Bu Lola Davina temani pak Dirman bawa barang yang ada di gudang, taruh di Triton aja, jangan Expander. Saya mau pake besoknya.


Begitulah pesan singkat dari bosku, Bill. Sejurus kemudian, kata demi kata ku bahas mengenai pekerjaan yang belum selesai di perusahaan.


____


Malam hari di kamar yang penuh kenangan malam pengantin.


"Baca apa sih mas?", Lastri menggeliat di pundakku.


"Ini loh dek, tugasku kok tambah banyak. Lah yo mestine wes ono 'Job Description' sing jelas".


"Opo sih mas, aku ga ngerti Enggres", kata Lastri.


"Lah iyo, ini loh kalo ga ngerti. Mas kan kerja di bagian ini, mesin-mesin pabrik gitu, untuk pecahin masalah lah intinya. Namun, kok bisa bos besar malah nambahin kerjaan", gerutu Dirman.


"Anu, mas. Daripada pusing. Mending dinas malam aja, gimana?".


"Loh, loh, loh? Kok tegang gini?"


Lastri menggoda Dirman dengan pakaian dinasnya. Malam-malam dingin berawan menjadi hangat karena tawa gurih kedua manusia tersebut yang berebut nikmat karena ingin sama-sama 'keluar'.

__ADS_1


__ADS_2