Menjemput Waktu

Menjemput Waktu
Ada Apa dengan Lastri?


__ADS_3

Beep beep.


Hape berbunyi.


"Mas Dirman, pulang sore nanti bawain martabak ya mas! Awas kalo nggak!", kata Lastri.


"Waduh dek, masmu loh ada kerjaan sampe malem. Besok pagi aja ya, tanggung soalnya besok libur", kata Dirman.


"Ya udah, intinya aku mau martabak. Pesan gofood aja ya, titik!", kata Lastri sedikit memaksa.


"Ya wes, masih siang gini jangan marah-marah tar adonan semalem ga jadi loh!".


"Eh, eh, eh! Adonan apa? Aku ga bikin apa-apa mas".


"Adonan cinta dek, kan semalem kita naik jet tempur, hehehehe".


"Huuuu, ngawur! Ya udah mas makan siang aja dulu di sana ya. Aku tak beresin rumah dulu", kata Lastri.


"Iya dek. Oh ya, Lola ada kirim salam untuk kamu. Katanya mau nitip Jersey Emyu, mau pakai ga dek?".


"Apa sih mas, aku ga suka bola. Aku sukanya kamu!", nada Lastri agak cemberut.


"Ya udah, coba liat WhatsApp aku kirim foto Lola tadi pagi pake Jersey ke kantor. Kamu mungkin ga mau kalah kalau liat gituan".


Sejenak kemudian.


"Ih mas kenapa dia pake gituan. Mas pasti jelalatan kan? Mas pulang sekarang juga! Aku tunggu, titik!".


"Loh, dek. Aku lagi kerja loh!".


"Nggak mau, pokoknya pulang sekarang mas!".


"Ya udah aku ijin dulu sama bos ya".


"Ya udah".


Beep, beep, beep.


Dirman menyalakan motornya setelah keluar kantor menemui Lola, sang primadona hati Dirman. Di ruangan bertuliskan S.H.E. Office, Lola ditinggalkan begitu saja. Lola hanya tersenyum menanggapi hal itu. Ia mungkin paham apa yang terjadi bersama lontaran senyum renyah yang disampaikan kepadanya: cemburu!

__ADS_1


"Ah, yang penting pulang dulu! Aku tak bisa kalau lama-lama begini".


Setibanya ia di dekat simpang empat, Dirman membeli martabak kesukaan Lastri. Hanya saja, isian yang biasa dipesan tidak tersedia. Kemudian, tak habis pikir, Dirman langsung mencoba rasa yang lain (Durian keju). Ia memang doyan durian sejak menikah dengan Lastri. Apalagi, durian yang ia belah bersama-sama di malam pengantinnya.


"Lastri pasti suka Durian", pikirnya.


Setelah pesanan jadi, Dirman bergegas untuk tiba di rumah kontrakan kecilnya. Tak luas memang, ada empat pintu merah berjejer ke arah utara. Tetapi, sungguh cukup untuk pasangan yang baru menikah dan belum dikaruniai keturunan.


Tok-tok-tok!


"Dek, aku sampe! Assalamu'alaikum! Dek!", teriak Dirman.


"Masuk aja mas, ga dikunci kok!".


"Loh?".


Ceklek.


Pintu terbuka, Dirman masuk ke ruang tengah yang lampunya sudah diganti kemarin. Dirman heran kenapa tidak ada seorang pun di rumah.


"Dek, dimana?".


Suara terdengar dari kamar. Dirman menghampirinya dan meletakkan martabak di atas meja makan.


Cleklek.


"Loh, dek? Kok gelap? Aku nyalain lampu ya?", kata Dirman.


"Ta-daa! Mas Dirman!".


"Ya ampun Gusti! Dek, kok kamu gitu? Mau ngajakin tempur lagi? Kan semalem udah?".


"Ya terus, kenapa? Ga mau?".


Dirman menelan ludahnya sendiri. Ia sedikit terkejut dengan suguhan Lastri, istrinya tercinta. Tak pernah ia dapati selama kenal dengan Lastri bahwa kejutan seperti ini bisa membuat gejolak tak tertahan dalam diri bangkit seperti binatang buas. Alhasil, adegan selanjutnya yaitu pertempuran yang sengit antara dua kubu yang saling mencintai.


"Mas, terusin ya! Aku mau dapet!".


"Hah? Dapet apa dek? Door prize?".

__ADS_1


"Nggak, pokoknya gitu aja terus jangan berhenti! Uh! Ah!", lenguh Lastri.


Seperti kesetanan, Dirman menyalakan mesin pompanya dengan Rpm tinggi hingga ia tak kuasa untuk menahan.


"Dek, kok bisa gini? Aku ga bisa berhenti dek!".


"Loh mas? Ah! Ngapain berhenti! Terus aja! Ayo! Cepetan!".


Beberapa waktu kemudian, Dirman yang semakin menjadi-jadi melepaskan tembakan ke arah rahim Lastri dengan iringan senyuman puasnya.


Ekspresi muka Dirman seperti orang kesetanan. Lastri menikmati itu. Kemudian, disusul oleh Lastri, ada gempa di dasar persatuan lingga yoni akibat ulah Dirman. Istrinya tercinta mendapat pengalaman pertamanya: orgasme.


"Aduh, mas! Ga kuat! Duh!".


"Huft, huft, huft, iya dek. Sama!".


Dirman terkapar di samping Lastri dengan seragam dinasnya yang sudah awut-awutan. Kecupan mesra dilayangkan Dirman pertanda pertempuran telah selesai.


"Mas, masih mau martabak kan?".


"Iya, dek".


"Kalo masih mau, besok suruh Lola kesini. Aku mau ngomong", kata Lastri.


"Loh?", Dirman terkejut terheran-heran.


"Kenapa mas? Tegang? Mau lagi?".


Mendengar ucapan Lastri, Dirman hanya ciut seperti senjata pusakanya yang sudah kempes.


"Aku tau kok mas, aku udah kepo jauh sebelum kita nikah. Maafin aku mas".


Dirman terdiam. Suara kipas angin yang berhembus menambah suasana semakin canggung. Kiri kanan, kiri kanan, dan terus begitu ia bergerak.


"Ya udah, besok sore aku ajak Lola kesini".


Lampu dinyalakan. Lastri masih tersenyum dengan senyuman yang manis. Di sisi lain, Dirman berjalan menjauh darinya dengan perasaan yang aneh dan kebingungan.


"Besok aku harus gimana", kata Dirman dalam hati.

__ADS_1


__ADS_2