
Hoaaaammmm.
"Dek, wes awan!", kataku.
Lastri bangun dan membangunkan sesuatu yang tertidur.
"Loh, loh, loh!"
"Apa toh mas?", kata Lastri sambil menikmati detik demi detik kami dalam kehangatan bilik kami yang tak jua dipasangi penyejuk ruangan.
"Gini loh mas, aku tu cuma pengen sama kamu. Kamu jangan kemana-mana dulu, ya! Takutnya kamu digoda sama 'Janda Herang' di luar sana!", kata Lastri yang semakin ingin mempercepat "perolehan sementaranya".
"Yaudah dek, aku leyeh-leyeh aja nih nungguin kamu ga selesai-selesai".
"Hehe, mas suka eskrim kan? Aku tak jajal ya, mana tau enak, hehe".
"Mmmm, enak dek! Kayak susu kalengan, hehe".
"Oh mau susu? Tak susuin aja ya mas!", kata Lastri sambil merapatkan barisan bukit berdiri.
"Hush! Jangan ngawur! Ingat ada tukang sensor dek!", kataku menegur dalam pandangan melotot ke arahnya.
"Oh iya ya mas, hehe. Ya udah mana sini tadi yang nangis minta susu?".
"Aku dek, masmu yang paling keren, hehe".
"Bikin sendiri! Wleeeek!".
"Kok kamu gitu sih, aku keluar nih!", nadaku sedikit mengancam.
__ADS_1
"Ya udah, keluar sana!", kata Lastri.
"Ya udah".
Oleh sebab sedikit merasakan getaran manfaat, aku menyelesaikan perkara asyik di atas kasur dan selimut.
Lastri meledekku karena telah menyerah setelah satu kali tembakan senapan DP-28 milikku ini. Rentetannya memang panjang. Senapan ini dilengkapi dengan beberapa peluru dalam satu magazen yang cukup unik. Akan tetapi, sungguh kasihan pahlawan masa depan yang gugur di medan laga.
Hanya istriku Lastri yang tersenyum puas, pertanda ingin lebih.
"Dek, aku mau ke Simpang Kades. Mau beli es lilin, mau?".
"Nggak, aku udah punya kamu mas", kata Lastri sambil menjilati jemarinya selepas minum susu kaleng cap enak.
"Ya udah, intinya abis makan siang kamu belanja aja ya. Ga usah kemana-mana, COD aja. Bila perlu, bawalah sejuta rasamu bersama kaleng Khong Guans untuk disumbangkan ke kotak amal di masjid terdekat ya!".
"Apa sih mas! Ngawur!", Lastri meledekku dengan menjulurkan lidahnya yang masih basah oleh cairan susu kental manis cap enak.
____
"Dek, pager digembok ya! Nanti kalau ada apa-apa minta tolong tetangga aja!", kataku.
"Iya mas, aman".
"Ya wes, mas tak berangkat dulu, Assalamu'alaikum!".
"Wa'alaikumussalam wr. wb.".
____
__ADS_1
Di tengah perjalanan, perutku yang kekenyangan dan mataku yang sedikit kantuk menjadi tak terbendung dikarenakan nikmatnya makan enak bersama istri tercinta. Aku merasa terpanggil ketika melewati masjid yang bersih dan terawat di pinggir jalan, walau banyak debu di jendelanya.
Sang muadzin mengumandangkan adzan bernada lirih sambil sesekali batuk karena tak kuasa menahan air ludah yang jatuh ke kerongkongan. Sang Juara, motor Yamaha kesayanganku, mengeluh keletihan karena mengejar waktu yang tak kunjung berhenti berputar. Knalpotnya sudah standar kompetisi balap dan surat-suratnya lengkap, menjadikan Sang Juara tak tertahan untuk ikut mengambil wudhu di masjid tersebut.
Andaikan Engkau malaikat, wahai Sang Juara! Maka, segera aku buatkan tali kekang agar tak berbahaya karena angin dari knalpot menghentak pengendara motor seperti kentut yang merata-rata.
Ceklek.
Kunci motor ku cabut dan ku simpan dalam kantong. Rim cakram ku pasangi gembok agar tak lari sendiri atau dicuri orang. Alhasil, aku dapat sembahyang dengan senyuman kebahagiaan, menghadap Tuhan Yang Maha Esa.
____
"Duh mas, piring kotor ga dicuci-cuci. Masa harus aku semua sih mas", kata Lastri.
"Assalamu'alaikum!".
"Alaikum salam! Siapa itu?".
"Bukain pintu dek, aku laper pengen makan".
"Loh? Mas Dirman? Katanya tadi mau silaturahim, ini kok dah pulang".
"Gini loh dek, aku lebih pilih kamu daripada supir Maxim".
"Hah?", Lastri menutup pintu cepat-cepat karena tahu itu bukan mas Dirman.
"Mas, itu kamu apa bukan sih?", teriak Lastri dari balik jendela.
"Ya ini aku dek, masak hantu!".
__ADS_1
Kami berdua tertawa karena ternyata ada orang ga sengaja menyiram debu di jalan malah kena mas Dirman Suparman, kesayanganku.