Menjemput Waktu

Menjemput Waktu
Ada Apa dengan Dirman?


__ADS_3

Kukuruyuk!


Ayam jantan memecah keheningan pagi di sarang cinta Dirman dan Lastri. Mereka kesiangan lagi, subuh terlambat lagi, dan feromon masih bertebaran di udara.


"Dek, bangun dek! Aku tadi malem mimpi loh dek".


"Hoaaaammmm, mimpi apa sih mas?".


"Semalam aku ngintip 7 bidadari tapi bukan lagi mandi, mereka lagi menumbuk padi. Otomatis selendang mereka masih lengkap ga telanjang".


"Lah terus? Artinya apa".


"Ga tau dek, soalnya yang tiga pamit undur diri entah kemana. Sedangkan bidadari yang berempat mendekatiku".


"Mereka bilang apa mas?".


"Empat-empatnya nawarin selendang dek, tak ambil semua. Kan lumayan buat lap, hehehehe".


"Huuuu ngawur kamu mas!", protes Lastri.


Dalam hatinya, Lastri berkata bahwa sebenarnya itu mungkin keinginan mas Dirman sejak lama. Empat bidadari itu mungkin empat wanita yang akan diperistrinya. Namun, satu yang paling jelas saat ini ialah Lola, tukang salip di perusahaan.


Hari ini mereka akan bertemu, Lola, Lastri, dan Dirman. Lastri bersiap untuk pagi hari yang cerah bersama Dirman.


Dirman masih belum bisa beranjak dari kebahagiaan mimpi semalam. Mimpinya mungkin lebih dari yang ia ucapkan ke Lastri. Bagi istrinya itu, mimpi hanyalah mimpi. Itu tidak akan terwujud tanpa persetujuan istri sahnya Dirman.


"Mas, sarapan dulu! Beresin sajadah tadi ya, aku mau ngomong sesuatu".

__ADS_1


Semenit kemudian.


"Kenapa dek? Mau bahas apa?".


"Ehem, mas jujur ya sama Lastri. Mas ga boleh bohong!".


"Iya dek, kenapa toh?".


"Hmmmm, hukumnya poligami tu gimana mas?".


"Eh? Kok pagi-pagi bahas ginian. Mas salah apa dek?".


"Ga usah kemana-mana ngomongnya! Jawab aja yang jujur!".


"Ya gimana ya dek, setau ku itu boleh kalau bisa adil. Apa ya ayatnya? Ga apal dek. Matsna-matsna gitu lah pokoknya dek".


"Iya mas, aku juga tahu ayatnya itu pernah denger. Tapi ya mas, kalau mas berani berpikir begitu berarti mas ada niatan dalam hati".


"Mas, ga boleh remehin aku loh. Aku tahu mas dekat dengan si Lola, Amaria, sama Salsa. Tapi mas, aku ini istri sah. Aku berhak protes mas", terang Lastri dengan tatapan seriusnya.


Huft.


Dirman menghembuskan nafas panjang. Raut mukanya serius. Ia berusaha mengumpulkan jawaban logis untuk memenangkan hati Lastri pagi ini.


"Gini dek, aku memang rendahan karena ga bisa jaga hati. Tapi dek, kalaulah hati ini pecah seribu karena lalai, aku bisa apa dek?".


"Lalai gimana maksudnya mas? Mas masih jaga ibadah kan? Masih sanggup nafkah lahir batin ke aku".

__ADS_1


"Ya maksudku lalai disini tu aku mudah percaya dengan apa yang ku lihat dek. Misalnya gini: kalaulah ada satu yang indah, mengapa harus ku biarkan semua layu. Lebih baik ku rawat semua di toko bunga, jadi duit dek, hehe".


"Itu namanya rakus mas, bukan lalai!", bantah Lastri.


"Iya ya dek, hehehehe. Terus gimana dek?".


Lastri menjewer telingaku karena tidak tahan menahan emosinya. Dia hanya diam lalu berlanjut ke dapur. Jemarinya memotong bawang dengan keras seperti meluapkan semua amarahnya ke seisi rumah.


Dirman bingung.


"Dek, ingat gak kita main monopoli jaman sekolah sama temen-temen? Yang kalah buka baju kan? Aku buka semua sekarang dek. Maafin aku ya dek".


"Hmph!", Lastri melengos begitu saja. Ia masih belum bisa terima kenyataan ini.


Dirman berdiri telanjang di depan Lastri.


"Sana gih! Mas Dirman pulang aja ke kampung temui romo! Atau mau itu torpedo ku potong juga?", bentak Lastri.


"Nggak mau dek, potong aja gapapa asal kamu ga marah lagi".


Lastri mengeluhkan keadaan yang memanas ini. Ia tak dapat berfikir jernih dan berusaha menahan pisau yang dipegangnya agar tak salah potong.


"Mas, coba ngaca dulu. Itu iler masih kemana-mana, manukmu agak tegang gitu kenapa mas, aku marah aja masih mikir-mikir loh!", kata Lastri berusaha berkompromi.


"Ya biarin dek. Kamu kalo ga mau meluk aku, tak kasi bebek aja nih punyaku".


"Loh loh loh? Nantang ya? Sini tak potong beneran!", jawab Lastri sambil mengejar Dirman yang telanjang.

__ADS_1


Dirman sontak kabur dari kejaran Lastri. Mereka pagi itu tidak biasanya bermain kejar-kejaran seperti bocah usia 6 tahun. Dirman yang semakin menjadi-jadi tingkahnya seperti kesurupan. Ia sedikit takut dengan pisau tajam tapi menikmati kejaran Lastri. Istrinya juga sebenarnya tertawa melihat tingkah suaminya yang menggemaskan tapi menyakitkan karena ketahuan ingin poligami.


Pagi itu, hanya teriakan melolong panjang dari Dirman yang terdengar jernih oleh tetangga.


__ADS_2